Setelah di jatuhkan talak 6 tahun lalu dalam keadaan hamil yang ternyata tidak mengubah apapun dalam kehidupan Saffana.
Sakit hati yang dia terima membuat Saffana tetap mengakhiri pernikahan itu dengan laki-laki yang pasti dia cintai.
Semua keputusan itu di ambil dengan melibatkan sang pencipta.
Setelah 6 tahun. Saffana yang akhirnya hidup masing-masing dengan mantan suaminya. Tetapi hubungan mereka tetap baik. Karena mereka masih saudara dan juga masih ada anak yang bernama Alisha buah hati mereka berdua.
Hubungan mantan pasangan suami istri itu tetap baik dan kompak dengan merawat Alisha. Tetapi tetap harus berjarak.
Seiring berjalannya waktu, Saffana dan Aksa sama-sama menemukan pasangan hidup mereka masing-masing untuk memulai kehidupan baru setelah 6 tahun lebih sendiri.
Saffana yang sedang dalam proses perencanaan pernikahan.
Bagaimana kehidupan Aksa dan Saffana saat mereka berdua memutuskan untuk memulai kehidupan baru dengan pasangan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 Kebersamaan Dengan Anak.
Aksa melihat kepergian mobil tahanan itu membuat Aksa merasa lega sedikit. Aksa menghela nafas dan melihat ke arah Saffana.
"Akhirnya mereka di penjara juga!" ucap Rachel yang terlihat masih sewot karena kesal dengan Mira.
"Polisi sekarang sedang melacak keberadaan Andre dan secepatnya dia akan segera ditangkap," sahut Adam.
"Mama sangat lega mendengarnya dan semoga masalah ini cepat selesai!" ucap Rachel menghela nafas.
Saffana hanya diam saja menunjukkan raut wajah yang sendu.
"Kamu kenapa lagi Saffana? Kamu merasa sedih mantan mertua kamu itu masuk penjara," cicit Rachel.
"Tidak Mah!" jawab Saffana.
"Ya lalu kenapa kamu menunjukkan wajah seperti itu," sahut Rachel.
"Rachel kamu itu bicara apa. Jadi menurut kamu ketika dua orang itu sekarang sudah dipenjara lalu Saffana harus tertawa terbahak-bahak melompat-lompat, jingkrak-jingkrak, seperti itu," sahut Adam.
"Ya nggak juga. Paling tidak dia menunjukkan wajah merasa bersyukur dan bukan malam menunjukkan wajah seperti itu. Kayak tidak ikhlas saja," celoteh Rachel.
"Saffana memang memiliki ekspresi seperti itu, kamu saja yang berlebihan," sahut Adam yang selalu membela Saffana.
"Sudah jangan mulai ribut lagi, sekarang kita sebaiknya pulang. Aku harus menjemput Alisha!" ucap Aksa.
"Biar aku saja yang menjemput Alisha," sahut Saffana.
"Kamu pulang sama Mama dan Papa saja biar aku yang menjemput Alisha," sahut Aksa yang ingin mengambil alih.
"Sudah-sudah daripada kalian berdua ribu dengan berebut ingin menjemput Alisha. Jadi sebaiknya kalian berdua saja menjemput anak kalian dan pasti dia sangat senang .... kapan lagi melihat ibu dan ayahnya menjemput secara bersamaan," sahut Rachel yang memberikan jalan tengah.
Saffana dan Aksa diam yang tidak menanggapi apa yang dikatakan Rachel.
"Sudah sana buruan, jangan malah jadi patung di sini. Anak kalian itu sedang menunggu. Jangan sampai cucuku itu kenapa-napa, awas kalian berdua!" tegas Rachel yang sejak tadi mulutnya tidak berhenti merocos seperti rel kereta api.
"Ayo Saffana!" ajak Aksa. Saffana menganggukkan kepala yang menurut saja.
Melihat hal itu membuat Rechel tersenyum seperti ada sesuatu yang di dalam otaknya dan ekspresi wajah Rachel diperhatikan oleh suaminya.
"Apa yang kamu pikirkan sehingga kamu bisa mengeluarkan senyum seperti itu?" tanya Adam. Rachel langsung kaget dan senyum itu langsung hilang dengan wajah datar.
"Tidak! memang aku memikirkan apa," Rachel yang pasti tidak mengakui dan hanya mengelak.
"Kamu jangan punya rencana yang aneh-aneh!" tegas Adam.
"Apa sih papa, selalu saja memiliki pikiran buruk kepada istrinya. Sudahlah ayo kita pulang!" ajak Rachel yang terlebih dahulu berjalan menuju mobil.
Adam hanya geleng-geleng kepala dan menyusul sang istri yang memasuki mobil dan mereka juga meninggalkan kediaman Mira dan Tasya.
***********
Alisha dan Saffana yang sekarang berada di dalam mobil Aksa dengan mereka berdua yang duduk di belakang dan sementara Aksa yang menyetir.
"Alisha senang sekali Ayah dan Ibu bisa jemput Alisha secara bersamaan," ucap Alisha dengan mengeluarkan senyum lebar.
"Ibu juga senang Alisha," sahut Saffana yang mengusap-usap pucuk kepala Alisha.
"Lalu bagaimana dengan Ayah. Apa Ayah senang?" tanya Alisha. Aksa melihat dari kaca yang berada di dalam mobil.
"Ayah senang," jawan Aksa.
"Horeeee!!!!!!!!! Ayah, Ibu, bagaimana kalau kita jangan pulang dulu. Ibu dan Ayah temani Alisha main-main!" pinta Alisha.
"Memang Alisha mau main kemana sayang?" tanya Saffana.
"Kemana aja, Asal bersama Ibu dan juga Ayah," jawab Alisha.
"Baiklah kalau begitu," sahut Saffana.
"Apa Ayah mau menemani Alisha?" tanya Alisha memastikan.
"Baiklah tidak masalah sama sekali," sahut Aksa.
"Yeeeee, Alisha sangat senang hari ini," ucap Alisha. Saffana dan Aksa sama-sama tersenyum yang melihat putri mereka yang benar-benar sangat bahagia.
"Ya Allah Alisha ingin terus bisa bersama Ayah dan Ibu yang bisa terus menemani Alisha," batin Alisha yang tersenyum dan tidak lupa bersyukur pada sang pencipta dengan apa yang telah didapatkannya.
"Aku sama sekali tidak pernah melihat senyum Alisha selebar ini. Apa selama ini aku kurang memperhatikan putriku dan aku tidak menyadari jika sebenarnya putriku tidak bahagia," batin Saffana yang terus memperhatikan wajah Alisha dengan tangan Saffana yang mengusap-usap pucuk kepala Alisha.
Aksa juga melihat ekspresi Saffana dari kaca spion. Dia bisa melihat jika Saffana yang terlihat sedih dan tidak tahu apa yang membuat Saffana bisa sedih.
********
Saffana dan Aksa menemani Alisha bermain-main di taman dengan Alisha yang terus menunjukkan raut wajah yang bahagia, layaknya seperti anak-anak pada umumnya yang jika diajak bermain akan begitu sangat senang.
Saffana dan Aksa juga ikut bahagia saat melihat kebahagiaan Putri mereka. Saffana dan Aksa memang baru pertama kali menemani Alisha secara bersamaan karena selama ini mereka menemani Alisha bermain sendiri-sendiri.
Setelah menemani Alisha bermain, mereka juga tidak lupa untuk makan siang dan biasa Saffana harus menyuapi Alisha, kalau mood makan Alisha sedang menurun. Tetapi kali ini yang melakukan hal itu Aksa dan Saffana makan dengan tenang. Dalam makan itu Saffana tersenyum yang melihat ketelatenan Aksa menyuapi Alisha sembari melawani Alisha berbicara.
Seperti biasa Alisha akan banyak tanya dalam bidang apa pun dan Aksa harus menjawab semua itu sembari tangan itu tidak lepas menyuapi Alisha. Tatapan mata Saffana sudah memperlihatkan rasa kagum kepada Aksa yang selalu menomor satukan anak. Dia memang tahu selama ini jika Aksa begitu sangat memperhatikan putrinya dan selalu menjadi sosok ayah bertanggung jawab.
Tetapi kali ini semua itu nyata di depan Saffana yang membuat Saffana tersenyum yang sangat kagum pada Aksa. Aksa tiba-tiba menoleh ke arah Saffana membuat Saffana gugup dan langsung mengalihkan pandangannya setelah ketahuan sejak tadi melihat Aksa.
Saffana mendadak salah tingkah dan makan dengan cepat dan sementara Aksa heran dengan tingkah Saffana.Tetapi Aksa tidak memikirkan apa-apa dan tetap melanjutkan menyuapi Alisha.
"Alisha sekarang Ibu yang menyuapi Alisha. Biar Ayah makan dulu," sahut Saffana.
"Boleh!" sahut Alisha.
"Tidak apa-apa. Kamu makanlah, ini hanya tinggal sedikit lagi," sahut Aksa.
"Tapi Kak Aksa belum makan sejak tadi dan makananku sudah habis, biar aku saja yang melanjutkannya," sahut Saffana.
"Ya sudah!" sahut Aksa yang sekarang memberikan pekerjaan itu kepada Saffana dan Aksa yang melanjutkan makannya.
"Hmmm, kenapa rasanya enak sekali jika makan disuapin Ibu dan Ayah," gumam Alisha dengan mulut yang penuh dengan makanan dan wajah yang tampak ceria.
"Kamu itu memang paling pintar kalau mau manja," ucap Saffana.
"Tidak apa-apa, jika manja sama Ayah dan Ibu," ucap Alisha.
"Iya-iya," sahut Saffana. Aksa hanya tersenyum yang sudah mulai makan.
*******
Akhirnya Saffana, Alisha dan Aksa yang sudah selesai beraktivitas seharian dan mereka pulang sampai sore hari.
"Pelan-pelan Alisha!" teriak Saffana saat Alisha yang sudah turun dari mobil dan berlari memasuki rumah. Hal tersebut membuat Alisha terjatuh dengan kedua lutut yang menyentuh aspal kasar yang berada di halaman rumah.
"Auhhhhh!" keluh Alisha.
"Alisha!" pekik Saffana dan Aksa yang terlihat sangat kaget dan mereka berdua langsung berlari menghampiri Alisha.
"Alisha kamu kenapa!" Saffana dan Aksa serentak mengatakan hal yang sama dan berjongkok di dekat Alisha.
"Kamu baik-baik saja sayang?" tanya Saffana.
"Ibu sakit," keluh Alisha dengan memegang lututnya yang tampak berdarah
"Mana coba ibu lihat!" ucap Saffana yang melihat luka Alisha dengan rasa khawatir Saffana dan begitu juga dengan Aksa.
Bersambung
please lah...