Min Ara wanita yang di jodohkan dengan Jeon Jason, lelaki tampan yang mempunyai kharisma kuat yang merupakan seorang putra tunggal dari keluarga Jeon.
Sebagai syarat lelaki itu mendapatkan seluruh hak warisnya, Jason harus menikah dengan Ara.
Ara mengira kehidupannya akan bahagia dengan menjadi istri Jeon Jason, tetapi semua itu hanya ada dalam angannya saja. Jason yang berstatus suaminya itu, tidak lebih dari seorang iblis yang selalu menyakiti hatinya.
Ara tidak bisa mengelak perasaannya yang mulai terjebak di dalam lingkaran yang di buat Jason, tetapi itu semua adalah sebuah kesalahan besar baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30| Sungguh-sungguh
Meskipun Ara sudah memberi Jason satu kesempatan lagi, tetapi ia masih bersikap dingin kepada lelaki itu. Ara masih belum sepenuhnya kembali percaya, ia terlalu lelah dan merasa mulai trauma dengan hal-hal yang menimpanya.
Ara menatap ke arah luar jendela kamar Jason, ia hanya di rawat sehari saja dan sekarang sudah berada di rumah milik Jason. Kedua mertuanya sudah tahu kabar bahwa dirinya sedang mengandung penerus keluarga Jeon. Nanti, siang mereka akan mengunjunginya.
“Ara, minum dulu susunya!” Jason menyerahkan segelas susu hangat untuknya, Ara menatap gelas tersebut dan perlahan mengambilnya. Saat Ara meneguk susu di gelas tersebut, Jason tak mengalihkan pandangannya dari wajah Ara.
Lelaki itu tersenyum melihat Ara meminum susu buatannya sampai tandas.
“Kau ingin makan apa hari ini? Aku ku buatkan spesial untukmu?” tanya Jason menatap Ara dengan penuh harap.
Ara terdiam tidak menjawabnya sampai ia mulai merasakan gejolak di perutnya. Ara berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya, Jason memijat pelan tengkuk Ara dan menatap Ara dengan khawatir.
“Turunkan aku!” seru Ara dengan lemah saat Jason menggendongnya keluar dari kamar mandi.
Tubuh Ara begitu lemas dan kepalanya terasa pening, sehingga Ara tidak bisa berdiri. Jason yang menyadarinya langsung menggendongnya keluar dari kamar mandi dan meletakkan Ara di atas ranjang dengan hati-hati.
“Apa kita harus ke dokter?” tanya Jason yang di balas gelengan lemah dari Ara.
Jason terlihat sangat khawatir melihat Ara yang terlihat kesakitan.
“Tidak perlu, kau lupa kata dokter waktu itu? Ini merupakan gejala kecil di masa kehamilan. Jadi, tidak perlu melakukan itu. Aku baik-baik saja, hanya butuh istirahat yang cukup,” jelas Ara yang mulai memejamkan matanya, Jason hanya menatapnya dan mengembangkan senyumnya.
Jason duduk di atas ranjang dan menatap wajah Ara, tangannya terulur mengusap lembut puncak kepala Ara.
“Terima kasih sudah memberiku satu kesempatan lagi,” gumam Jason sebelum beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar.
Ara membuka kedua matanya saat Jason sudah pergi, ia menatap langit-langit kamar dan termenung.
“Seberapa banyak kau menyakiti, hati ini tidak bisa untuk membencimu. Ternyata cinta semenyedihkan ini ya?” lirih Ara mencoba menghalau air matanya yang keluar.
...***...
Kedua orang tua Jason berkunjung ke rumah putranya untuk melihat keadaan Ara yang sedang mengandung penerus keluarga Jeon. Binar bahagia terlihat jelas di wajah keduanya membuat Ara tersentuh.
Kini Ara, Jason, tuan dan nyonya Jeon berada di ruang tamu. Ibu Jason selalu mengelus puncak kepala Ara dengan penuh kasih sayang.
“Kau harus menjaga Ara dengan baik! Jangan biarkan Ara kelelahan atau pun stres, jaga pola makan Ara dan selalu buat Ara bahagia!” nasihat tuan Jeon kepada putranya.
Jason hanya tersenyum kecil mendengar nasihat dari sang ayah.
“Tentu, Jason akan selalu menjaga Ara dengan baik dan tidak akan membiarkannya kelelahan ataupun stres, Ayah jangan khawatir. Jason adalah suaminya dan Jason akan selalu menjaganya dengan nyawa Jason sendiri,” jelas Jason dengan menatap Ara lembut.
Ara hanya menatap Jason dengan datar, ia memilih tidak banyak bicara. Jason menghela napas kasar saat tahu respon Ara yang masih dingin kepadanya. Ternyata begitu menyakitkan, itu yang di rasakan oleh Jason.
“Ara? Kenapa kau banyak diam, sayang?” tanya lembut ibu Jason.
“Ara bingung mau bicara apa. Semua sudah di jawab oleh Jason,” jawab Ara.
“Apakah kau ingin sesuatu untuk di makan? Sejak pagi kau tidak makan apa pun, malah kau terus muntah,” Jason menghampirinya dan mengusap pipi Ara.
“Aku tidak ingin makan, semuanya membuatku mual,” jujur Ara yang di balas helaan napas lelah dari Jason.
Bukan hanya sekali, ia menawarkan makan kepada Ara, tetapi respon Ara tetap sama, menolak untuk mengisi perutnya meskipun hanya sedikit saja.
“Jeon Ara, bagaimana pun kau harus makan! Di tubuhmu ada satu nyawa lagi yang membutuhkan asupan makanan, kau harus bisa melawan mual itu,” ucap lembut ibu Jason membuat Ara berpikir, tangannya tanpa sadar meraba perutnya yang masih rata.
Jason yang melihat hal itu menahan senyumnya, tangannya begitu gatal ingin mengusap lembut parut Ara yang ada buah hati mereka itu. Namun, Jason menahannya, karena ia tahu Ara masih belum sepenuhnya percaya kepadanya.
Memang bagaimana bisa Ara bisa mempercayai dirinya yang sudah banyak membohongi wanita itu. Itu adalah hal yang cukup susah, tapi Jason akan terus berusaha untuk mengembalikan kepercayaan Ara.
“Ara ingin bubur wortel,” gumam Ara membuat ibu Jason tersenyum lebar mendengar kalimat itu. Beliau langsung beranjak dari duduknya.
“Ternyata ngidammu sama dengan Ibu saat mengandung Jason. Ibu akan membuatkan bubur wortel untukmu,” ujar ibu Jason sebelum pergi ke dapur di susul oleh tuan Jeon yang juga ingin membantu istrinya memasakan menantu kesayangannya.
“Ara, terima kasih kau sudah mau makan,” ujar Jason memeluk Ara dari samping.
Jason mengecup puncak kepala Ara. Lelaki itu sangat senang, karena Ara mau makan.
“Bisa lepaskan pelukanmu? Aku ingin menyusul ibu,” ucap Ara membuat Jason melepaskan pelukannya dengan berat hati.
Jason menatap Ara yang mulai menjauh.
Jason memilih tetap berdiam di ruang tamu, karena ia tidak ingin merusak kebahagian Ara yang sedang membantu ibu dan ayahnya memasak di dapur.
Jason tahu, saat dirinya datang Ara akan diam dan tidak banyak bicara. Pandangan Jason jatuh kepada figura sedang yang di tempel di tembok ruang tamu. Di dalam figura tersebut adalah foto pernikahannya dengan Ara, terlihat Ara tersenyum manis di sana. Namun, senyuman itu adalah sebuah senyum palsu yang di ciptakan wanita itu agar para tamu tidak menyadari kesedihan di manik matanya yang begitu menyakitkan.
“Aku baru menyadari tatapan matamu,” gumam Jason yang terus fokus dengan tatapan mata Ara di dalam foto tersebut.
“Aku memang tidak tahu masa lalumu, tetapi saat melihat matamu, aku tahu. Kau menyimpan banyak sekali rahasia dan luka, tetapi kau menutupinya dengan senyuman yang terlalu palsu itu. Aku berjanji akan mengeluarkanmu dari luka masa lalumu dan aku akan memperbaiki hubungan kita, sudah banyak kesalahan yang aku lakukan kepadamu. Izinkan aku untuk menebus semua itu,” lirih Jason dengan suara paraunya.
“Jason, kau tidak ikut makan bersama kami?” teriak ibu Jason dari arah meja makan.
Jason menghela napas panjang, sebelum beranjak dari duduknya menuju ke meja makan. Jason melihat Ara yang awalnya terlihat bahagia dengan candaan sang ayah, kini terdiam dan mulai memakan buburnya.
Jason duduk di sebelahnya dan menatapnya sekilas. Tangan lelaki itu terulur mengusap puncak kepala Ara membuat Ara yang terdiam sejenak, karena terkejut dengan hal yang di bisikkan oleh Jason.
“Aku akan membuatmu kembali mempercayaiku, mulai sekarang aku tidak main-main dengan ucapanku ini. Aku sangat bersungguh-sungguh untuk memperbaiki semuanya.”
Bersambung...