LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Warisan Naverlla
Allbiru mendorong pintu besi berat itu lebih lebar. Engselnya berderit pelan, suara yang memecah kesunyian mencekam di dalam ruangan. Dia masuk pertama, tangan kanannya siap meraih alat suntik penenang dari tas medisnya, sementara mata kirinya memindai setiap sudut ruangan — refleks seorang dokter yang selalu waspada terhadap ancaman tak terlihat.
Di belakangnya, Sabiru Naverlla Azzura melangkah masuk, napasnya tertahan. Dan di belakang lagi, Aldo Sky menutup pintu perlahan, pistolnya tetap tersembunyi, tapi jari-jarinya gemetar — bukan karena takut, tapi karena ia tahu apa yang ada di dalam ruangan ini. Ini bukan sekadar markas musuh. Ini adalah rumah masa kecil Sabiru. Rumah yang ditinggalkan Arisendra 22 tahun lalu.
Ruangan Source Room tidak seperti yang mereka bayangkan. Tidak ada sel tahanan berlumuran darah, tidak ada alat penyiksaan canggih, dan tidak ada ilmuwan gila yang tertawa jahat. Ruangan itu luas, berbentuk silinder dengan dinding kaca tebal yang memperlihatkan kegelapan lautan ganas di luar Pulau Hitam. Ombak menghantam kaca dengan kekuatan dahsyat, seolah ingin menelan seluruh fasilitas ini.
Di tengah ruangan, hanya ada satu objek utama: sebuah kursi eksekusi tinggi berbahan logam hitam, dilengkapi dengan sandaran kepala yang memiliki lubang-lubang kecil — tempat untuk menyambungkan kabel neural. Di depannya, terdapat meja konsol dengan layar sentuh besar yang menyala redup, menampilkan logo:
PROJECT RAMBUTAN - PHASE 1: ARCHIVE MODE
USER IDENTIFIED: SABIRU NAVERLLA AZZURA [HEIR]
Sabiru berhenti mendadak. Kakinya lemas. Tangannya otomatis memegang tengkuknya, tempat port neural implannya berada. Sakit tajam menusuk otaknya, tapi kali ini... rasanya berbeda. Rasanya seperti pulang.
“Ayah...” bisiknya, air mata mengalir tanpa sadar. “Dia membangun ini... untukku.”
Allbiru segera mendekati Sabiru, tangannya mengecek denyut nadi gadis itu. “Ru, kau baik-baik saja? Detak jantungmu naik drastis.”
“Aku... aku bisa merasakannya,” kata Sabiru, suaranya bergetar. “Ruang ini... bernapas bersamaku. Setiap lampu, setiap kabel... mereka mengenaliku.”
Aldo berjalan mendekati konsol, matanya menyipit membaca teks di layar. “‘Archive Mode’... Apa artinya?”
Tiba-tiba, layar konsol berubah. Sebuah video rekaman muncul. Wajah seorang pria tua dengan rambut putih dan bekas luka bakar di separuh wajahnya muncul — Arisendra Naverlla.
"Jika kau melihat ini, Sabiru, berarti kau telah datang. Maafkan Ayah telah meninggalkanmu selama 22 tahun. Tapi aku harus melakukannya. Rio mengincar darahmu — bukan untuk membunuhmu, tapi untuk menjadimu kunci keabadian. Project Rambutan bukan tentang senjata. Itu tentang mentransfer kesadaran manusia ke dalam jaringan digital. Dan kau... kau adalah satu-satunya yang bisa mengendalikan 'Hard Drive Hidup' itu."
Video berganti. Layar menampilkan gambar sebuah kapsul kaca besar berisi cairan hijau berpendar. Di dalamnya, terlihat objek hitam berbentuk seperti otak manusia yang terbuat dari silikon dan kabel emas.
"Itu adalah Hard Drive Hidupku, Sabiru. Aku menyimpan seluruh ingatanku, pengetahuanku, dan bukti kejahatan Rio di dalamnya. Tapi itu terkunci. Hanya otakmu — dengan Neural Link bawaanmu — yang bisa membukanya. Jika kau berhasil mengaksesnya, kau akan menjadi pemilik sah Project Rambutan. Dan kau bisa menghancurkan Rio dari dalam."
Video berakhir. Layar kembali menampilkan pesan:
> NEURAL SYNC REQUIRED TO ACCESS ARCHIVE.
> WARNING: PROCESS MAY CAUSE PERMANENT NEURAL DAMAGE IF NOT READY.
Sabiru menatap kursi eksekusi itu. Kursi yang dirancang khusus untuk tubuhnya. Untuk otaknya. Untuk darahnya.
“Aku harus duduk di sana,” katanya tegas.
“Tidak!” seru Allbiru, menarik lengan Sabiru. “Itu bisa membunuhmu! Otakmu belum siap menerima beban data sebesar itu!”
“Aku tidak punya pilihan, Biru,” kata Sabiru, melepaskan diri dari pegangan Allbiru. Matanya kini bersinar dingin, penuh determinasi yang menyeramkan. “Rio akan datang sebentar lagi. Dan jika aku tidak mengakses Hard Drive itu sekarang, kita semua mati. Atau worse... dia mendapatkan keabadian.”
Aldo menatap putrinya (secara emosional) dengan tatapan sedih namun bangga. “Kalau begitu... kami akan menjagamu. Apa pun yang terjadi, jangan lepaskan fokus.”
Sabiru tersenyum tipis. Senyum yang sangat mirip Arisendra.
“Aku tidak akan gagal, Yah. Karena aku bukan sekadar anaknya. Aku adalah warisannya.”
Dia berjalan menuju kursi eksekusi, langkahnya mantap. Saat dia duduk, kabel-kabel otomatis keluar dari sandaran kepala, mencari port neural di lehernya.
KLIK.
Kabel terhubung.
Dunia Sabiru berubah.