Baru 3 tahun usia pernikahan Audy Danita dan Faiz Wiratama sudah dilanda berbagai konflik. Padahal diawal pernikahan semua berjalan baik dan romantis. Hingga akhirnya ketika sudah hadir buah hati mereka, keadaan di dalam rumah semakin berubah tidak menentu. Yang seharusnya kehadiran seorang anak menjadikan sebuah keluarga semakin harmonis, namun yang terjadi malah sebaliknya. Faiz jadi jarang di rumah. Pulang kerja telat dan sesampai di rumah selalu sibuk dengan gadgetnya. Sehingga Audy merasa Faiz tidak memperhatikan dia dan anak-anaknya lagi. Audy pun menyadari mungkin Faiz bosan terhadapnya karena kini penampilan tidak secantik dulu lagi. Audy full mengurusi rumah dan anak-anak saja setelah Faiz menyuruhnya resign dulu setelah menikah. Apa yang membuat Faiz berubah? Akan kan Audy mempertahankan rumah tangganya setelah kerap ribut dan Faiz menyebut kata "cerai"? Atau Audy berusaha untuk kembali menjadi dirinya sendiri seperti masa lajang sehingga banyak yang mengaguminya walaupun bergelar istri? Berakhir Talak kah rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah dwi julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Audy sampai di rumah sakit yang sedang ramai pengunjung. Mendaftarkan diri kembali agar ia bisa terus ke poliklinik ibu dan anak. Nampak kursi di ruangan tersebut sangat padat. Akhirnya ia memutuskan untuk berdiri sambil membuka ponsel. Nomor antriannya akan dipanggil setelah 2 nomor lagi.
Awalnya Audy fokus melihat web galeri make up dan gaunnya yang baru saja di desain oleh Devin. Tapi telinganya seperti menangkap suara yang tak asing lagi baginya. Suara yang jarang bicara padanya akhir-akhir ini. Tapi sangat akrab di telinga Audy.
"Faiz.." tegur Audy yang terpana melihat Faiz sedang bersama wanita berkerudung. Wanita yang sama seperti ia lihat di foto layar yang blur. Wanita yang bertemu Faiz dan Cindy di toysland. Wanita yang dibahas oleh teman-teman Faiz malam kemarin.
Parasnya ayu dan alami. Tidak ada polesan make up hanya sedikit lipbalm. Alisnya tebal tanpa coretan. Audy dan wanita itu saling melihat. Tiba-tiba sekujur tubuh Faiz terasa kaku.
"A.. Audy.. perkenalkan."
Belum sempat Faiz menyebut naman Maya, Audy menyambar dan langsung menyodorkan tangan.
"Maya Humaira kan? Saya Audy, isteri Faiz. Kalian lanjutkan saja. Maaf saya mengganggu. Saya harus ke dokter kandungan." terang Audy mencoba tegar padahal hatinya sakit. Ia tak mungkin ribut dengan Faiz di rumah sakit. Lagi pula ia menahan perutnya yang terasa kram. Audy berlalu karena nomor antriannya sudah dipanggil kemudian memasuki lift untuk menuju poliklinik ibu dan anak.
Maya tak mampu berkata apa-apa. Ia tak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Maaf Maya, aku harus menemui Audy. Sebenarnya hari ini jadwal dia kontrol kandungannya." Faiz segera menuju lift menyusul Audy.
---------------------
"Beruntungnya Faiz mendapatkan Audy. Istri nya cantik, modis dan mandiri. Ternyata istri Faiz sedang mengandung lagi." batin Maya.
Maya tak tahu jika hari ini Faiz harus mengantar Audy ke dokter kandungan. Keadaan sangat darurat. Di kota ini ia hanya mempunyai kontak Faiz. Setelah ponselnya di jual dulu ia benar-benar putus hubungan dengan teman-temannya. Bahkan media sosialnya baru saja ia aktifkan kembali dan yang muncul di time linenya adalah Faiz.
----------------
Antrian di poli kandungan cukup panjang. Audy menuju toilet. Ia tak tahan ingin menangis. Emosinya memuncak.
Ia mengunci toilet dan menangis pelan. Airmatanya mengalir. Citra tak cukup membuat Faiz berkhianat. Tapi, Maya Humaira yang mungkin cinta pertama bagi Faiz, mampu mengabaikan Audy. Audy merasa dadanya sesak. Ia sudah tak sanggup menahan luka batinnya. Jika perpisahan adalah jalan terbaik. Audy bersedia, asalkan Faiz berhenti membuatnya sakit hati.
Tapi disaat Faiz membuatnya kecewa, tidak sedikitpun tergerak hati Audy menghubungi Chiko. Ia tak pernah memberi harapan apa-apa pada masa lalunya. Lalu mengapa Faiz tega membuatnya kecewa dengan kejadian hari ini.
Audy menyeka airmatanya. Merapikan rambutnya. Dibasuhnya muka sembabnya. Kepalanya terasa sangat sakit karena kebanyakan menangis. Rasanya ia ingin membatalkan kontrol hari ini.
Diluar toilet Faiz sudah menunggu Audy.
"Audy.. Maaf kalo aku salah sama kamu. Tapi izinkan aku menemani mu melihat perkembangan anak kita di rahim mu. Aku akan jelaskan semuanya sepulang dari sini." Faiz melembutkan suaranya agar tak terjadi keributan antara ia dan Audy di tempat seramai ini.
Audy tak menjawab. Ia sudah masa bodoh dengan semua omongan Faiz. Selama ini ia memang bawel dan cerewet, selalu berisik bila diantara mereka sedang ada masalah. Tapi hari ini Audy memilih diam. Diam yang memang terasa seram bagi Faiz.
Giliran nama Audy sudah dipanggil. Faiz mengekori Audy. Dokter tersenyum melihat mereka berdua.
"Ibu, kecapean dan wajahnya nampak stres. Jangan stres ya, Bu. Kasihan janinnya nanti ikut stres." Dokter melihat wajah sembab Audy. Kemudian membuka layar USG.
Audy hanya tersenyum tipis.
"Bagaimana janin saya dok?" tanya Audy pelan.
"Ibu, detak jantungnya sudah ada ya. Usia kandungan ibu 10 minggu. Tapi, ibu harus banyak-banyak happy. Makan dan minum yang bergizi. Ini kandungan ibu lemah. Ibu stres sih." dokter menggerakkan mouse melihat-lihat posisi janin.
"Bapak tugasnya bahagiain ibu, ya? kalo ibu ngambek ngidam apa-apa, bapak kudu siaga. Asalkan gak ngidam yang aneh-aneh. Ibunya disuruh makan teratur ya, Pak. Saya resepin obat mual, penguat kandungan dan vitamin kehamilan." jelas dokter pada Faiz yang hanya mengangguk-angguk tak berani menatap Audy.
Audy membiarkan Faiz yang membayar dan menebus obat. Kemudian Faiz mengajak Audy untuk ngobrol sebentar di sebuah resto.
"Kita ngobrol sebentar ya" pinta Faiz.
"Aku mau istirahat. Kepala ku sakit. Kita bisa ngobrol di rumah saja." tolak Audy yang merasakan kepalanya berdenyut. Entah kenapa ia tak mau melihat wajah Faiz.
..
so baik..
jgn konflik trs Thor yg di sajiin bosen yg bacanya
aku jdi ikut emosional