Panggil saja aku Mentari umur ku yang masih belia di paksa dewasa. Harus menerima masalah begitu berat dalam keluarga. Ibu ku mati bunuh diri tak sanggup menerima ke jahatan yang ayah ku berikan.
Ayah ku menjual ku kepada mami Tiara hanya untuk membahagiakan istri mudanya. Bagaimana kehidupan ku selanjutnya?
Atau aku mati saja ikut bersama ibu ku di surga. Bagaimana nasib adik ku Revalina jika aku mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gupita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butik
Mentari hanya menyergitkan dahinya, perasaannya mulai tidak enak. Dengan pernyataan Leona mulai mengintimidasi. Mentari hanya pasrah mengikuti kemauan Leona.
"Mau ke mana sih, Le. Loh, kok belok ke sini?" Mentari sedikit panik.
"Lo itu kenapa? ini jalan ke butik gue," terang Leona.
"Ngapain?"
"Ada deh, nanti lo tau sendiri, Le."
Leona bergegas menginjak gas, dengan lincah Leona menyalip kendaraan didepannya.
"Ya Tuhan, Le. Gue belum pengen mati, jangan ngebut gitu," rengek Mentari sambil memegangi seat belt dengan mata tertutup.
"Ih, lo nggak keren deh, cuma gini doang, mah nggak seberapa tau." Leona menyombongkan dirinya.
Mereka berdua akhirnya sampai di butik Leona, Mentari turun dari mobil. Mentari sedikit tercengang melihat kemewahan butik Leona. Mentari masih tetap berdiri di depan mobil Leona.
"Hei, berdiri aja. Ayo, masuk," titah Leona sambil menepuk pundak Mentari.
"Keren banget butik lo. Dari luar aja, wow!" seru Mentari.
"Eh, itu selebgram kan, ya?" lanjutnya lagi.
"Iya, Tar. Itu salah satu langganan butik, gue. Mau kenalan?" tawar Leona.
"Nggak deh, malu."
"Nggak pa-pa, gue juga mau nyapa dia."
Leona berjalan menyapa Awkarin, "Hei, Kak. Apa kabar? Kayanya lama ya, udah nggak ke sini."
"Iya, nih. Sibuk jalan-jalan sama ngevlog," terang Awkarin.
"Oia kenalin, Kak. Ini temen gue, Mentari namanya."
"Mentari," sambil mengulurkan tangannya.
"Awkarin," menerima uluran Mentari.
"Duh, sorry ya, Kak. Duluan," pamit Leona, Mentari juga tersenyum sambil mengikuti Leona.
Mereka berdua masuk keruangan kerja Leona. Mentari duduk sambil melihat fashion design Leona yang sudah diwarnai. Mentari membuka satu persatu lembaran itu.
"Cantik," gumam Mentari.
"Makasih," timpal Leona.
"Karya lo, keren-keren banget, Le." Mentari takjub, sebagai orang awam yang belum banyak mengerti tentang fashion design. Mentari senang untuk mempelajarinya.
"Karya itu, bentar lagi mau gue buat fashion show loh, Tar. Keren nggak?" tanya Leona.
"Jangan di tanya lagi, Le. Best pokoknya." Mentari memberi dua jempolnya.
"Gue, pergi keluar dulu ya, Tar. Urgent," pamit Leona.
Mentari hanya menganggukkan kepalanya, ia asik dengan ponselnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar, Mentari melihat id caller-nya Nata telah memanggil.
Senyum sumringah terpancar dari wajah Mentari.
Mentari 📞"Sayang," panggilnya.
Nata📞"Kamu, manis sekali. Sekarang kamu di mana?"
Mentari📞"Aku lagi di butiknya, Leona. Kenapa, Bang,"
Nata📞"Kamu sudah siap-siap, untuk nanti malam?"
Mentari 📞"Bel..." ponsel di rebut oleh Leona.
Leona 📞"Tenang saja, Bang. Calon istri Tuan Nata Wiguna, akanku sulap menjadi Cinderella," ucap Leona dengan sombong.
Nata📞"Terima kasih, Adik ipar." Nata mematikan ponselnya.
"Dih, kenapa kamu yang senyum-senyum sendiri?" Mentari menyeringai.
"Ada deh," seru Leona.
"Apaan?" Mentari mengintimidasi.
"Yuk, keluar. Gue punya sesuatu buat lo," titah Leona sambil menarik tangan Mentari.
Mentari mengikuti Leona dengan hati-hati, ia melangkah perasaannya tak karuan.
"Aku, deg-degan," seloroh Mentari.
"Apaan sih, Lebay lo," ejek Leona.
Pelayan butik Leona telah berdiri dan berjejer sambil membawa gaun.
"Kamu mau yang mana?" tanya Leona sambil memilih-milih gaunnya. "Ini manis kayanya," ucap Leona sambil menunjuk pelayannya.
"Terlalu seksi, Le. Ada belahan dadanya," protes Mentari.
"Padahal ini menantang," gumam Leona.
"Le, gue mau ketemu calon mertua. Masak iya pakai seksi gitu, malulah," protesnya kembali.
"Oke, oke. Gue cari lagi, tunggu," titah Leona.
"Kalo yang ini," tawarnya kembali.
"Bolehlah, dadanya tertutup."
Mentari berjalan di ruang ganti, ternyata Mentari tidak bisa memakainya karena resletingnya sulit di tarik tangannya tak sampai.
"Le, tolongin gue, ini susah!" teriak Mentari.
Flashback on
Lima menit yang saat Mentari masuk ke ruang ganti, Nata telah datang ke butik Leona.
"Abang, tau butik aku?"
"Apa sih, yang nggak bisa aku dapetin informasi tentang kamu," jawab Nata datar.
Belagu banget sih, calon Kakak ipar gue, sabar-sabar, batin Leona dengan mengumpat.
"Bang, duduk di ruangan aku, lama nunggu Mentari di sini," tawar Leona.
Saat Nata dan Leona sudah mau berjalan menuju ruangan Leona. Mentari berteriak minta tolong. Dengan sigap Nata langsung berjalan menuju ruang ganti Mentari.
Astaga, Bang Nata. nggak sabaran banget, batin Leona lalu tersenyum miris, ia tidak pernah diperlakukan seperti itu.
Flashback off
Nata masuk ke dalam ruangan ganti yang tidak kunci oleh Mentari. Nata sedikit jail meraba punggung Mentari. Mentari tersentak kaget dengan tingkah Nata. Mentari membalikkan tubuhnya lalu mencubit pinggang Nata.
"Abang," cicit Mentari.
"Sakit," rengek Nata manja.
"Stop, Bang."
Nata memeluk Mentari lalu meraih tengkuknya, ia cium bibir mungil itu. Dengan rakus Nata melakukannya, tangan Nata mulai meraba tubuh Mentari. Beberapa menit Kemudian, Leona berteriak.
"Bang, buruan! kalo mau lanjut ke hotel aja," ejek Leona.
Bersambung.....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤