Mohon Dukungannya ya Para Reader🥰😉
.
Untuk like+Rate+Vote+Favo😉💖. (Dukungan kalian berharga banget buat author 🥰)
.
Go Follow Ig : @Regin.rosee
.
.
(Area 18+)
*******
.
Zanna Kirania Zein, seorang wanita cantik, berusia 24 tahun, yang baru saja di terima bekerja di perusahaan konstruksi yang terkenal di Negara X, Wijaya Kontruksi. Karena perusahaan tersebut sangat jauh dari kota asalnya, Zanna terpaksa harus tinggal di sebuah unit apartemen milik tantenya yang sudah tidak di tempati, karena sang Tante harus mengikuti suaminya tinggal di luar Negeri.
Nasib buruk terus menimpa Zanna, ketika dia tahu jika tetangga sebelah nya itu adalah Direktur Utama di tempat ia bekerja.
Bertetangga dengan boss, membuat Zanna merasa stres, apalagi bossnya itu terkenal kejam di tempat kerja.
Tapi siapa sangka.. di antara mereka mulai tumbuh benih-benih cinta.
bagaimana kisah selanjutnya?. yuk pantengin terus cerita Tetanggaku adalah Bossku 😊🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon regin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Berdebar kencang..
"Deg.."
"Deg.."
"Deg.."
Daffin menghela nafasnya dengan kasar, ketika ia merasakan jantungnya berdebar sangat kencang.
"Ish, jantung aku berdebar kencang banget ini. Untung Zanna, udah tidur. Kalau dia belum tidur.. aku bisa-bisa mati kutu, kalau Zanna ngedenger jantung aku yang berdetak kencang gini." ucap Daffin dalam hati.
Daffin menatap wajah Zanna yang tengah tertidur pulas dalam pelukannya.
"Hmm, aku bersedia banget Zan.. kalau setiap hari.. kekunci kaya gini bareng kamu." gumam Daffin sambil tersenyum manis.
Tiba-tiba Daffin mengerutkan dahinya, ketika merasakan baju yang sedang Zanna kenakan terasa dingin.
"Hmm, baju.. Zanna, kok dingin banget ya..." gumam Daffin yang merasa heran.
Daffin ingin menanyakan hal itu kepada Zanna. Namun, saat ini adalah bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu kepada Zanna. karena saat ini, Zanna masih tertidur pulas dalam pelukannya.
Tak berselang lama, akhirnya Daffin tertidur. Dan mereka berdua pun tertidur dengan posisi yang saling memeluk.
Beberapa jam kemudian, tepat pukul 5 pagi. Zanna sudah tersadar dari tidurnya.
"Mppphhhh...."
Zanna mencoba membuka matanya perlahan-lahan.
"Pak Daffin?" pekik Zanna.
Zanna sangat tersentak ketika wajah Daffin saat ini sangat dekat dengan wajahnya. Dan yang membuatnya semakin tercengang adalah, posisi Daffin yang tengah memeluknya.
"Brukk!"
Zanna reflek mendorong tubuh Daffin, lalu tubuh Daffin terbentur pada sisi sofa, dan membuatnya hampir terjatuh.
"Aww!" pekik Daffin yang tersadar dari tidurnya.
Daffin membuka matanya, lalu menatap serius ke arah Zanna.
"Hei, Zanna.. apa-apaan kamu dorong saya kaya gitu.." protes Daffin.
"Eh, maaf.. pak. Saya nggak sengaja. Saya reflek ngedorong Bapak, saya kaget banget soalnya.." jelas Zanna dengan nafas yang terengah-engah.
Zanna menghela nafasnya dengan kasar. "Ish.. berarti semalaman aku tidur pelukan sama Pak Daffin?!" ucap Zanna dalam hati. Zanna berulangkali menepuk-nepuk wajahnya.
Daffin yang masih setengah sadar sangat terkejut dengan perlakuan Zanna tadi. Ia pun mencoba menyenderkan badannya pada sandaran sofa.
"Hei, Zanna. Kamu jangan ke pedean ya.. emang saya juga mau apa.. semalaman pelukan sama kamu? kalau bukan karena hati nurani saya yang baik.. mungkin saya udah biarin kamu ketakutan.. semaleman.." jelas Daffin, yang membuat Zanna terkekeh.
"Ya, udah... maafkan saya.. karena sudah merepotkan, Pak Daffin.. dan soal yang tadi.." mohon Zanna, sambil menghela nafasnya dengan lembut.
"Hmm, ya.." jawab Daffin dingin, sambil memejamkan matanya.
"Ish, ngomong apa sih aku.." batin Daffin yang sedikit menyesal.
Tiba-tiba Daffin teringat akan sesuatu hal. "Oh, iya. Baju kamu.. waktu malem.. kenapa bisa dingin gitu.." tanya Daffin yang ingin tahu.
Zanna menghela nafasnya dengan kasar. "Bapak, mau tau itu kenapa?" tanya Zanna balik.
"Eum, iya. Emang kenapa..."
Zanna menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar.
"Itu.. karena.. waktu kemarin pagi. Mobil mewah Kak Bagas.. udah menyipratkan genangan air, dan genangan air itu kena saya.. dan bikin baju saya jadi basah."
"Tapi.. itu kan kejadiannya dari pagi.. harusnya udah kering dong.." balas Daffin.
"Iya.. gimana mau kering pak.. saya kan diem di ruangan ber Ac.. jadi bukannya kering, tapi malah nambah dingin." lanjut Zanna.
"Oh, jangan-jangan karena itu.. kamu udah corat coret mobilnya Bagas?" tanya Daffin menyelidik.
"Hmmm, i..iya.." balas Zanna.
"Hei, Zan.. sekesel apapun kamu sama orang.. kamu jangan pernah balas lagi dengan keburukan.. kamu bisakan tanyain baik-baik ke Bagas, dan bisa nyuruh Bagas buat minta maaf.. mungkin Bagas juga nggak sengaja kan, ngenyipratin genangan air itu.." lanjut Daffin, yang membuat Zanna terkekeh.
"Iya.. habis saya jengkel, pak." balas Zanna.
"Iya.. kamu itu jengkel.. dibaluti dengan dendam." lanjut Daffin.
Ucapan Daffin itu membuat Zanna terdiam. "Tuh, kan. percuma aja , aku bilang yang sebenernya ke dia.. ujung-ujungnya.. aku juga pasti yang di anggap salah." gerutu Zanna dalam hati.
"Krrruk...."
Tiba-tiba perut Zanna berbunyi sangat kencang, tanda jika dia sangat lapar.
"Ish, perut aku sakit banget.. dari kemarin aku kan belum makan.." ucap Zanna dalam hati.
Daffin mengerutkan dahinya ketika melihat Zanna tengah memegang perutnya.
"Zan, kamu kenapa?" tanya Daffin.
"Saya.. lapar banget pak.. dari kemarin saya belum makan." jawab Zanna dengan nada lirih.
Tak berselang lama, perut Daffin berbunyi.
"Krrruuk..."
"Duh, sama aku juga laper banget ini..." ucap Daffin dalam hati.
Tak lama kemudian, Daffin mendengar suara langkah kaki, yang melewati ruangannya.
Hal itu membuat Daffin tersentak. "Ah, kayanya.. itu Pak Edo deh.." bisik Daffin.
Tak pikir panjang Daffin pun langsung berteriak.
"Pak, Edo!" Daffin berteriak dengan sangat kencangnya.
"Ah, Pak Daffin." pekik Pak Edo yang tersadar jika Daffin memanggilnya dari dalam ruangan.
"Pak Edo, tolong bukakan pintu ruangan saya..." mohon Daffin.
"Ah, iya.. pak." dengan segera Pak Edo mendekati pintu ruangan Daffin, dan segera membukakan pintu ruangan bosnya itu.
"Ceklek!"
Pintu ruangan Daffin telah berhasil di buka, hal itu membuat Daffin menghela nafas dengan lega.
"Huft.. makasih pak Edo." ucap Daffin dengan lega.
Pak Edo mengerutkan dahinya. "Pak Daffin.. nggak pulang semalam?" tanya Pak Edo.
Daffin menghela nafasnya dengan kasar. "Hmm, iya.. lebih tepatnya saya kekunci di dalam ruangan, saya lupa nggak bawa kunci ruangan, terus Kemarin.. saya mau hubungi Pak Edo, Hp saya mati.." balas Daffin.
"Ah, saya pikir.. kemarin bapak sudah pulang, makannya saya kunci pintu ruangan bapak, terus saya juga nggak lihat mobil bapak di depan loby." lanjut Pak Edo.
"Iya, nggak apa-apa. Mobil saya.. saya parkir, di gedung belakang." balas Daffin
"Eum... kenapa nggak telepon pake telepon kantor yang di ruangan bapak aja.., padahal kemarin ada yang jaga kok, pak." jelas pak Edo yang membuat Daffin tersentak.
"Oh, iya.. ya, kenapa nggak kepikiran coba. Eh, tapi.. mending nggak kepikiran deh, kalau kepikiran.. mana bisa aku pelukan sama Zanna semalaman." bisik Daffin sambil tersenyum tipis.
Zanna yang mendengar ucapan Pak Edo dari dalam ruangan Daffin pun, membuatnya tersentak. "Aish, iya juga ya, kenapa nggak kepikiran coba, kalau aku kepikiran.. udah pasti aku nggak akan pelukan sama Pak Daffin semalaman.." ucap Zanna dalam hati.
Daffin menghela nafasnya dengan kasar.
"Iya.. mungkin kemarin saya panik." balas Daffin.
"Oh, iya, kalau gitu.. saya mau kembali bertugas.. pak." lanjut Pak Edo.
Tiba-tiba mata Pak Edo, tak sengaja melihat Zanna sedang duduk di atas sofa. Dan hal itu membuat Pak Edo, tercengang. "Ah, itu kan mbak Zanna.. yang Admin keuangan itu. Berarti.. dia kekunci bareng Pak Daffin, di ruangannya Pak Daffin?!" pekik Pak Edo.
Tak berselang lama, Pak Edo segera meninggalkan ruangan Daffin.
Setelah itu, Daffin menghampiri Zanna yang tengah duduk di atas sofa.
"Oh, iya Zan..kamu, bisa pulang dulu buat mandi, nanti jam 8 atau jam 9 bisa kesini lagi, nanti biar saya yang jelaskan ke bagian HRD kalau kamu datang terlambat.." jelas Daffin.
"Hmm, iya udah kalau gitu pak. Saya mau ke ruangan divisi keuangan dulu.., mau ngambil tas saya." ucap Zanna
"Oh, ya, udah silahkan.." balas Daffin.
Zanna pun segera beranjak dari sofa. Lalu segera berjalan meninggalkan Daffin. Namun, ketika Zanna berjalan melewati Daffin. Daffin merasa aneh dengan wajah Zanna.
"Zan, muka kamu kok pucat banget.." pekik Daffin sambil mengerutkan dahinya.
Zanna menghela nafasnya dengan lembut.
"Hmm, nggak apa-apa pak. Mungkin efek saya laper kali pak, belum makan, dari kemarin.." balas Zanna.
"Ya, udah.. kalau kaya gitu. Sekarang kamu pulang bareng saya aja, saya khawatir kamu kenapa-kenapa." ucap Daffin. Yang membuat Zanna terkekeh.
"Ah, tadi Bapak bilang apa?" tanya Zanna yang mencoba meyakinkan.
"Eumm, ya saya takut kamu kenapa-kenapa, kamu kan karyawan saya.. jadi kalau kamu kenapa-kenapa saya juga kan yang repot..." balas Daffin.
"Eumm, i...ii..iya udah pak.. tapi saya mau ke ruangan divisi keuangan dulu ya, pak." lanjut Zanna.
"Oke.. saya tunggu.." balas Daffin.
Zanna pun pergi meninggalkan ruangan Daffin dan segera menuju ruangan divisi keuangan.
Daffin menatap punggung Zanna yang pergi meninggalkan ruangan nya. "Ish, kenapa.. aku malah nunjukin, kalau aku kaya nggak suka sama Zanna sih.." gerutu Daffin sambil mengacak ngacak rambut nya.
"Hmm, pokoknya mulai detik ini harus jaga sikap fin. Jangan terlalu keras sama Zanna." gumam Daffin dalam hati.
Setibanya di dalam ruangan divisi keuangan, Zanna segera menghampiri meja kerjanya, lalu mengambil tasnya.
Sebelum meninggalkan ruangan divisi keuangan. Zanna mengecek kembali barang-barang nya yang berada dalam tasnya.
Setelah selesai, Zanna meninggalkan ruangan divisi keuangan. Lalu segera menghampiri Daffin.
Setibanya di dalam mobil, Daffin sesekali melirik Zanna. Kemudian menghela nafasnya dengan lembut.
"Oh, iya Zan.. kita makan dulu ya.. sebelum ke apartemen.." ajak Daffin sambil tersenyum.
"I..iiya udah, Pak.." balas Zanna.
Tak berselang lama, Daffin mengajak Zanna untuk makan di tempat warung nasi uduk.
1 jam kemudian, Zanna dan Daffin sudah selesai makan.
"Hmmm, makasih pak, udah ngajak saya makan.. akhirnya saya ada tenaga lagi.." ucap Zanna seraya berterima kasih.
"I..iya sama-sama.." balas Daffin sambil tersenyum tipis menatap Zanna.
Setelah selesai makan, Zanna dan Daffin segera pergi menuju Panorama Apartemen.
****
Panorama Apartemen
Tepat pukul 9 pagi. Zanna sudah selesai mandi dan berpakaian.
"Haaah... seger nya udah mandi.." pekik Zanna.
Sebelum kembali ke kantor, Zanna menghadap ke cermin, untuk merias wajah nya.
Ketika akan merias wajahnya, tiba-tiba benak Zanna teringat satu hal.
"Aish, jadi semalaman aku tidur dalam pelukannya, Pak Daffin?!" pekik Zanna yang masih tak percaya.
Zanna berulangkali menepuk-nepuk wajahnya. "Ish, kenapa jantung aku berdebar kencang gini.. kalau inget kejadian itu.."
"Jangan.. jangan... aku..."
"Arghh.. nggak. Pokoknya jangan sampai aku jatuh cinta sama Pak Daffin." ucap Zanna yang meyakini dirinya.
Setelah selesai berdandan. Zanna, segera keluar dari unit apartemen.
"Ceklek!"
Zanna keluar dari unit apartemen, tak berselang lama. Daffin keluar dari unit Apartemennya.
Mereka berdua pun saling bertatapan selama beberapa detik.
"Khemm." Zanna berdeham, dan membuat Daffin tersadar.
"Euh, Zan. Berangkat ke kantor nya bareng saya aja.." ajak Daffin.
Ucapan Daffin itu membuat Zanna berpikir. "Hmm.. tapi.."
Daffin menghela nafasnya dengan kasar. "Udah ayok.. saya mau ada rapat bentar lagi." ajak Daffin sambil menggenggam tangan Zanna.
Zanna sangat tersentak ketika melihat Daffin menggenggam tangannya dengan lembut. Dan hal itu membuat jantungnya berdebar sangat kencang.
"Deg.."
"Deg.."
"Deg.."
"Aduh... jantung aku kenapa berdebar kencang gini.."
.
.
🌸🌸🌸🌸🌸 Bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸
sukses
semangat
mksh