NovelToon NovelToon
Laluna Si Penerang Kegelapan

Laluna Si Penerang Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Cun

sebuah keserakahan manusia yang akan membawa petaka dari keluarganya, untungnya Laluna si gadis cantik yang perkasa ini luput dari kekejaman serta keserakahan orangtuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Cun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sosok misterius

Kebetulan lift rusak dari semenjak turun menuruni anak tangga Laluna seperti ada yang membuntuti, sebuah bayangan entah itu nyata atau bayangan dari dunia lain, tengkuk Laluna merinding seperti ada makhluk tak kasat mata yang terus mengintai nya.

Laluna bersikap waspada, dia harus lebih waspada, makhluk berpostur tinggi besar itu terus mengikuti kemana Luna melangkahkan kaki, Laluna berhenti lalu melirik kearah bayangan itu dan 'settt' sebuah anak panah meluncur, Laluna menghindar tapi naas nya, lengan nya tergores ujung anak panah itu hingga membuat luka goresan memanjang, untung dia segera berkelit kalau tidak pasti dadanya yang akan tertembus, Laluna mendekap lengan kirinya yang terluka sambil berlari menghindar, "siapa dia pengecut sekali ". Pikirnya.

"Hei siapapun kamu mau hantu atau manusia, tampak kan dirimu, jangan jadi pengecut!" teriaknya.

Dan kini, inilah dia makhluk tinggi besar berdiri di depannya dengan memakai topeng dan berbusana jubah hitam, Laluna memandang sosok aneh itu, "kamu manusia atau bukan?" tanya Luna, tapi sosok di depannya tak menjawab, hanya menyerahkan sesuatu pada Luna, dengan ragu Luna menerima benda itu yang ternyata selembar kain ukuran panjang kali lebar berwarna hitam dan bertuliskan tinta emas.

"Ini dari ibumu, simpan lah dan kami percayakan padamu untuk segera memutus kutukan ini, dan keputusan mu untuk meninggalkan rumah sudah baik itu keputusan tepat, cepat bebaskan ibumu yang telah di penjara oleh ayahmu dan gundiknya di suatu tempat, dia menunggumu untuk membawanya kembali". Suara bariton itu menggaung di telinga Luna, entah orang lain melihatnya atau tidak, terbukti dari tadi ada orang lain yang naik turun tangga juga tidak perduli dengan kehadiran Luna yang lagi berinteraksi dengan sosok tinggi hitam itu, perhatiannya hanya pada Luna yang seperti orang depresi ngomong sendiri sambil melihat keatas tangga, Luna berada di bawah tanjakan sementara sosok itu berada diatas tanjakan paling atas dengan tubuh besarnya yang menghalangi orang lewat, anehnya semua orang bisa lewat dengan biasa, Luna seperti ada di dua alam, antara nyata dan tidak, kepalanya nge blank, otaknya seperti berputar, dia balik lagi ke apartemen nya, dan kebetulan Najwa juga lagi ingin keluar.

Melihat Luna yang seperti orang linglung Najwa kembali memapah Luna untuk di bawa pulang ,sesampainya di kamar Najwa segera membaringkan Luna yang dalam keadaan seperti orang yang lagi fly, seperti orang yang baru sadar dari operasi besar yang memerlukan obat bius.

"Ada apa Lun, apa yang terjadi?" tanya Najwa, dan kemudian Najwa melihat lengan baju Luna dalam keadaan sobek, dan melihat luka goresan memanjang di lengan bagian atas, Najwa yang seorang dokter sangat faham bahwa Luna terkena racun, sejenis bius yang sebenar nya tidak terlalu bahaya, tapi cukup membuat orang kehilangan kesadarannya.

Najwa segera membersihkan luka itu kemudian membebatnya, setelah menyuntikkan obat penawar, Najwa membiarkan Luna tertidur sampai terbangun nantinya, Najwa yang hari itu dapat shift pagi terpaksa minta izin untuk mengganti shift nya jadi malam hari demi menunggu Luna sampai terbangun.

Najwa heran atas apa yang menimpa Luna, siapa yang tega menyerangnya menggunakan senjata beracun dan apa motifnya?, sejam kemudian Luna mulai tersadar dia seperti berada diatas awan, tenang ringan dan semuanya indah "apakah aku sudah berada di syurga". Bisiknya, dan Najwa segera menampar pelan pipi Luna.

"Jangan pergi ke syurga dulu bukankah kamu belum pernah merasakan syurga dunia". Ucap Najwa ngasal, Luna segera menatap Najwa di lihatnya sahabat yang sudah seperti kakaknya ini dengan telaten merawatnya, Najwa seorang anak pengusaha terkenal yang yatim sejak dia duduk di bangku SMA dan uminya menikah lagi kini berada di Mesir bersama suami barunya lebih memilih tinggal di Indonesia meski sendirian alasannya biar bisa dekat dengan makam Abinya yang orang Indonesia asli dan juga karena saat itu dia mengikuti suaminya yang dianggapnya dunia baginya ternyata hanyalah sampah pengecut yang tak tau rasa terimakasih.

"Mbak, apa yang terjadi? Kenapa aku di rumah lagi, seperti nya tadi aku sudah berangkat kerja?" tanya Luna.

"Seharusnya aku yang tanya kenapa kamu sampai terluka dengan senjata beracun?" tanya balik Najwa.

Luna berfikir dan mengingat kata kata dari sosok aneh itu, ibu? Aku di minta membebaskan ibu? Bukankah nyonya Widia itu ibunya lalu siapa yang harus di bebaskan, padahal Luna tahu dengan jelas ibunya saat ini lagi mengalami puber kedua, dan menikmati indahnya percintaan dengan brondong nya.

Luna makin berfikir makin sakit kepala, dia memegangi kepalanya dengan kedua tangan, "sshhh sakitt banget mbak kepalaku". Ucapnya, dan Najwa memberikan sebutir aspirin dosis rendah untuk meredakan sakit kepala Luna, Luna minum pil itu, kemudian dia duduk merenungi apa yang barusan dia alami, dia belum mau bercerita pada Najwa masalah ini, dia ingin menggali nya sendiri sampai dia berhasil mendapatkan titik temu permasalahannya.

Yang membuatnya sangat bingung adalah ucapan sosok misterius itu untuk menyelamatkan ibunya, jika ibunya dalam keadaan bahaya, apakah mungkin Bu Widia ini, BUKAN IBUNYA??

Laluna mendapat sedikit jawaban, kenapa harus selama ini baru mengetahui jika dia memang bukan anak yang di harapkan oleh Bu Widia, karena yang perduli padanya sejak bayi adalah ayahnya meski sang ayah lebih mengikuti kehendak ibunya daripada menyayangi putrinya.

"Mbak aku sudah enakan, sudah sehat jika Mbak mau dinas silahkan nanti aku akan telpon Dandy bahwa hari ini aku absen, biar di sampaikan ke boss, kalau aku lagi kurang enak badan". Luna sungguh tak enak hati jika harus terus terusan merepotkan Najwa.

"sungguh?, kamu bisa aku tinggal?, sebenarnya hari ini aku ada janji sama pasien yang lagi kena sakit telinga, kasihan dia jika harus menungguku, kalau begitu aku tinggal ya?" kata dokter Najwa, yang disamping menjadi dokter spesialis kulit juga menjadi dokter THT.

"iya Mbak nggak papa, maaf selalu merepotkan". Ucap Luna sungguh tak enak hati.

"Ih apaan sih Lun, aku kali yang selalu merepotkan kamu, hanya karena lari dari masalah malah numpang di rumah kamu, dan kini malah betah karena ada kamu yang sudah dianggap adikku sendiri". Balas janda cantik itu dan Luna hanya tersenyum, "berarti simbiosis mutualisme mbak, karena kita saling membutuhkan". balas Luna, Najwa tersenyum kembali men cangklong tasnya sambil berpesan, dia tadi sudah bikin bubur herbal, suruh Luna makan supaya cepat segar dan sehat kembali, Luna sangat beruntung mempunyai teman yang tulus setulus Najwa.

Luna masih terbaring lemas, tulang nya seperti enggan di gerakkan lemas lunglai, dan dia paksakan untuk duduk, meraih kembali air dalam gelas lalu meneguk nya, dia masih mematung mengingat dan menelaah kembali tentang ibu yang di ceritakan sosok itu, kenapa harus dia yang menolong kenapa jika sosok hitam itu lebih kuat kok tidak bisa menolong orang yang di sebut ibu itu, lalu Luna ingat kembali tentang kain hitam bertuliskan tinta emas itu, dimana barang itu? Penasaran sekali dia memeriksa seluruh saku bajunya, tidak di temukan nya, ketika dia terbengong tiba tiba benda itu ada di pangkuannya, aneh sekali!.

@@$@@

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!