Ah, sialan!
Liga berusaha tetap terlihat biasa saja walau kenyataannya perasaannya sangat gugup sekarang. "Aku hanya mengunjunginya saja dan tidak melakukan apapun. Tapi di--"
"Mengunjungi?" Mafia menyela, menatap Liga cukup intens, membuat ucapan Liga terhenti dan berganti anggukan.
"Iya. Aku hanya ingin mengunjunginya saja. Tap--"
"Sejak kapan kamu suka mengujungi tahanan?" sela Mafia lagi yang tanpa diketahui berhasil membuat jantung Liga berdebar kencang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Hening
"Kak, aku...aku..."
Vari menunduk dalam, memilin ujung rok sebatas paha yang dia pakai dengan rasa bersalah yang mulai menyergap hatinya.
"Aku apa?"
Wajah Vair mulai pias, sampai sini dia cukup tahu jika sang adik sama sekali tidak memikirkan tentangnya. sama sekali tidak mencari keberadaannya. Jadi...perjuangannya selama ini hanyalah keinginannya sendiri. Dia cemas sendiri dan khawatir sendiri.
"Bodohnya aku..."
"Kak, jangan salah paham dulu. Ak--"
"Aku apa Vari?!"
Vair menatap nyalang adiknya yang kini terlihat sendu. "Kakak cemas mikirin kamu! Kakak khawatir sama keadaan kamu. Bahkan...kakak berpikir kamu makan apa diluar sana. Tapi kamu..."
"Kak. Please jangan begini. Aku minta maaf. Ak---"
"Nggak!"
Vair mengangkat tangannya isyarat akan dia tidak mau mendengar apa apa lagi dari Vari. "Mulai detik ini...jangan panggil aku Kakak. Aku bukan kakakmu!"
"Kak! Kakak, jangan pergi. Dengarkan penjelasan aku dulu. Kak! kakak! Kak Vari! Kaaak!" Vari menjambak rambutnya frustasi karena Vari pergi meninggalkan ruangan ini.
Tidak mau menyerah, Vari mengejar Vair. Dia tidak ingin kakaknya marah padanya. Vari memang merasa menyesal dan bersalah karena tidak pernah mau mencari keberadaan sang kakak. Kehidupan disini membuatnya lupa akan keluarga satu satunya didunia yaitu sang kakak.
Melihat pintu terbuka dari dalam, Haru dan Kasim yang berjaga disana siap menyapa, tapi melihat aura berbeda dari dua wanita didepannya, Haru dan Kasim urung bersuara. Biarkan saja, mereka berdua tidak berhak ikut campur dalam urusan siapapun yang berkaitan dengan tuan Mafia.
"Kak, dengar penjelasan aku dulu..."
"Lepas! Aku bukan kakakmu!"
Vair melepas tangan Vari yang menyentuh lengannya. Rasa rasanya Vair tidak sudi lagi disentuh oleh tangan itu lagi. Mulai sekarang, Vair berjanji hanya akan memikirkan dirinya sendiri. Tidak akan ada lagi memikirkan orang lain.
Lihat, perbedaan antara dirinya dan Vari sungguh jauh berbeda. Dia sekarang terlihat nampak cantik, sedangkan dirinya? Baju lusuh, dekil, kotor, kulit wajah sama sekali tidak terawat. Rasanya perih sampai ke ulu hati melihat penampilan dirinya.
Kedua mata Vair digenangi air mata. Tapi berusaha supaya air mata itu tidak jatuh. Vair tidak mau menangisi semua ini. Tidak akan. Dengan kasar, Vair mengusap air matanya, berlari keluar dari gedung megah ini. Dia tidak tahu mau pergi kemana, asalkan, dia pergi dari tempat sang adik berada. Vair tidak mau satu tempat dengan seseorang yang telah membuatnya kecewa sedalam dalamnya.
Mafia kembali dari toilet sudah dengan perasaan yang stabil, walau belum benar benar stabil, tapi sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Dimana kakakmu?" tanya Mafia, saat melihat Vari yang berdiri di depan pintu ruangan.
"Kamu kenapa? Matamu kok sembab?" baru mafia sadari jika Vari sepertinya baru saja menangis.
"Apa yang terjadi Vari?" tanya Mafia lagi karena Vari hanya diam saja. "Dimana kakakmu?" Mafia menatap sekeliling tapi tidak ada siapa siapa.
"Kak Vair pergi Kak. Dia nggak mau ketemu aku lagi, dia nggak mau anggap aku adiknya lagi. Dia memutuskan hubungan ini," Air mata menetes deras membasahi kedua pipi cantik dan mulus Vari.
"What?!"
Mafia terkejut mendengar pernyataan dari Vari. Bukankah selama ini Vair selalu berusaha mencari Vari? Tapi kenapa begini? Kenapa mendadak memutuskan hubungan keluarga secara mendadak di detik detik mereka baru saja bertemu?
Mafia mencengkram kedua bahu ringkih Vari. "Why, Vari? Why?"
Vari menggeleng. "Aku memang bukan adik yang baik. Aku nggak pantas mendapatkan semua ini. Kak, tolong cabut semua fasilitasku," Vari menatap kedua mata Mafia dengan kedua mata yang berair, penuh permohonan.
Diluar sini, di pinggiran jalan yang begitu ramai, Vair berlari bak orang gila dengan air mata yang akhirnya tidak bisa dia bendung lagi. Vair menangis. Membuat orang orang yang berada di sana menatap ke arah Vair penuh tanya. Bisa jadi mereka semua mengira jika dirinya adalah orang tidak waras.
"Awaaas....!!"
Tiiin
Gubrak
Duarrrr
Suara benturan dan juga ledakan yang begitu keras membuat atensi semua orang tertuju pada pertigaan jalan. Di sana dua mobil dan dua motor baru saja mengalami kecelakaan beruntun. Satu mobil box besar melaju dengan kencang, menghantam satu mobil lamborghini dan di belakang mobil lamborghini itu ada dua motor matic keluaran terbaru, dan bummmm... dua motor itu meledak karena begitu kencangnya benturan.
Untungnya, Vair yang ada di pinggir jalan itu tidak ikut terserempet. Dia sigap dalam menggunakan kekuatan batinnya. Namun, dia salah. Ternyata tak lama mobil box yang menghantam kendaraan lainnya ikut meledak dan semburan apinya mengenai Vair.
"Ah! Panaaasss....!"
Mafia meraup wajahnya cukup kasar, setelah hubungan permusuhannya dengan Vair membaik, mengapa juga Vair dan Vari yang sekarang bermusuhan?
"Cepat cari kakakmu!"
Vari mengangguk, mereka berdua segera menuju lift dan ingin secepatnya mencari Vair. Bayangan di mana Vair yang katanya di lecehkan oleh Liga waktu itu membuat Mafia tidak tenang.
Setelah keduanya keluar dari gedung tempat tinggal Vari, mereka masuk ke dalam kendaraan roda empat, Mafia melupakan keberadaan dua anak buah kepercayaannya.
"Kamu bodoh sudah buat kakak kamu pergi!" Mafia tidak bisa untuk tidak menyalahkan Vari. Mafia menebak jika Vari pasti membuat kesalahan fatal.
"Kakak kamu sampai di lecehkan karena mencari keberadaan kamu Vari! Aku yang lihat perjuangannya, dan tidak semudah itu!" bentakan tak terelakan lagi, dan Vari? Dia hanya bisa menangis tersedu sedu.
Sambil melaju kendaraan roda empatnya, sisi kejam Mafia keluar, dia menghentikan kendaraannya di pinggir jalan mengambil pedang kesayangan yang selalu dia bawa kemanapun.
Vari yang sedang menangis melotot, dia tahu Mafia begitu kejam. Nah, ini adalah salah satu kenapa dia tidak mencari keberadaan sang kakak selama ini. Vari ada dalam kendali Mafia yang terobsesi dengan kak Vair sejak kecil. Bahkan Mafia tega membunuh kedua orang tuanya agar tidak ada seorangpun yang melarangnya untuk mendapatkan kak Vair.
"Kamu mau apa?"
Vari takut saat pedang Mafia di todong kearahnya. Pikiran buruk tidak terelakan lagi di kepala Vari. Vari gemetar ketakutan, meringis saat ujung pedang Mafia menggores sisi lehernya.
Mafia tertawa sumbang, tawa yang terlihat seperti psikopat. "Kamu nggak lupa kan pembunuhan orangtuamu waktu itu?"
"Kamu yang bunuh orangtuaku dan kak Vair! Kamu yang buat kami terpisahkan. Bahkan kamu tega menyekapku, dijadikan budak napsumu! Kamu juga yang sudah merencanakan semuanya agar kak Vair datang padamu, dan berhasil, dia membenciku sekarang!"
"Hahaha...aku mencintai Vair,"
"Bukan cinta! Tapi obsesi!"
"Cuih!"
greeesss
Blukkk
Darah segar keluar sangat deras setelah Mafia memenggal kepala Vari.