NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 030

Deru mesin motor sport Aksa biasanya akan membelah jalanan seperti secepat kilat, namun malam ini, suara knalpotnya hanya terdengar menderu rendah, seolah mesin 1000cc itu sedang dipaksa untuk menahan diri. Aksa menjalankan motornya dengan kecepatan yang sangat rata-rata 40km/jam. Benar-benar kecepatan yang bahkan bisa disalip oleh tukang bubur keliling.

​Ziva, yang wajahnya masih menempel erat di punggung jaket kulit Aksa, perlahan mulai menyadari ada yang aneh. Ia sedikit menjauhkan wajahnya, melirik ke arah speedometer yang lampunya berpendar biru.

​"Aksa," panggil Ziva sedikit berteriak agar suaranya menembus angin.

​Aksa hanya merespons dengan gumaman rendah di balik helm.

"Apa?"

​"Ini motor lo rusak gara-gara balapan tadi atau gimana? Kok pelan banget? Tadi pas di lintasan jalan bandara kayak mau ke masa depan, sekarang kok kayak lagi pawai 17-an?"

​Aksa tidak menoleh. Matanya tetap fokus pada aspal di depan yang kini terlihat sangat jelas karena ia berkendara dengan sangat hati-hati. "Gue nggak mau lo jatuh lagi. Tadi ada yang bilang habis 'terbang', kan?"

​Ziva mendengus. Rasa malu karena kejadian "terbang estetis" tadi kembali menyerangnya. Namun, tetap saja, sifat aslinya sebagai Zura di tubuh Ziva yang suka mager.

​"Tapi ini pelan banget, Aks! Kita jalan di kecepatan segini, jam segini, yang ada malah kita dikira begal yang lagi nyari mangsa, atau lebih parah".

​"Diem, Ziva. Pegangan aja yang bener," sahut Aksa singkat.

​Ziva terdiam sejenak. Namun, keheningan itu justru membuatnya semakin sadar akan posisi mereka. Tangannya masih melingkar di pinggang Aksa. Ia bisa merasakan kerasnya otot perut Aksa di balik jaket kulit itu setiap kali pria itu menarik napas atau mengoper gigi motor. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau tipis bensin dan keringat dari tubuh Aksa menyerang indra penciumannya.

​Wajah Ziva kembali memanas. Untuk mengalihkan kegugupannya, ia mulai melakukan hal konyol. Dengan jarinya, ia mulai menusuk-nusuk pelan perut Aksa mengunakan jarinya.

​Tuk. Tuk. Tuk.

​"Aksa, ini perut apa papan gilesan? Keras banget," celetuk Ziva tanpa filter.

​Aksa hampir saja kehilangan keseimbangan sesaat. Ia bisa merasakan jemari kecil Ziva yang menusuk-nusuk perutnya. "Ziva, jangan aneh-aneh. Gue lagi mengendara motor ini."

​"Habisnya gue bosen! Kita jalan lambat begini, gue berasa lagi naik siput raksasa.

Mana lutut gue cenat-cenut," keluh Ziva. Ia lalu menyandarkan dagunya di bahu Aksa, membuat napasnya terasa di leher Aksa.

"Aks, lo beneran serius soal yang tadi? Yang di minimarket?"

​Motor itu sedikit goyang. Aksa berdeham, mencoba mengembalikan fokusnya yang mulai buyar karena jarak mereka yang sangat tipis. "Gue nggak pernah bercanda soal apa pun yang udah gue putusin."

​"Tapi kan lo belum nanya gue mau apa nggak! Mana ada sistem diktator dalam hubungan asmara? Lo harusnya bawa bunga, atau minimal bawain gue camilan yang banyak, terus nanya dengan sopan: 'Zivanna yang cantik dan paling mager, mau nggak jadi pacar Abang Aksa yang ganteng tapi kaku kayak kanebo kering ini?' Gitu!"

​Ziva mulai meracau. Ia bahkan mulai memeragakan gerakan tangan seolah-olah sedang memegang mikrofon di belakang punggung Aksa.

​Aksa menarik sudut bibirnya, sebuah senyum tipis terukir yang sayangnya tidak bisa dilihat Ziva. "Lo terlalu banyak nonton drama. Dan gue bukan 'Abang' lo."

​"Ih, sombong! Pokoknya gue belum kasih jawaban ya! Gue anggap tadi itu cuma pengumuman sepihak kayak pengumuman libur sekolah!"

​Aksa tiba-tiba menarik rem depan sedikit lebih kuat saat melewati persimpangan yang sepi. Tubuh Ziva tersentak ke depan, membuat dadanya menempel telak di punggung Aksa dan tangannya refleks memeluk pinggang pria itu lebih erat.

Aksa tidak langsung memacu motornya kembali. Ia membiarkan motor sport itu merayap pelan di bahu jalan yang gelap, lalu berhenti tepat di bawah lampu jalan yang berkedip redup. Keheningan malam segera menyergap, hanya menyisakan suara mesin motor yang berderu halus dan napas Ziva yang memburu di tengkuknya.

Aksa membuka kaca helmnya, lalu melirik lewat spion, menatap mata Ziva yang terlihat kaget sekaligus kesal.

"Tadi lo bilang apa? Belum kasih jawaban?" suara Aksa terdengar jauh lebih dalam dan berat saat tidak tertutup kaca helm.

Ziva, yang masih memeluk pinggang Aksa dengan posisi 'terjepit' akibat pengereman mendadak tadi, mencoba menarik diri.

Namun, Aksa justru meraih kedua tangan Ziva, mengunci jemari gadis itu agar tetap melingkar di perutnya.

"I-iya! Lo main klaim aja. Gue ini manusia, Aksa, bukan wilayah jajahan!" sewot Ziva. Ia mencoba menegakkan punggungnya, tapi dagunya masih bersandar di bahu jaket kulit Aksa karena tangan Aksa menahan lengannya.

Aksa memutar sedikit tubuhnya ke samping, memberikan akses bagi Ziva untuk melihat profil samping wajahnya yang tegas. "Oke. Kalau gitu gue tanya sekarang."

Aksa diam sejenak. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah jalanan yang sepi, namun genggamannya pada tangan Ziva terasa begitu hangat dan posesif.

"Ziva."

"Apa?"

"Lo keberatan?"

Ziva mengerjapkan matanya. "Keberatan apa?"

"Jadi milik gue."

Sederhana. Hanya tiga kata, tapi efeknya lebih dahsyat daripada ledakan knalpot brong di bandara tadi. Ziva merasa lidahnya mendadak kelu. Ia ingin mengeluarkan kata-kata sarkasnya, ingin bilang kalau ia lebih suka jadi milik bantal dan guling di kamarnya, tapi entah kenapa, di dekat Aksa dan kehangatan tangan pria itu di atas jemarinya membuat nyali Zura yang garang menciut seketika.

"Gue... gue kan mager, Aksa. Gue males kalau harus laporan tiap hari, males kalau harus dandan kalau mau ketemu lo, males kalau—"

"Gue nggak suruh lo berubah," potong Aksa.

Ia kini menoleh sepenuhnya, menatap Ziva dari jarak yang sangat dekat. Hidung mereka nyaris bersentuhan. "Lo mau mager seharian, lo mau bangun jam dua siang, lo mau pake baju gombrang tiap hari, gue nggak peduli.

Ziva menelan ludah. Jantungnya berdetak begitu keras sampai ia takut Aksa bisa merasakannya juga. "Terus kalau gue tetep bilang nggak mau gimana?"

Aksa menyipitkan mata, sebuah kilat jahil yang jarang terlihat muncul di iris gelapnya. "Gue bakal bawa motor ini balik lagi ke bandara, terus gue ajak lo 'terbang' lagi, tapi kali ini nggak pake mendarat di rumput."

"AKSA! Lo bener-bener ya!" Ziva memukul pundak Aksa kesal, tapi akhirnya ia tak bisa menahan senyum tipis yang terukir di bibirnya.

Aksa kembali menghadap ke depan, kembali menggenggam tangan Ziva yang melingkar di pinggangnya, lalu menjalankan motornya. Kali ini, kecepatannya sedikit bertambah, tapi tetap stabil.

"Gue anggap pukulan tadi itu jawaban 'iya'," ucap Aksa santai.

"Mana ada! Itu jawaban 'lo nyebelin'!"

"Sama aja. Di kamus gue, lo nyebelin itu artinya lo sayang."

Ziva memutar bola matanya, namun kali ini ia tidak memprotes lagi. Ia justru makin merapatkan pipinya ke punggung Aksa, menikmati hembusan angin malam yang menerpa mereka. Rasa perih di lututnya seolah menghilang, tergantikan oleh rasa hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya.

Di bawah langit malam Jakarta yang jarang memperlihatkan bintang, motor sport hitam itu membelah jalanan dengan tenang. Ziva menutup matanya perlahan, menghirup dalam-dalam aroma jaket Aksa. Untuk pertama kalinya, jiwa 'mager'-nya merasa telah menemukan tempat rebahan paling nyaman di dunia: tepat di balik punggung cowok kaku yang baru saja memenangkan balapan dan hatinya sekaligus.

"Aksa..." bisik Ziva pelan, hampir tenggelam oleh suara mesin.

"Hmm?"

"Kenapa, sayang?"

Deg.

Ziva mendadak lupa apa yang mau dia katakan. Lidahnya yang tadi begitu lancar memprotes, kini terasa kelu seperti habis tersengat listrik. Kata itu—panggilan yang biasanya terdengar pasaran di telinga Ziva—jika diucapkan dengan suara bariton Aksa yang rendah dan serak, berubah menjadi sebuah mantra yang sanggup menghentikan fungsi otaknya.

Keheningan kembali menyergap, tapi kali ini terasa berbeda. Bukan lagi hening yang canggung, melainkan hening yang dipenuhi oleh getaran yang tak kasat mata.

"Lo... lo barusan panggil gue apa?" tanya Ziva akhirnya, suaranya mencicit kecil, hampir hilang tertiup angin yang menyapu celah helm Aksa.

Aksa tidak langsung menjawab. Ia sengaja membiarkan motornya melaju pelan, melintasi deretan pohon peneduh jalan yang bayangannya menari-nari di aspal karena lampu jalan. Ia bisa merasakan jantung Ziva yang berpacu cepat di punggungnya, sebuah konfirmasi bahwa panggilannya tadi berhasil memberikan efek hantam yang luar biasa.

"Sayang," ulang Aksa. Kali ini lebih jelas, lebih mantap, dan tanpa keraguan sedikit pun.

"Telinga lo gak budekkan?"

"Aksa! Lo... lo bener-bener ya!" Ziva menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus di balik punggung Aksa, menggesekkan hidungnya di jaket kulit pria itu untuk menahan rasa malu yang membuncah. "Berhenti panggil gitu. Gue berasa lagi ada di dalem sinetron jam tayang utama, tau nggak!"

Aksa terkekeh rendah. Getaran tawanya terasa sampai ke punggung, membuat Ziva merinding geli. "Gue cuma membiasakan diri. Katanya tadi hubungan kita butuh proses yang normal. Panggilan itu bagian dari proses, kan?"

"Nggak ada yang normal dari manggil 'sayang' lima menit setelah pemaksaan status, Aksa Erlangga!" protes Ziva lagi, meski tangannya justru semakin erat mendekap pinggang Aksa, seolah takut jika ia melepas pelukannya, momen ini akan menguap begitu saja.

Motor Aksa memasuki kawasan perumahan Ziva yang sudah sepi. Hanya ada satu atau dua lampu teras rumah warga yang masih menyala. Suara ban motor sport itu berderit pelan saat bersentuhan dengan polisi tidur di jalanan komplek. Aksa sangat berhati-hati, setiap kali ada guncangan kecil, ia akan memastikan Ziva tetap stabil di belakangnya.

"Lutut lo masih sakit?" tanya Aksa, suaranya melunak saat mereka hampir sampai di depan gerbang rumah Ziva.

Ziva mendongak sedikit, menatap profil samping Aksa yang terlihat sangat tenang. "Dikit. Tapi kayaknya bakal sembuh lebih cepet kalau besok ada yang bawain martabak beneran ke rumah."

Aksa menghentikan motornya tepat di depan rumah besar berpagar hitam. Ia mematikan mesin, membuat suasana mendadak sunyi senyap. Aksa melepas helmnya, membiarkan angin malam menyisir rambutnya yang berantakan, lalu ia menoleh ke arah Ziva yang masih duduk di jok belakang dengan wajah yang tampak lelah namun berseri.

"Jam sepuluh pagi, martabak manis keju meluncur ke sini," ucap Aksa sambil menatap mata Ziva dengan intens.

Ziva melongo. "Mana ada tukang martabak buka jam sepuluh pagi, Aksa!"

"Tukangnya nggak buka, tapi pacar lo yang bakal bikin tukangnya buka," sahut Aksa santai sambil membantu Ziva turun dari motor.

Saat kaki Ziva menyentuh tanah, ia sedikit meringis karena luka di lututnya terasa kaku. Secara refleks, Aksa langsung menahan kedua lengan Ziva, memastikan gadis itu tidak oleng. Mereka berdiri sangat dekat di bawah lampu gerbang yang temaram.

Aksa mengulurkan tangannya, merapikan tudung hoodie Ziva yang sedikit miring, lalu jarinya turun mengusap pipi Ziva dengan gerakan yang sangat lembut—sebuah sentuhan yang lembut dan hangat.

"Masuk sana. Cuci kaki, ganti baju dengan yang nyaman, terus tidur," perintah Aksa, namun nadanya kini terdengar seperti sebuah permintaan. "Jangan mikir yang aneh-aneh lagi. Lo udah punya gue sekarang."

Ziva menatap tangan Aksa yang masih berada di pipinya, lalu beralih menatap wajah tampan di depannya. Kesan intimidasi dari balapan tadi benar-benar hilang, digantikan oleh tatapan yang begitu hangat.

"Aksa..."

"Apa lagi?"

"Makasih ya," bisik Ziva, lalu dengan cepat ia berbalik dan masuk di balik pagar, meninggalkan Aksa sendirian di depan gerbang.

Aksa menatap punggung Ziva yang berjalan pincang hingga gadis itu menghilang di balik pintu rumah. Ia menghela napas panjang, menatap langit malam sejenak sebelum kembali memakai helmnya.

Malam yang panjang, melelahkan, dan penuh adrenalin. Tapi bagi Aksa, kemenangan paling berharga bukan kemenangan saat menang balapan tadi tapi kemenangan yang bisa memiliki gadis itu seutuhnya.

1
CaH KangKung,
astaga...ikut deg"an aq....aksaaaaa....
ana Ackerman
salting brutal gue thorrr
W: hehe 🤭
total 1 replies
ana Ackerman
lanjut kak💪
ana Ackerman
serius kak bab ini ngk bisa nahan tawa anjir🤣
ana Ackerman
lanjut kak💪
Nazia wafa abqura
kak aq tunggu up ny
mom_nurul
aku masih stay disini kak,ga mau berpaling 🤭
di tunggu selalu update nya👍
W: siap👌
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!