Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian di Cangkir Porselen
Gema langkah kaki Nora di atas lantai marmer lobi kediaman Sullivan terdengar seperti ketukan waktu yang baru dimulai. Ia mengikuti Nyonya Sullivan melewati lorong luas yang dihiasi lukisan-lukisan klasik abad pertengahan—karya asli yang jauh lebih megah daripada apa pun yang pernah ia lihat di mansion Adrian. Di sini, setiap sudut memancarkan sejarah dan kekuasaan yang telah mengakar, bukan sekadar kekayaan yang dipamerkan.
Nora dibawa masuk ke sebuah ruangan yang berfungsi sebagai ruang tamu pribadi. Ruangan itu bernuansa hangat dengan panel kayu ek gelap dan jendela-jendela besar yang menghadap ke taman samping yang asri. Nora duduk di salah satu kursi berlapis beludru hijau zamrud, sementara wanita di hadapannya, Lydia Sullivan, duduk dengan punggung tegak yang menunjukkan silsilah bangsawan yang kental.
Tak lama kemudian, seorang pelayan perempuan masuk dengan gerakan sangat halus, nyaris tanpa suara. Ia meletakkan nampan perak berisi dua cangkir teh porselen tipis dan sebuah teko perak yang masih mengepulkan uap aroma melati.
"Silakan, Nora. Teh ini akan menenangkan sarafmu setelah perjalanan jauh yang melelahkan," Lydia berujar lembut sembari memberikan isyarat dengan tangannya yang dihiasi cincin safir besar.
Nora meraih cangkir itu, merasakan hangatnya menjalar ke telapak tangannya yang masih dingin. Ia meminum seteguk kecil. Rasa melati yang murni membasahi tenggorokannya, sedikit memberikan ketenangan pada gejolak di dadanya. Setelah meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan perlahan, ia menatap Lydia, menunggu pembicaraan inti dimulai.
Lydia menatap Nora cukup lama, memperhatikan setiap detail wajah wanita di depannya—termasuk memar yang mulai memudar di pipi dan sorot mata yang tampak jauh lebih tua dari usianya.
"Aku harus jujur padamu, Nora," Lydia memulai, suaranya jernih dan tenang. "Aku sangat lega melihatmu yang keluar dari jet itu. Aku senang kaulah yang akhirnya menjadi pengantin bagi putraku, Declan. Terlebih lagi, kau memakai gaun krem pemberian kami dengan sangat anggun. Gaun itu adalah simbol penerimaan keluarga Sullivan, dan kau memakainya seolah kau memang dilahirkan untuk itu."
Nora terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana Stella meremehkan gaun ini, menyebutnya barang usang. Ternyata, bagi keluarga Sullivan, gaun ini adalah ujian pertama, dan Nora telah melaluinya.
"Terima kasih, Nyonya Sullivan," jawab Nora sopan.
Lydia menyandarkan tubuhnya sedikit, matanya menyipit namun tidak dengan nada mengintimidasi. "Hanya ada satu hal yang mengganjal di hatiku. Sejauh yang aku tahu dari laporan intelijen kami di Pantai Barat... bukankah kau adalah kekasih Adrian Thorne? Bahkan kalian dikabarkan sangat dekat selama lima tahun terakhir."
Pertanyaan itu seperti belati yang mencoba mengorek luka lama, namun Nora tidak berkedip. Ia tidak merasakan sesak lagi saat nama itu disebut. Yang tersisa hanyalah rasa dingin yang datar.
"Hubungan itu sudah berakhir jauh sebelum pernikahan ini terjadi, Nyonya," sahut Nora tanpa nada ragu sedikit pun. "Apa pun yang Anda dengar tentang masa lalu, itu hanyalah bayangan yang sudah saya tinggalkan di dermaga California. Hari ini, saya berdiri di sini sebagai seseorang yang tidak memiliki keterikatan apa pun dengan Adrian Thorne maupun keluarga Leone."
Lydia menatap mata Nora, mencari tanda-tanda kebohongan atau keraguan. Yang ia temukan hanyalah ketegasan seorang wanita yang telah selesai dengan masa lalunya. Lydia menghela napas panjang, raut wajahnya tampak jauh lebih rileks.
"Bagus. Aku lega mendengarnya," Lydia tersenyum tipis. "Sebab, keluarga Sullivan tidak suka berbagi, dan kami tidak suka sisa-sisa. Sekarang kau adalah bagian dari kami. Dan karena kau adalah istri sah Declan secara hukum, ada tanggung jawab besar yang harus kau emban."
Lydia menjeda sejenak, wajahnya berubah menjadi lebih serius, namun ada sisi keibuan yang muncul. "Putraku, Declan... ia sudah tertidur selama hampir setahun. Para perawat memang menjaganya selama ini, namun mulai hari ini, aku ingin kau yang mengambil alih tugas-tugas personalnya. Memandikannya, mengganti pakaiannya, memastikan ia selalu dalam kondisi terbaik. Aku ingin dia merasakan sentuhan seorang istri, bukan sekadar tangan dingin para pekerja medis. Aku percaya, energi dari orang terdekat bisa membantunya kembali pada kami."
Nora mengangguk takzim. Tugas ini jauh lebih baik daripada harus melayani nafsu pria yang sadis. Merawat seseorang yang tidak berdaya terasa seperti bentuk penebusan bagi anak-anaknya yang tak sempat ia rawat.
Lydia kemudian mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua dari laci meja di sampingnya. Ia membukanya, memperlihatkan sepasang cincin emas putih dengan desain minimalis namun sangat elegan. Cincin suami istri keluarga Sullivan.
"Terimalah ini," Lydia menyerahkannya pada Nora. "Ini adalah pengikatmu dengan Declan. Pakailah satu untukmu, dan satunya lagi... kau yang akan memasangkannya di jari putraku nanti."
Nora menerima kotak itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia menatap dua lingkaran logam itu. Jika dulu Adrian memberinya perhiasan untuk memamerkan kekuasaannya, cincin ini terasa seperti tanggung jawab yang berat. Ia belum memakainya; ia merasa harus melihat sosok "suaminya" terlebih dahulu sebelum benar-benar mengikatkan diri.
"Terima kasih, Nona Lydia. Saya akan menjaganya," bisik Nora.
"Panggil aku Ibu jika kita sedang berdua saja, Nora," Lydia berdiri, memberikan aura hangat yang tidak pernah Nora dapatkan dari Antonio Leone. "Sekarang, mari ikut denganku. Sudah waktunya kau bertemu dengan suamimu. Aku akan membawamu ke kamarnya di lantai atas dan mengajarimu bagaimana cara merawatnya."
Nora bangkit dari kursinya, menyimpan kotak cincin itu di dalam tas tangannya. Ia mengikuti Lydia menaiki tangga melingkar yang agung menuju lantai dua. Setiap anak tangga yang ia pijak terasa seperti langkah menuju babak baru dalam hidupnya. Di ujung koridor lantai atas, terdapat sebuah pintu ganda besar yang dijaga oleh dua perawat berseragam putih yang langsung membungkuk hormat saat Lydia mendekat.
Nora menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan mentalnya. Di balik pintu itu, terdapat pria yang kini menjadi pusat semestanya yang baru. Seorang pria yang tidak bisa bicara, tidak bisa melihatnya, namun akan menjadi saksi bagaimana Nora membangun kembali puing-puing hidupnya.
Lydia menyentuh gagang pintu, menoleh sejenak pada Nora dengan tatapan menyemangati, lalu mendorong pintu itu terbuka perlahan. Wangi aromaterapi lavender dan udara segar dari jendela yang terbuka menyambut mereka, membawa Nora masuk ke dalam ruang hening tempat Declan Sullivan menanti kehadirannya.