“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”
Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Rumah
Matahari pagi kini telah sepenuhnya naik, memancarkan cahaya terang yang menembus celah-celah dinding kayu rumah Beni.
Begitu pintu depan dibuka dengan sentakan kasar, Beni langsung menghela napas lega, sementara tangan kanannya dengan sentakan final melepaskan cengkeraman dari pergelangan tangan wanita duyung tersebut.
BRUK!
Wanita berambut hitam itu langsung terduduk di atas lantai papan yang berdebu. Jaket kebesaran milik Beni yang membungkus tubuh polosnya tampak kedodoran, membuat penampilannya terlihat sangat kontras dengan wajah cantiknya yang kini cemberut maksimal.
"Aduh! Kasar sekali sih!" protes wanita itu sambil mengusap pergelangan tangannya yang memerah.
Mata hitamnya menyapu sekeliling ruangan yang sederhana hanya ada sebuah ranjang tua, meja bambu, dua kursi, dan beberapa perlengkapan rumah tangga yang seadanya. "Tempat apa lagi ini? Sempit, bau, dan berdebu! Manusia, apakah semua tempat tinggal kaummu sekumuh ini? Ini bahkan lebih buruk daripada gua karang tempatku biasa tidur!"
Beni mengabaikan ocehan itu sepenuhnya. Rasa lelah yang teramat sangat setelah bertarung semalaman di laut, ditambah rasa jengkel akibat rusaknya aset perahu dan jorannya, membuat Beni ingin segera membersihkan diri.
"Diam di situ dan jangan menyentuh barang apa pun kalau kau tidak mau kubuang ke daratan yang lebih kering," ancam Beni dingin sambil menunjuk ke sudut ruangan dengan jari telunjuknya.
Wanita mengembangkan pipinya dengan kesal. "Hmp! Dasar manusia tidak waras! hidupmu pasti menderita sekali sampai sekasar ini?!"
Beni kemudian berjalan ke area belakang rumahnya, mengambil seember air bersih yang mengalir dari sumur, dan mulai membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa air laut, peluh, dan bau amis ikan yang menempel di kulitnya.
Air dingin yang menyiram kepalanya perlahan-lahan mengembalikan sedikit kesegaran pada jiwanya yang sempat terkuras.
Sementara Beni sibuk bersih-bersish, di ruang tengah, sang duyung yang kini terperangkap dalam tubuh manusia biasa terus-menerus menggerutu tanpa henti.
"Duh, kakiku terasa aneh sekali! Kenapa bentuknya bercabang dua seperti ini? Sangat tidak estetik!" keluhnya sambil menggerak-gerakkan sepuluh jari kakinya di atas lantai. "Lalu kulit ini... kenapa cepat sekali terasa kering? Menyebalkan! Manusia! Hei, Manusia Kasar! Kau mendengarku tidak, sih? Aku lapar! Energi spiritualku habis karena dipaksa berubah wujud seperti ini!"
Beni keluar dari area belakang setelah selesai berganti pakaian bersih, kaus oblong hitam santai dan celana pendek. Rambutnya yang setengah basah dibiarkan acak-akan. Ia melangkah menuju ke arah dapur kecilnya, mengabaikan tatapan menusuk dari sang duyung.
"Kau lapar? Cerewet sekali untuk ukuran seekor babu gratisan," cibir Beni.
Namun, Beni tahu bahwa jika aset pekerjaannya ini mati kelaparan atau lemas karena kekurangan energi, rencana bisnis restorannya bisa berantakan.
Ia membuka ruang penyimpanan inventaris sistemnya yang mengambang samar di depan matanya yang tentu saja tidak bisa dilihat oleh wanita itu.
Di dalam sana, selain tumpukan ikan, masih ada sisa sup dan tumisan daging ikan spiritual rendah yang ia masak.
Beni mengambil sebuah mangkuk tanah liat, menuangkan makanan tersebut, lalu memanaskannya sebentar di atas kompor.
Aroma yang luar biasa harum seketika merebak, memenuhi seluruh sudut ruangan rumah kayu yang sempit itu. Aroma gurih yang kaya, bercampur dengan kehangatan energi spiritual yang murni, langsung menggelitik indra penciuman siapa pun.
Wanita duyung yang tadinya sibuk mengumpat mendadak terdiam.