Zea telah berjanji pada dirinya untuk menutup hatinya rapat-rapat dan tidak ingin menjalin sebuah hubungan baru, dia tidak ingin lagi mengenal apa itu Cinta karena penghianatan yang pernah di alaminya.
Tapi karena ancaman yang di lakukan seorang pria asing yang tidak dia kenal dan memaksanya untuk menikahi dirinya dan pada akhirnya zea dengan terpaksa menikah.
Namun siapa sangka pernikahan yang di alami zea adalah sebuah neraka baginya, karena pria yang telah me jadi suaminya tersebut memiliki tujuan balas dendam pada keluarga zea hingga zea harus menjalani takdir hidup yang begitu menyakitkan hati dan fisiknya.
Next....
NB: ini cerita menguras air mata gaes siapkan tissue yah, dan menguras emosi dengan kelakuan bejat alvaro
•
•
•
•
Selamat membaca karya pertamaku 🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Mdf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Sebelum kamu membuka hati kepada seseorang, ingatlah apa yang terjadi terakhir kali...
✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰
Mama rena membawa zea ke kamar miliknya, dia segera mengobati memar di wajah zea yang mendapat bekas tamparan.
Terlihat jelas bekas tamparan yang begitu keras dari alvaro, ini tidak bisa di biarkan ini sama saja membuka luka lama buat mama rena, mama rena sering mendapatkan perlakuan kasar dulu dari ayah alvaro.
Dan itu terjadi kepada menantunya sendiri.
"Apa kamu sering mendapat perlakuan kasar seperti ini zea?" tanya mama rena sambil mengobati bibir zea yang sedikit berdarah.
Zea masih dengan kesedihannya menangis tanpa mengeluarkan suara.
"Sayang tidak perlu takut berbicara apapun terhadap mama, apa alvaro sering berlaku kasar seperti tadi?" sekali lagi mama rena melayangkan pertanyaan pada zea.
Zea menggeleng tidak ingin berbicara sesuatu kepada mertuanya itu, dia tidak ingin alvaro semakin marah, karena dia masih memliki hutang kepada alvaro.
"Tidak ma." Sahut zea singkat.
Mama rena menelisik wajah zea, ada sesuatu yang sedang di sembunyikan menantunya itu. pasti alvaro sering memperlakukannya sekasar tadi.
Dia akan mencari tau hal ini, ini tidak bisa di biarkan. sudah berapa kali mama rena menasehati alvaro mendidiknya dengan baik agar bisa selalu menghargai seorang wanita. tapi didikannya selama ini sudah gagal.
"Kalau begitu kamu istirahat disini saja ya." ucap mama rena mengusap lembut kepala zea.
Zea mengangguk mengiyakan mama rena, zea juga merasa takut kembali ke kamar alvaro.
kemudian zea segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur mama rena, zea merasakan tubuhnya sangat sakit akibat pukulan dari alvaro.
"Ya allah kapan siksaan ini berakhir." gumam zea dalam hati seraya mengusap air matanya.
Tidak membutuhkan waktu lama zea sudah terlelap dengan perasaan menyedihkan.
Sementara mama rena pikirannya tidak bisa tenang mengingat perlakuan alvaro tehadap gadis yang sudah menjadi istri dari putranya itu.
Dia masih tidak menyangka putranya menyiksa seorang wanita tepat di hadapannya.
Mama rena keluar menuju balkon kamarnya sambil membawa ponsel miliknya, dan menelpon salah satu pembantu kepercayaannya di Indonesia yang sudah mengabdi lama di rumahnya, tidak lain yaitu bi muna.
"Halo nyonya." ucap bi muna di seberang sana.
"Bi bagaimana kondisi rumah di sana, apa semuanya baik baik saja?" tanya mama rena.
"Alhamdulillah semuanya dalam kondisi baik dan aman nyonya." sahut bi muna.
"Syukurlah,, bi mun ada yang ingin aku tanyakan ini mengenai alvaro, ku harap bi muna mau terbuka dan berkata jujur padaku." Kata mama rena.
"Silahkan nyonya, apa yang ingin nyonya tanyakan?" bi muna.
"Begini bi apa selama ini alvaro memperlakukan istrinya dengan baik?" tanya mama rena.
Bi muna mendapatkan pertanyaan seperti ini merasa terkejut, apa dia harus berkata jujur saja kepada mama rena.
"Bi muna tidak usah takut untuk berbicara jujur, aku ingin mengetahui kelakuan alvaro selama di luar jangakauanku." Mama rena.
Kemudian bi muna menceritakan semuanya tanpa terlewat satupun sejak awal zea mendapat perlakuan kasar hingga tekhir mau berangkat menuju london.
Mama rena mendapat cerita buruk dari bi muna langsung kaget betapa sudah keterlaluannya sikap alvaro telah menyiksa seorang perempuan seperti itu.
Mama rena memegang dadanya yang merasa sesak di mengingat kembali perlakuan suaminya dulu ayah dari alvaro.
"Halo nyonya, apa nyonya baik baik saja?" Kata bi muna sedikit hawatir karena tidak ada sahutan dari mama rena.
"Ii...iya bi aku tidak apa apa, kita akhiri dulu ya bi mun telponnya." kata mama rena yang masih di penuhi rasa syok.
Kemudian mama rena memutuskan sambungan telponnya, masih tidak menyangka putra kesayangannya yang di didik dengan penuh ketegasan selama ini telah mengecewakannya.
Mama rena larut dalam tangisnya mengingat kelakuan kejam putranya itu, mama rena kembali tersadar dan mengusap air mata yang tidak bisa di tahannya kemudian beranjak menuju kamar alvaro.
Sesampai di depan kamar alvaro mama rena dengan perlahan memegang knop pintu dan ternyata pintunya tidak di kunci, mama rena membuka pintu kamar alvaro dan masuk di dapati alvaro sedang berusaha menghidupkan leptopnya tapi tidak kunjung memperlihatkan tanda tanda perbaikan.
"Aaarrrggggghhh... Siaaallll...!!!!" Emosi alvaro dengan membanting benda pipih yang ada di hadapannya tersebut.
Mama rena yang melihat kemurkaan alvaro hanya menatapnya dengan tatapan datar.
"Apa kamu bisa menangani masalah berat hanya dengan emosi al." ucap mama rena datar.
Alvaro terlihat gusar mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya.
"Mama tidak perlu ikut campur dengan urusanku ini masalah pekerjaanku yang sudah di rusak oleh perempuan sial itu." Suara alvaro di penuhi emosi.
"Kamu jangan seperti ini alvaro, kamu harus bisa mengendalikan emosi mu, berusaha lah menangani masalah dengan kepala dingin, mama tidak menyangka kamu bisa berbuat kejam seperti tadi al." Ucap mama rena dengan suara seraknya ingin meluapkan tangisannya.
Alvaro tidak menggubris perkataan mama rena.
"Mama tidak mengerti posisiku, aku sudah mengerjakannya seharian mah bahkan aku belum sempat memindahkan softfile nya di di flashdisk dan besok aku harus mempersentasekannya bersama client ku." Jelas alvaro masih dengan rasa emosi.
"Apa kamu sudah biasa menyiksanya al sehingga kamu tidak memiliki rasa bersalah dan belas kasih sedikitpun, kamu bahkan tidak memperdulikannya ketika menangis kesakitan." Ucap mama rena.
"Aku tidak perduli dia berhak mendapatkan perlakuan sepert itu." Sahut alvaro dengan penuh penekanan.
Mama rena tidak menyangka alvaro akan berkata seperti itu.
"Baiklah kali ini kamu berhasil mengingatkan pada mama akan perlakuan kasar ayahmu dulu, kamu berhasil membuka luka lama mama." Mama rena berkata dengan mata berkaca kaca.
Alvaro terdiam membeku dengan perkataan mama rena, dia tidak menyangka mama rena akan bereaksi seperti ini.
"Mah,, bukan maksud al..."
"Ceraikan dia al, jangan menyiksa seorang perempuan seperti itu, serahkan kembali dia terhadap orang tuanya." Ucap mama rena memotong perkataan alvaro masih dengan tangis yang sudah tidak bisa di tahan lagi.
Alvaro mendengar kata kata mama rena sontak saja membulatkan matanya dan segera menggeleng tidak terima dengan perkataan mama rena.
"Jangan berharap aku akan menceraikannya." Sahut alvaro lalu pergi keluar merogoh kunci mobilnya dan meninggalkan kamarnya beserta mama rena yang masih mematung di tempatnya.
"Jangan sampai kamu menyesali perlakuan kasar mu itu alvaro..!!" Sarkas mama rena dengan emosi melihat reaksi alvaro yang sama seki tidak peduli.
Alvaro pergi keluar mengendarai mobilnya meninggalkan halaman rumah dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Waktu sudah menunjukan pukul 22.00 malam, alvaro mengendarai mobilnya menuju club malam ia berfikir untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau.
Alvaro telah sampai di sebuah club mewah dia segera duduk di sebuah kursi yang terdapat seorang bertender yang akan meracik minuman.
Kemudian al menelpon leon sebagai tangan kanannya di london untuk segera datang menemaninya minum.
Setelah menelpon, alvaro langsung memanggil seorang bertender lalu memesan minuman.
Alvaro sudah mengamhabiskan dua botol minuman, tapi kesadarannya masih bisa di kendalikan, kemudian dia memesan lagi botol berikutnya tapi leon menghentikannya. leon tidak mau melihat bosnya minum terlalu banyak, ini akan menyebabkan nyonya besar akan marah (Mama rena).
"Pesankan untukku ruang VIP khusus." Perintah alvaro.
Leon sudah mengerti arah pembicaraan bosnya, itu artinya alvaro akan menghabiskan malam di club ini dan bermain dengan seorang wanita malam.
"Tapi bukannya tuan alvaro sudah memiliki istri di rumah?" Leon memperingati alvaro.
"Jangan banyak bicara lakukan saja perintahku, apa kamu mau kehilangan pekerjaan haahh.." Sarkas alvaro setengah sadar.
Leon segera menjalani perintah alvaro dan memesan salah satu kamar VIP di club tersebut.
★
★
★
★
★
Bersambung...
Jangan lula tinggalkn jejak sebelum next ya readers, semoga tidak bosan membaca kelanjutan ceritanya.. terimakasih 😊🙏🙏