Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Menantangmu, Takdir Sialan!
Nara menatap sosok wanita di hadapannya tanpa berkedip. Di balik balutan pakaian rancangan desainer ternama dan aroma parfum yang harganya mungkin setara dengan biaya sewa di sekitar area tempat tinggalnya ini selama setahun, Nara melihat sesuatu yang sangat familiar, ketakutan yang dibungkus dengan keangkuhan.
“Silakan masuk, Nyonya,” ucap Nara rendah. Suaranya tidak bergetar. Tidak ada nada memohon, tidak ada kepanikan yang diharapkan sang tamu.
Nara membuka pintu lebih lebar, memberi ruang bagi wanita itu untuk melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang sempit. Sofa lama dan Kursi kayu tua yang sudah agak lapuk menjadi satu-satunya tempat duduk yang tersedia. Ibu Bagas melirik kursi itu dengan kerutan dalam di dahi, seolah-olah menyentuh permukaannya saja akan menularkan kuman yang mematikan.
"Silakan duduk. Saya akan buatkan minum sebentar," lanjut Nara sebelum ibu bagas itu sempat melontarkan kata-kata pedasnya.
Nara melangkah ke dapur kecil di belakang. Ia menyalakan kompor, menunggu air mendidih, dan menyeduh teh melati sisa kemarin.
Dengan gerakan tenang dan terukur, ia meletakkan cangkir keramik yang sudah agak retak di pinggirannya ke atas nampan plastik.
Ia tahu betul, wanita di depan itu tidak akan pernah meminumnya. Baginya, teh ini mungkin tak lebih baik dari air selokan.
Namun, bagi Nara, ini adalah caranya menunjukkan bahwa meski dunianya hancur, ia belum kehilangan martabatnya.
Nara kembali ke ruang tamu dan meletakkan teh itu di atas meja kayu kecil yang beralaskan taplak rajutan tangan almarhumah ibunya.
"Hanya teh hangat yang saya punya. Silakan," ujar Nara sembari duduk di hadapan ibu Bagas. Posisi duduknya tegak, tangannya bertaut di atas pangkuan, menatap lurus ke arah tamunya.
Ibu Bagas cukup terkejut. Ia telah menyiapkan mental untuk menghadapi seorang gadis yang menangis, memohon belas kasihan, atau mungkin seorang penggoda yang agresif.
Namun, di depannya kini duduk seorang wanita muda dengan sorot mata yang begitu dingin namun stabil. Ketenangan Nara justru terasa mengintimidasi.
"Jadi," Nara membuka suara lebih dulu, memecah kesunyian yang mencekam. "Apa yang ingin Nyonya sampaikan kepada saya? Saya yakin Nyonya tidak menempuh kemacetan Jakarta hanya untuk melihat rumah kumuh saya."
Nyonya besar itu segera berdehem, menguasai kembali kendali situasi. Ia menyilangkan kakinya, dagunya terangkat tinggi.
"Kamu tahu siapa saya, dan kamu pasti tahu kenapa saya di sini," Dia memulai dengan nada bicara yang sengaja ditekan agar terdengar berwibawa. "Saya adalah ibu Bagas. Dan saya tidak suka membuang-buang waktu dengan basa-basi. Keberadaanmu di hidup putraku sudah cukup menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu."
Nara hanya menanggapi dengan diam, membiarkan Nyonya besar itu terus memuntahkan isi kepalanya.
"Bagas adalah pewaris tunggal. Masa depannya sudah dirancang sedemikian rupa, bisnis, reputasi, dan pendamping hidup. Dia sempat kehilangan arah karena merasa kasihan padamu. Tapi rasa kasihan bukan cinta, Nara. Dan bagi keluarga kami, reputasi adalah segalanya. Kamu?" Ibu Bagas menjeda, matanya menyisir seisi ruangan dengan hina. "Kamu adalah noda yang harus dibersihkan."
Nara masih diam. Ia melihat jemari ibu Bagas merogoh tas tangannya yang seharga mobil, lalu mengeluarkan sebuah buku cek.
"Pergilah dari Jakarta. Cari kota lain, mulai hidup baru. Saya akan memberikan berapapun angka yang kamu inginkan di sini. Sepuluh kali lipat dari apa yang Bagas berikan selama ini? Atau lebih? Sebutkan saja.
Syaratnya cuma satu, hilang dari pandangan mata Bagas dan jangan pernah hubungi dia lagi. Berhenti berpikir bahwa pria seperti dia akan benar-benar mencintai penari klub sepertimu. Kamu tidak akan pernah sepadan, sampai kapan pun."
Sebuah senyum tipis, sangat singkat, muncul di bibir Nara. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum miris yang mengandung sarkasme mendalam.
"Mengapa orang-orang kaya sungguh mudah sekali meremehkan manusia lain dengan angka?" tanya Nara pelan namun tajam. "Apakah menurut Nyonya, semua hal di dunia ini memiliki label harga yang bisa dibeli dengan tanda tangan di atas kertas itu?"
Ibu Bagas sedikit tersentak. "Jangan berlagak suci, Nara. Saya tahu kamu butuh uang. Kamu menari di tiang itu demi uang, bukan? Jangan bilang sekarang kamu ingin menjual drama harga diri di depan saya."
Nara menyandarkan punggungnya, sorot matanya menajam.
"Saya menari untuk bertahan hidup, untuk menyambung detak jantung ibu saya. Itu kebutuhan, bukan hobi. Tapi status sosial? Mengapa hal itu selalu dibawa-bawa saat sedang berbincang? Apakah darah yang mengalir di tubuh Nyonya warnanya berbeda dengan darah saya? Apakah saat Nyonya mati nanti, tanah pemakaman Nyonya tidak akan membusukkan raga Nyonya sama seperti ibu saya?"
"Kurang ajar!" Ibu Bagas menggebrak meja kecil itu hingga teh di dalam cangkir sedikit tumpah. Wajahnya merah padam, citra anggunnya mulai retak. "Kamu tidak berhak bicara soal kematian di depan saya! Kamu hanyalah gangguan kecil yang sedang saya singkirkan!"
"Saya tidak punya daya upaya untuk melarang perasaan siapapun, Nyonya. Termasuk perasaan Bagas," lanjut Nara tanpa memedulikan kemarahan wanita di depannya. "Jika Nyonya ingin Bagas menjauh, bicaralah pada putra Nyonya. Jangan pada saya. Karena sejauh ini, bukan saya yang mengejarnya. Dialah yang terus berdiri di depan pintu saya."
Ibu Bagas menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan emosinya yang meledak. Ia merapikan pakaiannya, mencoba kembali ke mode 'nyonya besar'.
"Kamu pikir kamu pintar dengan kata-kata? Kamu hanya sedang berusaha menaikkan harga jualmu, kan? Dengarkan saya, gadis kecil... Bagas hanya melihatmu sebagai objek eksotis karena kamu berbeda dari wanita di lingkungannya. Begitu rasa penasarannya hilang, dia akan mencampakkanmu ke tempat sampah tempat kamu berasal."
Nara berdiri, pertanda bahwa percakapan ini sudah selesai baginya.
"Uang yang keluarga Nyonya punya mungkin bisa membeli gedung-gedung tinggi di Jakarta ini," ucap Nara dengan suara yang sangat tenang namun bertenaga. "Tapi uang itu tidak akan pernah mampu menukar kehidupan saya dengan sebuah perintah. Saya tidak akan pergi karena uang Nyonya, dan saya tidak akan tinggal karena perintah Nyonya. Saya akan melakukan apa yang ingin saya lakukan."
Ibu Bagas ikut berdiri. Ia memakai kembali kacamata hitamnya, menyembunyikan matanya yang menyala karena amarah dan penghinaan yang tak terduga.
"Kamu akan menyesal telah menolak tawaran ini, Nara. Saya pastikan itu."
"Saya sudah hidup di dalam penyesalan dan penderitaan selama bertahun-tahun, Nyonya. Ancaman Nyonya tidak lebih menakutkan daripada tagihan rumah sakit yang harus saya hadapi sendirian setiap bulan selama ini," balas Nara telak.
Ibu Bagas melangkah keluar dengan hentakan kaki yang keras. Ia tidak menoleh lagi, segera masuk ke dalam mobilnya yang berkilau di ujung gang, meninggalkan debu yang beterbangan di udara.
Nara berdiri di ambang pintu, menatap kepergian mobil itu. Ia melihat tetangga-tetangganya kembali berbisik-bisik dari balik jendela dan pagar rumah mereka.
Tatapan mereka masih sama, penuh penghakiman. Ia teringat bagaimana Sinta, tunangan Bagas, pernah datang ke lingkungan rumahnya dan memandunya dalam kehinaan di depan semua orang. Ia teringat bagaimana bisikan-bisikan tetangga mempercepat keruntuhan mental ibunya hingga napas terakhir.
Cukup.
Nara menutup pintunya rapat. Ia tidak akan lagi menjadi korban yang bersembunyi di balik kayu lapuk ini. Jika dunia menganggapnya sampah hanya karena ia berjuang untuk hidup, maka ia akan menunjukkan betapa tajamnya sampah yang selama ini mereka injak.
Sore harinya, langit Jakarta berwarna jingga kemerahan. Bagas baru saja pulang dari kantornya yang menyesakkan. Pikirannya penuh dengan ancaman ibunya dan bayangan Nara yang sendirian di rumah duka. Ia merasa gagal melindungi wanita yang ia cintai.
Saat ia memasukkan kode akses dan membuka pintu apartemen pribadinya, Bagas membeku.
Aroma wangi parfum dan tubuh yang lembut menyambutnya. Di ruang tamu yang luas dengan pemandangan kota dari lantai lima puluh itu, berdiri seorang wanita.
Nara.
Dia tidak lagi mengenakan baju duka yang kusam atau selendang hitam yang layu. Nara mengenakan dress sutra hitam simpel yang memeluk lekuk tubuhnya dengan elegan. Rambutnya yang biasanya hanya diikat asal, kini tergerai indah. Wajahnya yang pucat telah dipoles dengan riasan tipis, namun bibirnya merah berani.
Nara berdiri di dekat jendela besar, menatap gemerlap lampu kota yang mulai menyala. Saat mendengar langkah Bagas, ia menoleh dan memberikan sebuah senyum kecil, senyum yang mempesona, namun ada kilatan tekad yang berbeda di matanya.
"Nara?" Bagas berbisik, mendekat lalu meraih pinggang Nara untuk merapat ke tubuhnya.
"Aku ingin berhenti bersembunyi, Bagas," potong Nara lembut. Ia membiarkan Bagas membelai wajahnya dengan lembut.
Dan Nara juga mendekatkan langkahnya semakin rapat, langkahnya penuh dengan keanggunan seorang penari yang telah kembali menemukan panggungnya.
Bagas menatapnya dengan kekaguman yang tak terbendung.
Nara tersenyum tepat di depan Bagas, mendongak untuk menatap mata pria itu. Ia meletakkan tangannya di dada Bagas, merasakan detak jantung pria itu yang tidak beraturan.
"Ibumu dan orang-orang mengatakan aku adalah sampah yang mencoba menempel di permata," Nara berbisik, suaranya terdengar seperti melodi yang berbahaya. "Dia ingin aku pergi. Dia ingin aku tahu tempatku."
Bagas memegang tangan Nara dengan erat.
"Jangan pedulikan siapapun, Nara."
"Aku tidak mendengarkannya, Bagas. Aku justru sedang menantang semuanya."
Nara tersenyum lagi, kali ini lebih tajam.
"Dunia ini selalu ingin menghancurkanku. Tetanggaku, Sinta, ibumu, Romi ... mereka ingin aku mati dalam kehinaan seperti yang mereka tuduhkan."
Nara mendekatkan wajahnya ke telinga Bagas, membisikkan kata-kata yang membuat darah Bagas berdesir.
"Mulai hari ini, aku tidak akan lari lagi. Jika mereka ingin aku menjadi wanita yang mereka kira akan menghancurkan, maka aku akan menjadi wanita itu. Tapi aku akan melakukannya dengan caraku sendiri. Aku tidak butuh uang ibumu, Bagas. Aku hanya butuh kamu tetap berdiri di sampingku saat aku meruntuhkan keangkuhan mereka satu per satu."
Bagas menarik Nara ke dalam pelukannya, memeluknya seolah-olah wanita itu adalah satu-satunya oksigen di dunia yang penuh kepalsuan ini.
"Apapun, Nara. Apapun yang kamu inginkan," gumam Bagas di sela rambut Nara.
Nara membalas pelukan itu, namun matanya tetap terbuka, menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Di sana, ia tidak lagi melihat gadis yang menangis karena dihina. Ia melihat seorang petarung yang baru saja memulai langkah pertamanya di medan perang yang baru. Takdir mungkin telah merenggut ibunya, tapi takdir tidak akan bisa merenggut sisa hidupnya tanpa perlawanan yang berdarah-darah.