"apaan tiba tiba ngelamar gue didepan mama papa gue,lo gila ya Sa",teriak Alula yang terkejut dengan lamaran Angkasa.
"Baiklah besok kalian bisa langsung menikah",jawab singkat Frans Abraham Papa Alula.
"Masa depan kamu akan terjamin jika kamu memilih Angkasa La,percaya sama mama...karena mama kenal dekat dengan mama nya Angkasa",imbuh Donita.
brakkkk,
Alula pingsan.
Akankah Alula menerima lamaran Angkasa,dan bagaimana jika mereka menikah diusia yang masih belia dan masih sekolah?
Yuk simak kisahnya,jangan lupa dilike,komen nd follow author ya gaes🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Farradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengunjungi Luna
Pagi kini sudah mulai menampakan sinarnya,namun kedua insan yang saling berpelukan itu belum sadar akan kehadiran sang mentari.
Waktu sudah menunjukan pukul 08.30 tapi pasangan yang baru saja menikmati surga dunia itu masih enggan bangkit,justru semakin mengeratkan pelukan mereka.
Hari ini adalah hari Sabtu,jadi kuliah libur begitu pula kantor Angkasa.
Alula mulai mengerjapkan matanya saat matahari mulai menusuk matanya seolah memintanya untuk segera bangun.Menelisik tubuh sang suami yang masih toples,entah hingga berapa ronde mereka melakukan itu.
Kini badan Alula remuk redam,saat ingin bangun pun ia masih merasakan nyeri di bagian sensitifnya.
"Astaga,jadi ayam geprek gue lama-lama kalau stamina Angkasa begini terus..",ucapnya masih dengan meringis merasakan badan tak karuan.
"Sayang..bangun..kita kan mau kerumah Luna,udah lama kita gak nengokin dia lho..",sambil menggoyangkan tubuh Angkasa ia masih berusaha membangunkan suaminya.
Kini Alula bangun lebih dulu dan membersihkan dirinya dikamar mandi dengan berendam agar badannya kembali fresh.Setelah tiga puluh menit akhirnya Alula menghentikan aksi berendamnya dan segera bersiap untuk ke pemakaman Luna.
Suaminya masih meringkuk memeluk guling,pemandangan itu terlihat lucu bagi Alula.Pasalnya suaminya itu benar-benar tidur dalam keadaan polos tanpa sehelai kain pun.Entah kenapa pipi Alula merasa panas,dengan segera ia menutup tubuh sang suami dan kembali membangunkannya.
"Lima menit lagi Honey,please...",jawab Angkasa masih dengan mata terpejam."Baiklah,aku akan pergi sendiri kalau begitu",gerutu Alula kemudian pergi meninggalkan Angkasa begitu saja.
Merasa tidak ada suara Alula lagi,Angkasa pun membuka mata mencari ke seluruh sudut ruangan kamar,namun tidak ia dapati sang istri disana.Kemudian ia bangkit dan mandi sebab takut jika Alula benar-benar pergi sendiri.
Didapur,Alula tengah sibuk membuatkan sang suami sarapan.Meskipun hanya ala kadarnya,seperti roti bakar dan kopi hangat namun itu sudah menjadi sarapan wajib bagi keduanya.Setelah selesai dengan urusan dapur ia kembali ke kamar untuk melihat sang suami,apakah sudah bangun atau belum.Sebab sebentar lagi matahari sudah akan naik diatas kepala jika tidak buru-buru.
"Hubby,ayo buruan..",teriak Alula yang kini sudah dikamar dan tau jika Angkasa sedang mandi.
"Iya iya sebentar",jawab Angkasa sedikit berteriak agar sang istri dengar.
Alula pun menyiapkan pakaian untuk Angkasa dan meletakkannya di atas ranjang,kemudian ia duduk di sampingnya berharap suaminya akan segera keluar dari dalam kamar mandi.
"Ckk,masa iya Angkasa berendam",pikir Alula sambil sesekali melihat ponselnya.
Lima belas menit kemudian mereka berdua sudah siap untuk sarapan dan lanjut ke makam Luna bersama ketiga sahabat mereka yang lain.
~di makam~
Angkasa,Brian,Hans,Della dan Alula.
Kini mereka sudah berada di makam tempat peristirahatan Luna.Disini Hans terlihat tersenyum seakan melepas kerinduannya terhadap sang kekasih hati.
"Halo Sayang,apa kabar hari ini?di sana enak ya kamu bisa lihat aku dari atas,sedangkan aku disini sedang berusaha mencari tempat yang mungkin saja kamu akan ada disana dan tersenyum padaku...",Hans pun menunduk,mendoakan Luna agar kekasih nya yang kini sudah beda alam itu selalu mendapat tempat terbaik disisi Tuhan.Kemudian Hans menaburkan bunga segar diatas tanah kuburan Luna.
"Hai Lun,lo senang kan sekarang udah gak sakit lagi?Bulan depan ulang tahun lo Lun,tapi kita gak bisa lagi rayain bertiga seperti dulu..gue kangen banget sama lo Lun..",isak Della sambil mengelus nisan yang bertuliskan nama sahabatnya itu.Brian kemudian mendekap Della agar kekasihnya itu sedikit tenang.
"Luna...i miss you cantik,maaf ya kami baru bisa kesini lagi setelah hari itu..Lun,gue harap lo disana juga tahu kalau kami gak bakalan lupain lo..terutama si Hans..dia jadi monster sekarang Lun..dia gak mau senyum lagi diajak bercanda aja mukanya kaya kanebo kering..Lun,semoga kelak kita bisa ketemu lagi di singgasana Tuhan ya...",ucap Alula dan kemudian mereka pun berdoa bersama untuk sang sahabat.
Tanpa mereka sadari,dari kejauhan sepasang mata yang sedang mengawasi mereka.Gadis itu tampak menangis menyaksikan betapa menyakitkannya perasaan para muda mudi yang tengah mengitari makam itu.
"Kak,maafin gue...bahkan saat lo sedang meregang nyawa pun nggak ada yang kasih tau gue..",ucap gadis itu kemudian berlalu pergi.
Saat hendak pergi,mata Hans sempat menangkap jelas wajah gadis itu.Berulang ia mengerjapkan matanya berharap itu hanya ilusi nya sendiri,nyatanya dia benar-benar melihat sosok Luna disana.
Hans pun bangkit berlari mengejar gadis yang mirip dengan Luna.Saat sudah sampai di parkiran mobil area pemakaman Hans berhenti,ia mencari gadis yang tadi dia kejar.Menyapu pandangan ke setiap arah pemakaman,namun hasilnya nihil.Dia tidak menemukan siapapun disana,kemudian ia masuk ke dalam mobil nya meninggal keempat sahabatnya yang masih berada di makam Luna.
Sadar jika Hans tidak ada,Brian pun bangkit dan mencari sahabatnya itu."Ckkk,kemana sih itu anak...tiba-tiba ngilang..",pikirnya sambil matanya terus mencari keberadaan Hans.Angkasa ikut bangkit,"kenapa Hans tadi tiba-tiba pergi ya",tanya nya pada Brian.
Brian hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tau.
Kini mereka berempat pun bergegas pergi,karena langit tiba-tiba saja menjadi gelap seakan hujan sudah siap membasahi kehidupan makhluk hidup di bumi.
Benar saja,saat mereka sampai di sebuah cafe hujan pun turun dengan derasnya.Sama dengan keadaan Hans saat ini yang tengah menangis merindukan sang kekasih.
"Kamu jahat Luna,kenapa kamu pergi sendiri ninggalin aku..kenapa kamu nggak bawa aku pergi aja,lihatlah sekarang..aku hanya sendirian..Luna aku merindukanmu sayang..maaf",Hans menatap fotonya saat sedang bersama Luna dengan isak tangis khas pria.Sesekali dia mengusap pigura foto itu dan memeluknya.Entahlah,mungkin ini sangat berat untuk Hans meskipun sudah lewat 3 bulan Luna pergi.
~di rumah Luna~
"Jadi,tadi kamu lihat teman-teman Kakakmu sedang ada di makam juga Lea?",tanya mama Luna.Lea hanya mengangguk,ia masih kecewa terhadap kedua orang tuanya yang menutupi kematian Luna yang tak lain adalah kembaran Lea.Mereka kembar identik,hanya saja Lea lebih kalem jika dibanding Luna.Selama ini Lea tinggal di Bangka Belitung bersama Tante dan Om nya.Dan baru satu minggu lalu orang tua nya mengatakan jika Luna meninggal.Bukan tanpa alasan orang tua nya bertindak demikian,sebab mereka tahu jika Lea pasti akan nekat pulang ke Jakarta sedangkan saat itu Lea sedang sibuk mempersiapkan diri untuk masuk kuliah di salah satu Universitas terbaik di Bangka.
Lea bangkit saat sudah selesai ngobrol dengan orang tua nya.Ia pun masuk ke dalam kamarnya yang tak lain juga kamar Luna.
Namun saat sedang ingin merebahkan tubuh,tiba-tiba ponsel Luna bergetar seolah ada panggilan masuk.
Hans calling...
"Halo...",
"Luna...",
Deg…
~maaf yakk kemarin gak update karena novelnya lg revisi ulang biar bisa ajuin kontrak,doakan ya teman² biar novel ini lulus review dan bisa jadi novel terbaik juga,makasih yang udah setia nunggu update an SM♡jangan lupa likenya dan tinggalkan komentar terbaik kalian dan dapatkan GA dari othor♡~
Salam dari sang dewi merpati
selalu ditunggu up nya...