Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Tak Sama
"Jemput Kayla dulu aja, Ra... Di TK Taman Anggrek... nggak jauh dari rumah," kata Ardi sambil merintih sesekali.
"Nggak. Gue bawa lo ke rumah sakit dulu baru jemput Kayla," kata Dira.
"Dia... main di rumah Ara... deket TK... tembok pink," kata Ardi. Tampaknya badannya semakin sakit.
"Oke. Ntar gue jemput," kata Dira sambil melajukan mobil Ardi secepat yang dia bisa menuju rumah sakit.
"Jangan bilang... Arumi," pesan Ardi.
"Lo tidur aja," kata Dira tak memberi respon pada permintaan Ardi.
Lima belas menit kemudian, Dira sudah berada di ruang UGD Rumah Sakit Daerah dengan Ardi yang terbaring di bed pasien.
"Ibuk silakan mengurus administrasi Bapak dulu di depan," kata seorang perawat.
"Eh?"
"Tolong, Ra," kata Ardi lirih.
Tanpa perlu menjawab lagi, Dira menuju meja perawat di bagian depan UGD sambil menyambar tas Ardi.
"Mbak, saya mau ngurus administrasi pasien yang baru aja masuk. Tapi saya cuma rekan kerjanya, jadi saya isi formnya berdasarkan kartu identitas aja ya," kata Dira.
"Oh, boleh, Buk. Keluarganya sudah dihubungi? Mungkin ada asuransi kesehatan atau alergi obat yang perlu dilampirkan," kata perawat, sopan.
"Nanti coba saya hubungi abis ini ya, Mbak," kata Dira sambil mengambil kartu identitas Ardi dari dompet.
"Baik, Buk. Silakan,"
Dira mengisi data diri pasien dengan cepat lalu menyerahkannya pada perawat yang berjaga. Setelahnya, Dira keluar ruang UGD untuk menelepon Dimas.
"Dim, bisa jemput Kayla?"
"Eh? Kok jadi kamu yang minta tolong?"
"Panjang ceritanya. Sekarang lo jemput dia dulu. Di rumah temennya, namanya Ara. Rumah pink deket TK Taman Anggrek. Deket kan dari klinik lo?" kata Dira.
"Oke. Gue jemput sekarang. Mumpung belum ada pasien,"
"Oke. Sama lo dulu bisa kan? Ntar gue ceritain," kata Dira memastikan Dimas bisa menjaga Kayla.
"Aman,"
"Oke. Thanks,"
Dira memutus sambungan telepon. Sekarang tinggal bagaimana caranya memberitahu Arumi. Ponsel Ardi menggunakan kunci password dan sidik jari. Ardi sudah memintanya untuk tidak memberitahu Arumi. Dira berpikir sejenak. Lalu kembali masuk ke ruang UGD.
'Persetan! Arumi harus tau,'
***
Sore itu keadaan di rumah ibu Arumi begitu syahdu. Arumi tengah menonton drama Korea yang kebetulan disiarkan di televisi saat ponselnya berdering. Arumi melihat layar ponselnya.
"Mas Ardi?" gumam Arumi.
Arumi ragu untuk menerima panggilan itu. Ponsel berhenti berdering. Arumi kembali menyimak drama Korea di televisi. Ponsel Arumi kembali berdering. Bukan panggilan telepon, melainkan notifikasi pesan singkat masuk. Arumi meraih ponselnya. Matanya membulat membaca isi pesan singkat itu.
Gue Dira. Ardi di UGD RSUD. Badannya lemes abis meeting. Cuma mau ngabarin. Sorry.
Pikiran Arumi seketika melayang pada Kayla. Arumi segera menghubungi ponsel Ardi.
"Halo?"
"Gimana keadaannya, Mbak?" tanya Arumi.
"Kata Dokter kemungkinan lambungnya. Seharian belum makan katanya," kata Dira.
"Seharian belum makan?" tanya Arumi memastikan.
"Lo nggak usah khawatir. Kata dokter Ardi cuma butuh di infus bentar aja disini," kata Dira. Arumi terdiam.
"Sorry udah ganggu. Oh, Kayla sama Dimas. Gue minta tolong dia buat jemput," lanjut Dira.
"Oh, makasih, Mbak. Saya kesana sekarang," kata Arumi lalu menutup sambungan teleponnya.
Arumi menatap layar ponselnya. Wallpaper ponselnya masih sama selama tujuh tahun. Foto pernikahannya dengan Ardi. Dia menatap lekat-lekat wajah Ardi tujuh tahun yang lalu.
'Aku sudah memutuskannya, Mas,'
***
"Sorry. Gue bilang ke Arumi," kata Dira. Ardi hanya menghela nafas panjang.
"Gue panik. Gue takut lo kenapa-kenapa," lanjut Dira.
"Makasih," ucap Ardi lirih.
Hening.
"Gue nggak yakin Arumi bakal khawatir," kata Ardi. Nada suaranya masih lemah.
"Dia bilang mau kesini," kata Dira.
"Mungkin cuma memenuhi kewajibannya sebagai seorang isteri,"
"Siapa tau dia memang khawatir?"
"Masalahnya akhir-akhir ini dia beda, Ra," kata Ardi.
"Dan mungkin ini kesempatan dari Tuhan buat lo?" kata Dira. Ardi menghela nafas panjang.
"Entah,"
Hening kembali menyelimuti ruang UGD. Hanya terdengar suara dokter dan perawat yang sibuk melakukan tindakan di bed sebelah.
"Gue baru sadar," kata Ardi memecah keheningan.
"Selama ini bukan gue yang jaga Arumi," lanjut Ardi dengan suara yang masih lemah.
"Tapi Arumi yang jaga gue," kata Ardi sambil tersenyum kecut. Dira diam. Dira dapat melihat penyesalan di mata Ardi yang menatap lurus langit-langit ruang UGD.
"Buktinya... Baru sehari Arumi nggak di rumah, gue udah nggak bisa apa-apa," kata Ardi. Dira masih diam.
"Lo tau, Ra? Tadi pagi Kayla nggak mandi. Iya, ke sekolah nggak mandi. Cuma gosok gigi sama cuci muka aja," kata Ardi. Senyum kecut kembali tersungging di bibirnya.
"Anehnya, Kayla nggak protes. Dia bahkan ngambil seragamnya sendiri. Dan waktu gue cuma asal nguncir rambutnya, dia cuma diem, seolah dia tau kalo papanya nggak bisa ngurus dia kek mamanya," lanjut Ardi. Dira tersenyum.
"Anak lo hebat," puji Dira. Ardi mengangguk pelan.
"Karena mamanya Kayla Arumi," kata Ardi.
Hening. Bahkan pasien sebelah sudah turut hening.
"Gue emang brengsek, Ra," kata Ardi akhirnya. Dira mengerutkan alisnya, bingung.
"Harusnya gue perbaiki ini dari dulu," lanjut Ardi. Suaranya terdengar bergetar menahan tangis.
"Nggak ada kata terlambat, Ar," kata Dira, tak tahu harus memberi respon seperti apa.
"Semoga aja," kata Ardi sambil memejamkan mata.
Ardi dan Dira terdiam. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Ardi masih belum mengerti mengapa sikap Arumi tiba-tiba berubah padanya. Ardi mengira Arumi sudah lelah dengan sikap Ardi akhir-akhir ini pada Arumi. Tapi, Ardi sudah mencoba kembali hangat pada Arumi. Ardi tak mengerti apa lagi yang harus dia lakukan.
"Maaf, Mbak," suara Arumi memecah keheningan antara Dira dan Ardi.
"Arumi?"
"Gimana? Apa kata dokter, Mbak?" tanya Arumi pada Dira.
"Cuma telat makan. Katanya nggak sarapan tadi. Trus siang nggak sempet makan keburu meeting," jelas Dira. Arumi menatap Ardi yang terbaring menatapnya.
"Maaf, Rum, udah ganggu waktu kamu," kata Ardi lirih. Arumi mendekati Ardi. Dira memutuskan untuk keluar, memberi pasangan suami isteri itu ruang.
Arumi duduk di sebelah bed tempat Ardi terbaring lemah.
"Ada hal yang mau aku sampein, Mas," kata Arumi. Ardi menatap kedua mata Arumi. Masih terasa dingin disana.
"Besok... kalo kamu udah enakan, kita omongin ini," kata Arumi. Ardi mengangguk pelan.
"Kamu istirahat dulu aja. Aku mau urus administrasi di depan," kata Arumi lalu beranjak dari duduknya. Ardi meraih tangan Arumi sebelum Arumi meninggalkannya. Arumi menoleh.
"Makasih, Rum," ucap Ardi dengan suara lemah.
Arumi tidak membalas. Hanya berusaha menyunggingkan senyum yang entah sejak kapan begitu sulit dia sunggingkan. Ardi melepaskan tangan Arumi. Arumi berlalu meninggalkan Ardi. Ardi menatap punggung Arumi dalam-dalam, seolah itu adalah terakhir kalinya dia melihat Arumi.
'Maaf, Rum. Aku janji... kalo ada kesempatan buat ku, aku akan perbaiki semuanya,'
***