Terlambat Mengerti 1
Arini gadis berusia 19 tahun, mahasiswi semester 2 sebuah perguruan tinggi negeri. Diusianya yang sangat belia dia harus menyandang status ibu dari seoarang bayi perempuan hasil pengkhianatan sahabat dengan tunanganya. Keputusan apa yang akan diambil Arini selanjutnya, apa dia akan membuang bayi itu atau menitipkanya di panti asuhan ataukah merawatnya sendiri dengan segala resiko yang harus dihadapi.
Penasaran ceritanya ? yuk ikuti kelanjutanya..
Terlambat Mengerti season 2
Bagaimana nasib cinta Cila dan Agam ketika mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa hubungan mereka terhalang tembok kebencian yang tertanam kokoh dihati Agam karena kisah masa lalunya. Akankan Cinta mampu mengalahkan kebencian tersebut, ataukan justru Cinta baru yang akan hadir menghapus luka...
____________________________________
Cover by pexels
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurnia Setiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Resto sudah tutup, pekerjaan Arini pun sudah dia selesaikan dengan rapi. Namun Doni tidak juga kembali. Arini mencoba menghubunginya tapi tidak juga diangkat. Akhirnya Arini memilih untuk segera pulang.
Baru beberapa langkah meninggalkan resto, terlihat olehnya Doni keluar dari mobil bersama seorang perempuan.
"Mas dari mana, aku menunggumu sejak tadi?" tanya Arini dengan mata berkaca-kaca melihat kekasihnya bersama perempuan lain.
"Aku hanya keluar sebentar, apa yang kamu lakukan jam segini belum pulang?" tanya Doni dengan sikap dinginnya.
"Aku hanya menunggu ojek yang belum juga datang. Ya sudah aku pergi dulu, selamat bersenang-senang." Arini segera pergi meninggalkan kedua orang tersebut.
"Mungkin lebih baik seperti ini, sebelum perasaan kita lebih dalam lagi. Semoga kamu bahagia Mas, aku juga pasti akan menemukan kebahagiaanku." Arini mencoba ikhlas, meski nyatanya hatinya sangat perih.
Hubungan yang sudah berjalan cukup lama harus dia akhiri seperti ini. Padahal perjuangannya untuk membuka hatinya sendiri bukanlah hal yang mudah. Kini dia terpaksa menepi, mengalah pada keadaan, mengikuti alur cerita kehidupan.
Arini berjalan sambil mengusap air matanya yang tidak mampu dia tahan. Tiba-tiba seseorang keluar dari mobil memanggil namanya.
"Mba Arini...?" panggil seorang perempuan yang kemudian menghampirinya.
Arini pun menengok ke arah suara yang tersebut. Perempuan itu adalah perempuan yang dilihatnya bersama Doni tadi.
"Tunggu Mba," panggil perempuan itu lagi.
Arini berhenti mematung terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Mba, Mas Doni menitipkan ini padaku." Perempuan itu menyodorkan bungkusan kecil pada Arini.
Arini terdiam dia bingung apa maksud perempuan itu, namun Arini akhirnya menerima bungkusan tersebut.
"Ternyata memang benar, Mba Arini sangat cantik," celetuk perempuan itu.
"Kamu siapa?" tanya Arini terlihat bingung.
"Kenalkan aku Karin, adik sepupunya Mas Doni."
Seketika Arini tercengang mendengar ucapan perempuan tersebut.
"Apa aku tidak salah dengar, berarti aku sudah salah paham? Atau Mas Doni memang sengaja? tanyanya dalam hati.
Doni pun tiba-tiba muncul di depan Arini.
"Kenapa kamu terkejut seperti itu sayang, dia bukan selingkuhanku, dia memang benar sepupuku," ucap Doni sambil matanya melirik ke arah Karin. Karin hanya mengangguk tersenyum mengiyakannya.
"Kenapa kamu tidak penasaran dengan bungkusan itu, atau kamu tidak berniat membukanya?" tanya Doni.
Arini yang masih belum percaya akan apa yang di dengar dan dilihatnya itu, dengan perlahan membuka bungkusan yang ada di tangannya.
"Apa ini bukan mimpi?" ucap Arini yang masih belum percaya saat membuka bungkusan tersebut isinya adalah sebuah cincin.
"Maaf aku membuatmu salah paham, aku tidak pernah menyangka kamu akan sesedih ini." Doni menghapus air mata yang masih mengalir di pipi Arini.
"Maaf...," imbuhnya lagi sambil memeluk erat Arini.
"Kamu keterlaluan Mas, mengerjaiku sampai seperti ini."
Doni mengambil cincin yang ada di tangan Arini, lalu menyematkannya di jari manis kekasihnya itu.
"Aku sengaja membawa Karin untuk memilihkan cincin ini, ternyata memang ukuran jarimu sama dengan jarinya."
"Terima kasih Mas, tapi jangan lakukan hal seperti ini lagi," pinta Arini.
"Baiklah sayang, jangan lepas cincin ini apapun yang terjadi. Jika kamu sampai melepasnya berarti kamu sudah tidak lagi mencintaiku," ledek Juna.
"Aku serasa kaya obat nyamuk di sini ya," celetuk Karin.
"Makasih karin, sudah membantuku mengerjai perempuan satu ini," ucap Doni tersenyum nakal pada Arini.
"Mas Doni tega banget ya, ngerjain Mba Arini sampai kaya gini. Ya sudah aku duluan Mas, jangan disakiti lagi Mba Arininya."
"Oya Mba, kalau Mas Doni jahatin Mba Arini lagi, putusin saja biar tau rasa. Aku jamin dia bakalan gila diputusin sama Mba," imbuh Karin meledek Doni.
"Awas kamu ya, jangan minta apa-apa lagi kalau kaya gitu." Doni membalasnya dengan ancaman.
Setelah Karin pergi, Doni mengantarkan Arini pulang ke rumahnya.
"Sudah malam, aku antar kamu pulang," ucap Doni.
Arini hanya mengangguk setuju dengan ajakan Doni.
"Apa yang ibuku bicarakan saat menemuimu tadi?' tanya Doni saat mereka tengah dalam perjalanan.
"Dari mana Mas tahu?" tanya Arini heran.
"Jangan masukkan ke hati semua omongan ibuku." Doni paham benar, bagaimana watak ibundanya.
"Aku mengerti perasaan ibu Mas Doni, dia hanya ingin anaknya mendapatkan yang terbaik."
"Sayangnya ibuku tidak tahu kalau aku memang telah mendapatkan seseorang yang terbaik." Doni mengucapkannya dengan serius.
"Aku tidak mau hubungan Mas dengan Ibu Mas renggang hanya karena kehadiranku." Arini nampak bersalah.
"Tidak usah kamu pikirkan, perlahan ibu pasti akan merestui kita." Ucapan Doni sedikit menenangkan Arini.
Tidak seperti biasanya, banyak yang mereka bicarakan hingga tanpa terasa mobil sudah berhenti di depan rumah Arini.
"Aku cemburu melihatmu dekat dengan Juna," ucap Doni sebelum Arini keluar dari mobilnya.
"Dia hanya bagian dari masa laluku Mas," jawab Arini yang kemudian beranjak keluar dari mobil.
Doni menarik tangan Arini lalu menggenggamnya erat, "ingat cincin ini adalah tanda jika kamu hanya milikku." Doni mengatakannya dengan tegas.
Arini pun tersenyum dengan manisnya, dia sangat beruntung dicintai oleh orang seperti Doni.
Esok harinya, dengan setia Doni menjemput Arini ke rumahnya. Dia tidak mau melihat Arini satu mobil lagi dengan Juna hanya berdua.
Siang harinya, Iren yang masih berada di Jogja datang menemui Cila. Beberapa minggu di Jakarta membuat Iren sangat merindukan bocah itu.
Dia ingin sekali mengajak putri kecilnya itu jalan bersama. Iren menghubungi Arini, tapi tidak tersambung. Akhirnya tanpa meminta izin pada Arini, Iren membawa Cila keluar. Awalnya Cila menolak, tapi setelah Iren membujuknya akhirnya dia mau menurut.
Iren membawa Cila kesebuah pusat perbelanjaan, banyak barang yang dia belikan untuk Cila mulai dari baju hingga mainan. Iren sangat bahagia saat ini, dia menikmati rasanya menjadi seorang ibu.
Setelah puas memilih berbagai barang, Iren mengajak Cila makan. Ketika sedang menikmati makannya, tiba-tiba seorang wanita paruh baya mendekati mereka.
"Apa kabar sayang, cucu Oma makin lama makin cantik ya?" ucap Bu Marta sambil mencium pipi bocah kecil itu. Cila pun hanya tersenyum menurut.
"Apa yang Ibu lakukan di sini?" tanya Iren panik.
"Memang kenapa, aku juga merindukan cucuku ini." Bu Marta menjawab dengan senyum penuh makna.
"Cila tunggu di sini sebentar ya, Tante mau bicara sama Oma itu dulu."
Cila mengangguk setuju, kemudian Iren menarik tangan ibunya menjauh beberapa meter dari Cila. Dia tidak mau Cila mendengar ucapan ibunya yang nantinya akan membuatnya bingung. Setelah itu Iren segera mengajak Cila pergi. Namun ibunya kembali menghampiri mereka.
"Cila sayang, kita pulang sekarang ya..., takut Mama Arini mencari kamu," Tidak mau sang ibu mendekati Cila, Iren segera mengajaknya pergi dari tempat itu.
"Semakin kamu menjauhkan anak itu dariku semakin aku akan berusaha mendapatkannya," ucap Bu Marta dengan tegas.
"Dia anak Arini bukan anakku, aku tidak akan membiarkan Ibu mengusik kehidupan mereka," ucap Arini yang tak kalah tegas.
Sementara Arini yang mendengar Cila tidak ada di sekolah saat Bu Inah menjemput, kelimpungan mencari-cari Cila kemana-mana.
****
happy reading
pacaran menjauh menderita
sampe lika liku laki2 SAH ttp aja gt, lgsg baca end aja deh
cila itu anak tiri tantemu loh
cila ke agam
utk cinta sejati akan tau balik ke t4 nya..
yo wes lah obati agam aja lha
penyelamat jika ada apa pun.