Aku benci sekali padanya! Dia lelaki paling menyebalkan yang pernah aku temui. Ucapannya selalu menyakiti hati, tingkahnya kasar dan juga egois! Paket komplit sebagai pria pemenang nominasi paling di benci sejagat.
Tapi kenapa semuanya kini berubah?
Mungkinkah aku jatuh cinta pada lelaki ini? Pangeran berhati dingin bernama Melviano Mahaprana Gunardi?
Tak mungkin!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada apa antara Vian dan Rama?
"Fa.. Fafa..."
"Uuh..." Aku mengucek mataku yang masih mengantuk, "kenapa..." tanyaku pelan tanpa membuka mata.
"Bangun..."
"Hmmm..." Balasku, sedikit mendesah lalu tidur lagi.
"Kalau nggak mau bangun, ku cium nih!"
Aku langsung membuka lebar mataku dan bangun dari tidurku. Aku menoleh ke arah Vian yang sudah berada di samping ranjangku.
"Lagi ngapain Mas? kok masuk kamarku!" Ucapku marah.
"Aku lapar, buatkan aku makanan..." Vian mengelus perutnya.
"Ooh... " Dengan malas aku bangkit dari ranjangku. "Mau di bikinkan mie?" tanyaku sambil berjalan pelan keluar dari kamar. Aku masih terus mengucek mataku yang masih lengket. "Jam berapa sih ini?" lirihku.
"Jam 2 dini hari." Jawab Vian.
Aku tersenyum, "Mas Vian mau sahur ya?" ejekku.
"Aku belum makan, gara-gara kau sudah makan duluan pakai mie!"
"Aku kan tadi masih kenyang! Mas Vian kan bisa makan sendiri." Aku kesal karena Vian terus mencari alasan untuk menyalahkan aku karena nggak menemaninya makan malam.
"Makan sendirian kan nggak enak."
Aku menatap Vian sambil cemberut, "mau makan apa?"
"Telur mata sapi. Kamu bisa bikinnya kan?"
Aku mengangguk sambil menunjukan kelingkingku, "kecil itu sih, aku ahlinya!" Ucapku bangga.
Vian tersenyum mengejek, "Mau minta makanan yang lainnya, tapi takut kamu nggak bisa. Makanya aku cuma minta telur. Perhatian kan aku?"
Aku menatap Vian dengan sinis, "perhatian... cih!" Kesalku.
Aku benar-benar mengantuk, kemarin malam kan aku sama sekali nggak tidur. Eh, sekarang malah Vian mengganggu tidur nyenyak ku!
"Tunggu sebentar ya..." Aku mendekati kompor dan mengambil penggorengan. Kemudian membuka kulkas dan mengambil dua butir telur.
Vian menurut dan duduk diam di dekat meja makan.
Setelah berjibaku beberapa menit di depan kompor, akhirnya telor mata sapi permintaan Vian matang. Aku pun tersenyum puas lalu mengambil piring dan meletakkannya di sana.
"Silahkan.. eye cow egg."
Vian langsung tertawa mendengar ucapanku yang sok Inggris.
"Kenapa sih?!" Aku kesal sambil duduk di samping Vian.
"Masa.. pacar Melviano Mahaprana Gunardi -pemilik Mall terbesar di Jogjakarta- nggak bisa bahasa Inggris. Jangan malu-maluin aku, sayang..." Vian menggelengkan kepalanya sambil menancapkan garpu ke telur mata sapi buatan ku.
Wajahku merona karena ucapan Vian, barusan dia panggil aku apa? sayang?
Aku langsung melipat bibirku ke dalam, menahan senyum yang hampir merekah.
Lagi-lagi Vian tertawa terkekeh-kekeh, bahkan bahunya sampai terguncang hebat. "Eye Cow Egg? Konyol banget!" Ucapnya lagi sambil tertawa.
"Apa sih! lucu nya di mana!" Aku jadi kesal, karena Vian terus-menerus mengejekku.
"Telur mata sapi biasanya di sebut 'sunny-side up egg'." Vian mulai mengunyah. "Dan, kalau kamu masak telurnya di balik, namanya jadi 'fried egg'. Lain kali jangan ngomong pakai Bahasa Inggris lah, malu-maluin aja."
Aku cemberut, "Cih! masih untung aku mau masakin! nggak usah cerewet lah." Ucapku sambil menguap.
Vian menatapku, tatapannya sangat lembut membuatku jadi salah tingkah. "Makasih ya..." Ucapnya sambil tersenyum.
Seketika kantukku hilang, senyum Vian sangat menyilaukan seperti cahaya mentari.
"Kenapa?" Tanya Vian heran, sambil menatapku yang masih tertegun.
"Mas Vian.. jangan suka senyum-senyum ke orang ya! biarkan semua orang tahunya Mas Vian itu judes dan galak! biar nggak ada cewek yang berani mendekat!"
Lagi-lagi Vian tertawa. Lalu kembali melanjutkan makan telur mata sapi nya.
"Mas..."
"Uh?"
"Kenapa sih, Mas Vian sepertinya marah sekali pada Rama?"
Vian langsung terdiam, tangannya yang memegang garpu bahkan sampai berhenti di udara. "Kamu nggak perlu tahu!" Ucapnya.
Aku menghela napas, "Rama kemarin pagi sangat senang, katanya Mas Vian menelponnya agar menemaniku. Dia terus berterima kasih padaku karena membuat Mas Vian menghubunginya setelah 3 bulan..."
"Sudahlah Fa!" Vian menoleh dan menatapku dengan tajam. "Yang terjadi antara aku dan Rama, sama sekali bukan urusanmu! kamu nggak perlu tahu!"
Aku terhenyak, ada rasa kecewa di dalam hatiku. Yah... Vian memang nggak harus menceritakan masa lalunya denganku, tapi sebagai wanita yang sedang dekat dengannya, aku juga ingin tahu lebih banyak tentang dirinya.
"Maaf..." Aku tertunduk dan mulai mengunci mulutku.
"Sudahlah.. aku mau tidur." Vian terlihat kesal lalu meletakkan garpunya dan memutar roda kursinya. "Kau juga tidurlah." Ucapnya sambil menatapku lalu kembali menuju lift.
Dengan kesal aku membereskan piring kotor bekas makan Vian, meletakkannya dalam wastafel dan meninggalkannya begitu saja. Aku malas mencucinya, karena airnya pasti sangat dingin.
Dengan gontai aku berjalan menuju lift dan terkejut karena Vian masih di dalamnya.
"Lho.. kok masih di sini?"
"Aku menunggumu, apa lagi memangnya!"
"Oh..." Dengan menjadi kekasihnya, aku pikir Vian akan berubah, ternyata sikapnya sama saja! kata-katanya juga masih kasar, walaupun sudah tidak sesering dulu.
Aku menekan tombol di dalam lift, saat pintunya tertutup Vian langsung meraih tanganku.
Aku terkejut dan spontan menatapnya.
"Maaf ya... aku nggak bermaksud bicara kasar. Suatu saat nanti aku pasti menceritakan semuanya... tentang masa laluku. Sekarang aku belum siap." Ucapnya lirih sambil tertunduk.
Aku berjongkok di depan Vian dan menatap matanya, " Iya Mas, maaf ya kalau aku terlalu ikut campur. Baru jadian sehari masa sudah mau tahu banyak tentangmu, kamu pasti nggak nyaman."
Vian tersenyum sambil menatapku.
"Sini.. mendekat..." pintanya sambil tersenyum gemas.
Wajahku langsung merona, "nggak!" Aku langsung bangun dan menatap ke atap lift, mencoba menutupi wajahku yang merona. Aku tahu pasti apa yang sedang di pikirkan Vian.
Dia pasti ingin menciumku lagi seperti tadi siang saat di dalam mobil. Kali ini nggak ada Pak Slamet yang menyelamatkan aku, bahaya!
Ting!
Setelah pintu lift terbuka, aku langsung berjalan cepat menuju kamarku.
"Fa..." Panggil Vian.
Aku pura-pura tak dengar dan terus berjalan.
"Fa..." Vian mengejar ku, dia memutar roda kursinya dengan cepat, hingga mendahuluiku yang masih berjalan dengan terpincang-pincang. Dia berhenti tepat di depan pintu kamar dan mencegat ku agar tidak bisa masuk.
"Awas Mas, aku mau tidur." Ucapku. Jantungku mulai berdebar kencang. Duuh.. bahaya banget ini!
Vian memanyunkan bibirnya, "cium dulu." pintanya.
"Nggak mau." Tolak ku, malu.
"Kenapa? kita kan sudah jadian?"
"A.. aku nggak mau.."
"Kenapa? apa alasannya? ciumanku nggak enak?"
Wajahku langsung terasa panas, nggak tahu lagi deh warnanya seperti apa.
Aku menelan ludahku, bingung mau menjawab apa.
"I.. iya! terlalu kasar! bibirku sampai sakit!"
"Oh.. maaf.. " Vian terdiam sejenak sambil menepuk-nepuk bibirnya sendiri dengan jari telunjuk. "Biasanya cewek yang kucium selalu ketagihan dan minta lagi..." gumamnya.
"Apa yang salah ya?"
Aku semakin kesal mendengar celotehan Vian, sepertinya dia sengaja membuatku kesal!
"Sanah! cari cewek-cewek itu, cium lagi mereka sampai jontor!!!"
Aku menggeser kursi roda Vian dan membuka pintu kamarku lalu menghambur masuk, tak lupa ku kunci pintunya agar Vian nggak bisa sembarangan lagi masuk ke dalam kamarku.
"Fa..." Vian mengetuk pintu.
"Fafa..."
Aku diam saja tak menjawab.
"Falentina..."
"Apa sih!" Aku kesal lalu membuka pintu.
"Cium dulu, kalau nggak, aku ganggu kamu terus! Aku bakal gedor-gedor pintunya sampai semua orang di rumah ini bangun."
"Ck!" Aku menarik napas lalu mengeluarkannya dengan keras. Kemudian berjongkok di depan Vian.
"Duduk di sini biar gampang." Vian menepuk kakinya, menyuruhku duduk di pangkuannya.
"Jangan ngelunjak deh!" Aku makin kesal.
Vian cemberut.
Aku langsung mendekat dan mengecup bibirnya sekilas, "sudah."
"Ciuman apa ini! nggak terasa!" Vian mendengus kecewa.
"Sudah sana tidur!" Aku langsung menutup pintu dan merebahkan badanku di ranjang.
Jantungku semakin berdebar-debar tak karuan. Vian memang pintar sekali membuat perasaanku jungkir balik.
Kemana Vian yang ku kenal? kenapa sekarang dia jadi mesum begini. "Aahhh!!!" Aku berteriak sambil membenamkan wajahku di bantal.
.
.
#Sesuai janji, nanti siang author bakal up lagi. Tungguin ya 😘