NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Melahirkan Anak Sumbing

Dicerai Karena Melahirkan Anak Sumbing

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:69.4k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.

Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30 - Kembali Jadi Dokter

Beberapa hari setelah pertengkaran besar itu, suasana rumah keluarga Hartanto berubah semakin dingin.

Zayn dan Anggun masih berbicara, tetapi seperlunya saja. Tidak ada lagi percakapan santai sebelum tidur. Tidak ada lagi makan malam bersama. Bahkan kamar mereka terasa seperti hotel mewah yang dihuni dua orang asing.

Zayn mulai lebih sering pulang larut. Bukan karena sengaja menghindar, melainkan karena rumah itu kini membuat dadanya sesak.

Sementara Anggun semakin tenggelam dalam dunianya sendiri. Pemotretan, acara brand, meeting, dan ponsel yang hampir tak pernah lepas dari tangan. Hubungan mereka perlahan retak tanpa ada yang benar-benar mencoba memperbaikinya.

Berbanding terbalik dengan kehidupan Naomi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hidupnya mulai terasa bergerak ke arah yang lebih baik.

Pagi itu Naomi sedang duduk di ruang konsultasi Junie sambil memangku Davin yang sibuk memainkan mobil-mobilan kecil. Anak itu kini semakin aktif. Ocehannya makin banyak, tawanya makin keras, dan matanya selalu penuh rasa penasaran.

Junie menutup map pasien di tangannya lalu menatap Naomi. “Aku mau ngomong sesuatu.”

Naomi langsung menoleh. “Hm?”

Junie tampak sedikit lebih serius dari biasanya. “Di klinik lagi butuh dokter umum tambahan.”

Naomi mengedip pelan. “Oh…”

“Aku mau nawarin kamu kerja di sana.”

Naomi langsung membeku. Beberapa detik dia benar-benar tidak bisa bereaksi. Bahkan Davin sampai menarik-narik lengannya sambil berseru kecil.

“Ma!”

Naomi masih menatap Junie tidak percaya. “Dok… Ini serius?”

Junie mengangguk tenang. “Serius."

Naomi langsung gugup mendadak. “Tapi aku udah lama nggak praktik…”

“Kamu masih punya kemampuan itu.”

“Aku takut nggak bisa ngikutin.”

“Kamu bisa belajar lagi.”

Jawabannya terlalu yakin sampai Naomi sendiri kehilangan kata-kata.

“Lagipula,” lanjut Junie, “aku lihat sendiri perkembangan kamu beberapa bulan terakhir.”

Naomi menunduk pelan. Jujur saja, tawaran itu terasa seperti mimpi. Dulu dia bahkan berpikir hidupnya sudah selesai.

“Aku…” suaranya mengecil. “Aku nggak tahu harus bilang apa.”

Junie tersenyum kecil. “Bilangan iya aja cukup.”

Naomi spontan tertawa kecil. Namun sedetik kemudian, keraguannya muncul lagi.

“Tapi Davin gimana?”

Junie terlihat sudah menduga pertanyaan itu. “Kamu bisa bawa dia.”

Naomi mengernyit. “Hah?”

Junie mengangguk santai. “Di lantai dua ada area bermain kecil buat anak pasien. Lagian di klinik juga banyak orang.”

Naomi masih terlihat ragu.

“Ada Dokter Sofia juga,” tambah Junie. “Dia dokter anak. Suka banget sama Davin.”

Naomi sedikit mengenal Sofia. Dokter anak muda yang cukup tomboy dan cerewet. Sementara satu dokter lain di klinik adalah dokter kandungan bernama Abdur Rahman yang terkenal sangat kalem.

“Mereka semua baik kok,” lanjut Junie.

Naomi menggigit bibir pelan. Dadanya mulai hangat perlahan.

“Kenapa baik banget sih sama aku…” gumamnya lirih tanpa sadar.

Junie terpaku sepersekian detik.

Naomi sendiri langsung salah tingkah setelah menyadari ucapannya. “Aku maksudnya…” dia cepat-cepat membenarkan. “Aku cuma… nggak nyangka aja.”

Junie tersenyum kecil. “Karena kamu pantas dapat kesempatan lagi.”

Kalimat itu entah kenapa terasa tulus sekali. Setelah bertahun-tahun, kini Naomi merasa dirinya benar-benar masih punya masa depan.

Hari pertama kerja Naomi dijadwalkan minggu depan. Malam sebelum mulai bekerja, Naomi duduk di ruang tengah apartemen bersama Jihan. Lampu kamar sudah dimatikan. Davin tertidur pulas setelah tadi aktif berlarian ke sana kemari sampai kelelahan sendiri.

Naomi duduk sambil memeluk lutut di sofa. “Aku gugup,” ungkapnya.

Jihan yang sedang makan keripik langsung melirik. “Itu normal.”

“Aku takut lupa semuanya.”

“Kalau lupa tinggal buka Google.”

Naomi langsung mendelik. “Aku serius!"

“Aku juga serius.”

Naomi menghela napas panjang sambil menyandarkan kepala ke sofa. “Aneh ya…” ujarnya. “Dulu aku pikir hidupku udah selesai.”

Jihan menatap sahabatnya beberapa detik. Memang benar, dulu Naomi seperti orang yang kehilangan cahaya. Hidup sekadar bertahan demi Davin. Tapi sekarang perempuan itu perlahan hidup lagi.

“Junie baik banget sama aku,” ucap Naomi pelan.

Jihan langsung menyeringai tipis. “Nah mulai.”

Naomi melirik malas. “Apaan?”

“Dokter Junie.”

Naomi menghela napas kecil. “Aku serius bingung.”

“Bingung kenapa?”

“Kenapa dia sebaik itu.”

Jihan langsung tertawa pendek. “Karena dia cinta sama kamu.”

Naomi spontan melotot. “Ih ngawur!"

“Naomi…” Jihan mendekat sambil menunjuk wajah sahabatnya dramatis. “Cowok normal nggak bakal sepeduli itu sama perempuan kalau nggak suka.”

Naomi langsung memalingkan wajah. “Dia memang baik sama semua orang.”

“Enggak.”

“Jihan…”

“Dia tuh beda kalau sama kamu.”

Naomi terdiam sebentar. Sebenarnya bukan dia tidak sadar. Dia sadar Junie terlalu perhatian. Terlalu sering datang membantu. Bahkan Davin sendiri sangat dekat dengan laki-laki itu. Kadang Naomi juga memergoki cara Junie menatapnya. Lembut sekali, dan itu justru membuatnya takut.

“Aku nggak mau salah paham,” katanya pelan.

Jihan mendesah kecil. “Na… cowok itu jelas banget suka sama kamu.”

Naomi menggeleng cepat. “Nggak mungkin.”

“Kenapa nggak mungkin?”

“Karena…” Naomi menggantungkan kalimatnya. Karena dirinya janda dengan anak. Karena hidupnya berantakan. Karena masa lalunya terlalu rumit, dan karena setelah semua yang terjadi bersama Zayn, Naomi bahkan tidak yakin dirinya masih bisa percaya pada pernikahan lagi.

“Aku belum kepikiran nikah lagi,” ucapnya akhirnya.

Jihan sedikit melunak sekarang.

Naomi menunduk sambil memainkan ujung bantal sofa. “Aku cuma pengin Davin tumbuh sehat,” lanjutnya lirih. “Itu aja dulu.”

Jihan diam beberapa detik. Lalu tiba-tiba dia bertanya, “Kalau Junie suatu hari nembak kamu gimana?”

Naomi langsung membeku. “Apa?”

“Jawab.”

“Jihan…”

“Jawab aja dulu.”

Naomi mendadak salah tingkah. “Aku nggak tahu.”

“Nah berarti kepikiran.”

“Enggak!”

Jihan ngakak pelan.

Naomi langsung melempar bantal kecil ke arahnya. “Ganggu banget sih!”

Jihan masih tertawa sambil menghindar.

“Tapi serius,” katanya kemudian. “Kalau memang ada orang baik datang ke hidup kamu lagi… jangan langsung ditolak cuma karena trauma.”

Naomi terdiam. Kalimat itu menancap cukup dalam di kepalanya. Karena jujur saja, semakin hari Junie memang semakin masuk ke hidup mereka. Bukan cuma ke hidupnya. Tapi juga Davin, dan itu yang paling berbahaya. Karena Davin sudah mulai terbiasa mencari Junie. Kalau laki-laki itu datang, anak itu langsung heboh sendiri.

“Juni! Juni!”

Bahkan panggilan “Dokter Junie” kini berubah jadi “Juni” versi bayi yang cadel. Setiap melihat mereka bersama, hati Naomi selalu terasa aneh. Hangat tapi juga takut. Takut berharap terlalu jauh.

...***...

Hari pertama Naomi bekerja akhirnya tiba. Pagi itu Naomi tampil jauh berbeda dibanding biasanya. Rambutnya dikuncir rapi. Dia memakai kemeja putih sederhana dengan outer pastel dan celana bahan longgar.

Jihan sampai bersiul saat melihatnya keluar kamar. “Wih dokter cantik.”

Naomi langsung tertawa malu. “Lebay!"

“Serius. Kau keliatan hidup lagi.”

Kalimat itu membuat Naomi sedikit terdiam.

Sementara Davin yang duduk di stroller sibuk menepuk-nepuk meja sambil ikut cerewet sendiri.

“Ma! Ma!”

“Iya sayang.”

Naomi mencium kepala anaknya pelan sebelum akhirnya menarik napas panjang. Dia gugup sekali. Namun saat sampai di klinik, suasananya ternyata jauh lebih hangat dari yang dia bayangkan.

Sofia langsung heboh begitu melihat Davin. “YA AMPUN INI PANGERAN KECIL DATANG!”

Davin malah tertawa senang saat digendong dokter anak tomboy itu.

“Lucu banget sih!” kata Sofia gemas.

Sementara Dokter Abdur Rahman menyambut Naomi dengan senyum ramah dan sopan.

“Selamat bergabung, Dokter Naomi.”

Mendengar panggilan “dokter” lagi setelah sekian lama membuat dada Naomi langsung sesak aneh. Hampir terharu.

Junie yang berdiri tak jauh dari sana diam-diam memperhatikan ekspresi Naomi. Saat melihat mata perempuan itu mulai berkaca-kaca, sudut bibirnya perlahan ikut terangkat kecil. Karena akhirnya Naomi kembali menemukan dirinya sendiri lagi.

1
Retno Harningsih
up
Ariany Sudjana
mamanya saja pelacur murahan, ya pantas saja anaknya seperti preman. yang gini jadi cucu kebanggaan keluarga Hartanto? Davin yang tingkahnya lebih berkelas, malah di sia-sia, hanya karena lahir sumbing, bodoh kamu Zayn 🤣🤣😂😂
Anonim: awokawok ABYAN KAN ANAK HARAM AWOKAWOK
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga lancar sampai resepsi
Ma Em
Davin makin pintar cerdas , semoga acara lamaran Naomi dgn Junie dilancarkan tdk ada gangguan .
Ariany Sudjana
wah semangat yah dokter Naomi dan dokter Junie dalam mempersiapkan lamaran dan juga pernikahan nanti 😄💪
Ma Em
Anggun seorang ibu tdk mau mengurus anaknya , aneh saja sedangkan Naomi bisa melakukan apa saja demi anaknya .
Ass Yfa
kehidupan Zayn hancur da Naomi baru akan memulai hidupnya....yg aku heran kok Roby nggk ada rasa bersalah atopun menyesal...heh
Ariany Sudjana
anak pelacur murahan itu Abyan, suruh ibu kandungnya mengurus, kenapa juga Zayn harus mengurusnya? kan bukan anak Zayn juga, taruh saja di panti asuhan selesai perkaranya
sunaryati jarum
Kemungkinan bukan anakmu,tapi jika kamu pernah niduri Anggun sebelum menikah bisa jadi anakmu
MamDeyh
Kasyan Abyan
Ma Em
Bagus Naomi sdh jgn pedulikan lagi Zayn dan keluarganya karena bkn urusan Naomi lagi mungkin itu karma untuk Zayn dan ibunya , sekarang Naomi bisa membuktikan pada ibunya Zayn bahwa tanpa Zayn dan keluarganya hdp Naomi dan Davin bisa bahagia dan sukses dgn karir nya apalagi Naomi tdk lama lagi akan menikah dgn Junie lelaki yg lbh baik dari Zain .
Rommy Wasini Khumaidi
cepetan nikah Jun,sebelum Naomi ditempatkan di RS Hartanto
sunaryati jarum
Benar Naomi , ternyata tanpa kamu membalas mereka, mereka telah menuai karma atas perbuatannya.
Ayu Oktaviana
lha trs anaknya zain sama anggun gimana kbrnya kak.. jadi penasaran aku...🤣🤣
Ayu Oktaviana: ok kak.. sya tunggu ini😍😍
total 2 replies
Ariany Sudjana
setuju dokter Naomi, fokus saja sama kebahagiaan kamu dengan dokter Junie Dan PPDS kamu. keluarga toxic seperti Zayn dan Ratna lebih pantas masuk tempat sampah saja
Nadja 🎀
betul naomi
Eka
ayoo juneo cepat lamar naomi ke ayahnya
W I 2 K
g usah lama² babang Juni... nanti keburu Juli loh... 🤣🤣
sunaryati jarum
Cepat nikahnya Junie dan Naomi. Karma dibayar tunai ya, keluarga Dokter Hartanto, karena satu nama," Anggun' perilakunya tidak sesuai namanya
Ariany Sudjana
mampus kalian semua, keluarga kalian hancur dan terima saja konsekuensinya 😂😂🤣🤣 dan menantu kesayangan kamu sudah mengkhianati kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!