NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22.

“Ayah, Ibu…” panggil Viola kepada kedua orang tuanya, Albert Wiliam Anderlecht dan Dynara Aprillia

“Ada apa, Sayang?” tanya mereka serempak.

“Hari ini aku harus pergi ke Amerika. Ada rapat penting dan aku sementara akan mengurus perusahaan Tante di sana,” ujar Viola tenang.

Ayah dan ibunya mengangguk. “Baik, hati‑hati di sana.”

“Iya, Ayah, Ibu.”

Viola kemudian menghampiri keluarga besar.

“Kakek, Nenek… Viola pamit.”

“Tante, Paman… Viera juga pamit.”

Ia lalu memandang dua sepupunya, Viora dan Viera.

“Kak Viola, Viera…”

“Kami pasti bakal kangen,” ujar mereka bersamaan.

Meski hanya sepupu, hubungan mereka seperti saudara kandung erat dan saling melindungi.

Tiga gadis itu berpelukan lama, seakan enggan berpisah karena biasanya mereka selalu bersama.

“Viora…” ucap Viola pelan.

“Iya, kenapa?” jawab Viora.

“Jujur… kamu lagi dekat sama seseorang ya?” goda Viola.

Wajah Viora memerah. Viera hanya mengamati tanpa menyela.

“Hmm… iya. Aku dekat dengan Om Robert Pattinson,” jawabnya lirih.

“Wah, keren! Semangat terus!” kata Viola antusias.

“Aku sudah tahu dari lama. Kamu sering pamer lukisan wajahnya di kamar,” tambah Viola sambil tersenyum menggoda.

Viora semakin salah tingkah.

“Semoga lancar sampai ke pernikahan,” kata Viola.

Ia menatap Viera. “Tolong jaga Viora. Jangan sampai satu pun dari kita terluka.”

Viera mengangguk mantap. “Tentu.”

Viola kembali berpamitan kepada paman dan tantenya.

“Viola berangkat ke Amerika untuk meeting di perusahaan Tante.”

“Jaga diri,” pesan John.

“Iya, Om. Kalau ada yang macam‑macam… aku selesaikan sendiri,” jawab Viola dingin.

John menghela napas kecil. “Kekejaman Tante kalian benar‑benar menurun ke kalian bertiga.”

“Tentu saja. Sejak umur 10 tahun kami sudah dilatih bela diri oleh Tante,” kata Viola.

John tersenyum kecil mengingat masa mudanya bersama Liora dan Javi.

Viola lalu mengusap kepala bayi kecil di gendongan.

“Adik ganteng… Kakak pergi dulu ya.”

Dirgantara menggenggam jarinya dan tersenyum. Viola tersenyum balik sebelum benar‑benar pergi.

Tak lama kemudian, Viola terbang ke Amerika dengan jet pribadi milik Liora. Setibanya di sana, asistennya, Anna, menjemput.

“Kita sudah sampai di mansion Nyonya Liora,” lapor Anna.

Viola masuk dan beristirahat. Rumah itu bukan tempat asing ia pernah tinggal di sana saat kuliah.

Keesokan paginya, Anna mengingatkan, “Nyonya, meeting dengan Tuan Javi pukul 08.00.”

“Siapkan semuanya seperti biasa,” jawab Viola dingin.

Di kantor Liora, aura wibawa Viola membuat para karyawan segan. Ia kemudian memasuki ruang meeting. Javi Alexander datang sedikit terlambat.

“Maaf saya terlambat, Nyonya Viola.” Ia tersenyum, tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada kecantikan Viola yang semakin memukau.

“Baik, mari kita mulai,” jawab Viola tegas.

Meeting berjalan lancar dan profesional, dan Javi benar‑benar terkesan.

“Saya sangat puas. Anda luar biasa.”

“Itu sudah tugas saya.”

“Karakter Anda sangat mirip Tante Liora.”

“Wajar. Kami bertiga dilatih langsung oleh Tante,” balas Viola.

Saat mereka hendak pergi, seorang pria tiba‑tiba menyerang. Viola menghindar cepat dan melumpuhkannya tanpa ragu.

“Anna,” panggilnya dingin.

“Ya, Nyonya.”

“Bawa dia ke markas. Aku yang akan mengeksekusinya.”

“Baik.”

Javi terpaku antara kagum dan ngeri. Tapi tatapannya tertuju pada luka di lengan Viola.

Ia menahan langkah Viola. “Biar saya yang obati.”

“Tidak perlu. Ini hanya luka kecil.”

Namun Javi tidak menghiraukan. Ia langsung mengangkat Viola ke dalam mobil saat tenaganya melemah.

Sesampainya di mansion Javi, ia menggendong Viola ke kamar dan mengobati lukanya dengan lembut.

“Om, aku bisa sendiri…” protes Viola.

Ucapan itu terhenti saat Javi tiba‑tiba mencium bibirnya dengan lembut. Viola terkejut, tapi tidak mendorongnya. Perlahan, ia membalas ciuman itu.

Ketika keduanya melepaskan diri, napas mereka memburu.

“Om… kenapa berubah?” tanya Viola pelan.

Javi menatapnya tajam.

“Karena… aku mencintaimu, Viola Wiliam Anderlecht.”

Ia mengecup kening Viola perlahan.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!