maaf, untuk sementara karya ini tidak di lanjutkan dulu dikarenakan authornya sedang sibuk, insyaallah, nanti akan saya lanjutkan kembali🙏🙏
apakah sebuah hubungan rumah tangga akan sakinah mawadah warahmah, jika suami dengan tega mengkhianati istri..??
.
kisah kehidupan yang menguras emosi dan air mata..🥀
Dinda harus menerima kenyataan kalau suaminya harus menikah lagi dengan sahabatnya sendiri karena hubungan terlarang yang mereka lakukan.
Dinda harus menjalani hari harinya dengan penuh kesedihan, ambisi Dewi untuk memiliki kekayaan suaminya membuat Dinda selalu disalahkan, Dewi melakukan segala cara untuk menyingkirkan Dinda dari rumah dia sendiri.
bagaimana ceritanya..?
baca yuk..!!
jngn lupa like, comen n votenya
rate ⭐⭐⭐⭐⭐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawar berduri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ikut program hamil
ketika Dinda dan Hendra makan bersama bi minah, Dewi keluar dari kamar membawa 1 bungkus makanan di tangannya. Dewi duduk di samping Hendra lalu menyimpan makanan itu di hadapan suaminya.
''mas, mending mas makan ini aja, cobain deh, ini mahal Lo mas..'' ujar dewi. Dewi mengambil makanan yang sedang Hendra makan lalu menggantikn nya dengan makanan yang dia bawa
Dinda menoleh ke arah Bi Minah mengedipkan matanya, Dinda memberi kode kepada bi Minah agar dia tidak terlalu menghiraukan perkataan dewi. BI Minah menganggukkan kepalanya sembari tersenyum seakan mengerti apa yang Dinda maksudkan. bi Minahpun melanjutkan makannya tanpa melirik majikan baru yang menurutnya sangat menyebalkan
''kamu makan saja ya, aku gak biasa makan makanan seperti ini..'' ujar Hendra memberikan makanan itu kepada Dewi
''loh ko gitu si mas, padahal aku bawakan makanan ini khusus buat mas, mas, anak kita pngen mas makan ini. mau ya..!'' ujar Dewi memaksa dengan membawa bawa kehamilan palsunya
''uhuk uhuk uhuk....'' Dinda tersedak mendengar perkataan dewi barusan
''kamu kenapa sayang...?'' tanya Hendra menyodorkan minum ke Dinda yang mulai eneuk dengan sikap Dewi
''gak pp mas, aku permisi ke kamar dulu ya, aku capee mau istirahat..'' jawab Dinda bangkit dari duduknya berjalan menuju kamar meninggalkan makanan yang baru saja dia mkn
''eh bi, pembantu itu makannya di bawah, enak banget makan disini..'' ujar Dewi kepada bi minah.
''iya non, maaf. tadi non Dinda yang ajak bibi makan bareng di sini, kalo gitu bibi pamit ke belakang dulu ya non, permisi pak...'' ujar bi minah dengan mata yang berkaca-kaca
''ya sudah sana..'' ujar Dewi memandang dengan sebelah mata seakan jijik dengan kehadiran bi Minah
Hendra hanya diam memperhatikan tingkah laku Dewi yang membuatnya sangat kesal. Hendra terpaksa memakan makanan yang Dewi bawa karena tak ingin ada keributan, bagaimanapun Dewi itu istri sahnyaa apalagi setau Hendra dewi sedang mengandung anaknya.
''gimana mas, enak gak..?'' tanya dewi sembari bermanja bersandar di bahu Hendra
''lumayan..'' jawab Hendra singkat
mereka tidak tau kalau ada wanita yang memperhatikan mereka dari ruang atas, tak lain adalah Dinda, Dinda meninggalkan Hendra di meja makan karena dia sangat cemburu melihat Dewi bermanja dengan membawa bawa anak yang ada di dalam kandungannya.
Dinda merasa iri kepada Dewi karena dia bisa mengandung anak dari Hendra, sedangkan dia yang sudah bersama Hendra bertaun taun belum juga dikaruniai keturunan.
air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya jatuh membasahi pipi ketika melihat suami dan madunya begitu mesra. Dinda mengelus perut berharap allah memberikan dia jabang bayi tumbuh di rahimnya agar dia bisa memberikan kebahagiaan untuk hendra dan keluarganya.
karena tak ingin larut dalam kesedihan, Dinda memutuskan untuk pergi ke dokter kandungan untuk memeriksa rahimnya, Dinda berjalan ke kamarnya untuk mengambil tas. lalu pamit kepada Hendra yang masih berada di dapur.
''mas, aku ijin keluar sebentar ya..'' ujar Dinda kepada Hendra yang sedang duduk bersama Dewi. Hendra langsung menjauh dari Dewi karena takut menyakiti hati Dinda, padahal sedari tadi Dinda memperhatikan mereka
''sore sore gini mau kemana sih sayang..?'' tanya Hendra. Hendra bangkit dari duduknya memegang tangan Dinda
''aku mau beli obat, sekalian mau ke rumah ibu mas..'' jawab Dinda tersenyum menyembunyikan kesedihannya
''mas antar ya..!'' ujar Hendra merasa khawatir
''gak usah mas, mas temenin Dewi aja ya, aku bisa sendiri ko..'' ujar Dinda menolak.
sebelum Hendra berbicara, tangan Dinda sudah menyetop pembicaraan Hendra sembari menggelengkn kepalanya. Dinda tersenyum mencium tangan Hendra lalu berjalan keluar dari rumah itu.
''sayang, tunggu..'' teriak Hendra berlari mengejar Dinda
''mas, mau kemana sih. udah biarin aja..'' ujar Dewi kesal
hendra tidak menghiraukan perkataan dewi, dia tetap mengejar Dinda Karena Hendra merasa sangat khawatir kepada Dinda jika dibiarkan pergi sendiri.
''mas kamu mau kemana..?'' tanya Dinda yang melihat suaminya berlari di belakang nya
''mas mau antar kamu sayang, ayo masuk..'' jawab Hendra membukakan pintu mobil untuk Dinda
"udah di bilangin jangan, tapi masih tetap aja nganterin perempuan kampungan itu, awas aja kamu mas, aku harus cari cara buat singkirkan Dinda dari rumah ini.." batin dewi menggerutu
"gak usah mas, aku gak lama ko, mas temenin Dewi saja ya, kasian Dewi sendirian di rumah.." ujar Dinda tersenyum mengelus pundak suaminya itu
"ya sudah, kamu hati hati ya sayang. awas ya, jangan lama lama.." ujar hendra. dia merasa khawatir membiarkan Dinda pergi sendirian
''iya mas. aku pergi dulu, assalamu'alaikum..'' ujar Dinda mengucap salam
''waalaikumsalam..'' ujar hendra menjawab salam tersenyum
Dinda masuk ke dalam mobil dengan wajah sedih, dinda sengaja melarang Hendra untuk tidak pergi bersama nya karena dia takut Hendra tau kalau dia mau periksa rahimnya. Dinda ikut program hamil karena dia ingin memberi kejutan kepada Hendra setelah dia mengandung anaknya nanti.
ketika Dinda sudah mulai Melajukan mobil, Hendra masuk ke dalam rumah berjalan menuju ruang atas masuk ke kamar dinda, sedangkan Dewi berlenggak lenggok di depan kaca memakai satu persatu baju yang dia beli di mall tadi siang.
perjalanan dari rumah Dinda menuju rumah sakit memerlukan waktu 1 jam, Dinda Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar dia bisa dengan cepat sampai di tujuan. Dinda sudah tidak sabar ingin bertemu dengan dokter kandungan, dia penasaran kenapa dia belum juga dikaruniai keturunan padahal pernikahan nya bersama Hendra sudah menginjak tahun ke 4.
40 menit sudah Dinda menyetir mobil akhirnya dia sampai di rumah sakit permata Husada tempat dimana dulu ayahnya menghembuskan nafas terakhir. Dinda memarkirkan mobilnya lalu masuk ke dalam rumah sakit itu menuju ruangan dokter Risa,
untuk sampai di ruangan dokter Risa, dinda harus melewati kamar demi kamar di rumah sakit itu. tapi dia tidak menyerah, Dengan semangat, Dinda berjalan melewatinya meskipun tubuh sudah mulai lelah dan letih.
...**bersambung...
🌾🌾maaf kalau ceritanya kurang nyambung, harap di maklum karena autornya sudah mulai kehabisan ide😂
🌾🌾ayo bantu like, vote, n comenya agar author lebih semangat 🙏🙏**
....itu pembantunya hendra...suruh peka dikit lah.....jgn oon2 amat....
yg ambilnperhiasan Dinda blum tau emg rumah org kaya gk da cctv