Kisah dua orang Indigo
Lachlan Lexington de Luca memiliki kekuatan di luar Nurul para sepupunya ... L biasa dipanggil, memiliki sixth sense yang bisa berkomunikasi dengan hantu. Kali ini liburan L ke Jakarta menjadi berbeda karena dia harus membantu empat hantu gentayangan untuk bisa ke alam baka... Dengan syarat harus berbuat baik baru bisa dipertimbangkan masuk surga atau neraka. Di perjalanan membantu, L bertemu dengan seorang gadis yang takut hantu tapi punya kemampuan yg sama dengan L.
Nareswari adalah seorang gadis berprofesi sebagai konsultan gizi di rumah sakit tapi dia juga punya kemampuan bisa melihat hantu. Nareswari super takut dengan mereka sampai dirinya bertemu dengan Lachlan yang memiliki kemapuan sama. Keduanya membantu empat hantu yang rusuh minta kembali ke habitatnya... Eh alamnya. Bagaimana ceritanya? Menyambut Halloween... FYI ini horor unfaedah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Dalam Sel
Ruang Interogasi Polda Metro Jaya Jakarta
Septian menatap Lachlan dengan perasaan terkejut, tidak percaya dan ndak iya? Namun melihat wajah serius Lachlan, Septian pun akhirnya bisa berkompromi dengan cerita di luar Nurul.
"Jadi Danar itu teman SMA Sagara?" tanya Septian.
"Iya tapi karena Gara kecepatan masuk sekolah nya pas usia 14 tahun masuk SMA, Danar berusia 16 tahun. Lagipula Gara kan cuma dua tahun di SMA saking ngawur pinternya tapi Danar drop out pas naik kelas dua. Habis itu dia menjadi preman di Palmerah..."
Septian memegang pelipisnya. "Ini tidak bisa dibawa ke pengadilan, L."
"Aku tahu Oom. Jadi satu-satunya cara ya bikin si Danar mau mengakui perbuatannya. Lagipula semua bukti pondok yang terbakar itu juga tidak dikumpulkan dengan baik oleh penyidik karena dianggap kecelakaan..."
"Hasil autopsi bagaimana?"
"Mana aku tahu Oom" kekeh Lachlan. "Masa minta bantuan Eyang Kosasih? Lagipula kejadiannya kan eyang sudah pensiun."
"Ah iya. Eh kamu jadinya liburannya lamaan dong L ... Padahal kamu kan harus balik ke Palermo akhir bulan ini..."
"Lha aku saja masih ditahan ini..." gelak Lachlan.
***
Freya dan Haris Lexington mendatangi Polda Metro Jaya bersamaan dengan Dewa Hadiyanto dan Alina. Keempatnya hanya bisa melongo saat mendengar bahwa Lachlan, Raiden, Sagara dan Shohei harus ditahan.
"Tapi Sagara dan Raiden masih di bawah umur !" protes Dewa ke penyidik.
"Maap Pak Dewa, ini sudah aturannya. Apalagi Raiden main menodongkan pistol ke para preman..." ucap polisi itu.
"Raiden memiliki lisensi menembak internasional ! Lagipula dia hanya menodongkan, tidak menarik pelatuk!" timpal Haris Lexington.
"Maaf pak Haris, pak Dewa, mereka harus masuk sel !" Penyidik itu pun meninggalkan keempat orang yang tampak gusar.
"Bagaimana ini Oom?" tanya Dewa ke Haris.
"Tunggu Septian. Gemini sudah meminta tolong Nadya mengirimkan pengacara terbaik di Jakarta dan Nadya memberikan nama Septian Nugraha" jawab Freya.
"Pak Haris? Pak Dewa?"
Keempatnya menoleh dan tampak Septian berjalan menghampiri mereka.
"Tian, bagaimana cucu-cucu aku?" tanya Freya cemas.
"Well... L punya backing yang menyeramkan..." cengir Septian yang sudah diperlihatkan kejadian keusilan si Nonik.
"Haaaahhh?"
"Intinya, malam ini mereka memang harus masuk sel, pak Haris, Bu Freya, pak Dewa, Bu Alina...tapi jangan khawatir. Saya sudah minta mereka di sel tersendiri berempat bersama Shohei."
Wajah keluarga Lexington dan Hadiyanto tampak lega.
"Yang penting tidak satu sel dengan penjahat lainnya..." ucap Alina yang sudah khawatir dengan keselamatan putra tunggalnya.
"Besok aku akan bernegosiasi dengan penyidik untuk bisa membebaskan dengan jaminan. Jangan khawatir..." Septian berusaha menenangkan keluarga Sultan itu.
***
Dalam Sel Penjara Polda Metro Jaya
Keempat orang itu pun terpaksa harus menginap di hotel prodeo karena pihak penyidik tetap mewajibkan mereka ditahan semalam. Alina dan Freya membawakan makanan untuk mereka berempat serta selimut. Tentu saja perlakuan berbeda ke mereka, membuat iri para narapidana lainnya yang berada di sel seberang sel generasi ketujuh.
"Lhoooo Kak L dipenjara? Siapa yang tega ? Jahatnya!"
Lachlan menoleh ke arah Nonik Belanda yang datang bersama dengan mbak Kunti. "Kamu dari mana?"
"Habis nakut-nakutin Danar di rumah sakit sama mbak Ningsih" cengir Nonik.
"Astaghfirullah... Terus gimana?" tanya Lachlan.
"Stress lah dia..." gelak Nonik bahagia membuat Mbak Kunti, Lachlan dan Raiden melengos.
Shohei langsung beringsut memegang lengan Raiden yang menatap sebal ke pengawalnya. Ini yang harus dikawal siapa, yang mengawal siapa.
"Hantunya datang ya Dendeng-chan?" bisik Shohei dengan bahasa Jepang.
"Iya. Dua lagi." Raiden nyengir ke Shohei. "Kamu nyesel kan nggak bawa kertas kuning macam Mr vampire?"
Shohei menatap judes ke Raiden.
"Lalu mas Muka Rata dimana?" tanya Lachlan.
"Di rumah sakit, sama pak Parman dan Bu Sari menunggu anak durhakim itu sadar. Kalau nggak, giliran aku lah..." seringai Nonik usil.
"Ya Allah Nik... Jahil banget sih kamu..." kekeh Raiden.
"Aku sudah nasehati Nonik, mas Dendeng, tapi tetap saja Nonik jahil..." sahut Mbak Kunti dengan nada menyesal.
"Ternyata anak orang kaya itu gila juga ya? Ngomong sendiri ... Stress lu pada !"
Keempatnya menoleh ke sel seberang yang mana terdapat banyak napi dengan wajah sangar menatap dengan tatapan mengejek dan menyeramkan.
"Sudah, jangan ditanggapi" ucap Sagara.
"Heh anak kecil ! Sudah berani ya bawa pistol kemanapun... Mau jadi apa generasi ini?" gelak pria dengan wajah penuh codet dan tattoo ditubuhnya.
"Heh bapak muka codet ! Mau jadi apa anak kamu kalau bapaknya macam kingkong tattoan !" balas Raiden judes membuat Sagara dan Lachlan menepuk jidat masing-masing sedangkan Nonik cekikikan mendengar ucapan putra Shinichi Park itu.
"Heh bocah ! Maju sini kalau berani !" teriak napi itu.
"Heh pak kingkong ! Ayo sini maju satu lawan satu ! Jangan keroyokan macam pasukan monyetnya Subali Sugriwa !" timpal Raiden sambil berdiri dekat jeruji sel.
"Astaghfirullah... Dendeng !" desis Lachlan gemas.
"Eh pak Kingkong, elu takut hantu kagak? Sebab gue kagak takut hantu ! Bentuk apapun !" tantang Raiden membuat Sagara memilih pura-pura tidak mendengar ucapan unfaedah sepupunya.
"Mana hantunya? Mana ? Gue kagak takut ! Dengar, yang namanya Jampang, tidak ada yang harus ditakutkan !" ucap pria itu jumawa.
"Lha buktinya ketangkap... Apes amat lu pak Kingkong !" ejek Raiden.
"Heh kampret !"
"Eh dia tahu bokap gue anggota trio kampret..." gelak Raiden cuek sedangkan Nonik Belanda sudah tertawa terbahak-bahak.
"Kak Dendeng lucu !" gelak Nonik.
"Setan lu ! Sini kalau berani !" bentak pak Jampang.
"Berani gue pak. Tapi yakin bapak kagak takut hantu? Dengar-dengar, disini hantunya banyak lho ... Kan ada napi yang mati disini, bunuh diri dan banyak macamnya... Apalagi dulu kan tanah sini bekas kuburan..." balas Raiden asal.
"Memang bekas kuburan?" bisik Lachlan bingung.
"Nggak mas. Sini bekas perkebunan... Dendeng aja ngadi-ngadi" cengir Sagara.
"Kagak takut gue ! Bocil lembek macam kamu paling sekali slepet, terbang lu !" kekeh Pak Jampang dengan diikuti tawa napi-napi lainnya.
Raiden pun mengedikkan bahunya. "Baiklah kalau pak Kingkong merasa tidak takut hantu..." Adik Raihanun itu berbisik ke sebelahnya dan tersenyum culas.
Lachlan langsung menepuk jidatnya saat melihat mbak Kunti berada di sisi sel pak Jampang dan para napi disana. "Gara, Shohei, mending kalian tutup mata deh ! Mereka lagi pada nongol..."
Shohei, tanpa disuruh dua kali, langsung menutup wajahnya dengan selimut sedangkan Sagara memilih kepo dengan keusilan sepupunya.
"Kak L...Kak Dendeng, Nonik boleh ikutan?" tanya Nonik penuh harap.
"Tunggu mbak Ningsih maju dulu..." bisik Raiden. "Pak, apa bapak tidak lihat ada mbak Kunti di sisi kanan bapak ?"
"Kamu itu tukang bo..."
"Bang.... " panggil para napi yang berada di sel ketakutan. "I... Ii...tu..."
Pak Jampang pun menoleh dan melihat mbak Kunti berdiri disana. Sontak semua pria berwajah seram itu berteriak kencang ketakutan sedangkan Nonik dan Raiden tertawa terbahak-bahak.
Lachlan hanya bisa menatap langit-langit atap. Oh boy.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️