Hal terbodoh yang pernah aku lakukan adalah pernah menjalin hubungan asmara dengan pria yang masih terikat hubungan keluarga, sepupu kedua. Mengapa? karena pertemuan tidak bisa dihindari. Yang lebih menyakitkan karena belum sebulan kami putus, ia sudah memproklamirkan hubungannya dengan perempuan yang masih sepupuku juga. Celakanya lagi, aku tak bisa mengikis perasaanku padanya.
Lalu bagaimana akhir kisah cinta kami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina As, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Biarkanlah Ia Tidur
Adhitama masih berada di atas taxi menuju bandara saat ia mendapat telpon dari kakeknya yang membuatnya sangat terkejut dan murka seketika.
Kakek: Dimana kamu Adit?
Suara Kakeknya terdengar membentak. Adhitama kaget karena Kakeknya jarang marah padanya. Kakeknya selalu berucap dengan lembut pada Adhitama.
Adhitama: Adit di atas taxi Kek, menuju Bandara.
Kakek: Dasar berandal kamu, kenapa kamu hamili Adinda sementara kamu akan menikah dengan Ayudia? Biadap kamu Adit. Kamu ingin menimbulkan kekacauan dalam keluarga?
Adhitama: Apa? Kakek salah paham. Siapa yang bilang Adit menghamili Adinda?
Kakek: Adinda sendiri yang menelpon Kakek. Kamu masih ingin mengelak?
Adhitama: Kakek, bagaimana Adinda bisa hamil sementara Adit tidak pernah tidur dengannya? Demi Tuhan Kek bila Adinda hamil karena Adit.
Kakek: Pokoknya Kakek tidak mau tahu. Kamu selesaikan masalahmu secepatnya.
Sambungan telpon diputus oleh Kakek Sofyan Amin.
Adhitama mencengkeram handphonenya dengan kuat. Ia sangat kesal karena Kakeknya marah padanya bukan karena kesalahannya. Ia tidak habis pikir mengapa Adinda berani berbohong seperti itu. Bagi Adhitama Adinda sudah mempermalukan dirinya.
Adhitama meminta sopir taxi untuk berbalik arah, kembali ke Apartemen Adinda.
Nayla heran menangapa Adhitama masih kembali. "Kok pulang Mas? Terlambat pesawat ya?"
"Tidak, mana kakakmu?"
"Di kamar."
Adhitama segera melangkah ke kamar Adinda. Ia membuka pintu dengan kasar dan mendapati Adinda sedang bersandar pada Headboard ranjang. Begitu melihat pintu dibuka, Adinda menoleh dengan lemah ke arah pintu.
Ia melihat Adhitama melangkah masuk ke kamarnya dengan wajah menahan emosi. Adinda sudah tahu kenapa ia marah. Hanya dua kemungkinan reaksi Adhitama atas telepon Adinda pada Kakek Sofyan Amin, dan Adinda sudah menyiapkan dirinya untuk kedua kemungkinan itu.
Yang pertama, Adhitama akan senang karena pernikahannya dengan Ayudia akan batal, dan tentu saja keluarga akan menikahkan Adhitama dan Adinda karena keluarga menganggap Adinda hamil.
Yang kedua, Ia akan marah. Bila ia marah berarti bukan hanya keluarga yang menjodohkan Adhitama dan Ayudia, tapi Adhitama betul-betul menginginkan pernikahan dengan Ayudia dan hanya berpura-pura sayang pada Adinda.
Dan sepertinya kali ini Adinda harus kembali kecewa, karena Adhitama datang dengan wajah penuh amarah.
"Dinda, apa yang kamu lakukan? kenapa kamu menelpon Kakek seperti itu? Dengan laki-laki mana kamu hamil karena aku tidak pernah merasa pernah menghamili kamu?" Bentak Adhitama dengan penuh marah pada Adinda.
Adinda harus menelan pahitnya ucapan Adhitama. Dengan laki-laki mana kamu hamil? kata-kata yang begitu menyayat. Apakah aku semurah itu? Hanya kamu laki-laki bejat yang pernah melakukannya padaku. Aku tak pernah dekat dengan laki-laki lain selain kamu, pekik batin Adinda.
Adinda bangkit dari ranjang. Berdiri di depan Adhitama yang menatapnya dengan sangat tajam seolah-olah hendak melahapnya.
"Mas, Adinda melakukan itu karena ingin memperjuangkan hubungan kita," ucap Adinda dengan suara parau.
"Tidak adakah cara yang lebih terhormat yang bisa kamu lakukan selain dengan mempermalukan dirimu sendiri dengan berpura-pura hamil? orang hamil karena malunya menyembunyikan kehamilan mereka. Kamu tidak hamil malah bilang hamil, ngaku-ngaku aku yang lagi menghamili kamu. Dimana malumu Adinda? Kamu ingin merusak nama baik saya?" Suara Adhitama semakin lantang.
Kalimat Adhitama kembali lagi menyayat hati yang sudah penuh dengan luka itu. Kali ini Adinda berusaha untuk tegar, tidak ingin terlihat lemah dihadapan Adhitama.
"Katakan bagaimana cara memperjuangkan hubungan dengan cara terhormat? Mengapa Mas Adit tidak melakukan itu? Setidak-tidaknya aku meskipun dengan cara memalukan sudah berusaha memperjuangkan hubungan yang sudah di ujung tanduk ini. Mas Adit tidak akan pernah memperjuangkan hubungan kita karena Mas Adit sendiri yang menginginkan menikah dengan Ayudia. Iya kan Mas, jawab yang jujur?" Suara Adinda bergetar karena ingin terlihat kuat sementara jiwanya rapuh dan air matanya keluar tanpa ia bisa kendalikan.
Adhitama yang masih dikuasai oleh amarah tanpa berpikirpun menjawab dengan suara yang lebih keras dari Adinda, "Iya Adinda, aku yang menginginkan pernikahan dengan Ayudia. Tadi malam kamu tanya aku mencintainya, sekarang aku beritahu kamu, aku mencintainya. Dia tidak cantik dan pintar seperti kamu. Pendidikannya juga tidak setinggi kamu. Tapi dia tidak gila seperti kamu."
Entah sudah berapa luka yang digoreskan Adhitama pada Adinda, namun kalimat terakhir inilah yang meninggalkan luka yang paling dalam. Membuatnya seperti kehabisan oksigen. Bernafaspun susah. Ia tak pernah merasakan perih seperti itu karena Adhitama sudah mengatakan padanya bahwa ia mencintai Ayudia, Adhitama sendiri yang menginginkan pernikahan dan yang paling menyakitkan ia membandingkannya dengan Ayudia dan mengatakan ia gila.
Adinda berusaha untuk tersenyum meskipun getir. Berusaha kuat dan tegar meskipun rapuh.
"Cukup Mas. Adinda sudah dengar itu dari mulut Mas Adit sendiri. Sekarang Adinda ikhlas Mas Adit menikah dengan Ayudia. Pergilah, Semoga Mas Adit bahagia dan tak pernah ingat Dinda lagi. Setelah hari ini, Adinda tidak akan pernah berharap bisa bersama dengan Mas Adit lagi. Pergilah, nikahi Ayudia." Adinda mengatakannya dengan suara dan bibir yang bergetar.
Adinda melepas cincin di jarinya, lalu memberikannya pada Adhitama.
"Ambil ini Mas, berikan pada sepupuku. Cincin ini salah alamat."
Adhitama menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia berbalik melangkah keluar tanpa mengambil cincin itu. Ia mengambil Travel bag dan tasnya lalu ia berpamitan pada Nayla.
"Mas Adit pulang dulu Nay."
Nayla tidak menjawab, sehingga Adhitama memperhatikan wajah Nayla. Ya, Nayla ikut menangis mendengar pertengkaran Adhitama dan Adinda. Ia ikut merasakan perih yang dirasakan Kakaknya.
"Maafkan Mas Adit Nay." Adhitama menghampiri Nayla dan memeluk adik sepupunya itu.
Melihat Nayla menangis ia baru sadar, semua kata-kata yang diucapkannya tadi pada Adinda sangat kasar. Adhitama merutuki kebodohannya yang dikuasai oleh Amarah sehingga kata-kata keluar begitu saja dari mulutnya tanpa terkontrol.
Sayup-sayup dari kamar terdengar suara Adinda memanggil adiknya.
"Nayla, tolong belikan Kakak obat tidur!"
Obat tidur yang tersisa tadi di atas nakas sudah diamankan oleh Adhitama.
"Iya kak, tunggu," jawab Nayla. Nayla hendak beranjak keluar namun tangannya dicekal oleh Adhitama.
"Berhentilah memberi obat tidur pada Kakakmu Nay, kamu tahukan efek sampingnya dan dampaknya bila ia terlalu banyak menggunakan obat tidur?" cegah Adhitama.
Nayla berbalik dan menatap tajam pada Adhitama.
"Mas, apa yang ia rasakan terlalu sakit bagi orang yang sedang sadar. Jadi biarkanlah ia tidur agar ia tak merasakan sakit itu," kata Nayla terisak lalu pergi meninggalkan Adhitama terhenyak mendengar ucapan Nayla.
Adhitama mendekati pintu kamar Adinda, membukanya, namun pintu itu sudah terkuci dari dalam. Ia mengetuknya dan memanggil nama Adinda, namun tak ada jawaban lagi dari Adinda.
"Maafkan Mas Adit Dinda," katanya dengan penuh keyakinan bahwa Adinda mendengar itu.
********
Jangan lupa like, vote dan yang terpenting commentnya. 😘😘😘
yg egois adit , kakaek dan nenem