Warning!!!!!!
Shenina Valerie Arous hanya menginginkan satu hal—cinta yang tulus.
Namun, pria yang ia cintai justru memberinya kasih sayang karena rasa kasihan.
Saat hatinya hancur, seorang pria berbahaya muncul dalam hidupnya.
Arsen Erzaquel Lergan—pewaris keluarga ternama yang terbiasa mendapatkan segalanya, termasuk dirinya.
Obsesi Arsen bukan cinta. Itu lebih seperti penjara yang tak terlihat.
Di saat yang sama, Andrew Kyle hadir sebagai satu-satunya pria yang tulus, rela melakukan apapun demi kebahagiaannya.
Di antara cinta, obsesi, dan pengkhianatan—
pilihan Shena akan menentukan apakah ia akan diselamatkan… atau justru hancur lebih dalam.
Dan ketika sebuah rahasia besar terungkap, segalanya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nupitautari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Apapun yang ibu ku perintahkan padamu, aku tidak akan pernah melepaskan Shena". Ucap Arsen dingin.
Matthew berjalan mendekat. Langkah kakinya terasa berat. "Ini semua kesalahanku. Kau bebas membenciku. Tapi jangan halangi aku untuk memastikan bahwa masa depanmu baik-baik saja". Ucap Matthew.
"Apa maksud mu?" Tanya Arsen was-was. Perasaannya tidak enak.
"Aku hanya ingin memelukmu" ucap Matthew pelan. Ia meraih tubuh Arsen ke dalam pelukannya. Arsen diam saja tak bereaksi. "Kau tahu aku selalu berusaha memastikan bahwa masa depan anakku terjamin. Aku sangat menyayangimu bahkan jika kau sangat membenciku. Maafkan ayahmu ini yang tak bisa berbuat banyak untukmu" ucap Matthew sendu.
Hati Arsen terasa sesak mendengarnya. Ia berusaha untuk tetap tenang. Tanpa Arsen sadari, Matthew mengeluarkan jarum suntik berisi cairan. "Kau tak bisa bersama anak ini. Kau harus pergi" ucap Matthew lalu dengan cepat tangannya menancapkan jarum suntik itu ke bahu Arsen.
Arsen tersentak. Ia mendorong tubuh Matthew sekuat yang ia bisa. Arsen memegangi bahunya yang terkena jar suntik sambil memandang Matthew tajam. "Apa yang kau lakukan padaku???" Ucap Arsen dingin. Tubuhnya melemas begitupun dengan kesadarannya yang mulai menghilang.
"Kalian tidak ditakdirkan untuk bersama. Menurut lah pada ibumu maka Shena akan baik-baik saja" ucap Matthew datar tanpa ekspresi.
Mata Arsen memerah menunjukkan betapa ia sangat marah dan takut kehilangan Shena. "Kau...." Kata terakhir yang keluar dari mulut Arsen sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Matthew menangkap tubuh Arsen yang hendak terjatuh. Ia mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. "Dia sudah pingsan. Cepat kemari dan bawa dia pergi" ucap Matthew. Tak lama kemudian, beberapa orang dengan pakaian jas hitam datang. "Cepat bawa dia pergi" perintah Matthew.
Seorang pria dengan kaca mata dan kepala botak mengangguk lalu mengambil alih tubuh Arsen. Merekapun pergi meninggalkan Matthew dan Shena.
.
.
.
3 jam telah berlalu sejak kepergian Arsen. Shena menggerakkan kelopak matanya lalu membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah dinding kamarnya yang sangat akrab bagi Shena.
Shena berusaha membangunkan tubuhnya yang terasa sangat sakit. Ia sudah berpakaian lengkap. Arsen yang memasangkan pakaiannya ketika Shena tidak sadarkan diri. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan namun tak menemukan keberadaan Arsen di kamarnya. "Apa dia sudah pergi?" Pikir Shena.
"Dia sudah pergi ke luar negeri" ucap Matthew tiba-tiba dari arah pintu masuk. Shena sontak langsung menoleh. "Ayah..." Ucap Shena pelan.
"Arsen sudah pergi ke luar negeri untuk kuliah di sana. Dia tidak akan pulang sebelum studinya selesai. Jadi jangan berharap Arsen akan bisa bersamamu. Kau tidak pantas sama sekali dengannya. Wanita yang pantas bersanding dengan Arsen sudah lama ditentukan" ucap Matthew dingin. Shena bahkan tak habis pikir bagaimana ayahnya sendiri bisa berkata seperti ini padanya. Bukankah Shena adalah putrinya? Kenapa memperlakukan Shena seperti orang lain?
Shena menangis kencang. Hatinya sakit atas apa yang Arsen lakukan padanya dan apa yang ayahnya katakan. Ia merasa sendirian tak berdaya. "Ayah, hidup ku hancur karena Arsen. Apa kau bahkan tidak bertanya apa aku baik-baik saja?" Tanya Shena sesenggukan.
Matthew menatapnya dingin. "Dari awal tidak ada yang menginginkan kehadiran mu di dunia ini. Kau adalah kesalahan dan kesialan bagi orang tua mu. Kau tak pantas meminta belas kasihan pada siapapun".
"Lalu kenapa? Kenapa kalian tidak membunuhku sebelum aku terlahir? Kalau aku tidak diinginkan kalian, kenapa ibu sangat menyayangiku? Kenapa kau tetap memberikan ku kehidupan? Kenapa???" Teriak Shena histeris.
Matthew berjalan mendekat. Ia merendahkan kepalanya untuk sejajar dengan kepala shena lalu berbisik pelan. "Anggap saja aku kasihan pada hidupmu yang malang lalu memberimu kesempatan untuk hidup". Ia lalu menyuntikkan cairan yang sama pada Arsen sebelumnya di bahu Shena.
Shena tersentak. Ia mendorong ayahnya dan mengernyit sakit. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Shena lemah.
"Kesempatan mu untuk hidup sudah berakhir. Kau tak akan lagi melihat cahaya setelah ini" ucap Matthew dingin.
Perkataan Matthew terekam jelas di kepala Shena yang kesadarannya mulai menghilang. Air mata Shena menetes hingga jatuh ke lantai lalu matanya tertutup rapat. Ia kehilangan kesadaran sepenuhnya.
.
.
.
Entah sudah berapa lama Shena tak sadarkan diri. Ia terbangun di tempat yang gelap dan asing. Tempat ini bahkan berdebu dan pengap serta lembab. Shena berusaha untuk bangkit menyisiri dinding. Tangannya bergerak meraba dinding untuk mencari sakelar lampu. Ketika ketemu, Shena langsung menekannya. Seketika saja ruangan ini menjadi terang. Itu adalah ruangan yang sempit dan kotor. Ada 1 kamar mandi yang cukup terbuka dan 1 ranjang reot.
Shena sangat panik mendapati dirinya berada di ruangan yang tak ia kenali. Shena berlari dengan panik menuju pintu. Pintu itu terkunci. Shena sangat ketakutan, ia berteriak minta tolong. "Tolong.... Ayah.. tolong aku. Ku mohon biarkan aku pergi. Aku akan menuruti semua perkataan mu. Ku mohon ayah... Huaaa... Aku tidak suka disini. Tempat ini membuatku takut. Biar kan aku pergi .. huaaa" Shena berteriak dan menangis histeris. Tangannya memukul pintu dengan kuat berharap ayahnya mendengar dan mau membukakan pintu. "Ku mohon siapa saja yang berada di luar, keluarkan aku dari sini...." Tangis Shena putus asa.
Sekeras apapun ia menangis dan berteriak, tak ada yang datang untuk membukakan pintu. Shena memeluk lututnya dan menunduk. Ia menangis sesegukan.
Tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu, Shena meringkuk dengan lemah di samping pintu. Ia putus asa dan menyerah akan hidup. Ia sepertinya pasrah jika ia harus mati membusuk di ruangan sempit ini. Ia lalu tertidur dalam lelahnya menangis.
.
.
.
Keesokan paginya, Shena terbangun dari tidurnya. Tubuhnya terasa sakit dan matanya membengkak. Ia mengedarkan pandangan mata dengan tubuh yang lemah. Shena bergerak untuk bangkit, ia tanpa sengaja menyenggol sesuatu di samping dengan tangannya. Itu adalah makanan dan beberapa pakaian serta selimut. Ada juga sapu dan sebuah buku novel. Shena mengambil buku itu dan memandangnya dengan sedih. Air matanya kembali terjatuh tak terkendali.
"Kenapa kau lakukan ini padaku padahal aku sangat menyayangimu... Hiks... Hiks..." Ucap Shena sedih. Sepilu apapun tangisannya tetap saja tak ada yang mendengar. Hanya keheningan yang terasa.
*Hi readers. Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian pada novel ini dengan cara berikan komentar terbaik kalian, kasih like dan vote novel ini ya. Dukungan kalian pada novel ini sangat berarti karena itu akan menjadi semangat buat author menyelesaikan cerita ini hingga akhir. Tetap pantau terus ga kelanjutan dari cerita ini. Akan ada banyak keseruan yang kalian dapatkan. Happy reading all 🙏