NovelToon NovelToon
Putri Mahkota Yang Terbuang

Putri Mahkota Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Romantis / TimeTravel / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:4.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: sayonk

Area 21+, harap bijak dalam membaca.
#Tersedia Versi Cetak untuk kelengkapannya.

Kamelia

Seorang gadis zaman modern yang melintasi waktu, ia harus menggantikan tubuh Putri Mahkota yang tak di inginkan oleh Putra Mahkota, namun siapa sangka, disaat ia terbangun menampilkan perubahannya justru Putra Mahkota malah jatuh cinta.

Tapi disisi lain, cinta Kamelia atau Putri Mahkota telah pupus dan digantikan oleh cinta dari Kakak iparnya sendiri, Kakak kandung Putra Mahkota.

Setelah pernyataan cinta yang ditolak oleh Kakak Ipar, lantas kah Kamelia memperjuangkannya atau justru sebaliknya...??

ig:@riiez.kha.37

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 30 : Perjodohan

brak

Pintu kediaman Ming Yue terbuka dan memperlihatkan seseorang berwajah tegas di penuhi dengan luka lebam di wajah putihnya.

Laki-laki itu pun menghampiri Ming Yue, menarik lengannya ke dekapannya, memeluknya dengan erat.

Ming Yue yang tak membalas pelukannya, ia diam akan tindakan Putra Mahkota.

"Ming'er berikan aku kesempatan kedua." Suara gemetar menahan tangisnya.

Ming Yue langsung sadar, ia melepaskan pelukan Putra Mahkota. Kesempatan, haruskah dia memberikan kesempatan. Sementara dia sudah membangun benteng.

"Aku bisa memaafkan mu, tapi aku tidak bisa membohongi perasaan ku." Jawab Ming Yue datar. Air matanya telah kering untuk di keluarkan. Ia sudah berjanji tidak akan mengeluarkan air matanya yang berharga. Ada kepuasan di hatinya melihat Putra Mahkota yang tidak berdaya.

"Aku tau, aku tau, kau mencintainya kan? jadi tolong berikan aku kesempatan kedua."

"Entahlah aku merasa tidak yakin akan hal itu, mari kita berteman saja." Ujar Ming Yue. Ia lebih memilih jujur dari pada harus berbohong. Jujur memang menyakitkan, tapi kebohongan lebih menyakitkan. Ming Yue tersenyum, ia tau Putra Mahkota tidak akan menerima kata pertemanan. Ini rumah tangga, bukan tempat bermain.

Deg,

Jantung Putra Mahkota Wang seakan berhenti berdetak. Ia memegang dadanya yabg terasa nyeri. Ia memegang sandaran kursi di sampingnya sebagai alat penyangga tubuhnya yang hampir ambruk."Kita suami istri, mana mungkin kita berteman."

Dengan santainya, Ming Yue mengangguk, mengiyakan perkataan Putra Mahkota, tapi itu dulu, bukan sekarang. Mereka menikah hanyalah sebuah status. "Putra Mahkota kau sudah memiliki Selir Mei. Maaf, aku tidak bisa."

Putra Mahkota Wang mau tidak mau ia harus mengalah. Demi perasaanya terhadap Ming Yue, ia harus pelan-pelan mendekati Ming Yue. Mematahkan bentengnya.

"Baiklah, kita berteman. Tapi setiap aku mengajak mu, kau tidak boleh menolak." Ucap Putra Mahkota Wang berusaha tersenyum dan mengacak-acak pucuk rambut Ming Yue.

"Huh, jangan mengacaknya." Kesal Ming Yue seraya merapikan anak rambutnya yang kelihatan berantakan.

Hahaha

"Baiklah, ayo kita keluar kediaman." Ajak Putra Mahkota Wang menggenggam tangan Ming Yue.

"Tunggu dulu, kau harus mengobati luka mu." Ming Yue menarik lengan Putra Mahkota Wang, menyuruhnya duduk.

"Tunggu, aku akan mengambilkan obat." Ming Yue bergegas menuju ke sebuah kotak. Setelah mengambil obat itu. Ming Yue menghampiri Putra Mahkota Wang, ia menarik kursinya, duduk di depan Putra Mahkota Wang.

Ming Yue menuangkan sebuah cairan di dalam botol itu ke sebuah kain dan dengan hati-hati, ia mengobati luka keunguan itu.

au

Putra Mahkota Wang merasakan perih di luka itu, sementara Ming Yue hanya berdecah sebal. Bisa-bisanya laki-laki dulunya yang tak berperasaan malah berteriak kesakitan."Kau laki-laki, kenapa harus berteriak." Ledek Ming Yue. Dengan sengajanya Ming Yue menekan luka itu.

"Au, Ming'er, kau sengaja ya."

"Hais, kau laki-laki masak takut sakit." Ming Yue kembali mengejek.

"Laki-laki juga takut sakit Ming'er." Ucap Putra Mahkota, meneruskan di dalam hatinya. Sama halnya dengan luka di hati ku.

Putra Mahkota Wang menatap Ming Yue tanpa berkedip. Matanya yang indah dan tajam mampu membuat semua laki-laki tersihir. Bibirnya yang lembut, glek. Putra Mahkota menghapus pikiran kotornya. Jangan sampai ia bertindak bodoh.

"Sudah," Ming Yue mengembalikan botol cairan bening itu ke dalam tempatnya semula.

"Baiklah, ayo kita keluar dan mulai sekarang kita berteman." Ucap Putra Mahkota seraya menggenggam tangan Ming Yue, mengajaknya keluar untuk sekedar jalan-jalan di luar kediaman.

Sedangkan disisi lain, sepasang mata tengah memerhatikan Ming Yue dan Putra Mahkota yang saling bercanda. Pangeran Zhang mengingat kembali di mana ia masih berumur 7 tahun sementara Putra Mahkota berumur 2 tahun.

Seorang anak laki-laki memakai hanfu merah dengan bersulaman naga tengah berjalan sendiri di taman belakang istana. Ia meminta pada pelayan dan pengawalnya untuk menyendiri. Pikirannya melayang pada saat bertemu dengan ayahandanya. Ia tidak ingin menduduki takhtanya, menurutnya ia tidak bisa bebas. Padahal ia hidup hanya ingin bebas dan bebas tanpa beban pikiran. Hal yang paling menyakitkan menjadi seorang Kaisar yaitu sebuah pernikahan politik. Dimana ia harus menikah dengan wanita yang akan menjadi penyokong kuat kedudukannya. Dan beruntunglah kedua orang tuanya, yang saling mencintai.

"Kakak," teriak seorang anak laki-laki seraya berlari ke arahnya. Ia memakai hanfu warna hijau dan memegang sebuah lukisan. Lalu menyodorkannya pada sang kakak. Dengan senang hati, laki-laki berusia 7 tahun itu mengambilnya. Ia menahan tawanya, melihat lukisan empat orang, lukisan orang pertama ayahnya, kedua ibunda, ketiga kakak dan ke empat adalah dirinya.

"Kau pintar," Pangeran Zhang berjongkok. Ia mencubit pipi gembulnya.

"Benarkah, aku memang pintar. Kelak aku akan menjadi seorang seperti ayahanda." Pangeran Zhang tersenyum kecil mendengarkan celoteh adiknya.

"Apa kamu ingin menjadi seorang pemimpin seperti ayahanda?" tanya Pangeran Zhang kecil di angguki oleh Putra Mahkota kecil.

Secercah harapan di mata adiknya membuat Pangeran Zhang berfikir lebih dalam. Di umurnya nanti yang ke 10 dia akan di angkat menjadi Putra Mahkota. Dimana tugas seorang Kaisar akan kelak menjadi tanggung jawabnya. Di dalam hatinya paling dalam, ia tidak mau menerima beban. Ada rasa iri di hatinya, jika kelak sang adik bisa terbang bebas sementara dirinya tidak.

Pangeran Zhang berdiri, ia membalikkan tubuhnya. Bagaimana jika suatu saat perkataan adiknya memang menginginkan takhta? Ia hanya memiliki satu saudara, hanya karena sebuah takhta persaudaraan itu hancur. Pangeran Zhang berjalan lesu, tatapannya sangat sulit di artikan. 

Sementara dari jauh, seekor kuda hitam tengah mengamuk. Kuda itu terus berlari tak tentu arah. Hingga langkah kuda itu menghampiri Pangeran Zhang yang diam.

"Kakak," teriak Pangeran Wang. Anak kecil itu berlari, ia mendorong tubuh Pangeran Zhang ke depan. Sementara kaki sang kuda mendorong tubuh Pangeran Wang dengan keras. Tubuh kecil itu pun terjatuh, kepalanya membentur batu kecil. Cairan berwarna merah itu keluar deras dari kepalanya.

"Wang'er." Teriak Pangeran Zhang. Ia berlari memeluk sang adik. "Wang'er, Wang'er." Tidak ada jawaban. Pandangan anak kecil itu mulai kabur dan menutup mata. Beruntunglah kuda hitam itu langsung di tangani oleh pengawal yang tak jauh dari mereka dan tak melukai Pangeran Zhang.

Pangeran Zhang menangis sampai urat lehernya terlihat. Ia menggendong tubuh kecil itu ke kediamannya. Tabib istana pun datang memeriksa Pangeran Wang. Setelah cukup lama membersihkan lukanya dan memeriksanya. Tabib istana keluar, mendapati Kaisar dan Permaisuri serta Pangeran Zhang.

"Benturan di kepalanya tidak terlalu parah Yang Mulia. Hamba sudah mengobatinya dan Pangeran Wang akan sadar beberapa jam nanti." Jelas sang Tabib membuat Kaisar, Permaisuri dan Pangeran Zhang bernafas lega.

Pangeran Zhang menerobos masuk, ia melihat adiknya dengan wajah pucat yang terbaring lemah di kasurnya. Ia mendekat dan duduk di sampingnya. "Wang'er, kenapa kamu melakukan ini? Tau kah kamu, itu sangat berbahaya. Kakak tidak mau terjadi apa-apa pada mu." Pangeran Zhang meraih tangan kecil itu dan menciumnya. "Baik, apa pun keinginan mu. Kakak akan turuti selagi kakak mampu. Kakak akan memberikannya. Kakak akan menyerah demi kebahagian mu. Jadi Kakak mohon bangunlah dan jadilah seorang Kaisar yang bijaksana."

Semenjak kejadian itu, dirinya berjanji akan memberikan apa pun. Bahkan nyawanya sekali pun. Ia berusaha meyakinkan ayahnya dan para bangsawan yang telah mendukungnya. Jika kedudukan Kaisar akan di lihat dari kemampuannya bukan dari anak tertua. Para bangsawan ada yang membenarkan ada yang tidak. Akan tetapi Pangeran Zhang tidak menyerah. Setelah umurnya yang beranjak dewas. Setiap kali mereka latihan berpedang, memanah, ilmu setrategi perang dan ilmu lainnya. Ia berpura-pura tidak tau, ia tidak menonjolkan kemampuan. Agar kelak memudahkan adiknya menuju singgasanah. Dan pada akhirnya para bangsawan melihat kemampuan Pangeran Wang lebih baik dari pada kemampuan Pangeran Zhang. Sementara sang ayah, ia sudah tau bentuk pura-pura sikap Pangeran Zhang. Beberapa kali ia memarahi Pangeran Zhang agar tidak bertindak bodoh dan mengeluarkan kemampuannya. Sepertinya harapannya sia sia. Pangeran Zhang lebih memilih bebas. Sang Kaisar pun menyerah, ia berharap kelak Pangeran Wang memimpin dengan bijaksana. Jika suatu saat kepemimpinannya menyeleweng, Pangeran Zhanglah yang akan mengingatkannya.

"Wang'er, kakak sangat menyayangi mu. Tapi tidak untuk Ming Yue." Lirih Pangeran Zhang menunduk. Air matanya terkuras habis mengingat semuanya.

"Hormat hamba, Pangeran." Ucap salah satu pelayan.

Pangeran Zhang melirik. "Ada apa?" Tanya Pangeran Zhang datar.

"Pangeran di panggil oleh Yang Mulia di ruang kerjanya." Ujar sang pelayan.

Pangeran Zhang langsung menuju ke ruang kerja Kaisar, setelah masuk kedalam ia menunduk hormat.

"Hem, kau sudah datang Zhang'er." Ucap laki-laki paruh baya itu, menghentikan tulisannya.

"Hamba Yang Mulia."

"Ada satu hal yang ingin Ayahanda bicarakan dengan mu." Kaisar turun dari singgasanahnya, menghampiri Pangeran Zhang.

"Ayah ingin menjodohkan mu dengan Putri Xio Meng, anak Menteri perekonomian. Aku sudah berbicara dengan Menteri Xio." Ujar Kaisar. Dimana perkataannya seperti petir yang menghantam tubuhnya.

"Bagaimana?"

Pangeran Zhang segera sadar akan keterkejutannya."Maaf Yang Mulia, hamba belum siap."

"Zhang'er, Ayahanda tidak berpihak pada siapa pun, tapi Ayahanda ingin yang terbaik. Kau sudah merelakan takhta mu untuk Adikmu, bahkan kau meyakinkan para Menteri, menjadi Pangeran pendamping. Tapi semua itu berubah ketika kau jatuh hati pada Ming Yue."

"Hamba memberikannya, hamba kira Putra Mahkota akan menyayangi Ming Yue, tapi hamba salah." Ucap Pangeran Wang memandang lurus kedepan, dengan pandangan kosong. Ia tidak akan mengungkit masalah takhta. Sejak dulu ia hanya menginginkan perasaannya.

"Semua sudah terlambat Zhang'er, kau harus melupakannya. Ayahanda melihat jika Putra Mahkota telah menyayangi Ming Yue."

"Tidak, Ayahanda. Hamba tidak akan melupakannya, hamba tidak akan menerima Putri Meng." Tolak Pangeran Zhang dengan tegas. Ia tak bisa menikah tanpa saling mencintai.

Sebenarnya Kaisar merasa kasihan akan Putra pertamanya itu, ia bermaksud agar hatinya melupakan Ming Yue. "Mau tidak mau, kau harus menikah dengannya. Ayahanda tidak butuh persetujuan mu." Ucap sang Kaisar berlalu pergi dengan penuh kewibawaan.

1
Rumi Yati
Terima kasih thor
tudehun
/Ok/
Dikdikdoank
Luar biasa
Yurniati
tetap semangat terus
Yurniati
baru itu jentell dirimu putra mahkota
dua beradek tak perlu saling berebut
arus saling merelakan demi orang yang dicintai,,,,,,,😘😘👍👍💪💪🌷🌷❤️❤️
Anastasya
plot twist
rika comell
kbnyakan typo jirr🗿
Novishane
Luar biasa
Irma Yanti
8
Indy Metta
naik kuda apa kereta??? 😱😱
MARIYA
Luar biasa
A&R
bagus
Nitnot
Luar biasa
Iluh Sukreni
thor yg bener aza naik kuda apa kereta ? koq ada jrndela
MARIYA: bikin bingung ama panggillannya yg ubah ubah...
total 1 replies
Binti
harusnya pangeran Zhang putra mahkotanya kok malah adiknya
y u l l i e
singkat padat dan jelas.... thanks thooorrr.....
Ni Ketut Patmiari
Luar biasa
Erna Ladi Yanti
emang enak,gimna rasanya di tolak psti sakit kan😁😁
nacho
ooo cerita ini sudah d jadikn novel patutlh putus2 ceritanya klu mau baca yg sepenuhnya belilah novelnya🤣🤣🤣😍😘😍😘😍😘😍😘😍😘
Buke Chika
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!