NovelToon NovelToon
Istri Kepala Desa

Istri Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.

​Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4

***

Matahari sudah lama tenggelam di cakrawala Desa Sukamaju, menyisakan hawa sejuk yang mulai merayap masuk melalui celah-celah jendela kayu jati yang kokoh. Di ruang tengah, lampu neon berpendar terang, menciptakan suasana hangat yang menyinari interaksi antara ayah dan anak.

Bagas, yang baru saja menyelesaikan mandi sorenya setelah seharian memimpin rapat di balai desa, kini tampak jauh lebih santai. Ia hanya mengenakan kaos oblong putih tipis dan sarung kotak-kotak berwarna gelap. Di depannya, televisi tua mereka menyala, menampilkan petualangan kartun yang mengundang tawa riuh Gilang.

"Ayo, Bapak! Tangkap Gilang kalau bisa!" teriak si sulung sambil melompat berani ke arah punggung ayahnya yang bidang.

Bagas tertawa terbahak-bahak, suara bass-nya yang berat memenuhi setiap sudut ruangan. Dengan sigap, ia menangkap tubuh kecil Gilang, lalu menggulingkannya dengan gemas di atas karpet bulu. Arka, si bungsu yang baru berusia dua tahun, tidak mau ketinggalan. Ia merangkak cepat, naik ke atas perut ayahnya yang sedang berbaring.

"Aduh, aduh... Bapak dikepung! Mamah! Tolong, Bapak dikeroyok dua jagoan ini!" seru Bagas sambil tertawa lepas. Tangannya menggelitik perut Arka hingga bocah itu memekik kegirangan. Pandangan Bagas sesaat beralih ke arah dapur, mencari sosok sang istri. "Ras! Lihat ini, anak-anakmu makin berani sama Bapaknya!"

Namun, dari arah dapur, tidak ada jawaban kata-kata. Hanya terdengar suara dentingan sudit yang beradu ritmis dengan wajan besi, diikuti desis minyak panas yang menggoda selera. Laras sedang berada di sana, terisolasi dalam dunianya yang penuh uap panas dan aroma bumbu yang tajam.

Laras berdiri mematung di depan kompor, tangannya dengan cekatan mengaduk sayur lodeh di dalam panci besar. Perut buncitnya yang kini genap berusia tujuh bulan terasa sangat kental menekan ke bawah—seolah ada beban logam yang menggelantung di rahimnya. Setiap kali ia harus berjinjit sedikit untuk menjangkau rak bumbu di atas, rasa nyeri seperti ditusuk jarum menjalar di pinggangnya.

Keringat sebesar biji jagung mengalir dari pelipis, jatuh melewati lehernya yang terasa lengket oleh hawa dapur. Ia mengusapnya dengan punggung tangan, lalu menghela napas panjang untuk mengatur oksigen yang rasanya makin menipis karena paru-parunya terhimpit janin.

"Iya, Mas... sebentar lagi matang. Ini tinggal nunggu santannya tanak," jawab Laras dengan suara yang sedikit parau, mencoba tetap terdengar ceria agar suaminya tidak khawatir.

Kaki Laras terasa berdenyut-denyut kencang. Jika ia melirik ke bawah, ia bisa melihat punggung kakinya yang mulai membengkak tanda edema yang kian parah di trimester ketiga ini. Rasa nyeri itu menjalar perlahan, mulai dari tulang ekor, melewati panggul, hingga ke pangkal paha. Namun, ia tidak punya kemewahan untuk duduk. Meja makan harus siap tepat waktu sebelum anak-anak mulai rewel, dan sebelum Bagas kelelahan menunggu.

Ia mulai mengambil piring-piring porselen yang berat dari rak tinggi, menatanya satu per satu di meja makan kayu. Setiap gerakan membungkuk adalah sebuah perjuangan fisik yang nyata. Ia harus melebarkan kedua kakinya (posisi kuda-kuda) agar perut besarnya punya ruang untuk menggantung.

"Mamah, laper! Mau maem sekarang!" Arka tiba-tiba berlari masuk ke dapur, menarik-narik ujung daster Laras dengan tangan mungilnya yang kotor sisa bermain.

"Sabar ya, Sayang. Ini sedikit lagi, Mamah tuang sayurnya dulu," Laras mengelus rambut Arka yang berkeringat. Dengan napas tertahan, ia mengangkat panci lodeh yang berat itu. "Aakh..." ia meringis kecil saat merasakan tarikan kencang di perut bawahnya. Pinggangnya berderak pelan, memaksanya berhenti sejenak sambil memegangi sisi meja.

Bagas masuk ke dapur dengan gaya santai, menggendong Gilang di pundaknya bak seorang ksatria. Ia menghirup dalam-dalam aroma masakan Laras. "Wah, baunya sampai ke depan. Lodeh buatanmu memang nggak ada tandingannya di desa ini, Ras. Kamu memang istri paling pengertian."

Laras hanya mampu tersenyum tipis, mencoba menutupi rasa sakit yang masih berdenyut di perutnya. "Mari makan, Mas. Mumpung masih hangat semua. Gilang, ayo duduk yang rapi."

Sepanjang makan malam, suasana riuh oleh cerita Bagas. "Tadi di balai desa, warga Dusun Dua sudah setuju soal lahan jembatan. Itu kemajuan besar, Ras. Jembatan itu bakal jadi peninggalan paling diingat kalau masa jabatanku selesai nanti," ujar Bagas dengan mata berbinar bangga.

Laras lebih banyak diam, sesekali mengangguk sambil sibuk menyuapi Arka yang makannya berantakan. Ia sendiri hampir tidak menyentuh nasinya. Rasa mual tiba-tiba naik ke tenggorokan reaksi tubuhnya yang terlalu lelah untuk mencerna makanan berat.

**

Malam kian larut. Setelah memastikan piring-piring bersih dan mainan anak-anak kembali ke kotaknya, Laras menyeret kakinya masuk ke kamar. Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat. Raganya terasa seperti seonggok kayu yang siap tumbang.

Bagas sudah berbaring setengah duduk di tempat tidur, kacamata bertengger di hidungnya sambil meneliti beberapa berkas laporan desa. Ia melirik saat pintu terbuka. "Baru selesai, Ras?"

Laras hanya mengangguk pelan, lalu duduk di pinggir tempat tidur dengan membelakangi Bagas. Ia memegangi punggung bawahnya yang kaku. "Mas... pinggang Laras rasanya mau patah. Kakinya juga berat sekali buat melangkah."

Mendengar keluhan itu, Bagas meletakkan berkasnya. Ia beringsut mendekat, lalu tangan kekarnya mulai menyentuh bahu Laras yang tegang. "Kasihan istriku... Seharian mengurus dua singa kecil memang butuh tenaga ekstra ya?"

Bagas mulai memijat lembut pundak Laras, lalu jemarinya yang kuat turun ke arah otot-otot di sekitar punggung bawah. "Gimana? Enakan?"

"Iya, Mas... di situ... terus..." bisik Laras, memejamkan mata menikmati sensasi pijatan suaminya. Untuk sejenak, ia merasa sangat dimanjakan, seolah semua beban pekerjaan domestik itu menguap terbawa sentuhan Bagas.

Namun, perlahan, irama pijatan itu berubah. Tekanan tangan Bagas menjadi lebih dalam dan lambat. Tangan pria itu mulai menyusup ke bawah daster satin tipis yang dikenakan Laras, menyentuh kulit punggung yang hangat dan halus. Bagas mulai mendaratkan kecupan-kecupan hangat di tengkuk Laras, area yang selalu berhasil memecah pertahanan wanita itu.

"Mas... Laras beneran capek..." keluh Laras pelan. Namun, karena rasa nyaman dari pijatan sebelumnya, suaranya justru terdengar seperti rintihan kecil yang pasrah dan menggoda bagi pendengaran Bagas.

"Hanya sebentar, Sayang. Aku nggak akan buat kamu capek, aku justru mau buat kamu rileks," bisik Bagas serak tepat di telinga Laras. Ia memutar tubuh Laras agar menghadapnya. Ditatapnya mata Laras yang sayu penuh keletihan, namun di mata Bagas, sosok Laras dengan perut besarnya justru terlihat luar biasa cantik dan penuh aura keibuan.

Bagas merebahkan Laras dengan gerakan yang sangat hati-hati, memastikan bantal-bantal menyangga punggung dan perut istrinya agar tidak tertekan. Bagas menunduk, menciumi perut buncit itu dengan penuh takzim. "Halo jagoan Bapak di dalam... anteng ya, Bapak mau pinjam Mamah sebentar."

Sentuhan Bagas kian dalam dan menuntut. Di bawah temaram lampu kamar, Laras kembali menyerah pada takdirnya sebagai seorang istri yang berbakti. Rasa nyeri di kakinya seolah meredup, tertutup oleh gelombang panas yang dipicu oleh sentuhan-sentuhan Bagas yang penuh pengalaman.

Rintihan halus mulai lolos dari bibir Laras saat suaminya memberikan perhatian lebih pada titik-titik sensitif di tubuhnya yang sedang mengalami perubahan hormon kehamilan. Desahan-desahan pendek saling bersahutan di balik pintu kamar yang terkunci rapat—sebuah simfoni rahasia dari pasangan yang terjebak dalam pusaran cinta, tradisi keluarga, dan pengabdian yang melelahkan.

Laras memeluk leher Bagas dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. Di tengah badai gairah itu, ia mencoba mencari perlindungan, menyadari bahwa meski tubuhnya remuk oleh tugas harian, pelukan pria inilah yang menjadi satu-satunya tempat ia merasa benar-benar memiliki dunia, meski hanya untuk sesaat.

****

Bersambung....

1
Paradina
😍
Heresnanaa_: Stay tune terus ya kak🙏😍
total 1 replies
arniya
mampir kak, bab pertama udh gereget sm Bagas
Heresnanaa_: Hai Kaka, terimakasih sudah mampir

happy reading yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!