Bagaimana jika kamu bertemu kembali dengan Cinta Monyetmu?
Starla dan Bintang yang terjebak oleh perasaan cinta saat masa sekolah, kini bertemu kembali setelah 5 tahun lamanya. Sayangnya, Starla masih menjaga amanah dari Kakaknya Galang untuk menghindari keluarga Bintang karena suatu dendam keluarga yang sulit dimaafkan.
Akankah Starla juga Bintang memperjuangkan cinta monyet mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delis Misroroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saingan
Pagi-pagi sekali Starla sudah tiba dirumah sakit karena ada operasi dadakan. Starla segera bersiap di ruangannya kemudian dengan tergesa-gesa berjalan menuju ruang operasi. Namun, dalam perjalanan menuju ruang operasi, karena Starla yang kurang hati-hati, dia menabrak seorang laki-laki.
"Astaghfirullah, maaf saya buru-buru," Starla menangkup kan kedua tangannya di dada lalu mendongak melihat wajah laki-laki itu sesaat kemudian menunduk kembali. Dalam beberapa detik Starla mengagumi wajah tampan dihadapannya, tapi dengan segera Starla beristighfar karena harus menjaga hati dan pandangannya.
"Gak papa kok, silahkan Dok kalau sedang buru-buru," kata laki-laki itu memberi jalan pada Starla.
"Terima kasih," tanpa pikir panjang lagi Starla segera masuk ke ruang operasi.
Dengan wajah yang berseri, laki-laki itu tak mengalihkan pandangannya pada punggung Starla hingga wanita yang dia kagumi itu benar-benar tak terlihat lagi.
"Kamu cantik, tapi memang sedikit ceroboh hm aku akan mendapatkan cintamu Starla, aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama," gunam laki-laki itu.
Empat jam kemudian, Starla keluar dari ruang operasi dengan wajah lelahnya. Beberapa kali Starla membuang nafas kasar dan memutar kepalanya berharap rasa pusing itu bisa sedikit hilang. Tetapi nyatanya gagal.
"Buk dokter, permisi," Starla menghentikan langkahnya dan membalikkan badan. Dia hanya melihat satu laki-laki berambut gondrong dengan kaos putih yang dibalut jas hitam. Merasa tak kenal, Starla ingin mengabaikannya tapi merasa tidak sopan, Starla pun menyapa.
"Maaf siapa ya? Apa kita saling kenal?" tanya Starla karena memang dirinya tak kenal.
"Empat jam yang lalu buk dokter nabrak saya di depan ruang operasi," jawab laki-laki itu. Starla mencoba mengingat kembali dan merasa malu karena lupa akan kejadian tadi pagi.
"Maaf saya lupa, hm ada perlu apa? Atau ada yang sakit karena tabrakan tadi? Kalau gitu saya bantu kamu periksa ke Dokter umum ya?" jawab Starla dengan sopan.
"Saya mau minta pertanggungjawaban Bu Dokter saja," laki-laki itu tersenyum licik.
"Tanggung jawab? maksudnya tanggung jawab yang seperti apa?" Starla masih bingung.
"Handphone saya pecah karena jatuh, jadi saya…" belum selesai bicara, Starla langsung menyela.
"Astaghfirullah, maaf saya akan ganti rugi handphone anda dengan yang baru. Tipe apa handphonenya?" Starla sedikit gugup karena takut uangnya tidak cukup untuk mengganti handphone laki-laki itu. Dengan senyum puas, laki-laki itu memberikan handphone yang pecah tersebut dan menunjukkan layarnya yang retak parah.
"Ini kan… masak bisa separah ini?" Starla mendongak menatap laki-laki di depannya karena tak percaya handphone mahal itu bisa retak parah karena jatuh bertabrakan dengan dirinya.
"Handphone saya memang sudah retak buk dokter, tapi karena jatuh di tabrak buk dokter jadi handphonenya makin parah retaknya." jelas laki-laki itu.
"Saya harus ganti rugi berapa?" tanya Starla yang sebenarnya agak ragu menanyakan hal tersebut. Bahkan dirinya belum menerima gaji pertamanya sebagai dokter di rumah sakit tempatnya bekerja.
"Yakin mau ganti rugi dengan handphone yang baru? Ini iPhone keluar terbaru, Bu dokter pasti tau harganya berapa kan? Apalagi di handphone ini banyak sekali file penting bagi saya." lagi-lagi laki-laki itu tersenyum licik.
"Em iya iya saya harus ganti kan? Tapi tunggu saya gajian ya?" tawar Starla mengundang tawa laki-laki itu.
"Engga engga, saya gak minta ganti rugi Bu dokter. Tenang aja saya yakin gaji Bu dokter gak akan cukup buat beli handphone ini." jawaban dari laki-laki itu membuat Starla bernafas lega.
"Anda menghina saya? Atau jangan-jangan anda mau modus ya?" Starla memicing.
"Haha Bu dokter lucu, bukan maksud menghina tapi saya yakin… em begini saja, saya baru pulang dari luar negeri, saya kurang tau daerah sini dan handphone saya ini sangat penting. Kalau Bu dokter memang mau bertanggung jawab, saya rasa cukup antar dan temani saya untuk membeli handphone saja sudah cukup," kata laki-laki itu.
"Ya ampun anda benar-benar modus ya? Ya sudah, saya akan temani anda tapi setelah pekerjaan saya selesai sore nanti." jawab Starla.
"Kalau gitu saya akan tunggu Bu dokter sampai pekerjaannya selesai. Saya takut Bu dokter kabur diam-diam." laki-laki itu kembali tersenyum.
"Anda…" Starla mulai kesal, terserah kalau begitu, nama saya Starla."
"Saya sudah tau, nama saya Morgan dan saya mau nunggu di ruang kerja Bu Dokter,"
"Engga, kenapa harus nunggu diruang kerja saya?"
"Ya biar saya nyaman dong, kalau gak boleh ya gak papa saya minta handphone baru sekarang juga, saya gak bisa dong harus nunggu Bu dokter gajian?" Starla tak bisa menjawab kata-kata laki-laki itu dan ahirnya mengalah.
"Aneh, aku merasa gak asing sama nama dia, huft asalkan gak beli handphone baru yang mahal itu turutin aja dulu." batin Starla lalu melihat beberapa laporan yang sudah ada di mejanya.
Jam makan siang tiba, Starla meletakkan laporan medisnya dan melepaskan baju dokternya kemudian keluar dari ruangan.
"Saya gak diajak Bu dokter, saya juga lapar loh?"
Starla membuang nafas kasar.
"Ya udah ayo,"
Starla dan Morgan berjalan bersama menuju kantin rumah sakit. Semua mata tertuju pada mereka berdua yang terlihat sebagai pasangan serasi. Starla memang masih baru di rumah sakit itu, tapi Starla cukup dikenal oleh beberapa perawatan dan dokter karena sikapnya yang ramah.
"Siang Bu Starla, mau ke kantin ya?" Seorang perawat menegur sapa Starla.
"Iya, mau ke kantin juga?" jawab Starla dan langsung mendapatkan anggukan.
"Em Bu Starla itu calon suaminya ya? Ganteng banget ya ampun kalian sangat serasi," pujian perawat itu membuat Morgan sangat senang.
"Terima kasih Sus," jawab Morgan sedikit mengangguk.
"Apaan sih," kata Starla melirik Morgan dengan sinis.
Di kantin.
"Mau makan apa?" tanya Starla dengan nada jutek.
"Jangan galak-galak dong Bu dokter, apa Bu dokter mau semua orang disini tau Bu dokter gak mau ganti rugi handphone yang udah Bu dokter rusak?" ancam Morgan.
"Astaghfirullah laki-laki ini benar-benar menjengkelkan," batin Starla.
"Tuan Morgan mau makan apa ya?" tanya Starla lagi dengan nada lembut.
"Duh manis banget hehe makan apa aja yang Bu dokter makan hmm," jawab Morgan dengan senyum manis.
Tanpa basa-basi lagi, Starla pun memesan makanan untuknya dan Morgan. Dalam antrian, Starla melihat sosok Bintang yang sedang berjalan ke arahnya. Starla kemudian menunduk kepala dan membuang muka ke sembarang arah berharap Bintang tak melihat Starla. Tapi sayangnya, pandangan mereka sudah saling bertemu tadi.
"Hai," sapa Bintang pada Starla dan membuat para antrian itu menatap Bintang yang begitu tampan.
"Assalamu'alaikum Bintang," balas Starla.
"Eh wa'alaikumsalam," jawab Bintang malu-malu dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kamu kenapa nyamperin aku?" tanya Starla.
"Itu, Salsa pengen ketemu katanya. Dia lagi cek up sekarang," jawab Bintang masih dengan mode manisnya.
"Em iya nanti selesai makan aku temui dia." jawab Salsa yang akhirnya mendapatkan giliran untuk mengambil pesanan makan siangnya.
Starla pun berjalan ke meja makan yang dimana Morgan telah menunggu dirinya dengan sabar. Melihat Starla yang duduk berhadapan dengan seorang laki-laki, tentu saja Bintang cemburu dan langsung menghampiri mereka. Bintang duduk di sisi Starla tentu dengan jarak aman bagi Starla. Morgan menatap sinis Bintang namun Bintang tak menanggapi Morgan.
Bintang lalu melihat menu makan siang Starla dan mengambil satu mangkuk menu makannya itu untuk dirinya.
"Bagi dong makan siangnya, gue juga laper," dengan santainya Bintang mengambil French fries milik Starla dan memakannya dengan santai.
"Iihh Bintang kamu tu seneng banget ngerebut makanan aku," Starla terlihat kesal tapi protesnya tak dihiraukan. Mata Morgan terlihat begitu banyak pertanyaan untuk Bintang.
"Kenapa lu ngambil makan siang dia?" ketus Morgan tak terima.
"Apa urusannya sama lu?" jawab Bintang sinis.
"Dia butuh tenaga untuk pekerjaannya. Jadi jangan ambil makanan orang sembarangan. Kalau lu laper lu bisa pesan makan sendiri karena lu punya tangan dan kaki yang sempurna," ketus Morgan.
"Lu gak liat makanan di depan dia udah banyak? Tenaga dia akan terkumpul dengan cukup, lu nggak perlu ada yang dikhawatirkan karena lu bukan kakaknya, apalagi suaminya," jawab Bintang santai.
"Tapi lu salah karena seenaknya merebut makanan orang lain," ketus Morgan lagi.
"Terserah gue, apa hubungannya dengan lu cowok asing? Sebaiknya lu jangan ganggu kita," kata Bintang.
"Gue…"
Starla tak tahan dengan perdebatan kedua pria yang menyebalkan dan mengganggu makan siangnya.
"Sudah-sudah, saya mau makan dengan tenang dan tolong kalian jangan berisik. Kalau kalian mau berdebat, silahkan pergi dari sini! tegas Starla dan membuat kedua laki-laki itu tak bergeming melihat Starla yang marah.
Merasa suasana sudah tenang, Starla pun makan dengan santai dan tak memperdulikan kedua laki-laki yang sedang memperhatikannya makan karena memang benar kalau Starla butuh tenaga untuk pekerjaannya yang cukup melelahkan.
visual Morgan saingan Bintang
...#################...
Turut berbahagia...
Ditunggu kisahnya Dimas... 🧡🧡
Malik & salsa brjodoh nich yh kk stelah dewsa nnti.. hee
ngomong" anknya starla dn bintang nmy Dimas..
sama ma nma suami sy kak hehee
Aamiiin allahuma Aamiiin ..
iya sama" kk authorr.. bgitypun dg kk authorr yh ..
smngttt trz dg krya" nya yh