Budayakan membaca❤️
'Gue akan pergi jika lo nyuruh gue pergi' _Alden Gavin
Raymond
'Sejauh apapun lo pergi,selama apapun lo hilang gue akan tetap menunggu' _Adelia Safarana
#
'Lo gak pernah sadar segila apa gue ngelihat lo sakit' _Devan Septian
'Gue tau perasaan lo itu nyata' _Giana Zafra
'Gue gak ngizinin lo pergi lagi' _Giofandi Zafrano
'Cinta tau kemana dia harus pulang'. _Sisilia Zeha
Penasaran ceritanya kan?? ikutin yokk:)
Novel baru aku:) mohon dukungannya^*^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayunda Tri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HSLS 30
"Jangan pernah pura-pura sakit di depan gw lagi peri kecil,karena itu akan buat jantung aku berhenti berdetak." ucap Gavin sambil membawa Dea ke dalam pelukannya.
Pelukan itu yang membuat Dea merasa nyaman dan aman.Gavin selalu saja bisa menjadi moodboosternya meskipun seringkali dibuat kecewa oleh Dea.Tapi Dea ingin memastikan lagi perasaannya dengan Gavin.
Setelah itu Gavin dan Dea kembali ke kelas dengan Gavin yang selalu setia merangkul pundaknya.
Sesampainya di kelas Zanna emosi melihat kedekatan Dea dan Gavin meskipun di sebelah Zanna ada Farel.
"Sayang lamunin apa." tanya Farel.
"Ah gak lamunin apa-apa kok." bantah Zanna.
Seharusnya gw seneng Farel seutuhnya milik gw.Tapi kenapa kok gw jadi ragu gini.Batin Zanna.
Setelah itu jam pelajaran pun berlangsung....
_____***________****
Jam istirahat....
Dea tiba-tiba merasakan nyeri di pinggangnya,tapi dia berusaha berpikir positif kalau tidak akan terjadi apa-apa.Dea berusaha menyembunyikan rasa sakitnya di depan Gavin.
"Al gw laper,boleh minta tolong ga beliin siomay males gw yang mau jalan." pinta Dea.
"Kenapa tiba-tiba kamu pucat gitu? Ada yang sakit hmm." tanya Gavin.Dea hanya menggelengkan kepala merespon ucapan Gavin.
"Yaudah lo tunggu di sini gw ke kantin bentar." ucap Gavin."Sekalian mau minum apa lo." sambung Gavin.
"Samain aja." ucap Dea lesu.
Semoga saja tidak semakin parah.Batin Dea.
Dea menundukkan kepalanya di meja.Rasa pusing menjalar di kepala Dea,Dea mulai merasa sesak nafas dan hilang kesadaran.
Saat Gavin kembali ke kelas,dia langsung membangunkan Dea tapi tidak ada respon sama sekali dari Dea sampai Gavin menarik bahu Dea,Gavin di buat kaget karena Dea yang tiba-tiba pingsan beruntung Gavin tanggap segera memeluk Dea.
Setelah itu Gavin menggedong Dea ke parkiran dengan perasaan yang campur aduk.Banyak yang bertanya kenapa Dea pingsan tapi tidak ada respon dari Gavin.
"Gav,Dea kenapa." tanya Farel.
"Apa peduli lo brengs*k." ucap Gavin emosi.
Ada apa dengan perasaan gw.Batin Farel
Setelah itu Gavin melanjutkan berjalan kembali ke parkiran.Gavin pergi ke rumah sakit dengan kecepatan yang sangat tinggi sampai dia di sumpah serapah oleh orang-orang.
"Bertahan peri kecil." ucap Gavin sambil mencium pucuk kepala Dea.
Beberapa saat kemudian Gavin sampai di rumah sakit keluarga Dea.Tanpa ingin menunggu lama Gavin langsung menggendong Dea menuju ruangan IGD.Kebetulan ada om Reno yang sedang lewat.
"Om,om Reno tolongin Dea." ucap Gavin dengan kekhawatirannya.
"Astaga Dea." ucap Om Reno.
"Cepat bawa Dea masuk." ucap Om Reno panik.
"Om Alden boleh temenin Dea di sini." ucap Gavin.
"Maaf Alden kamu tunggu di luar,om pasti lakuin yang terbaik buat Dea."ucap om Reno sambil menepuk pundak Gavin.
Setelah itu Reno masuk ke dalam ruang IGD untuk langsung menangani Dea.Sementara Gavin menghubungi keluarga Dea,sedangkan orang tua Dea take off hari itu juga dari London.
"Ada apa dengan Dea,apa mungkin penyakit itu. Arghhhhh.. bukannya Adelia bilang sendiri kalau dia sudah sembuh." ucap Gavin frustasi.
Beberapa saat kemudian Dena dan Sasya sampai di rumah sakit.Dena langsung bertanya kepada Gavin.
"Kak Alden,kak Dea kenapa?
Kak Dea pasti gak papa kan?
Kak Dea pasti sembuh kan kak? " tanya Dena sambil menangis.
"Jawab kita kak Aldennnn." kali ini Sasya yang berbicara.
"Sttt kalian berdua jangan nangis,Kak Dea pasti baik-baik aja." ucap Gavin."Dea gw mau ngomong soal Dea." sambung Gavin.
"Dena tau kakak mau bicara apa,bicara aja di sini Sasya sudah tau." ucap Dena.
"Perkembangan kesehatan Dea sejauh mana." tanya Gavin dengan nada dingin.
"Yang Dena tau kak Dea udah sembuh kak,malahan kak Dea gak pernah kambuh." ucap Dena dengan mata yang berkaca-kaca.
"Yaudah kita tunggu Om Reno dulu." ucap Gavin.
Tak lama kemudian Om Reno keluar,dengan sigap Gavin langsung bertanya tentang Dea.
"Gimana om." tanya Gavin dengan nada dingin.
"Dena,Alden apa sebelumnya Dea pernah mengeluh sakit." tanya om Reno serius.
"Gak pernah om ,malahan kak Dea sehat-sehat aja." ucap Dena.
"Kalau Alden taunya Dea udah sembuh om Dea sendiri yang bilang sama Alden."sambung Gavin.
"Dea tadi pasti merasakan sesak nafas,cepat atau lambat kita harus mencarikan donor ginjal buat Dea,Dea harus transplantasi ginjal.Kalau tidak itu bisa berbahaya untuk nyawa Dea,mungkin dulu Dea akan menolak tapi tidak untuk sekarang." ucap om Reno spontan.
Deg..... Gavin ambruk ke lantai begitu juga dengan Dena.Om Reno dan Sasya membantu mereka berdua untuk bangkit.
"Lakuin apapun itu asal Adelia sembuh om." ucap Gavin dengan lesu "Kalau bisa ambil satu ginjal Alden om."sambung Gavin..
"Tidak semudah itu Alden,kita harus cari pendonor yang benar-benar cocok untuk Dea." ucap Om Reno. "Tapi tenang saja nanti om akan hubungin teman-teman om di kanada mungkin ada pendonor ginjal di sana." sambung Om Reno sambil melangkah pergi.
.
.
.
.
Happy reading:)
ap