Menceritakan sisi kehidupan seorang Faiq sebagai anak indigo.
Berbeda dengan saat di novel 'Guna Guna', kali ini kehidupan Faiq akan dikupas secara detail sejak ia kanak-kanak hingga dewasa.
Kisah Faiq menjalani hidup yang harus bersinggungan dengan dunia lain yang baginya antara ada dan tiada.
Juga serunya persahabatan Faiq dengan mekhluk ghaib yang enggan meninggalkannya.
Kisah apa lagi yang akan dijalani Faiq ?.
Penasaran, ikuti kisahnya yuk....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 ( Terusir )
Setelah selesai berwudhu, Karin dan papanya duduk di tengah ruangan. Kyai Syakir, Faiq dan Fatur nampak mulai membacakan ayat suci Al Qur'an, doa dan dzikir.
Tubuh Karin mulai berkeringat dingin. Karin memejamkan matanya kuat-kuat sambil terus berdzikir dalam hati. Tak lama kemudian serangan rasa dingin yang membuat tubuhnya berkeringat pun pergi, berganti dengan rasa hangat yang melingkupi hati dan raganya. Karin memberanikan diri membuka mata.
Saat menoleh ke samping ia melihat tubuh Karyadi mengejang dengan mulut meracau tak jelas. Karin yang merasa iba pun menangis. Tak tega melihat keadaan papanya, Karin mendekat bermaksud membantu. Tapi Faiq mencegahnya dengan memberi kode agar Karin menjauh.
" Sshhh, ahhh, luarrr biasaaa...," racau Karyadi dengan mata terpejam.
Dalam pandangan Karyadi, ia tengah bercinta dengan sosok perempuan yang membuatnya jatuh hati. Perempuan itu membuat Karyadi penasaran dan terus memburunya. Hingga Karyadi merasa seperti melayang ke angkasa dengan tubuh bermandikan keringat.
Setelahnya tubuh Karyadi seperti dihempaskan dengan kasar ke lantai hingga membuat Karyadi kesakitan. Karyadi berusaha membuka matanya.
" Pergi, jangan ganggu dia...!" sentak Kyai Syakir.
" Aku tak akan pergi. Aku memujanya sejak dulu, mencintainya diam-diam dan masih menantinya sampe sekarang...," sahut iblis dalam tubuh Karyadi.
" Dia sudah menikah dan punya Anak, dia bahagia bersama keluarganya. Maka pergi dan carilah kebahagiaanmu sendiri. Tak usah lagi berharap dia akan menjadi milikmu...," kata Kyai Syakir dengan suara tegas.
" Hiks, hiks, bagaimana bisa Aku dipisahkan darinya. Dia selalu tergantung padaku. Jiwa raganya hanya menginginkan Aku. Bod*hnya Aku jika membiarkan dia sendiri...," sahut iblis itu lagi.
Terlihat Karyadi membuat gerakan gemulai seperti sedang menari. Kyai Syakir memberi kode kepada Fatur dan Faiq. Keduanya merangsek maju lalu memberikan sesuatu ke dalam mulut Karyadi dengan paksa. Setelahnya terlihat reaksi yang aneh dari Karyadi.
Karyadi mencekik lehernya sendiri yang terasa panas. Lalu panas itu menjalar terus hingga ke perut dan berakhir di organ vit*lnya. Karyadi menjerit keras lalu jatuh tak sadarkan diri.
Karin tak berani mendekat. Hanya air matanya saja yang makin deras membasahi wajahnya. Faiq dan Fatur maju lalu memperbaiki posisi tidur Karyadi. Tak lama kemudian Karyadi siuman. Ia langsung bangkit dan duduk sambil memegangi organ vit*lnya dengan tangan. Nampaknya ia kebelet buang air kecil.
" Maaf Pak Kyai, Saya numpang ke kamar mandi sebentar...," kata Karyadi.
" Silakan Pak, lurus belok kiri ya...," sahut Kyai Syakir sambil tersenyum.
Karyadi langsung berlari dan masuk kamar mandi dengan cepat. Setelahnya terdengar erangan memilukan dari mulutnya. Semua saling menatap dengan tatapan penasaran. Tapi Kyai Syakir tetap terlihat tenang sambil terus berdzikir.
Setelah menunggu hampir sepuluh menit Karyadi keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat dan berkeringat.
" Papa, Papa kenapa. Apa ada yang sakit...?" tanya Karin cemas sambil membantu Karyadi duduk di tempat semula.
" Gapapa Nak. Tadi pipis Papa susah dan sakit sekali. Padahal Papa udah kebelet. Pas Papa liat ada rambut yang ikut keluar bareng sama air pipis, dan itu sakit banget...," keluh Karyadi sambil mengusap wajahnya.
" Alhamdulillah, insya Allah Bapak akan segera terbebas dari pengaruh santet itu Pak...," kata Kyai Syakir sambil menyodorkan minuman herbal untuk menetralisir racun dalam tubuh Karin dan Karyadi
" Alhamdulillah...," kata Karin dan Karyadi bersamaan sambil tersenyum.
" Itu adalah santet yang dikirim lewat perantara makanan atau minuman. Dan dia mengganggu Pak Karyadi dengan mengajak bercinta lewat mimpi. Buhulnya sudah terlepas. Dan sekarang dia kehilangan arah. Tetap jaga sholat lima waktu dan sering berdzikir ya...," pesan Kyai Syakir.
" Baik Pak Kyai, terima kasih...," kata Karyadi setelah meneguk habis ramuan herbal tadi. Karin pun nampak tersenyum usai minum ramuan yang disodorkan padanya.
" Sama-sama Pak. Oh iya, Kalian akan liat sesuatu yang aneh nanti. Tapi Saya harap Kalian tetap diam dan ga usah komentar. Dan untuk Anda Pak Karyadi, sudah saatnya Anda mengusir hama pengganggu itu dari rumah Anda. Apa pun alasannya tak dibenarkan dalam agama, perempuan yang tak ada hubungan darah tinggal bersama Anda...," kata Kyai Syakir sambil menatap Karyadi lekat.
" Baik Pak Kyai...," sahut Karyadi mengerti.
Setelah berbincang sejenak, Karyadi dan Karin pun kembali ke rumah mereka. Faiq dan Fatur nampaknya masih penasaran dengan apa yang menimpa Karyadi masih tinggal di rumah Kyai Syakir untuk beberapa saat.
" Jadi santet itu sudah sampe ke situ Kyai...?" tanya Fatur takjub.
" Iya. Dan perempuan itu datang dalam mimpi dan mengajaknya bercinta. Kenik**tan yang didapat, meski pun semu, namun bisa mengalahkan rasa yang diperolehnya saat bercinta dengan Istri sahnya. Dan itu sudah merusak hubungan Suami Istri itu secara perlahan...," kata Kyai Syakir.
" Jahat banget ya. Padahal mereka kan keluarga...," gumam Faiq sambil menggelengkan kepalanya.
" Itulah manusia yang serakah, dibutakan oleh nafsu yang menyesatkan. Hingga melupakan norma yang ada di masyarakat bahkan aturan dalam agama...," sahut Kyai Syakir.
\=\=\=\=\=
Saat mobil berhenti di depan rumah, terlihat lampu kamar Vonni yang nampak berkedip-kedip. Karyadi dan Karin segera turun lalu mengetuk pintu.
" Assalamualaikum Mama, Kevin. Buka pintunya...!" seru Karyadi berulang-ulang.
Pintu terbuka dari dalam. Terlihat wajah mama Karin yang pucat ketakutan.
" Papa, untung Kamu cepat pulang...," kata mama Karin sambil menghambur memeluk Karyadi.
" Emangnya ada apa Ma...?" tanya Karyadi.
" Adikmu, Vonni. Dia ngamuk, menjerit terus dari tadi. Aku juga ga tau kenapa. Bapak sama Ibu juga ketakutan dan ga berani ngeliat ke kamar...," sahut istri Karyadi.
Karyadi mengikuti istrinya masuk ke dalam rumah dan berhenti di depan kamar Vonni. Seperti yang lain, Karyadi hanya menunggu tanpa berani masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba pintu terbuka dan nampak Vonni dengan tampilan yang menyeramkan menatap penuh nafsu kearah Karyadi.
" Kenapa Kak. Kenapa terus menolakku. Aku mencintaimu sejak dulu. Berharap bisa menikah denganmu. Tapi Kau malah memilih wanita udik itu. Aku benci Kau. Karenanya Aku tak mau Kalian bahagia. Aku akan terus membuat keluargamu mati satu per satu. Aku puas melihat mereka menderita...," kata Vonni sambil mencoba menyentuh Karyadi.
Apa yang diucapkan Vonni membuat semua orang terkejut. Ibu Vonni, yang tak lain adalah ibu tiri Karyadi pun maju lalu menampar pipi Vonni hingga Vonni terpelanting jatuh saking kerasnya. Vonni menjerit dan menangis.
" Kurang ajar, menjijikkan sekali tingkahmu ini Vonni...!" seru ibu Vonni pura-pura marah.
" Ampun Mama, Aku ga bisa menahannya Mama. Aku sakit hati melihat dia bahagia. Aku sengaja menolak semua pria yang hadir hanya untuk dia, Aku berkorban untuknya. Tapi di tak tau diri, dia malah menikahi sampah itu. Aku ga rela, sampai mati pun Aku ga bakal biarkan dia bahagia bersama wanita pilihannya itu...!" jerit Vonni sambil menangis.
Seperti pesan Kyai Syakir, Karyadi dan Karin hanya diam tanpa suara. Mereka melihat bagaimana mama Vonni terus memukuli sang anak hingga babak belur.
" Cukup Bu, hentikan. Aku ga mau polisi menemukan kasus pembunuhan di rumahku...," kata Karyadi dingin.
" Maafin Ibu Yadi. Ibu ga tau kalo dia mencintaimu lebih dari sekedar saudara. Maaf, Ibu lalai menjaganya...," kata ibu tiri Karyadi.
" Aku gapapa Bu. Tapi maaf, setelah kejadian ini, Aku ga mau Vonni dan Ibu tinggal di sini lagi. Sebaiknya Kalian pergi dan jangan coba mengusik keluargaku lagi...," kata Karyadi.
Mendengar ucapan Karyadi, Vonni menjerit histeris. Ia harus terima akibat dari perbuatan jahatnya yaitu terusir dari rumah dan jauh dari Karyadi. Ayah Karyadi maju dan tak terima jika istrinya juga diusir dari rumah itu.
" Apa maksudmu...?" tanya ayah Karyadi.
" Ibu telah membantu Vonni menjahati keluargaku. Dia menyuruh si Mbok meletakkan sajen di kamar Karin untuk menyantet keluargaku...," sahut Karyadi dingin dan membuat ayahnya terkejut.
" Kurang ajar, apa itu benar Bu...?!" tanya ayah Karyadi marah sambil menatap tajam kearah istrinya.
" Maafin Ibu Pak, Ibu khilaf...," sahut ibu Vonni dengan tubuh gemetar.
" Pergi Kalian dari sini. Aku ga mungkin tinggal bersama orang yang jahat seperti Kalian. Dan satu hal lagi, Aku talak Kau sekarang juga...!" kata ayah Karyadi lantang.
Ibu tiri Karyadi terkejut, namun tak bisa berbuat apa-apa. Sambil menahan malu ia bergegas masuk ke kamar untuk berkemas.
" Maafkan Bapak karena ga tau apa pun soal ini...," kata ayah Karyadi lirih sambil menepuk pundak Karyadi.
" Gapapa, ini semua bukan salah Bapak...," sahut Karyadi sambil tersenyum kecut.
Malam itu juga Vonni dan ibunya terusir keluar dari rumah besar dan keluarga Karyadi. Ayah Karyadi menatap kepergian mereka dengan tatapan kecewa. Ia tak menyangka jika istri dan anak tirinya tega menyakiti anak, menantu dan cucu kandungnya.
Masih terdengar suara Vonni yang terus meracau. Tapi Karyadi tak peduli. Ia menutup rapat pintu rumahnya serapat ia menutup pintu hatinya untuk kehadiran Vonni dan ibunya.
\=\=\=\=\=