Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.
Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!
Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Mimpi Buruk dan Pasukan Harapan
"Potong kepalanya! Hukum mati Permaisuri gila!"
Suara teriakan itu menggema, memantul di antara dinding-dinding batu lapangan eksekusi yang dingin. Melan berlutut dengan tangan terikat ke belakang.
Lehernya sudah diletakkan di atas balok kayu yang kasar dan berbau amis darah kering. Di hadapannya, lautan manusia bersorak sorai, melemparkan sayuran busuk dan makian yang menyakitkan telinga.
Namun, bukan kerumunan itu yang membuat dada Melan sesak. Di atas panggung kehormatan, Raja Nolan berdiri dengan jubah kebesarannya.
Di sampingnya, Fek Fe menggelayut manja. Yang membuat Melan ingin berteriak histeris adalah perhiasan yang dipakai wanita itu.
"Itu... itu kalung zamrud gue! Itu mahkota mutiara gue!" teriak Melan, tapi suaranya seperti tertahan di tenggorokan.
Fek Fe membelai kalung itu dengan jari-jarinya yang lentik, lalu menatap Melan dengan senyum kemenangan yang amat sangat lebar.
Tanpa rasa malu, Fek Fe menarik kerah baju Nolan dan mencium bibir pria itu dengan mesra di depan publik. Nolan membalas ciuman itu, tapi matanya tetap terbuka, menatap dingin ke arah Melan seolah sedang menonton pertunjukan komedi yang membosankan.
"Emas gue! Balikin emas gue, dasar pelakor dempul!" Melan meronta-ronta.
Algojo di sampingnya mengangkat kapak raksasa yang berkilauan tertimpa cahaya matahari. Suara gesekan logamnya terdengar mengerikan.
Sring!
Kapak itu mulai diayunkan turun dengan kecepatan tinggi menuju leher Melan.
"TIDAAAAAAK!"
"Yang Mulia! Bangun, Yang Mulia!"
*Gasp!*
Melan tersentak bangun, napasnya memburu seperti orang habis lari maraton. Keringat dingin membasahi dahi dan punggungnya. Dia langsung meraba lehernya sendiri. Masih ada. Masih utuh.
"Aduh... jantung gue mau copot," gumamnya sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang.
"Yang Mulia Permaisuri, Anda baik-baik saja? Anda berteriak sangat keras soal emas," Dayang Lin mendekat dengan wajah khawatir, membawa segelas air putih.
Melan menyambar gelas itu dan meminumnya sampai tandas. "Mimpi buruk, Lin. Buruk banget. Masa si bedak tembok itu ciuman sama Nolan sambil pakai perhiasan gue? Terus kepala saya mau dipenggal lagi. Amit-amit jabang bayi!"
Melan menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir bayangan mengerikan itu. Gue nggak boleh mati konyol lagi. Apalagi harta gue diambil orang lain. Nggak akan gue biarin!
"Yang Mulia," suara Lin kembali menarik perhatiannya. "Maaf mengganggu istirahat Anda, tapi orang-orang dari pemukiman kumuh yang Anda temui kemarin... mereka sudah sampai di gerbang belakang. Jumlahnya cukup banyak, Yang Mulia."
Mendengar itu, kantuk Melan hilang seketika. "Oh, mereka beneran datang? Bagus! Cepat siapkan baju yang praktis, Lin. Jangan yang banyak rumbainya, saya mau kerja lapangan!"
Setelah bersiap dengan cepat, Melan bergegas menuju gerbang belakang istana. Benar saja, di sana sudah berdiri sekumpulan orang yang penampilannya sangat kontras dengan kemegahan istana.
Ada sekitar 25 orang pria berbadan tegap namun kurus, 10 orang wanita dengan wajah lelah, dan 5 orang anak kecil yang bersembunyi di balik rok ibu mereka.
Para penjaga istana menatap mereka dengan tatapan jijik dan tangan yang tetap siaga di gagang pedang. Begitu Melan muncul, suasana mendadak hening.
"Yang Mulia Permaisuri!" seru pemuda tegap yang kemarin ditemui Melan. Dia membungkuk dalam, diikuti oleh yang lainnya.
Melan berjalan mendekat, menatap mereka satu per satu dengan pandangan menilai. "Kalian benar-benar datang. Saya hargai keberanian kalian."
Melan berdehem, lalu mulai memberikan instruksi dengan suara lantang agar terdengar oleh semua orang.
"Dengar semuanya! Saya tidak membawa kalian ke sini untuk diberi sedekah secara cuma-cuma. Saya membawa kalian ke sini untuk bekerja. Kalian ingin mengubah hidup? Inilah saatnya."
Dia menunjuk ke arah barisan pria. "Saya dengar sebagian besar dari kalian adalah mantan kuli atau tukang bangunan yang kehilangan pekerjaan. Benar?"
"Benar, Yang Mulia," jawab si pemuda. "Saya Jaka, saya dulu mandor bangunan sebelum daerah kami digusur."
"Bagus, Jaka. Tugas kalian adalah membangun. Saya sudah punya denah dan lokasi. Kalian akan membangun sebuah gedung yang sangat besar, yang belum pernah ada di kerajaan ini. Paham?"
"Paham, Yang Mulia!" jawab para pria itu serempak, meski wajah mereka masih tampak ragu.
Melan beralih ke arah para wanita dan anak-anak. "Untuk para wanita dan adik-adik kecil, jangan khawatir. Kalian tidak akan mengangkut batu.
Tugas kalian adalah mengelola dapur umum. Kalian harus memasak untuk para pekerja. Makan tiga kali sehari, menu sehat dan bergizi. Saya tidak mau pekerja saya pingsan gara-gara kurang gizi."
Ibu-ibu itu saling berpandangan dengan mata berkaca-kaca. "Kami... kami benar-benar akan diberi makan, Yang Mulia?" tanya salah satu ibu sambil memeluk anaknya.
"Bukan cuma makan," Melan tersenyum tipis. "Kalian juga akan saya beri upah mingguan. Uangnya dari kantong pribadi saya sendiri, bukan dari kas kerajaan. Jadi kalian tidak perlu takut dipotong pajak atau apa pun."
Melan kemudian mengajak mereka bergerak menuju sebuah area penginapan yang terletak tidak jauh dari lokasi tanah luas yang akan dibangun Mall. Itu adalah bangunan bekas asrama ksatria yang sudah lama kosong.
"Lin, pastikan bahan masakan segera dikirim ke sini. Saya sudah menyewa beberapa prajurit untuk membantu mengangkut logistik. Jaka, ini denah kasarnya," Melan menyerahkan beberapa lembar kertas yang dia gambar semalaman (dengan bantuan daya ingat Kinan soal bentuk bangunan modern).
"Yang Mulia," Jaka menatap gambar itu dengan kening berkerut. "Bentuknya... sangat aneh. Banyak jendela kaca besar, dan ada tangga yang... berputar?"
"Itu namanya estetika, Jaka. Kamu ikuti saja instruksi saya. Kalau bingung, tanya. Jangan asal bangun," jelas Melan.
"Dan ingat satu hal Keamanan nomor satu. Saya akan kirim perlengkapan perlindungan untuk kalian besok."
Saat Melan sedang asyik menjelaskan teknis pembangunan, dia tidak menyadari bahwa di kejauhan, di atas salah satu menara pengawas istana, seseorang sedang memperhatikannya melalui teropong.
Raja Nolan berdiri di sana, mengamati bagaimana Permaisurinya yang "gila harta" itu justru sedang sibuk mengatur orang-orang dari kasta terendah.
"Apa yang sebenarnya dia pikirkan?" gumam Nolan. "Dia menggunakan uang pribadinya untuk menghidupi gelandangan itu? Apa dia benar-benar mau membangun gedung aneh itu?"
Nolan menurunkan teropongnya. Hatinya merasa terusik. Melan yang sekarang sangat sulit ditebak. Dia tegas, cerdas, dan punya kharisma yang bahkan mulai mengintimidasi para penjaga.
Kembali ke tempat penginapan, Melan baru saja selesai membagikan uang muka kepada masing-masing orang.
"Gue harus pastiin mall ini jadi secepatnya," gumam Melan saat berjalan kembali ke keretanya.
"Kalo nunggu bantuan Nolan, yang ada malah dibangunin rumah ibadah doang atau tempat latihan perang. Gue butuh tempat belanja!"
"Yang Mulia," panggil Lin pelan. "Uang yang Anda keluarkan tadi... jumlahnya cukup banyak. Apakah Anda yakin tidak ingin meminta tambahan dari Yang Mulia Raja? Beliau pasti punya anggaran untuk pembangunan kota."
Melan mendengus sambil masuk ke dalam kereta. "Minta sama dia? Terus nanti dia merasa punya hak untuk ngatur-ngatur Mall gue? Nggak akan, Lin! Biar dia sibuk sama urusan negaranya dan selirnya yang dempul itu. Mall ini adalah milik saya seratus persen. Keuntungan, manajemen, semuanya di tangan saya."
Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang empuk. "Lagi pula, kalau saya pakai uang sendiri, dia nggak punya alasan buat memecat saya atau menghalangi saya. Uang adalah kekuatan, Lin. Dan di dunia ini, saya mau jadi orang paling kuat lewat kekayaan saya."
Kinan alias Melan tersenyum lebar. Bayangan Mall yang megah dengan lampu-lampu indah dan toko-toko mewah mulai menari di kepalanya. Dia tidak peduli lagi dengan mimpi buruk tadi.
*Gue nggak bakal berakhir di tempat pemenggalan,* batinnya penuh tekad.
Gue bakal berakhir di atas takhta emas yang gue bangun sendiri, dan Nolan... dia mungkin bakal jadi orang pertama yang minta diskon buat beli baju baru di Mall gue karena seleranya yang butuh bimbingan itu.
"Ayo pulang, Lin. Saya lapar. Bilang ke dapur, saya mau makan steak lagi, tapi kali ini pakai saus lada hitam yang banyak!"
Kereta kuda itu pun melaju kembali ke istana, membawa Permaisuri yang kini tidak lagi mencari cinta, melainkan sedang membangun sebuah imperium bisnis di tengah dunia yang asing.