"Aku sudah menyesal dan menyadari kesalahanku. Aku bahkan sudah meminta maaf dan mencoba menebus kesalahanku. Tapi, kenapa seolah-olah karma ini masih terus saja terjadi? Apa memang kesalahanku tidak bisa dimaafkan?"
Renatta meratapi nasibnya yang kini berbanding terbalik dengan kehidupannya yang dulu bergelimang harta. Ia harus bekerja mati-matian untuk menghidupi kehidupan keluarganya.
Papanya yang dituduh korupsi, mamanya yang koma di rumah sakit, serta kakaknya yang memiliki kondisi fisik yang lemah. Satu-satunya yang bisa diharapkan hanyalah dirinya yang masih sehat.
Suatu hari, ia bertemu lagi dengan orang yang selalu ia bully di jaman SMA. Wanita itu tampak masih takut padanya meski Renatta sudah berulang kali meminta maaf.
Tak hanya itu, Renatta juga bertemu lagi dengan cinta pertamanya yaitu Regan di tempat kerjanya. Laki-laki itu masih membencinya karena dirinya adalah penyebab utama cita-cita laki-laki itu hancur.
Bagaimanakah kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoyota, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Mungkin kamu menyukainya
Renatta pulang ke rumahnya dengan senyum sumringah yang mengembang. Kakaknya merasa heran sendiri, karena biasanya jika habis bertemu Regan atau pulang kerja, Renatta pasti akan menggerutu dan mengeluh atas kelakuan Regan padanya. Tapi ini?
"Regan sudah memaafkan aku Kak. Rasanya senang sekali. Akhirnya setelah 8 tahun berlalu, dia sudah tidak membenci aku lagi. Aku bahkan sampai menangis di hadapannya karena senang."
"Syukurlah, kakak senang mendengarnya. Sekarang tinggal Amanda yang belum bisa memaafkan kamu."
"Huh! Entahlah kak, pasti luka yang aku buat di Amanda berbekas makanya dia tidak mau memaafkan aku."
"Ya udah tidak apa-apa. Suatu saat nanti, semua orang pasti bisa melihat perubahanmu. Sudah makan malam?"
"Sudah tadi di apartemen Regan Kak."
"Ya udah kalau begitu, mandi dan istirahat lah."
Renatta mengangguk.
*
*
Berbeda dengan Regan, laki-laki duduk termenung di kamarnya. Entah kenapa melihat Renatta menangis di hadapannya, hatinya jadi ikut sedih juga. Seolah ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Renatta.
Regan pun menelpon Ozy untuk curhat masalahnya.
"Kamu tidak tahu waktu sekali ya! Ini sudah pukul 10 malam. Kenapa malah telepon pria yang sudah beristri sih?"
Bukannya menjawab kekesalan Ozy, Regan malah bertanya.
"Apa bisa seseorang menangis karena bahagia?"
"Bisa lah bodoh! Aku saja menangis di hari pernikahanku saking bahagianya."
"Tapi kenapa aku tetap tidak suka melihat dia menangis?"
"Tunggu dulu!" ucap Ozy yang sedang berpikir dia siapa yang dimaksud oleh Regan.
"Dia siapa ini?"
"Ya adalah, nggak usah banyak tanya. Jawab aja!"
"Ya mungkin kamu menyukainya, makanya kamu tidak ingin melihat dia sedih dan menangis."
"Tapi aku masih menyukai Amanda."
"Ya kalau begitu, berarti itu cuma rasa kasihan aja."
"Tapi kalau rasa kasihan, sakitnya tidak akan terasa sampai sekarang bodoh!"
"Ya, itu berarti kamu menyukainya bodoh! Bisa saja tanpa kamu sadari kamu sebenarnya sudah move on dari Amanda. Rasa peduli yang kamu berikan bukan rasa cinta, melainkan rasa sayang biasa aja seperti kamu ke saudara sepupumu," kesal Ozy lama-lama.
"Tau lah, bikin pusing cerita sama kamu Zy!"
Regan pun memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia merebahkan tubuhnya ke kasur sambil memikirkan kembali perkataan Ozy tadi.
"Ah, tapi masa iya aku bisa move on secepat ini? Tidak mungkin! Pasti emang cuma kasihan aja."
*
*
Hari demi hari terus berlalu, Regan dan Renatta selalu sibuk mengerjakan ini dan itu. Bahkan keduanya sering keluar untuk bertemu dengan klien ataupun sedang melakukan survei.
Sesampainya di kantor, Renatta pasti akan bersandar di kursinya lebih dulu baru kemudian membuat kopi untuk menambah energinya.
Namun, tanpa diduga, satu cup kopi ada di meja kerjanya. Renatta mendongak dan melihat siapa yang memberinya.
"Hutang sudah dibayar lunas," ucap Regan.
Renatta tersenyum.
"Terima kasih Pak. Oke akan saya ingat kalau Bapak sudah tidak memiliki hutang ke saya lagi."
"Hm."
Regan pun masuk ke dalam ruangannya. Renatta langsung menyedot kopi yang dibelikan oleh Regan. Meski kopi yang dibelikan bukan rasa kesukaannya, tapi ia menghargai upaya Regan yang sudah berusaha.
Setelah kopi habis, Renatta sudah mendapatkan energi kembali. Ia pun memulai lagi pekerjaannya dengan semangat sampai waktu pulang kerja pun tiba.
Renatta keluar dari gedung perusahaan dan berjalan menuju ke halte. Ia duduk disana sembari menunggu bus datang. Namun, bukannya bus yang datang, melainkan Regan yang menghentikan mobil di depannya.
"Naik!" pintanya.
"Tidak usah Pak," tolak Renatta.
"Naik Nat! Kamu ingin aku keluar dan menggendong mu untuk masuk ke dalam mobilku?"
Mendapatkan ancaman seperti itu, membuat Renatta akhirnya masuk ke dalam mobil Regan dengan sukarela. Regan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Padahal Bapak tidak usah mengantar saya pulang. Saya sudah terbiasa sendiri."
"Emang siapa yang mau mengantar kamu pulang? Aku mau mengajak kamu pergi ke mall. Dua hari ke depan aku harus menghadiri acara peresmian anak perusahaan milik keluarga Wijaya. Aku mau meminta kamu untuk memilihkan aku pakaian yang bagus dan keren."
Renatta hanya bisa mendengus sebal. Tapi walau begitu ia tetap tidak bisa berkata-kata lagi.
Sesampainya di mall, Renatta mulai memilihkan pakaian yang sesuai dengan karakter Regan juga warna kulit milik Regan. Setelah menemukan beberapa setel pakaian, Renatta memberikannya ke Regan. Ketika Regan sedang mencobanya satu per satu, mata Renatta tak bisa berhenti untuk menatap gaun indah berwarna moca. Ketika melihat harga yang ada di labelnya, Renatta langsung tersenyum kecut. Karena harganya sangat mahal seharga sewa kontrakannya selama sebulan.
Regan pun melihat itu, tapi berpura-pura tidak lihat saja. Setelah mencoba semua pakaiannya, Regan pun pergi ke kasir dan membayarnya. Kemudian ia mengajak Renatta untuk keluar dari sana dan meminta wanita itu menunggu sebentar karena ada yang ketinggalan di tempat kasir. Rupanya Regan datang kembali kesana untuk membeli gaun yang dilihat Renatta tadi.
"Loh, Bapak kok bawa paper bag lagi? Beli bajunya nambah lagi?" tanya Renatta yang heran Regan menenteng paper bag lagi.
"Hm," jawab Regan.
Renatta dan Regan pun keluar dari mall dan hendak pergi ke parkiran. Tapi, Renatta mengehentikan jalannya.
"Pak, kita berpisah disini. Saya mau pergi ke suatu tempat," ucap Renatta kemudian berjalan pergi dari hadapan Regan. Ingin menahan tapi Renatta tak membiarkan Regan untuk bicara.
"Huh!"
Regan hanya menghela napasnya, sambil melempar paper bag ke dalam bagasi mobilnya. Kemudian melajukan mobilnya ke arah jalan pulang ke apartemennya.
*
*
Renatta sampai di tempat yang ditujunya. Ia mengunjungi papanya yang ada di dalam penjara sambil membawa dua bungkus makanan yang telah ia beli di jalan tadi.
Sudah lama sekali, Renatta tak pernah makan bersama papanya. Meski ini bukan masakan yang dibuatnya, tetapi kebersamaan ini membuatnya merasa senang.
"Sepertinya sudah lama sekali kita tidak pernah makan bersama. Papa sampai lupa kapan terakhir kalinya. Gimana pekerjaanmu?"
"Baik Pa, semuanya lancar. Aku sudah tak lagi dicurigai sebagai komplotan mantan manager ku lagi."
"Syukurlah kalau seperti itu. Setelah ini, kamu harus lebih berhati-hati Nat. Jangan langsung mengiyakan apapun yang diminta oleh atasanmu, apalagi kalau urusannya mengenai uang. Takutnya kamu nantinya malah di kambing hitamkan."
"Iya Pa. Aku akan lebih berhati-hati. Lagipula, bos ku sekarang ini ya anaknya yang punya perusahaan sekaligus teman jaman SMA ku dulu. Walaupun dulunya dia membenciku, tapi aku senang sekarang dia sudah tidak membenci aku."
"Syukurlah, pasti satu persatu masalah yang kamu alami akan terpecahkan satu per satu juga. Jadi, kamu harus sabar menghadapi semuanya. Walau terkadang orang memandang kamu berbeda atau tidak suka. Kamu jangan pernah sesekali melakukan hal yang sama. Karena kamu sendiri sudah tahu bagaimana rasa bersalah itu terus mengikuti kamu bahkan sampai sekarang."
"Iya Pa, aku akan selalu ingat nasihat papa."
*
*
TBC