[Sedang Mengalami Revisi]
[Sebaiknya baca Modern System selama novel ini direvisi]
"Guru, berarti si cacat Deon tidak akan pernah bisa menjadi seorang Machitis? ... Benar-benar sampah klan Aciel."
Pada awalnya Deon hanyalah pemuda kurang beruntung dari klan terkuat tapi dapat hidup bahagia di kota Nervik.
Semenjak terjadinya suatu peristiwa di kota Nervik kehidupan Deon berubah secara perlahan. Dimulai dari kematian ibunya disusul perubahan sikap seluruh anggota klan kepada Deon.
"Aku memanglah bukan orang pendendam, tapi, aku tidak akan terima jika seluruh anggota klan ku dibantai! Apalagi jika wanita yang paling aku sayangi terluka!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Project, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30 Akan Bertemu!
"Sudahlah, guru!" Ucap Deon sambil melepaskan pelukannya diikuti oleh Ezra yang juga melepaskan pelukannya.
Ezra segera menghapus air matanya.
"Ehm... Yon, siapa wanita ini?" Ucap Ezra yang baru menyadari keberadaan Lily di samping Deon.
"Oh, ini kak Lily, dan kak Lily ini guru Ezra." Ucap Deon saling memperkenalkan.
"Wah, sepertinya kamu sudah mendapatkan yang baru 'ya?" Ucap Ezra menggoda.
"Yang baru? Maksudnya?" Ucap Deon tidak terlalu paham.
"Maaf tuan, apa benar nama tuan adalah Ezra?" Ucap Lily kepada Ezra.
"Iya." Ezra.
"Memangnya ada apa, kak Lily?" Ucap Deon ikut menanggapi pertanyaan Lily.
"Apa tuan adalah yang dimaksud Felix sebagai Kak Ezra?" Lily.
"Felix? Dimana dia sekarang?!" Ucap Ezra terkejut sekaligus sangat senang.
"Entah?" Saut Deon.
"Hah~" seketika itu pula Deon, Ezra dan Lily langsung menghela nafas panjang.
"Tuan Machitis!!!"
Mereka bertiga langsung menolehkan kepala mereka kearah asal teriakan itu.
Ezra melihat kusir kereta kuda yang menjadi alasannya kembali ke kota Nervik melambaikan tangan kearahnya. "Sebentar." Ezra langsung berjalan menuju kereta kuda setelah berkata pada Deon dan Lily.
"Kak Lily, memangnya kamu sudah pernah bertemu guru Ezra 'ya?" Ucap Deon sesaat setelah Ezra meninggalkan mereka berdua.
"Belum pernah sih, tapi aku pernah mendengar kalau kamu, Felix dan tuan Ezra sudah kenal sejak lama." Lily.
"Aku kenal guru Felix sejak lama? Perasaan baru beberapa bulan." Ucap Deon kebingungan.
"Ya sama, aku juga bingung waktu itu." Lily.
"Oi, pasti pada membicarakan aku 'ya?!" Ucap Felix mengejutkan Deon dan Lily dari arah belakang.
"Arggh!" Teriak Deon terkejut dan Lily sebenarnya juga terkejut tapi tidak sampai berteriak seperti Deon.
"Lily ini untukmu." Ucap Felix sambil memberikan sesuatu kepada Lily.
"Apa ini, Felix?" Ucap Lily saat barang yang diberikan Felix sudah berada ditangannya.
"Chest guard, pelindung dada saat memanah." Ucap Felix. "Karena ukuran dada mu cukup besar, lebih baik dilindungi." Lanjutnya dalam hati.
"Oh... Terima kasih, Felix." Ucap Lily senang.
"Aku mana, guru?" Ucap Deon sambil memasang ekspresi memelas.
"Memangnya kamu siapa? Lagi pula kamu kan sudah bawa beruang sebesar itu, pastinya beruang itu akan melindungi mu." Ucap Felix dengan acuhnya.
"Hah~" Deon langsung tertunduk lesu mendengar kalimat Ezra.
"Yon, bawa dulu bonekanya! Aku mau pakai ini dulu." Ucap Lily sambil menyerahkan boneka beruang yang dibawanya kepada Deon.
"Lagi pula buat apa sih bawa boneka sebesar itu?" Ucap Felix dengan dinginnya.
"Oi, ini buat hadiah adikku! Jika kita bertemu di kota Hoega, aku bisa langsung memberikan boneka ini." Ucap Deon sambil memeluk boneka beruang itu.
"Hah~ terserahlah ... Berangkat sekarang?" Ucap Felix sambil menoleh kearah Deon dan Lily.
"Bentar, Felix! Tadi aku dan Deon disuruh menunggu tuan Ezra." Ucap Lily setelah memakai Chest guard.
"Ezra? Serius?!!" Ucap Felix tidak percaya.
"Ya, tadi guru Ez- lha itu." Ucap Deon sambil menunjuk Ezra yang berjalan kearah mereka.
Felix langsung menoleh kearah yang ditunjuk Deon. "Kak Ezra!!!" Teriak Ezra saking senangnya.
"Lama tidak bertemu 'ya, Felix Xander." Ucap Ezra sambil menepuk pundak Felix.
"Bagaimana keadaan, kak Ezra? Sehat?" Felix.
"Apa aku kelihatan seperti orang sakit?" Ezra.
"Aku dengar kamu keluar dari akademi? Apa itu benar? Dan sekarang kamu tinggal dimana?" Felix.
"Benar, aku sudah keluar dari pekerjaan sebagai guru di akademi, sekarang aku kembali menjadi Machitis lepas sepertimu, dan sekarang aku tinggal di kota Vice." Ezra menjawab semua pertanyaan Felix.
"Lho, sudah saling kenal 'ya?" Saut Deon.
"Hah? Sudah aku duga sejak lama kalau ingatanmu hanya 1 GB (giga byte), pantas saja tidak bisa mengingat orang yang telah tidak lama bertemu." Ucap Ezra kepada Deon.
"Oi, apa maksudnya barusan?!" Ucap Deon tidak terima.
"Yon, kenapa boneka milik nona Lily kamu bawa?!" Ezra.
"Eh, itu bukan milikku, boneka itu milik Deon." Saut Lily.
"Oh... Lalu bagaimana kabar adikmu, Yon? Apa dia masih membencimu?" Ucap Ezra sambil senyum bibir tertutup. Senyum bibir tertutup menunjukkan bahwa Ezra tahu sesuatu yang penting.
Deon kembali tertunduk lesu mendengar pertanyaan dari Ezra. Jangankan untuk menjawab pertanyaan Ezra, mengetahui keberadaan Wilona sekarang saja Deon tidak tau.
"Kak-" ucap Felix terpotong karena Ezra mengisyaratkan tutup mulut kepada Felix.
"Lalu, bagaimana dengan Ava?" Ezra.
"Hah? Iya Ava!" Ucap Deon dan Felix secara bersamaan.
"Aku kira cuma Deon yang memori penyimpanannya kecil, ternyata Felix juga sama?" Ucap Ezra sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Kak Lily, tolong bawa sebentar!" Ucap Deon sambil menyerahkan boneka yang dibawanya kepada Lily dengan terburu-buru.
"Tunggu disini sebentar!" Tepat setelah Deon mengucapkan kalimatnya, ia langsung berlari menuju rumah Ava yang ada di kota Nervik.
Ezra langsung menangkap dan menarik kerah pakaian Deon saat Deon hendak melangkahkan kaki untuk yang pertama kali.
"Mau kemana?" Ezra.
"Ke rumah Ava!" Deon.
"Kalau begitu ayo kita ke kota Vice!" Ucap Ezra sambil melepaskan kerah pakaian Deon.
Deon langsung membalikkan tubuhnya untuk menghadap Ezra. Setelah itu, Deon langsung berkata. "Hah? Sejak kapan Ava tinggal di kota Vice?!"
"Sejak kamu dikabarkan tewas." Ucap Ezra dengan nada datar.
"Oh..." Deon mengangguk-anggukan kepalanya.
"Malah 'oh'!" Ucap Ezra kesal.
"Pft, hehehe." Lily tertawa kecil melihat perdebatan antara Deon dan Ezra.
Felix merasa senang melihat Lily tertawa. Felix sudah tau akan masa lalu Lily yang bisa dibilang kurang beruntung. Mengesampingkan hal itu, Felix berkata. "Bagaimana kalau tujuan kita sebelumnya kita rubah? Kita semua akan menuju ibu kota Vice!"
Deon dan Ezra langsung berhenti berdebat setelah mendengar kalimat Felix.
"Setuju!!!" Ucap Deon dengan lantang.
"Aduh sayang, aku cuma punya satu ekor kuda, tidak mungkin muat untuk berempat." Ucap Ezra sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
"Apa? Guru punya kuda?" Ucap Deon tidak percaya.
"Sayangnya iya." Ucap Ezra menyombongkan diri.
"Ehm... Bagaimana kalau kita beli kereta? Jadi kita bisa berangkat bersama-sama." Lily mengucapkan usulannya.
"Setuju!!!" Ucap Felix dengan lantang.
"Uangnya?" Ucap Ezra dengan nada datarnya.
"Hah~" seketika Deon, Felix dan Lily langsung menundukkan kepala mereka.
"Hah~ Yon, aku punya satu ide, entah ide ini akan menguntungkan atau membuatmu sedih, apa kamu mau mendengarkannya?" Ucap Ezra kepada Deon.
"Ide apa?" Ucap Deon penasaran.
"Bagaimana kalau kita jual semua properti klan Aciel ke pemerintah kota." Ezra.
"Ehm... Bukannya aku tidak setuju, tapi menjual barang seperti itu akan memakan waktu yang banyak." Deon.
"Tenang saja! kan ada Ezra Fahar disini, pasti semuanya akan mudah." Ucap Ezra kembali menyombongkan diri.
"Ehm... Okelah, ayo!" Deon.
*****
Saat matahari mulai terbenam.
"Kan ada Ezra Fahar disini apanya?" Ucap Deon mengeluh sambil berjalan keluar dari gedung pemerintah kota bersama Ezra, Felix dan Lily.
"Diam kamu! Masih untung cuma sampai jam segini." Ucap Ezra merasa tersinggung.
"Sudah, sudah! Ayo kita beli kereta sebelum pada tutup dan langsung berangkat menuju kota Vice!" Ucap Lily berusaha menghibur Deon.
"Setuju!!!" Ucap Deon dan Felix secara bersamaan.
*****
Ibu kota Vice.
Terlihat Ava dan Wilona sedang memasak makanan untuk makan malam mereka. Keduanya terlihat sangat akrab, bahkan jika dilihat sekilas akan mengira bahwa Ava dan Wilona adalah saudara kandung.
*TOK... TOK... TOK...*
"Sebentar!" Ucap Wilona sambil membersihkan tangan untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.
"Aku saja!" Ucap Ava menahan Wilona. "Sebentar 'ya." Ava langsung berjalan menuju pintu rumah.
"Ehm... Entahlah?" Ucap Wilona kemudian langsung melanjutkan memasaknya kembali.
Setelah beberapa saat Wilona memasak sendiri, tiba-tiba Wilona mendengar suara pria yang berkata. "Permisi."
Wilona segera menoleh kearah asal suara tersebut. "Oh, kak Drax." Ucap Wilona sambil tersenyum.
"Lagi apa, Wilona?" Drax.
"Masak, kak Drax." Wilona.
"Wah... Sepertinya Wilona memang adik yang baik." Ucap Drax memuji.
"Terima kasih." Wilona.
"Oh iya Ava, apa kamu lulus menjadi Machitis Gamma?" Ucap Drax berganti pada Ava.
"Tentu saja aku lulus?" Ucap Ava yang kemudian langsung memperlihatkan plakat Machitis Gamma miliknya.
"Berarti kita sama, aku juga lulus." Ucap Drax sambil memperlihatkan plakat Machitis Gamma miliknya juga.
"Drax, aku juga terpilih menjadi peserta kompetisi lho." Ucap Ava senang.
"Wah... Kita sama lagi nih, aku juga terpilih." Drax.
Perbincangan Ava dan Drax kemudian terus berlanjut. Ava terlihat sangat nyaman dapat berbicara dengan orang yang peka sekaligus perhatian seperti Drax.
Tapi disisi lain, Wilona malah meneteskan air matanya melihat Ava begitu akrab dengan pria lain.
"Ini salahku, kenapa aku harus membunuh kakak? Lagi pula aku juga tidak berhak untuk memilihkan pria bagi kak Ava 'kan?"
"Tapi, aku maunya kak Wilona dapat hidup bersama kakak, ini semua salahku, salahku, salahku." Ucap Wilona dalam hati yang menyesal.
Bersambung......
My Project sebagai penulis "Deon Sword of Darkness" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.
Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan
Like
Comment
Vote
Rating 5🌟
Subscribe
Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.
muehehehe