Ditinggal pergi oleh suami tercinta tanpa kabar berita, Rania terpaksa memikul seluruh beban rumah tangga sendirian. Di tengah keterbatasan dan rasa sepi yang menghimpit, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu dimilikinya. Demi masa depan Dika dan Naya, Rania belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, ketabahan, dan kebangkitan seorang ibu yang menolak menyerah pada nasib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan dan keinginan kecil Dika
Rania segera menyiapkan hidangan makan siang sederhana namun lezat untuk kedua buah hatinya. Dika dan Naya makan dengan lahap baru setelah itu mereka menghabiskan es krim masing-masing.
Suasana di ruang tengah terasa hangat dengan obrolan ringan dan tawa kecil yang sesekali terdengar. Setelah perut kenyang dan mata Naya mulai terasa berat mengantuk, Rania mengantar mereka ke kamar tidur, membaringkan keduanya di atas kasur empuk, lalu mengusap pelan kepala mereka hingga napas teratur terdengar, tanda keduanya sudah terlelap dalam mimpi indah.
Rania pun berjalan keluar menuju bagian depan rumah tempat warung kecil mereka berada, hendak membantu Mbak Siti membereskan barang dagangan dan menutup tempat usaha itu. Matahari siang bersinar terik, namun aktivitas di sekitar sana masih cukup ramai, apalagi dengan adanya para pekerja bangunan yang sedang membangun gedung tak jauh dari rumah mereka. Jam istirahat kerja tiba, dan dalam waktu singkat, beberapa orang dewasa dengan pakaian yang agak berdebu namun wajah bersemangat berdatangan ke warung kecil itu. Mereka membeli nasi bungkus, lauk pauk, dan minuman dingin untuk mengisi tenaga kembali. Rania dan Mbak Siti bergerak sigap melayani satu per satu pembeli itu, saling bahu-membahu mengambilkan pesanan dan menerima pembayaran. Suasana itu berlangsung sekitar dua puluh menit, hingga perlahan keramaian mereda kembali saat para pekerja itu kembali ke tempat kerja mereka.
Mbak Siti sambil menata kembali wadah-wadah makanan yang mulai kosong, menoleh ke arah Rania dengan wajah puas. "Alhamdulillah Lihat, sisa sayur yang tadi masih lumayan, sekarang tinggal kuahnya saja. Gorengan yang kita buat lumayan banyak pun habis tak bersisa, ludes diserbu pembeli tadi," lapornya dengan nada gembira.
Rania tersenyum lebar, hatinya penuh rasa syukur. "Benar ya, Mbak Siti. Alhamdulillah sekali. Rezeki lancar hari ini, dagangan habis semua, tidak ada yang terbuang atau mubazir. Mari kita bereskan semuanya ya, segera ditutup dan dikunci, biar kita juga bisa istirahat sebentar atau lanjut mengurus keperluan rumah yang lain."
Mereka berdua pun bekerja sama menurunkan penutup warung, membersihkan meja dan rak, serta menyimpan sisa barang dagangan yang masih ada ke dalam tempat yang aman dan tertutup rapat. Pekerjaan itu selesai dengan cepat berkat kerja sama yang baik, dan kini suasana di depan rumah menjadi tenang kembali, menyisakan hening siang yang damai.
Waktu berlalu perlahan, matahari mulai bergeser ke arah barat, cahayanya tidak lagi terlalu menyengat. Suara langkah kaki kecil terdengar dari dalam rumah, tanda Dika dan Naya sudah bangun dari tidur siang mereka. Keduanya keluar dengan mata yang masih sedikit sayu namun segera berseri ceria saat melihat televisi di ruang tengah sudah menyala menayangkan kartun kesukaan mereka.
Dika duduk bersila di atas karpet, sementara Naya duduk manis di sebelahnya, sesekali bertepuk tangan tertawa melihat adegan lucu di layar kaca.
Sementara anak-anak asyik menonton, Rania dan Mbak Siti beralih ke bagian belakang rumah, tepatnya di dapur yang cukup luas dan bersih.
Di sana, mereka mulai sibuk bergerak menyiapkan bahan-bahan untuk makan malam nanti. Aroma bawang yang ditumis, bumbu dapur yang dihaluskan, dan ikan yang digoreng mulai menyebar ke seluruh penjuru rumah, menciptakan bau harum yang menggugah selera.
"Masakan Ibu kamu memang selalu paling enak ya, Dik," gumam Mbak Siti pelan sambil mengiris bawang, mengingat betapa hebatnya tangan dingin Rania dalam mengolah bahan sederhana menjadi hidangan istimewa.
Tak terasa, waktu terus berjalan hingga, Langit yang tadinya terang kini berubah menjadi warna jingga kemerahan perlahan menuju gelap.
Rania segera memanggil kedua anaknya yang masih asyik di depan televisi.
"Dika, Naya... ayo matikan TV-nya, sudah mendekati sore. Segera mandi dulu ya, nanti baru kita makan malam sama-sama," perintah Rania dengan lembut namun tegas.
Dika langsung beranjak bangkit, sementara Naya yang masih kecil langsung berlari kecil menghampiri ibunya sambil merentangkan kedua tangannya. "Ibu... Naya mandi sama Ibu ya? Sama Ibuu aja..." rengeknya manja yang tentu saja sudah menjadi kebiasaan dan selalu dituruti oleh Rania. Rania pun tersenyum, mengangkat tubuh mungil putri keduanya itu dan membawanya ke kamar mandi, sementara Dika sudah mandi sendiri dengan rajin dan mandiri seperti anak besar.
Tak lama kemudian, semuanya sudah siap. Mereka berkumpul kembali di ruang tengah, kali ini dengan pakaian bersih dan wangi.
Mereka makan dengan cara lesehan di atas karpet empuk di depan televisi, sebuah kebiasaan yang selalu membuat suasana terasa lebih akrab dan hangat. Di atas alas makan yang bersih, tersaji nasi putih hangat, ikan goreng bumbu kunyit, sayur bening, sambal terasi, dan kerupuk yang renyah. Semuanya tampak menggugah selera.
Mereka pun mulai menyantap hidangan itu bersama-sama. Suap demi suap masuk ke mulut dengan nikmat.
Si kecil Naya yang mulutnya penuh berisi makanan, tiba-tiba berkomentar dengan suara cadel namun jelas terdengar. "Enak... semua masakan Ibu enak... Naya sukaaa semuanya..." katanya bersungguh-sungguh sambil mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali.
Dika pun tak mau kalah, ia mengacungkan kedua jempolnya ke arah ibunya sambil mengunyah. "Iya benar Bu! Masakan Ibu paling juara deh, lebih enak daripada makanan di luar sana. Semuanya pas rasanya, gurih dan enak sekali!" puji Dika antusias.
Rania hanya tersenyum bahagia mendengar pujian tulus dari anak-anaknya, hatinya terasa hangat sekali. Di sebelahnya, Mbak Siti duduk diam sambil menyantap makanannya dengan tenang, namun di dalam hatinya, perasaan haru dan syukur meluap-luap tak terbendung. Matanya menatap wajah Rania, sosok wanita yang telah mengubah jalan hidupnya.
Ingatan Mbak Siti kembali melayang ke masa lalu. Dulu ia hanyalah wanita sebatang kara yang menawarkan jasa untuk mencari pekerjaan, berjuang sendiri bertanya dari satu lapak ke lapak lain. Hidupnya sepi, serba kekurangan, dan penuh ketidakpastian.
Hingga suatu hari ia bertemu Rania, yang saat itu juga sedang berjuang keras mengurus keluarga kecilnya sendiri. Rania bukan hanya memberinya pekerjaan, tetapi juga mengajaknya tinggal bersama di rumah kontrakan ini agar ia tidak perlu lagi menyewa kamar kos yang sempit dan mahal sendirian. Rania memperlakukannya bukan sebagai karyawan, melainkan sebagai saudara kandung, sebagai adeknya sendiri.
Melihat betapa hebatnya perjuangan Rania yang bangkit dari keterpurukan setelah ditinggalkan suami, bekerja siang malam demi kedua anaknya, dan kini perlahan mulai merasakan hasilnya, hati Mbak Siti terasa sesak oleh rasa terima kasih dan kekaguman. Air mata bahagia perlahan menetes di pipinya. Ia buru-buru menyekanya dengan ujung lengan baju agar tidak ada yang melihat, lalu kembali tersenyum ikut menikmati kebersamaan malam itu.
Di sela-sela kesunyian yang hangat itu, Dika tiba-tiba menurunkan sendok dan garpunya, menatap ibunya dengan sorot mata berbinar penuh harapan. "Bu... boleh nggak ya kalau nanti saat musim liburan sekolah tiba, kita berlibur ke pantai? Ke Yogyakarta saja boleh kan, Bu?" tanyanya pelan namun penuh penasaran.
Rania sedikit tertegun, menatap putranya itu. "Ke Yogyakarta? Memangnya kenapa ke sana, Nak?" tanyanya lembut.
"Soalnya kemarin teman sekolah Dika cerita, dia habis liburan ke sana dan main di pantai yang airnya biru dan pasirnya putih halus. Dika jadi pengin sekali merasakan main air dan membuat istana pasir di sana seperti dia, Bu. Boleh ya Bu? Kita jalan-jalan sebentar saja kok," jelas Dika panjang lebar.
Rania diam sejenak berpikir matang-matang. Ide itu terdengar sangat bagus. Keuangan mereka sekarang sudah cukup aman dan terkumpul sedikit demi sedikit.
Jalan-jalan sejenak tentu akan sangat menyenangkan, apalagi bisa membawa anak-anak bersenang-senang dan melepas penat. Dan tentu saja, Mbak Siti pun pasti diajak serta, mereka berempat akan pergi bersama.
"Iya ya... sepertinya ide yang sangat bagus sekali, Dik. Nanti kita rencanakan ya, kalau sudah waktunya libur, kita berempat Ibu, Dika, Naya, sama Mbak Siti kita berangkat jalan-jalan ke sana. Pasti seru sekali," jawab Rania akhirnya dengan senyum lebar mengiyakan.
Belum selesai kata-kata itu meluncur, suara cempreng si kecil Naya kembali terdengar nyaring memotong pembicaraan. "Naya ikut ya Buu? Naya ikut juga kan? Jangan ditinggal ya Buuuu..." rengeknya khawatir, membuat semua orang di situ tertawa terbahak-bahak.
"Ya ampun, jelas dong kamu ikut, Sayang. Mana mungkin Ibu berangkat tanpa bawa Naya, kan anak Ibu yang paling kecil ini," jawab Rania sambil mengelus pipi gembil putrinya itu dengan penuh kasih sayang.
Bara yang pergi tanpa kejelasan, Rania yang sudah mulai bangkit demi Dika serta Naya. Mungkin kah di Yogyakarta adalah awal dari semua kejelasan akan hubungan Rania dan Bara nantinya, atau disanalah nanti Rania akan mendapatkan jawaban atas apa yang terjadi kepada Bara???
Apakah nanti ditengah keramaian kota, atau keindahan pantai mereka bakal dipertemukan oleh takdir???