Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rubah betina
Pagi itu, Arumi sedang asyik mengobrol dengan sahabatnya, Santi, di depan gedung kantor. Udara pagi masih sejuk dan mereka sengaja berdiri di luar karena masih ada waktu sebelum jam kerja dimulai. Di tempat itu, mereka lebih leluasa berbicara tanpa gangguan rekan kerja lain.
Tiba-tiba, deru mobil mewah terdengar. Sebuah mobil sedan hitam mengkilap berhenti tepat di depan mereka. Dari dalam mobil itu, turunlah Rina, saudara tiri Arumi, dengan sikap angkuh yang sudah menjadi ciri khasnya. Rina melangkah mendekat sambil mengibaskan rambutnya yang panjang. Mobil itu adalah hadiah dari ayah mereka, sesuatu yang sering ia pamer-pamerkan.
“Eh, ada pengantin baru!” ujar Rina dengan suara keras dan penuh ejekan begitu berada di dekat Arumi.
Santi yang berdiri di samping Arumi langsung berbisik pelan, “Eh, Rum, memang siapa yang dimaksud si rubah itu?” Ia takut Rina mendengar, tapi nada suaranya jelas menunjukkan kebencian yang sudah lama dipendam.
Arumi hanya diam. Ia tidak menjawab pertanyaan Santi. Hatinya sudah mulai panas mendengar suara Rina. Santi memang sangat membenci Rina karena ia selalu membuli Arumi. Namun, Santi tidak bisa berbuat banyak. Jabatan Rina sebagai sekretaris pribadi wakil direktur membuatnya memiliki kekuasaan yang cukup besar di perusahaan ini. Dulu, ketika Santi pernah membela Arumi, ia langsung dipanggil wakil direktur dan mendapat surat peringatan pertama. Sejak saat itu, Arumi selalu meminta teman-temannya untuk tidak ikut campur jika Rina dan kelompoknya sedang mengerjainya. Ia tidak ingin teman-temannya kehilangan pekerjaan hanya karena membelanya.
Rina semakin mendekat dengan gaya sok kaya dan sok cantiknya. “Eh, Arumi! Bukannya kamu pengantin baru? Kok sudah kerja saja? Bukannya kamu lagi enak-enakan sama suami kere-mu itu?”
Mendengar ucapan Rina, Santi tampak terkejut. Matanya membulat, tapi ia memilih diam dan tidak ikut campur. Ia masih ingat akibat yang pernah ia terima.
Arumi menatap Rina dengan tatapan ketus. “Memang apa urusannya denganmu?” sahutnya dengan nada dingin.
Rina tersenyum sinis. “Kamu lupa ya, siapa aku? Tentu saja ada urusannya denganku! Tapi aku sekarang senang sekali karena kamu sudah pergi dari rumah kami. Sekarang aku lebih bebas di rumah, dan yang pasti, Ayah sekarang lebih sayang kepadaku!”
Arumi menatap Rina dengan pandangan sinis. “Bukankah ini yang kamu dan ibumu inginkan? Aku keluar dari rumah dan Ayah memutuskan hubungan denganku. Kamu pasti senang sekali. Sekarang kalian sudah bebas berkuasa di rumah peninggalan ibuku.”
Mendengar itu, Rina tersenyum penuh kemenangan. Senyum itu membuat Arumi merasa muak dan jijik. Senyum kemunafikan yang sudah sering ia lihat sejak Rina dan ibunya datang ke rumah. Sejak kedatangan mereka, kehidupan Arumi berubah seperti neraka, padahal itu adalah rumah warisan ibu kandungnya sendiri.
“Hehe, itu kamu tahu! Sekarang aku bebas dan aku senang karena kamu tinggal bersama suamimu yang gembel itu!” kata Rina dengan nada menghina. Mulutnya memang sama tajamnya dengan mulut ibunya. Pedas sekali ketika berbicara dengan Arumi, tetapi manis melebihi gula ketika berbicara dengan Ayah.
“Dasar kalian memang rubah betina!” makian Arumi keluar begitu saja. Ia sudah sangat membenci Rina.
“Apa? Kamu berani mengataiku?” Rina membalas dengan angkuh. “Apa kamu tidak takut kalau kamu dipecat dari perusahaan ini?”
“Aku tidak takut!” tantang Arumi. “Lagian sekarang aku sudah punya suami. Jadi aku tidak takut kelaparan bila aku tidak bekerja di perusahaan ini!”
Mendengar jawaban Arumi, Santi yang berdiri di sampingnya melototkan mata. Ia seakan tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu.
“Sombong sekali! Suamimu yang kere itu mana mungkin bisa mencukupi kebutuhanmu dan memberi makan kamu! Apalagi kalau kamu sudah tidak bekerja di sini!” ejek Rina lagi.
“Lebih baik kamu diam! Nggak usah banyak ngomong!” balas Arumi kesal. “Rezeki itu diatur oleh Allah. Tidak berarti aku tidak bisa makan kalau aku tidak bekerja di sini!”
Santi hanya diam. Ia tahu betul sejak dulu Arumi dan Rina tidak pernah cocok. Rina selalu menghina dan menjatuhkan Arumi.
“Sombong! Makanya kamu jangan sok-sokan jual mahal!” lanjut Rina dengan nada sinis. “Enak juga kalau kamu menikah dengan Juragan Dirga daripada menikah dengan si gembel itu! Paling tidak kamu bisa makan tanpa bekerja dan uang serta kekayaanmu bisa berlimpah. Juragan pasti akan menuruti semua keinginanmu!”
“Kenapa harus aku yang menikah dengan Juragan Dirga? Kenapa tidak kamu sendiri saja?” balas Arumi tak kalah sinis.
“Apa? Aku menikah dengan Juragan Dirga?” Rina tertawa mencemooh. “Sorry ya! Cowokku saja lebih tampan dan lebih tajir daripada Juragan Dirga! Dia cocoknya hanya untuk kamu!”
Mendengar ucapan Rina, amarah Arumi semakin memuncak. Rasanya ingin ia meremas mulut Rina yang selalu bicara pedas itu.
“Makanya jadi cewek itu yang pintar dan tidak bodoh seperti kamu!” hina Rina lagi.
“Apa? Kamu mengatakan aku bodoh?” Emosi Arumi mulai tersulut. Ia ingin maju dan memberi pelajaran pada Rina, tetapi Santi cepat-cepat memegang tangannya dengan kuat.
“Sudah, Rum! Jangan kamu ladeni!” nasihat Santi pelan. “Yang ada nanti yang rugi kamu sendiri.”
“Tapi dia menghinaku, San! Dan dia juga mengataiku bodoh!” protes Arumi, merasa tidak terima.
“Sudah lah, Rum. Lagian kamu juga melawannya tidak akan menang. Yang ada malah kamu semakin disalahkan,” bujuk Santi lagi.
“Dengar itu! Temanmu saja lebih pintar daripada kamu!” kata Rina sombong. “Kamu tidak akan bisa melawanku karena di perusahaan ini kamu hanya cecunguk! Gampang saja aku melempar kamu dari perusahaan ini. Dan bila perlu, aku akan memenjarakanmu karena kamu sudah berani padaku!”
Arumi mencoba menahan emosinya. Apa yang dikatakan Rina memang benar. Di perusahaan ini, Arumi tidak punya kuasa apa-apa. Jabatan Rina sebagai sekretaris pribadi wakil direktur membuatnya sangat berpengaruh.
“Sabar, Rum! Jangan sampai kamu terpancing amarahmu. Jangan sampai kemarahanmu itu merugikan dirimu sendiri,” bisik Santi sambil terus memegang lengan Arumi.
Arumi berusaha meredam amarahnya meski dadanya naik turun menahan emosi.
“Sudah lah. Kebetulan aku malas berurusan dengan manusia-manusia kere seperti kalian!” kata Rina dengan nada angkuh. Dengan langkah arogan dan sombong, ia bergegas meninggalkan Arumi dan Santi, lalu masuk ke gedung kantor.
Santi menghela napas lega. “Sudah lah, Rum. Sebaiknya kita masuk juga. Sebentar lagi jam kerja kita dimulai.” Ia menuntun Arumi untuk ikut masuk bersamanya.
Sambil berjalan menuju ruangan kerja, Santi bertanya pelan, “Oh ya, Rum, memang apa yang dikatakan si rubah itu benar? Kamu sudah menikah dan sekarang sudah bersuami?”
Arumi masih berusaha meredam amarahnya. Ia belum punya minat untuk menjelaskan apa pun saat ini. “Nanti siang aku akan menceritakan semuanya. Sekarang aku mau ke tempatku dulu. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku sebelum lampir itu kembali mencaciku,” jawab Arumi datar.
Arumi segera duduk di mejanya. Pikirannya masih dipenuhi oleh pertengkaran tadi. Tumpukan laporan dan tugas yang menumpuk karena kemarin hari Minggu membuatnya harus bekerja ekstra. Namun, setiap kali ia mencoba fokus, kata-kata Rina terus terngiang di telinganya.
“Suami kere … gembel … bodoh…”
Arumi menggenggam pulpennya erat. Ia teringat Elang, suaminya yang kini sedang menunggunya di rumah kontrakan kecil mereka. Meski Rina menghina habis-habisan, Arumi tahu Elang adalah pilihan hatinya. Bukan karena harta, tapi karena kasih sayang dan ketulusan yang selama ini tak pernah ia dapatkan dari keluarga tirinya.
Santi sesekali melirik dari mejanya, khawatir dengan keadaan sahabatnya. Ia tahu Arumi sedang menahan banyak hal. Tekanan dari ibu tiri, Rina, pekerjaan, dan sekarang rahasia pernikahannya dengan Elang yang masih disembunyikan dari semua orang.
Sepanjang pagi itu, Arumi berusaha keras menyelesaikan tugasnya. Sesekali ia melirik ke arah pintu, takut Rina muncul lagi dan melanjutkan ejekannya. Namun, ia juga sadar bahwa ia tidak boleh terus-terusan kalah oleh amarah. Ia harus kuat, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk Elang yang kini menjadi keluarganya yang baru.
Saat jam istirahat siang mendekat, Arumi menghela napas panjang. Ia berjanji pada diri sendiri bahwa suatu saat nanti ia akan bercerita semuanya pada Santi. Tapi hari ini, ia hanya ingin menyelesaikan pekerjaan dan pulang ke pelukan Elang yang selalu memberinya ketenangan.
Pertengkaran dengan Rina pagi tadi memang menyakitkan, tapi Arumi tahu ia tidak boleh membiarkan kata-kata itu menghancurkan harinya. Ia adalah Arumi, pengantin baru yang sedang belajar tegar menghadapi dunia, meski rahasianya masih harus dijaga rapat-rapat