Nia seorang gadis yang baru lulus sekolah mengalami "kecelakaan" hingga mengakibatkan dia mengandung anak yang tak pernah ia harapkan.
Kekasih yang menodainya tanpa berdosa meninggalkannya tanpa rasa tanggung jawab. Menimbulkan kekecewaan dan frustasi hingga ingin menggugurkan kandungannya.
Namun akhirnya, Nia dipertemukan orang-orang baik yang menyayanginya. Bahkan, seseorang merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rossa Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah Kandung
"Maaf, sungguh aku minta maaf telah meninggalkanmu selama ini. Bahkan kamu pasti banyak mengalami kesulitan setelah ku tinggalkan. Aku ingin menebus semuanya, izinkan aku mengakui Feri anakku dan dia tahu bahwa aku ayahnya. Mulai sekarang biarkan aku yang mencukupi semua kebutuhan dan keinginannya."
Santy bergeming. Ia masih memalingkan wajahnya, tak sedikit pun menoleh ke arah pria di depannya.
"Sebenci itu kah kamu padaku?"
Santy mengangkat wajahnya menatap lekat pria di depannya. Sejurus kemudian netranya mulai meneteskan bulir bening membasahi pipinya. Namun beberapa saat kemudian dengan cepat ia menyeka air matanya.
"Temui dia besok pagi di rumahku. Aku tak pernah mengajarkan dia untuk membencimu. Aku yakin dia akan bahagia ketika bertemu denganmu. Tapi dengan satu syarat ... " ujar Santy.
"Apa? Katakanlah," potong Raka.
"Minta maaflah dengan sungguh-sungguh pada suamiku!"
Santy memberikan secarik kertas berisi alamat rumahnya. Lalu ia beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Raka yang masih bergeming.
***
(Beberapa saat sebelumnya)
[Pagi ini aku akan menemui Santy. Kita udah bikin janji temu. Tolong pastikan Nia tidak tahu!]
Raka mengirim pesan pada kontak bernama Febi.
[Tenang saja, aku baru saja mengantar dia ke klinik. Jam-jam segini masih kerja] balas Febi.
***
Keesokan harinya, Raka menuju alamat rumah yang dibeerikan Santy saat kemarin. Setibanya di sana, ia mendapati sebuah keluarga yang begitu harmonis. Santy yang tengah menyiram tanaman, Feri serta seorang pria dewasa bernama Arif sedang mencabut rumput-rumput liar yang mulai tumbuh di halaman rumah.
Rasa bersalah semakin menjalar dalam benaknya. Perlahan Raka menghirup nafas lalu membuangnya, kakinya melangkah perlahan mendekati mereka.
"Assalaamu'alaikum," ucapnya setelah berada di dekat mereka.
Mereka yang tengah sibuk menghentikan aktivitasnya sejenak menoleh pada sumber suara.
"Wa'alaikum salam," jawab mereka hampir bersamaan.
"Om!" panggil Feri setengah berteriak sambil menghampiri Raka.
"Ada perlu apa Om datang ke sini? Apa mau nepati janji Om beli es krim?"
Raka tersenyum mengusap kepala anak laki-laki itu dengan lembut, matanya mulai berkaca-kaca. Lalu Feri berlari ke arah lelaki yang menjadi ayah tirinya, ditariknya lengan sang ayah seraya mengajaknya ke arah Raka.
"Ayah, ini loh, Om yang aku ceritakan kemarin. Dia itu nyebelin tapi sepertinya baik." Feri terus berbicara tanpa mengerti situasi apa yang terjadi sebenarnya.
Pria itu menghampiri Raka lalu mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan. Raka membalasnya, lalu meminta maaf dengan penuh penyesalan.
"Maaf, Mas. Maaf gara-gara kesalah fahamanku membuatmu kesusahan."
Kini Raka tak bisa menahan air matanya, rasa sesal yang menyelimuti jiwanya mendorong bulir bening itu jatuh membasahi pipinya.
"Sudah, Mas. Tidak apa-apa. Biarlah masa lalu menjadi pelajaran untuk kita," ujar Arif seraya memeluk Raka.
Mereka saling merangkul membuat Feri semakin tak faham atas apa yang terjadi di depannya. Sedangkan Santy melihat pemandangan tersebut dengan mata yang berkaca-kaca.
Setelah beberapa saat kemudian Arif mengajak Raka masuk ke dalam rumah.
"Mari masuk!"
Raka mengekori Arif masuk ke dalam rumah. Lalu mereka duduk di kursi ruang tamu.
"Ma, bikinin dua cangkir teh panas, ya!" titah Arif pada Santy.
"Seharusnya ku dulu mendengarkan penjelasan dari kalian, tidak mengambil keputusan semauku." Raka membuka percakapan.
"Tidak, aku bersyukur kamu ninggalin aku. Aku cukup bahagia dengan keluargaku saat ini!" sela Santy tiba-tiba, tangannya menyimpan dua cangkir teh di atas meja.
"Semua sudah terjadi dan menjadi takdir kita, ambillah hikmah di setiap kejadian," imbuh Arif seraya tersenyum.
"Terima kasih mau memaafkanku tanpa menyimpan dendam untukku," jawab Raka.
"Nak, mari sini duduk sama Ayah." Arif memanggil Feri yang tengah bermain di depan rumah.
Feri menghampiri lalu duduk bergabung bersama mereka.
"Kamu masih ingat Ayah pernah bercerita bahwa kamu memiliki Ayah yang lain?" tanya Arif.
Feri mengangguk.
"Apa kamu masih ingin bertemu dengannya?"
"Iya, Yah. Aku masih penasaran, 'kan Mama sering bilang kalau wajahku mirip sekali dengan dia."
"Om inilah Ayahmu, dia adalah Ayah kandungmu!" ucap Arif menunjuk Raka.
Feri menatap Raka lekat, lalu matanya berbinar.
"Benarkah? Apa benar Om itu Ayahku?"
Raka mengangguk lalu memeluk pria kecil yang menghampirinya.
"Apa kamu membenciku setelah tau aku ini Ayahmu?" tanya Raka.
"Tidak! Untuk apa? Kata Mama aku tak boleh membenci Ayahku saat ku tahu siapa orangnya. Begitu juga kata Ayah, aku harus menyayangi Ayah kandungku sebagaimana menyayangi Ayah."
"Terima kasih anak pintar! Panggil saja aku Papa!"
"Baik, Pa!" Feri terus mengulas senyuman. Sikap juteknya saat kali mereka bertemu seolah tak pernah ada.
"Terima kasih, Mas, telah menjadi Ayah yang baik untuk putraku. Dan Santy, terima kasih banyak telah merawatnya sampai sebesar ini dalam kondisi hidup tersulit."
"Tidak, aku tak pernah kesulitan karena Mas Arif yang menemaniku," jawab Santy jutek.
Arif tersenyum seraya berkata, "Sama-sama, Mas. Sudah semestinya seperti itu."
"Mulai saat ini aku akan menunjang kehidupan Feri. Izinkan aku ikut serta membesarkan anakku walau sebetulnya terlambat."
"Tidak apa-apa dengan senang hati kami menerima," ujar Arif.
"Kalau begitu saya pamit. Tapi bolehkah saya ajak Feri jalan-jalan keluar?"
"Silahkan, Mas. Kamu berhak atas Feri."
"Baiklah. Anak manis, maukah ikut Papa pergi jalan-jalan?"
"Mau, Pa. Aku mau." Feri menjawab dengan antusias, wajahnya menggambarkan kebahagiaanya.
***
(Sedangkan di tempat yang lain)
"Dek, udah siap belum? Motornya udah panas nih!" teriak Febi dari luar rumah.
"Sebentar, Mbak, ini udah siap, kok," jawab Nia dari dalam setengah berteriak.
Hari ini, sesuai rencana kemarin lusa. Nia dan Febi hendak pergi ke mall untuk mencari perlengkapan bayi. Nia terburu-buru menghampiri Febi lalu duduk di belakan Febi. Segera Febi melajukan motor dengan kecepatan rendah.
"Kenapa sih, Mbak, ngajak buru-buru gitu," fanya Nia saat mereka di perjalanan.
"Makin siang makin panas, Dek. Belum lagi hari minggu mall biasanya penuh."
"Hmmm, iya juga sih. Oh, ya, Mbak, sejak kemarin Raka susah banget dihubungi ada apa, ya?"
"Mungkin dia sibuk di rumah sakit kali, Dek."
"Bisa jadi sih. Tapi berasa aneh aja, biasanya sesibuk apapun suka ngasih kabar."
"Coba kamu hubungi duluan!"
"Gak ah, takut ganggu."
Beberapa saat kemudian mereka sampai di parkiran teoat di bawah mall tersebut. Suasana ramai, terlihat dari banyak kendaraan yang terparkir di sana. Nia turun dari motor lalu merapikan jilbab yang digunakannya. Mereka berjalan beriringan hendak memasuki mall. Namun baru saja beberapa langkah, langkah mereka terhenti saat melihat sebuah mobil berhenti tepat di depannya.
Tanpa rasa curiga Nia melanjutkan langkahnya, namun saat hendak berjalan tiba-tiba seorang pria turun dari mobil tersebut bersama seorang anak. Nia yang jelas mengenali mereka berdua menatap heran, sedangkan Febi yang mengerti situasi yang terjadi di depannya merasa kebingungan.
crt bagus tulisan dn tata bahas bagus 👍