Gara-gara difitnah "impoten" oleh mantan istri, Kenzo sang CEO Mafia terpaksa menikahi Zia, dokter spesialis sekaligus pengacara yang mulutnya sepedas cabai.
Sialnya, Zia juga punya hobi latah yang bikin harga diri Kenzo jatuh di depan anak buahnya!
"EH COPOT-COPOT, MAFIA GANTENG PISTOLNYA KARATAN!"
Mantan istri? Kena mental lewat jalur medis dan hukum! Tapi bagi Kenzo, menghadapi musuh lebih mudah daripada menghadapi satu istri latah ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Sidang Paripurna Dua Raksasa
Gema lagu "Kicau Mania" perlahan mulai memudar seiring dengan berakhirnya dentuman kendang yang ugal-ugalan.
Zia turun dari panggung dengan napas sedikit terengah-engah. Namun, wajahnya terlihat sangat puas setelah berhasil membuat Mas Masako malu tujuh turunan.
Hahaha rasain! Zia dilawan! batin Zia penuh kemenangan.
Para tamu undangan masih bertepuk tangan riuh. Sebagian besar masih tidak percaya baru saja melihat konser dangdut koplo di tengah pesta klan Mahendra yang biasanya super kaku dan formal.
"Gimana, Mas suamiku sayang? Otot badannya sudah agak lemes kan habis goyang kicau tadi?" goda Zia sambil menyenggol lengan suaminya.
Kenzo hanya membalas dengan tatapan datar. Namun, tangannya tetap posesif merangkul pinggang Zia seolah enggan melepasnya.
Sebelum menuju ruang privat, pembawa acara kembali naik ke panggung. "Bapak dan Ibu tamu undangan yang terhormat, sebagai tanda terima kasih, silakan mengambil bingkisan eksklusif di pintu keluar sebagai kenang-kenangan dari klan Mahendra."
Di area lobi menuju pintu keluar, suasana mendadak pecah. Bisik-bisik dari berbagai kalangan tamu bersahutan seperti pasar malam berkelas.
"Gila! Ini beneran kepingan logam mulia?" seru Dokter Siska, rekan sejawat Zia, dengan mata terbelalak saat membuka kotak beludru hitamnya.
"Biasanya nih, kondangan dokter cuma dapet pouch atau pajangan pecah belah. Ini dapet investasi masa depan! Zia bener-bener ganti nasib jadi sultan! Beruntung banget dia," lanjutnya heboh.
Rekan dokter lainnya ikut menimpali sambil geleng-geleng kepala. "Bukan cuma suvenirnya, Sis. Lihat aksinya tadi di panggung."
"Mana ada seorang dokter spesialis yang berani joget kicau-kicau begitu di depan mertua konglomeratnya? Cuma Zia yang urat malunya sudah putus, tapi malah bikin semua orang terhibur!"
Tak jauh dari sana, rombongan staf dari kantor hukum Zia pun tak kalah heboh. Mereka berkerumun seperti tawon sambil menimang-nimang kotak suvenir dengan bangga.
"Bos Zia emang paling juara! Pesta bar-bar, suvenirnya pun sangar!" celetuk salah satu staf legal Zia sambil tertawa lebar.
"Kalian lihat tadi muka si Marco... Marco Adiwangsa itu? Udah kayak mau meledak gara-gara diseret anak buah suaminya Bos Zia ke panggung. Kita yang bawahan aja bangga lihat Bos Zia ngerjain raksasa kayak gitu!"
"Bener banget! Habis ini kalau kita lembur di kantor, kayaknya nggak boleh minta nasi kotak lagi. Minta kepingan emas kayak gini aja biar semangat, gimana?" sahut karyawan lain yang disambut tawa kompak rekan-rekannya.
Sementara itu, di sudut lobi yang dihuni para kolega bisnis kelas kakap klan Mahendra, pembicaraan terasa lebih berat dan penuh perbandingan.
"Jauh sekali bedanya dengan pernikahan Kenzo dan Clarissa dulu, ya? Bagaikan langit dan bumi," bisik seorang sosialita sambil menimang logam mulianya.
"Dulu saat bersama Clarissa, pestanya memang mewah, tapi terasa sangat dingin dan terlalu kaku. Suvenirnya saja hanya kristal pajangan biasa yang membosankan."
"Betul banget. Clarissa yang anak orang kaya itu pasti tidak akan pernah mau melakukan hal 'merakyat' seperti ini di depan publik. Dia kan sombong dan merasa paling oke," timpal seorang pengusaha properti.
"Zia ini unik. Lihat bagaimana dia menghidupkan suasana. Kenzo yang sedingin es pun terlihat lebih 'manusiawi' sekarang. Klan Mahendra benar-benar menemukan berlian yang belum diasah."
Setelah ballroom mulai sepi, barulah Kenzo memberikan kode kepada Rico. "Mas Royco, arahkan 'keluarga' itu ke ruang rapat VVIP sekarang. Pastikan semua aman, tidak ada penyadap atau orang luar yang mendekat," perintah Kenzo tegas.
Pintu besar ruang privat itu terbuka. Keluarga Adiwangsa masuk lebih dulu dengan langkah yang sangat berwibawa. Tidak ada raut gentar maupun takut di wajah Hermawan maupun Nadya.
Sebagai pemimpin klan bisnis yang kekuatannya setara dengan Mahendra, mereka duduk di kursi beludru dengan dagu terangkat.
Sementara Zia masuk belakangan. Bukannya memasang muka tegang, ia malah sibuk menaruh piring berisi rendang dan segelas jus jeruk di atas meja rapat yang mewah itu.
"Aduh, maaf ya Tuan Hermawan dan Nyonya Nadya. Tadi saya habis konser jadi tenaga habis terkuras. Kita sidangnya sambil saya makan ya, biar otak saya yang mungil ini nggak lemot kalau diajak debat," ucap Zia santai tanpa beban.
Marco mendengus kesal melihat kelakuan Zia. "Zia, jaga wibawamu. Kita sedang bicara soal darah dan silsilah, bukan sedang di warung makan!"
Zia meletakkan garpunya dengan dentingan pelan. "Lho, Mas Masako kok marah sih? Tadi di panggung lincah banget lho jogetnya, bahkan kelihatan profesional. Kok sekarang malah galak lagi? Apa mau saya kasih kepingan emas tadi juga biar senyum dikit?" sindir Zia pedas yang membuat Marco terdiam menahan geram.
Kenzo yang duduk di samping Zia menatap tajam ke arah Hermawan. "Mari kita buka kartunya sekarang, Tuan Hermawan. Kalian mengklaim istriku adalah putri kalian yang hilang. Mahendra tidak butuh drama, kami butuh fakta hukum yang sah."
Hermawan Adiwangsa tersenyum tipis. Ia lalu mengeluarkan sebuah amplop hitam elegan dengan segel resmi dan meletakkannya di tengah meja.
"Aku tidak akan menginjakkan kaki di sini tanpa bukti yang tidak terbantahkan, Kenzo. Seorang Adiwangsa tidak pernah bermain-main dengan identitas. Di dalam sini ada jejak medis yang selama ini kami simpan rapat-rapat dan hasil tes DNA yang telah kami lakukan."
Nadya Adiwangsa ikut menimpali dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Zia, darah Adiwangsa itu kuat. Kami tidak butuh hartamu atau koneksi keluarga Mahendra, kami hanya ingin membawa pulang apa yang seharusnya menjadi milik kami. Itu saja, tidak lebih."
Mendengar kata "membawa pulang", Mama Soraya tiba-tiba menegakkan punggung. Ia menatap Nadya dengan senyum sinis yang sangat elegan.
"Membawa pulang? Duh, Jeng Nadya sayang... sepertinya kamu salah alamat," ucap Mama Soraya halus tapi menusuk.
"Zia ini sudah sah menjadi Nyonya Mahendra. Dia bukan barang yang bisa kamu ambil begitu saja setelah kamu telantarkan selama puluhan tahun."
Mama Soraya menyesap tehnya sebelum melanjutkan. "Darah memang tidak bisa bohong, tapi kasih sayang di masa-masa sulitnya itu jauh lebih mahal harganya."
"Di mana kalian saat Zia butuh pelukan orang tua? Klan Mahendra yang menjaganya sekarang, jadi jangan pernah bermimpi bisa mengambilnya kembali hanya dengan selembar kertas."
Zia menyeruput jus jeruknya, lalu menatap Nadya kembali. "Betul kata Mama Soraya-ku tersayang. Saya ini manusia, bukan barang investasi."
"Kalau kalian merasa saya putri kalian yang katanya hilang itu, ke mana saja kalian semua saat Ayah saya susah payah nyari biaya buat saya kuliah kedokteran dan hukum?"
"Jangan karena sekarang saya sudah jadi Nyonya Mahendra, kalian baru merasa perlu punya putri seperti saya," lanjut Zia dengan nada bicara yang mulai menusuk.
Papa Juan akhirnya angkat bicara dengan wibawa penuh. "Hermawan, urusan ini akan diselesaikan secara profesional. Jika bukti DNA memang benar, itu adalah urusan pribadi Zia dan kami tidak akan ikut campur."
"Tapi ingat, siapa pun yang mencoba mengganggu ketenangan menantuku ini, berarti mereka sedang menantang seluruh klan Mahendra."
Kenzo berdiri, memberikan isyarat bahwa pertemuan selesai. "Rico, antar keluarga Adiwangsa keluar lewat jalur khusus. Kita lanjutkan ini lewat tim legal besok pagi."
Zia melambaikan tangan dengan santai ke arah Marco. "Dadah Mas Masako! Hati-hati di jalan ya, emas suvenirnya jangan sampai hilang, lumayan buat nambahin modal usaha!"
saat ni perjalanan menuju konflik sebenarny udh di mulai ,,
tentu saja di bumbui dg sifat dokter reog yg takk terduga ,,
knp ad barang2 Dari mafia Marco Dan kenzoo ,, siapa sebenarny ayah angkat Zia ini ,,
ayooo dtggu kelanjutan ny ,,
lanjuuut kak ,,
penasaran banget
tp yaaaa gx tau klo pas sarapan nnti ,, wibawa mafia ny msh ad gx🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
sx pun mereka mafia,, tp sikap solidaritas , sikap kerja sama Dan sikap persaudaraan mereka patut di acungi jempol ,,
krn bagaimana pun mereka ttap manusia yg memiliki hatii ,,
meski di beberapa waktu mereka bisa menghabisi musuh tanpa belas kasihan ,,
si kenzzo Dan jajaran ny udh kehilangan wibawa mafiany gara2 masakan dokter reog ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂
dmna mafia gx da harga diri ny di depan zia klo udh ngereog 🤭🤭🤭🤭🤭
cosplay jd mafia ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂
makhluk bodoh katanya ,,
makiin seruuuu cerita ny ,,