Bagi Mila, hidup adalah perencanaan. Dan dalam rencana itu, Tyas adalah pilihan yang sempurna. Rasa aman, masa depan jelas, jawaban dari segala doanya.
Namun hidup punya selera humor yang aneh.
Tepat saat ia bersiap melangkah ke arah Tyas, Arya kembali muncul. Mantan kekasihnya itu datang membawa kembali aroma masa lalu yang seharusnya Mila kubur dalam-dalam.
Untuk pecinta second-chance romance dengan drama kantor, chemistry yang explosive, dan heroine yang nggak mau kalah, ini cerita kamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrettyDucki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin
Pintu lift berdenting terbuka di lantai 35. Mila melangkah keluar dengan sisa adrenalin yang memudar, digantikan oleh rasa perih di leher dan denyut di kepala.
Kubikel staf mendadak sunyi saat ia lewat. Semua mata tertuju pada kemejanya yang berantakan. Saat itulah pandangannya menangkap sosok yang saat ini paling enggan ia temui.
Arya berdiri di depan pintu ruangannya, lengan kemejanya sudah tergulung, wajahnya yang biasa tenang kini mengeras. Begitu matanya bertemu dengan Mila yang hancur-hancuran, rahangnya mengetat.
"Ikut saya," suara Arya rendah dan sarat otoritas.
Mila mengekor di belakangnya, mengabaikan bisik-bisik yang kembali pecah di belakang punggungnya.
Begitu pintu ruangannya tertutup, Arya langsung berbalik.
"Apa-apaan ini? Kamu berantem sama Gisella di kantin?" Arya menatap goresan merah di leher Mila dengan tatapan tak percaya. "Kamu kayak habis dikeroyok preman!"
Mila tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar pedas. "Lucu ya? Kamu yang buat kekacauan ini, tapi kamu malah tanya 'apa-apaan' ke aku?"
Arya mengernyit, langkahnya mendekat namun Mila tidak mundur. "Maksud kamu apa? Aku baru balik dari Senayan dan dapet laporan sekretaris aku guling-guling di lantai kantin! Jelasin sekarang."
"Jelasin?" Mila mendengus. "Ini semua gara-gara kamu yang keras kepala nganterin aku pulang dua hari berturut-turut!"
Arya membatu.
"Kamu dipanggil Bu Cindy nggak tadi?"
Arya tampak bingung. "Enggak. Kenapa HRD harus panggil aku?"
Mila meledak dalam tawa sinis yang nyaris terdengar seperti tangis. "Iya, lah! Mana berani dia panggil kamu. Tapi aku? Aku dipanggil, Arya! Dua kali dalam sehari!"
Mila melangkah maju, menantang tatapan Arya. "Aku dituduh hamil! Aku difitnah punya hubungan spesial sama kamu di luar kantor! Bu Cindy memperingatkan aku soal profesionalisme seolah-olah aku ini perempuan murahan yang lagi trapping bosnya. Semuanya karena foto kita di depan kosan aku beredar di antara karyawan!"
Wajah Arya berubah pucat, lalu perlahan memerah karena amarah yang mulai tersulut.
"Hamil? Siapa yang bilang?!"
"Nggak penting siapa yang bilang! Intinya, sekarang satu kantor lagi ngerendahin aku!" Mila menyeka sudut matanya yang mulai berair dengan kasar.
"Dunia nggak adil, kan? Yang gendong aku kamu! Yang maksa anterin pulang kamu! Yang punya jabatan tinggi kamu! Tapi yang disidang HRD dan dituduh nggak profesional cuma aku! Kamu bisa santai-santai di sini, sementara karier yang aku bangun mati-matian bisa hancur kapan aja cuma karena rumor sampah kayak gitu!"
"Biar aku yang ngomong sama Bu Cindy." Arya berbalik dengan wajah gelap, tangannya sudah meraih gagang pintu. "Aku akan jelasin kalau ini semua salahku dan mereka nggak punya hak--"
"Berhenti." geram Mila.
Arya mematung, tangannya tertahan di gagang pintu. Ia berbalik menatap Mila yang kini menatapnya dengan api kemarahan.
"Jangan makin memperkeruh suasana, ya! Kamu mau ngapain ke sana? Mau sok pasang badan? Kamu sadar nggak kalau kedatangan kamu nanti cuma akan mengonfirmasi semua fitnah itu!"
"Terus kamu mau aku diam aja?" suara Arya meninggi.
"Iya! Diam dan menjauh! Itu satu-satunya cara biar aku bisa napas di kantor ini!" Mila memutar tubuhnya, meraih gagang pintu. "Kamu harus sadar kalau setiap kebaikan yang kamu tawarin itu malah jadi racun buat aku."
Mila keluar dari ruangan Arya dengan langkah berderap lalu membanting pintunya. Ia tidak peduli lagi pada tatapan orang-orang. Saat ini, kemarahannya pada Arya jauh lebih besar daripada rasa malunya pada dunia.
.
.
Hari-hari setelah perdebatan di ruangan Arya menjadi kompetisi "siapa yang paling dingin". Jika dulu Arya masih sering mencuri pandang atau menyelipkan nada lembut dalam perintahnya, kini pria itu berubah menjadi cermin bagi Mila. Ia meniru sikap robotik wanita itu dengan sempurna. Tidak ada basa-basi, tidak ada perhatian kecil, hanya instruksi singkat yang keluar dari balik tumpukan berkas.
Namun, hukuman sesungguhnya datang dalam bentuk perjalanan dinas ke Surabaya.
Tinjauan lapangan untuk proyek Grand Mandhala Surabaya kali itu menjadi siksaan batin bagi Mila. Ia tidak hanya harus berhadapan dengan Arya, tapi juga harus berakting "normal" di depan Pak Hendra, si Manajer Operasional yang suka bercanda, dan Doni dari tim Leasing yang mulutnya cukup lemas.
Selama di bandara, Mila sudah merasa tubuhnya tidak fit. Kepalanya berdenyut dan perutnya terasa kembung. Efek begadang tiga malam berturut-turut demi menyiapkan dokumen teknis yang detailnya tidak masuk akal.
"Mbak Mila, lo kok pucat banget? Kurang piknik nih pasti." celetuk Doni saat mereka sedang mengantre di gate.
Mila hanya mampu melempar senyum tipis yang dipaksakan. "Biasa, Mas. Kejar tayang laporan."
Ia melirik ke arah Arya yang berdiri beberapa meter di depan mereka. Pria itu tampak sangat tajam dengan kaus polo hitamnya. Dari tadi ia sibuk dengan tablet. Tidak sekali pun Arya menoleh ke arah Mila, bahkan ketika ia menyerahkan tiketnya saat di lounge.
Di dalam pesawat, Mila akhirnya bisa menarik napas lega. Satu hal yang ia syukuri adalah Mandhala punya kebijakan kelas perjalanan berdasarkan level jabatan untuk perjalanan dinas. Saat dulu menjadi sekretaris Dirut, Mila hampir selalu ikut terbang dengan private jet. Mewah, memang. Tapi itu artinya ia harus standby 24 jam. Pak Rendra sering memintanya mengetik notulensi atau menyiapkan kopi bahkan saat pesawat sedang turbulence.
Sekarang, Arya berjalan menuju kabin Business Class, sementara Mila berjalan jauh ke belakang menuju kelas Ekonomi bersama Pak Hendra dan Doni.
Begitu pantatnya menyentuh kursi 14C, Mila langsung mengeluarkan minyak kayu putih dari tasnya. Ia mengoleskannya ke pelipis dan leher dengan gerakan cepat.
"Mbak Mila mau tolak angin? Saya ada nih," tawar Pak Hendra yang duduk di sebelahnya.
"Boleh, Pak. Makasih banyak ya," jawab Mila lirih. Tubuhnya benar-benar terasa jompo. Ia bahkan belum genap 30 tahun, tapi rasanya tulang-tulangnya sudah minta dipensiunkan dini.
Mila menyandarkan kepalanya ke kursi, memejamkan mata saat mesin pesawat mulai menderu.
.
.
Surabaya menyambut mereka dengan hawa panas yang membakar, tipikal kota industri yang tidak kenal kompromi.
Karena pesawat sempat delay satu jam, Arya memutuskan untuk langsung menuju lokasi proyek. Tidak ada waktu untuk makan siang santai, mereka hanya sempat berhenti di drive-through McDonald's.
Di dalam mobil Innova sewaan yang membawa mereka membelah kemacetan, aroma kentang goreng dan ayam krispi memenuhi kabin. Bagi semua orang, itu aroma surga. Tapi bagi Mila, itu adalah pemicu mual yang dahsyat.
Mila memaksa dirinya mengunyah burger, tapi baru setengah porsi, perutnya sudah memberikan sinyal penolakan yang kuat. Dengan tangan gemetar, ia membungkus sisa makanannya, lalu segera menelan obat maag dengan air mineral yang banyak.
Tinjauan proyek selesai saat matahari hampir terbenam. Begitu sampai di hotel, Mila merasa seluruh energinya telah tersedot habis. Beruntung ia mendapatkan kamar sendiri karena menjadi satu-satunya wanita di perjalanan dinas itu. Sebuah kemewahan privasi yang sangat ia butuhkan saat ini.
Setelah membersihkan diri dengan air hangat, Mila menjatuhkan diri ke ranjang. Namun, kantuk yang tadi menyerangnya di lokasi proyek justru menguap. Pikirannya mulai melayang-layang liar.
Ia meraih ponsel di nakas, menyalakan layar, dan terpaku pada tanggal yang tertera di lockscreen.
Sudah lewat seminggu.
Mila menarik napas panjang. "Nggak, ini pasti karena stres," gumamnya meyakinkan diri sendiri.
Siklus haidnya memang jarang tepat waktu, apalagi ia sempat meminum Postinor dua minggu lalu. Hormonnya pasti sedang berantakan. Itu logis.
Tapi kemudian, ingatannya mundur ke kejadian di lounge tadi pagi. Bau biji kopi yang baru digiling, yang biasanya menjadi aroma favoritnya, tiba-tiba terasa begitu amis dan menusuk hingga ia harus menahan napas agar tidak muntah.
Dengan tangan dingin, Mila membuka aplikasi chatbot dan mengetikkan pertanyaan yang sejak tadi menghantuinya.
🔎 [Tingkat efektivitas kontrasepsi darurat jika diminum 48 jam setelah hubungan.]
Matanya memanas saat membaca barisan teks yang muncul:
💡 [...efektivitas menurun seiring bertambahnya waktu... tidak memberikan perlindungan 100% jika ovulasi sudah terjadi sebelum konsumsi obat...]
Kalimat itu memukul telak kesadaran Mila. Sisa tenaganya mendadak bangkit karena dorongan rasa takut.
Setalahnya Mila langsung menyambar dompet dan jaketnya. Ia tidak peduli lagi dengan tubuh lesunya atau keinginannya untuk tidur. Ia keluar kamar, berjalan cepat menuju lift, dan turun ke lobi.
Pikirannya hanya tertuju pada satu tempat. Minimarket di pojok hotel yang biasanya menjual apa pun yang dibutuhkan tamu dalam keadaan darurat.
...***...
Ga tau mau belain Mila atau Arya. Kalian berdua tuh ya sama2 punya masa lalu yg kelam. Dah cocok kalian jadi pasutri, persis lah jodoh itu cerminan diri
Habis berantem malah makin nagih ya mil?