Tania dianggap sebagai pembawa sial karena semua pria yang berpacaran dengannya selalu berakhir dengan kematian tragis.
Hingga seorang detektif kepolisian bernama Zayn pun turun tangan karena ingin mengusut misteri kematian adiknya setelah berpacaran dengan Tania. Dia menyamar dan berpura-pura menyukai Tania untuk mendapatkan informasi darinya.
Namun, apakah yang akan terjadi ketika Zayn akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Tania? Dan apa yang harus dilakukannya ketika berada di persimpangan dilema ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulai Hidup Baru
"Tania," ucap Hamdan saat melihat keponakannya sedang melamun di taman belakang rumah mereka.
"Om." Tania tersentak dan langsung menghapus air matanya yang dari tadi jatuh berlinang.
"Kamu lagi mikirin Tante, ya?" tanya Hamdan sambil menundukkan dirinya di samping Tania.
"Enggak, Om. Aku cuma mikirin semua korban akibat kejahatan Tante." Tania menunduk sedih.
"Mereka sekarang udah tenang di sana. Pembunuh mereka sudah tertangkap. Jangan menganggap bahwa semua ini adalah salahmu. Ini adalah salah tantemu yang begitu serakah."
Tania mengangguk pelan. Dia mulai mengukir senyuman di bibirnya.
"Oh, ya, gimana hubungan kamu dengan Zayn?" tanya Hamdan lagi.
"Aku masih belum bisa menerima lamarannya, Om. Aku hanya takut kalau keluarganya nggak mau menerima aku. Aku adalah keponakan dari orang yang telah membunuh anak mereka." Tania mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah kembali. Memang berat menjadi dirinya saat ini. Disatu sisi, dia adalah korban. Namun, di sisi lain dia juga keponakan dari seorang pembunuh berantai.
"Kamu jangan pesimis, Sayang. Om yakin mereka pasti akan menerimamu." Hamdan mengusap kepala Tania dengan lembut. Meskipun Tania bukanlah keponakan kandungnya, namun dia tetaplah orang yang sangat disayanginya.
"Makasih, ya, Om."
"Oh ya, sekalian Om harus pamit. Minggu depan Om akan kembali ke kota kelahiran Om."
Mendengar hal itu, sontak Tania terkejut dan langsung menatap Hamdan dengan tatapan tak percaya.
"Tapi kenapa, Om? Di dunia ini, hanya Om lah yang Tania punya. Gimana hidup Tania tanpa Om." Tania mulai meneteskan air matanya lagi.
"Tapi, Om sekarang bukanlah suami tante Arum. Kami sudah resmi bercerai. Rasanya nggak mungkin Om tetap ada di sini bersama kamu dan bekerja di perusahaan milik almarhum papamu."
"Nggak, Om. Walaupun Om bukan suami Tante Arum lagi, tapi Om tetaplah Omnya Tania. Om nggak boleh pergi ninggalin Tania. Tania hanya seorang diri di sini. Please, Om, jangan pergi. Om tetap bisa bekerja di perusahaan papa Tania sampai kapanpun. Kalaupun nanti Tania jadi menikah dengan Zayn, perusahaan itu tetap akan Om pimpin. Mana mungkin Zayn, dia kan polisi."
"Tapi Om nggak pantes, Tania. Gimana kalau orang-orang beranggapan bahwa Om ingin menguasai harta kamu sama seperti tante?"
"Tania nggak akan percaya, Om. Meskipun Om orang lain, tapi Om udah menjadi ayah bagi Tania. Om, jangan pergi. Tania nggak mau kehilangan keluarga Tania lagi." Tania menggenggam tangan Hamdan dan menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca.
"Tania, makasih atas kepercayaan kamu. Om akan tetap di sini bersama kamu. Maafin Om yang tadi berniat pergi meninggalkan kamu. Bagi Om kamu juga sudah seperti anak kandung sendiri."
Hamdan meraih Tania ke dalam pelukannya. Dirasakannya kehangatan pelukan seorang anak yang sedang rapuh.
"Nanti kalau Om menikah lagi, tetap tinggal di sini, ya. Jangan kemana-mana."
"Apa? Menikah lagi? Ada-ada aja, kamu, Tan." Hamdan tertawa kecil mendengar lelucon Tania.
"Ya nggak papa, dong, Om. Kan Om belum tua, masih cocok punya istri lagi. Malah Tania senang kalau Om mempunyai teman hidup lagi."
"Iya, Nak. Apapun yang membuatmu senang. Nanti Om pikir-pikir dulu tentang menikah lagi." Hamdan mengusap kepala Tania dengan lembut. Mereka pun menikmati sore itu dengan bercanda bersama sambil melihat hamparan kebun bunga yang indah.