Alexander pria yang dingin dan sangat susah untuk di sentuh. Dan semenjak meninggalnya sang istri, Alexander tidak lagi membuka hati untuk siapapun. Karena hati dan cintanya juga ikut mati dengan istri tercintanya.
Dan karena satu insiden membuat Alex terpaksa menikahi wanita yang bernama Kartika.
Mampukah Kartika meluluhkan hati Alex, atau malah sebaliknya?
"Cinta? Bagiku hanya ada satu cinta untuk satu wanita saja."
"Cinta? Bagiku, selama kau bisa membuat orang bahagia maka itulah yang di sebut cinta." Kartika Wijaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Kau ingin membunuh anakku?" Tanya Alex tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Kartika.
"Membunuh? Bahkan niat pun aku tidak punya, apa lagi untuk membunuh." Jawab Kartika dengan sejujur-jujurnya. Karena memang tidak pernah ada sama sekali niat Kartika untuk membunuh Mora. Karena yang ada dalam benak Kartika saat ini, bagaimana bisa ia menjaga Mora dan Molki dengan sangat baik.
"Hahahha." Alex tertawa mendengar jawaban dari Kartika.
"Ada yang lucu?" Tanya Kartika sambil mentap Alex.
"Katakan berapa yang kau butuhkan?" Tanya Alex di sela tawanya.
Dan kali ini Kartika lah yang tertawa. Membuat Alex menautakan Alisnya.
"Bukan kah sudah aku bilang dari awal. Jika aku butuh uang, mungkin sudah dari dulu aku meminta semuanya padamu." Ucap Kartika.
"Lalu, apa tujuanmu. Dan apa yang kau rencanakan."
"Sudah aku katakan pula dari awal, kalau aku hanya ingin menjaga Molki dan juga Mora. Itu saja, tidak lebih."
"Bullshit." Kata Alex dengan tajam.
"Perempuan seperti mu tidak akan mungkin puas jika hanya mendapatkan itu. Aku tahu, kau pasti berniat untuk mengambil seluruh hartaku."
"Percaya atau tidak. Yang jelas untuk mengambil semua milikmu tidak ada sekali di daftar kehidupanku." Kata Kartika lalu berdiri.
"Biar waktu yang menjawab, aku siapa dan apa niatku datang ke sini. Yang jelas, jangan melarangku untuk menjaga anak-anakmu."
Setelah berkata seperti itu Kartika pergi berjalan menuju kamar Mora.
Bagi Kartika larangan dari Alex adalah perintah baginya. Mau sekeras apapun Alex melarangnya untuk berdekatan dengan Mora, tetap saja Kartika akan membantah semua itu. Bagi Kartika perkataan Alex tidak penting, selama dirinya masih bisa dekat dengan Molki dan Mora dan juga menjaga keduanya.
••••
"Jadi kapan kalian akan memberikan ibu cucu lagi?" Tanya Ayuning saat berada di rumah Alex.
Alex tidak menjawab, ia justru berdiri dan berlalu bergitu saja.
"Lihat suamimu. Dia masih tetap dengan cintanya yang salah alamat." Kata Ayuning sambil menatap punggung belakang Alex.
"Ibu." Ucap Kartika.
"Harusnya kau ceritakan semuanya saja pada Alex. Siapa kamu dan mengenai surat yang Sahara tinggalkan padamu."
"Tapi bu.."
"Biar Alex sadar, dan bisa melihat dirimu."
"Biarkan saja bu. Aku tidak ingin Alex jatuh cinta denganku karena rasa bersalah. Biarkan Alex jatuh cinta padaku dengan sendirinya. Dengan caraku yang tulus merawatnya dan merawat Molki dan juga Mora."
"Sampai kapan? Sampai kapan kau akan menunggunya? Yang ada Alex tidak akan pernah sadar."
"Oma, tante." Sapa Molki yang mendengar ucapan Ayuning dan juga Kartika.
"Molki."
"Cucu oma."
Sapa keduanya secara bersamaan.
"Bisa jelaskan lebih detail tentang apa yang aku dengar barusan." Tanya Molki dan langsung duduk di kursi tepat di sebelah Ayuning.
"Tante, apa ini ada hubungannya dengan cerita tante saat itu."
Ayuning langsung memberikan kode pada Kartika.
Dan Kartika langsung menganggukkan kepalanya. Dan langsung meceritakan semuanya kepada Molki.
"Apa tante masih mencintai daddy?" Tanya Molki yang sangat penasaran dengan jawaban Kartika.
Kartika hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Bunda. Apa boleh aku memanggilmu bunda?" Tanya Molki, membuat mata Kartika berkaca kaca.
Satu kata yang membuat hati Kartika berdebar. Ada perasaan yang sulit untuk Kartika gambarkan. Untuk kali pertamanya, ada seorang anak yang meminta izin padanya untuk di panggil bunda.
"Apa boleh?" Tanya ulang Molki, dan Kartika menganggukkan kepalanya sambil memeluk Molki.
"Terima kasih. Sudah mau menerima tante."
"rumah yang tadinya gelap, kini menjadi terang kembali. suasana yang tadinya sunyi, kini kembali diisi suara obrolan, candaan dan tak jarang terdengar tawa riang. hingga akhirnya beberapa jam kemudian kembali terdengar sunyi. tak terasa waktu bergulir, matahari kembali menampakkan diri di ufuk timur. kegiatan manusia kembali nampak di lingkungan rumah itu. termasuk truk sampah yang rutin singgah mengambil sampah dari rumah itu. ketika sang awak truk turun untuk memindahkan sampah dari dekat pagar rumah, beberapa serpihan kertas coklat jatuh dari tong sampah yang dibawa sang awak truk. ya, serpihan kertas sampul coklat yang berisi surat gugatan cerai yang kini sudah koyak hancur tak bersisa. hanya menyisakan kenangan di secuil tempat di sudut hati. untuk menjadi pelajaran menatap masa depan yang bahagia. TAMAT.