CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MAAF BILA ADA KESALAHAN WAKTU DAN TEMPAT.
Sequel dari DUKU MATENG
Latar tempat: Kashmir, India
Jakarta, Indonesia
Kecelekaan tragis yang menimpanya bersama Sang Suami tepat di hari pernikahan mereka, membuat statusnya sebagai istri berakhir.
Semua orang menyalahkannya, menganggapnya sebagai wanita pembawa sial. Dia di asingkan jauh oleh keluarganya, karena dianggap aib.
Semua warna yang ada didalam hidupnya sirna, berganti dengan Saree putih yang abadi. Sindur yang di dahinya ikut menghilang.
Tidak akan ada lagi pria yang mau menikahinya, sekalipun dirinya berstatus sebagai Janda Perawan.
Lalu apa yang akan terjadi, saat ada seorang pria datang dan menentang semua tradisi itu?
'PADA AKHIRNYA, HATIMU AKAN DI SEMBUHKAN OLEH SESEORANG YANG MEMILIHMU DALAM KONDISI APA PUN'
[NADARA NIKAM]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Defri yantiHermawan17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Galak Sekali
"Salima?"
Salima menoleh, wanita itu menyeka peluh di dahinya. Dahinya berkerut saat melihat rekan kerjanya mendekat.
"Kau di panggil Tuan Rama!"
Salima semakin terlihat bingung, wanita berhijab itu membuka topi besarnya. Masih terdiam ditempat, Salima merasa tidak pernah melakukan kesalahan apa pun- lalu kenapa pengawas perkebunan memanggilnya.
"Aku?" beonya.
Sang rekan mengangguk, lalu berlalu meninggalkan Salima yang masih terlihat kebingungan. Wanita cantik itu menghela napas pelan, dengan ragu dia meninggalkan lahan kerjanya. Kedua kaki lelahnya membawa Salima menuju camp yang cukup lumayan jauh.
Matahari semakin terik, rasa lelah yang dirasakan Salima semakin menjadi. Sepertinya hari ini dirinya benar benar lelah, hanya bekerja di siang hari. Lalu apa kabarnya dengan Nadara waktu itu, yang harus bekerja lembur di bawah guyuran hujan.
Salima menghela napas pelan, sebenarnya dia tidak tega saat melihat Nadara harus bekerja kasar. Nadara yang nota bene terlahir dari keluarga berada- tidak pernah bekerja sebagai buruh kasar, pasti merasa hidupnya begitu berat.
Salima sampai pernah berpikir, apakah kalau dia menuntun Nadara masuk kedalam kepercayaannya, sahabatnya itu akan bisa menikah lagi dan hidup bahagia bersama suaminya nanti?
Namun karena Salima tidak ingin Nadara tersinggung, dia mengurungkan niatnya. Salima tidak bisa memaksa, dia hanya mendoakan agar suatu saat nanti Nadara dapat menemukan kebahagiannya. Salima yakin kalau Tuhan tidak pernah memberikan cobaan dan tradisi yang memberatkan untuk hambanya.
Tidak terasa, sekian lama kedua kaki Salima melangkah akhirnya dia sampai di camp. Pikirannya yang tadi berkelana kini mulai fokus kembali, wanita itu meletakan topi besarnya di kursi. Salima menghirup napas dalam sebelum dia memutuskan untuk masuk.
Bruuk!
Baru saja Salima melangkah tubuhnya segera terhuyung kebelakang, saat ada seseorang menabrak tubuhnya dari depan.
Lebih tepatnya Salima sendiri yang menabrak, karena sepertinya rasa lelah yang menguasai Salima- membuat wanita itu tidak fokus.
"Ma-maaf, saya tidak sengaja-,"
"Aku yang harus minta maaf pada-,"
Keduanya merasa bersalah, bahkan kini dua pasang netra itu saling bertemu. Namun Salima segera menunduk, menghindari tatapan dalam yang ditujukan orang itu padanya. Lain dengan orang yang saat ini ada di hadapannya, sepasang netra berbingkai kacamata bening itu menatap tak berkedip- jakunnya naik turun. Bahkan tanpa sadar, dia mengigit bibir bawahnya dengan gemas.
"Oh, kau Salima bukan?"
Salima mengangguk pelan dalam posisi menunduk, wanita itu reflek mundur saat melihat sepasang kaki besar yang di balut sepatu mahal itu mendekat.
"Tuan Rama memanggil saya?"
Salima memberanikan diri untuk bersuara, wanita berhijab itu mengangkat wajahnya. Karena postur tubuh mereka yang berbeda, Salima harus mendongak agar dapat melihat wajah pria yang tidak sengaja dia tabrak tadi.
Pria yang juga menjadi atasannya, Salima berdoa semoga saja Rama tidak marah dan memecatnya.
"Ekhem, iya- aku ingin melihat perkebunan di arah barat, bisakah kau mengantarku?"
Rama berusaha tenang, berdehem untuk menetralkan detak jantungnya yang semakin tidak tahu diri. Kedua tangan Rama mengepal- saat melihat cucuran keringat yang membasahi kerudung yang di pakai Salima.
Rama tertegun, dia teringat dengan ucapan Aryan waktu itu. Aryan mengatakan kalau Salima adalah seorang janda, apa mungkin Salima memiliki anak? wanita cantik ini rela bekerja kasar di perkebunan. Padahal wanita cantik sepertinya bisa saja memiliki pekerjaan yang lebih bagus dan nyaman dari pada sekarang.
"Tapi kalau saya mengantar Tuan, bagaimana dengan perker-,"
"Yang bekerja di perkebunan ini bukan kau saja Salima. Aku akan menyuruh pekerja lain untuk menggantikan mu!" Rama menyela cepat, saat merasakan kalau wanita itu akan menolak ajakannya.
"Sekarang kau antar aku. Ini juga bagian dari pekerjaan, kau mengerti!" tegasnya.
Salima mengangguk, wanita itu mundur perlahan- membiarkan Rama berjalan mendahuluinya.
"Dia galak sekali," gumam Salima.
**SENENG KAN LU RAM
SEE YOU NEXT TOMORROW
BABAYY MUUUAACCHH😘😘**
akhirnya ada muka2 opa korea 😍😍😍
keluarga besar, jadi rumah harus besar, nampung banyak 🤭
nanti malah kena omel ya Ram 🤭🤣
dasar para manusia lucknut
pakai batubara sekalian aja lah