NovelToon NovelToon
KEJEBAK CINTA

KEJEBAK CINTA

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Obsesi / Persahabatan / Keluarga & Kasih Sayang / Mengubah Takdir / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunny0065

"Tanpa kita sadari, perasaan ini tumbuh seiring berjalannya waktu."

— Naura dan Rahsya —

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunny0065, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prioritas

Dokter mengizinkan anggota keluarga pasien untuk menemui. Rahsya masuk duluan, melupakan eksistensi Naura.

"Sya–" panggilan Naura tertahan, begitu lengannya dicekal seseorang.

"Adara tidak ingin diganggu," cegah Bu Salma.

"Bu, lepaskan tanganku. Aku mau lihat gimana kondisi adiknya Rahsya," kata Naura.

"Putri saya tidak butuh dijenguk oleh orang asing sepertimu, kehadiran kamu hanya mengganggu suasana," sarkas Bu Salma.

Naura berkedip-kedip, tidak percaya bahwa mertuanya akan tega menyakiti perasaannya.

"Pak, jangan loloskan perempuan ini ikut masuk ke dalam ruangan," perintah Bu Salma sembari menghempas tangan mantan murid didiknya.

Naura meringis pelan, menatap nanar punggung Bu Salma yang menyusul jejak putranya memasuki ruang rawat Adara.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Pak Satpam dari tempatnya mematung di sisi pintu, menjaga.

Naura mengangguk samar.

"Kamu mantan murid asrama nusa bangsa? Malam lalu yang pernah dibonceng Den Rahsya?" tembak Pak Satpam.

Naura mengangguk lagi.

"Namanya Naura?"

"Bapak mengenalku?" 

"Tidak. Hanya kebetulan saja, saat itu Den Rahsya pernah ngasih kartu izin bepergian ke saya. Nama kamu tertulis di kartu," jelas Pak Satpam.

Bibir Naura tertarik sedikit ke atas, perasaannya sedikit hangat setelah mengetahui Rahsya tidak malu mengakui dirinya sebagai pasangan sungguhan.

"Saya dengar gosip di asrama tentang status pacaran kamu dan Den Rahsya. Saya juga tahu kalian berdua menikah diam-diam," sambung Pak Satpam.

"Kasus seperti ini memang langka terjadi bukan? Enggak aneh warga asrama menjadikan aku dan Rahsya bahan pembicaraan," tetap dengan senyuman, Naura membenarkan hal tersebut.

"Kelihatannya kalian berdua lapang dada menerima keputusan menikah. Saya tidak ingin menghakimi, semoga pernikahan antara kamu dengan Den Rahsya diberkahi Tuhan." Pak Satpam melempar senyum.

"Terimakasih atas doa nya, Pak."

*

Rahsya tertular sedih melihat perempuan bertubuh kurus terbaring lemah di atas bangsal.

"Adara, aku pulang," sendu Rahsya mengecup lembut kening saudarinya.

Adara menangis, merindukan cukup lama kepulangan Rahsya.

Bu Salma tersenyum perih menyaksikan kebahagiaan putrinya memeluk erat sosok saudaranya.

"Aku kangen," isak Adara.

Rahsya mengangguk berat, tidak membalas ucapan rindu menyiksa perasaan dimiliki adiknya. Ini terlalu pahit untuk dibenarkan.

"Kamu pergi ninggalin rumah tanpa bilang ke aku, kenapa semudah itu ambil keputusan putus sekolah? Apakah di hidupmu, aku adalah beban yang harus dibuang agar langkahmu ringan? Taukah kamu betapa aku menyayangimu, aku tulus memperlakukanmu sepenuh hati, aku rela melawan siapapun yang coba merusak hubungan kita, aku selalu ada buat kamu tapi kenapa, disaat aku membutuhkanmu, kamu enggak ada untukku," tutur Adara mengutarakan kesakitan mengganjal di hati.

"Sorry."

"Aku selalu maafin kamu. Please, habis ini jangan tinggalin aku," mohon Adara disela sedu.

Rahsya melerai peluk, mengusap lelehan air matanya, ini tidak lucu menangis di depan Adara bahkan Naura saja yang notabene istrinya belum sekali ditangisi sedalam ini.

Kesedihan tengah dialaminya nyaris melupakan seseorang, Rahsya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, mencari Naura.

"Bun, di mana Naura?" tanya Rahsya.

Bu Salma menelengkan kepala, mengingatkan putranya untuk saat ini, mengesampingkan perempuan itu.

"Perhatikan Adara," tegur Bu Salma.

"Bun—"

"Kita lama terpisah!" sela Bu Salma.

"Aku tahu—"

"Itu sebabnya mulai sekarang kamu harus menghabiskan waktu bersama Adara dan Bunda!" potong Bu Salma.

Bantahan keras bundanya sukses membungkam mulut Rahsya. 

"Aku enggak sudi ketemu Naura. Dia orang jahat, enggak punya perasaan!" ujar Adara.

Bu Salma menunjuk putrinya dengan dagu. "Lihat kondisi Adara, Mas, masih mau menolak permintaan Bunda?"

Rahsya menunduk, menyembunyikan perasaan sesaknya, sedangkan kedua tangannya kini terkepal disisi badan. Tak berdaya menghadapi situasi penuh tekanan seperti hari ini.

"Dari pagi, Adara belum makan, dokter menyarankan Bunda membujuk Adara agar mau mengisi perut. Tapi apa, penolakan yang Bunda terima. Adara tak selera makan, jika Mas tidak keberatan tolong suapi Adara makan bubur, ini demi kesembuhannya," lapor Bu Salma.

"Bun, aku mau makan asal Mas Rahsya membelikan bubur buatku," kata Adara.

Memanfaatkan situasi.

...

Rahsya mengecup kening Naura, berharap melalui cara tenang ini kegundahan hatinya berangsur membaik.

"Gimana perkembangan Adara?" tanya Naura.

"Cukup baik. Ah, ya, kita pulang sekarang? Aku capek, pengen tidur di pelukan kamu."

Pak Satpam berpaling muka, tidak sengaja menonton keromantisan dipamerkan Rahsya.

"Aku belum ketemu Adara, ijinkan aku sebentar masuk," mohon Naura menatap penuh harap.

"Nengok nya besok pagi aja bareng Gibran, Kevin, Kinan, dan teman-teman lainnya. Mereka belum pada tahu Adara dirawat di sini. Ah, ya, sebelumnya aku udah kirim pesan via WhatsApp ke nomor Dimas supaya dia mampir ke sini gantiin aku jaga Adara," jelas Rahsya.

"Berarti saya boleh pulang, Den?" timpal Pak Satpam.

Rahsya mengangguk ringan dengan senyuman lelah. "Bapak kembali pulang, terimakasih udah nolong kesusahan keluarga saya."

"Siap, Den," balas Pak Satpam.

"Terus Adara gimana? Kita enggak mungkin ninggalin dia di sini, gimana kalau Bunda tiba-tiba ada keperluan mendesak dan pergi, siapa akan menemani Adara?" khawatir Naura.

"Dimas ke sini gantiin tugasku sampai magrib," ulang Rahsya.

*

Suasana kafe bertambah ramai, didominasi orang-orang kenalan Pak Aksan. Rahsya memijit pelipis, pertemuannya dengan Adara benar-benar memusingkan isi kepala.

"Kamu laporan ke Papa kalau kita abis jenguk Adara di rumah sakit. Ah, ya, ini, aku titip handphone." Rahsya mengulurkan ponsel.

Naura mengantongi ponsel ke tas selempang kecilnya. "Di rumah sakit ngajak pulang karena pengen bobo sekarang ngantuk nya ilang? Kamu mau ke mana lagi?"

Rahsya membuka kuncian helm terpasang di kepala Naura dan menyerahkannya agar sekalian di bawa masuk ke dalam kafe.

"Nyari udara segar," jawab Rahsya.

"Balik lagi ke sini?"

"Pasti."

Sebelum pergi ke suatu tempat, Rahsya mengelus pipi Naura yang begitu halus di telapak tangan.

"Selama aku pergi, kamu jangan kangen ya?"

"Kenapa enggak boleh kangen?"

"Repot. Kamu enggak akan sanggup. Biar aku aja yang kangenin kamu."

Gombal.

*

Rahsya menaruh helm di stang motor.

"Pak, bubur ayam dua kap, bumbunya dipisah," ucap Rahsya.

"Sepuluh ribu per porsi," obral Pedagang bubur di pinggir jalan.

"Dua puluh ribu per mangkuk pun akan saya beli," balas Rahsya sok melipat gandakan harga.

"Deal. Dua puluh ribu. Total empat puluh ribu."

"Tolong cepat," suruh Rahsya.

5 menit, bubur terkemas rapi. Rahsya menerima pesanannya dan membayar cash senilai harga biasa dijajakan pedagang.

"Kurang dua puluh ribu, mana tambahannya," protes Tukang bubur.

"Harga umumnya segitu."

"Mas udah deal empat puluh ribu."

"Saya bercanda." lantas dengan tidak bersalahnya Rahsya menaiki kendaraan roda duanya, kemudian mencap gas motor.

Merasa ditipu, Pedagang kaki lima memaki-maki kepergian pembelinya.

1
Không quan tâm🧚‍
Gak nyangka endingnya bakal begini keren!! 👍
Naruto Uzumaki
Bosen gak ada akhirnya!
Bunny Bear: Belum juga selesai, memang alur agak lambat sih
total 1 replies
minsook123
Penuh kejutan, ngga bisa ditebak!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!