Tahun 2008, ketika sistem pendidikan di Indonesia masih diwarnai kekerasan, aku seorang anak sederhana dari keluarga sederhana, bermimpi bahwa sebuah sebuah pendidikan dapat mengubah nasibku. Dengan pendidikan aku dapat menjadi apapun.
Aku ingin lulus Fakultas Kedokteran.
Aku ingin lulus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.
Aku ingin mewujudkan impian Ayah, karena Ayah adalah pahlawan separuh nyawaku. Tak ada lagi yang aku inginkan selain mewujudkan impiannya. Senyumnyalah yang pertama kali kulihat karena aku dilahirkan ke dunia. Senyuman harapan kepadaku, anak ajaib pemetik bintang harapannya. Kepadakulah semua harapan Ayah bertumpu. Selama sembilanbelas tahun Ayah menunggu akhirnya aku lulus Fakultas Kedokteran, menjadi calon dokter satu- satunya dalam generasi kami. Aku berhasil mewujudkan impian ayah.
Takdir berkata lain, aku divonis buta warna parsial. Akankah aku mencapai cita- citaku, berhasil memetikkan bintang untuk ayah, pahlawan separuh nyawaku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulil jamil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ishihara 2
“Simpang Surabaya!!”
seru Pak Sopir.
“Semuanya turun disini,” perintah Pak Sopir yang artinya tidak ada lagi hentian setelah ini.
Tempat ini adalah ujung perjalanan Aku dan Ayah, karena bus akan berbalik arah.
Tapi bukankah ini Banda Aceh?. Aku menengok ke luar, dari kaca bus tampak ruko- ruko yang sepi dalam kepekatan subuh. Supir- supir becak dengan turban, karena dingin. Di luar jelas begitu dingin, dingin sebagaimana kota- kota di pesisir
timur Sumatra ketika subuh. Dingin yang menggigilkan badan. Ini Banda Aceh.
Banda Aceh yang bangkit dari hantaman tsunami.
Banda Aceh yang membangun diri dari konflik militer.
Simpang Surabaya perhentian terakhir bus di Banda Aceh. Barangkali dari simpang lima inilah
orang- orang yang ingin pergi jauh dari Banda Aceh, sejauh- jauhnya perjalanan bus sampai ke Surabaya. Begitu aku berpikir alasan mengapa nama Surabaya
terselip di Banda Aceh.
Pukul 5:45 atau 6 kurang 15 menit azan subuh belum lagi berkumandang. Dinginnya udara dini hari membekap daging. Untungnya jaket dan baju tebal melindungi kami. Saat itu Aku dan Ayah turun dari bus menurunkan kopor dan tas kami di pagi yang pekat. Becak- becak motor menghampiri. Aku
melihat wajah- wajah orang di sekitarku. Di Banda Aceh garis wajahnya berbeda dengan Aku dan Ayah. Ada campuran Hadramaut. Kulitnya lebih putih dan ada pula yang lebih gelap. Hidungnya lebih mancung dengan garis alis yang lebih tegas. Badannya lebih besar campuran Arab. Tapi logatnya nyaring, cepat, dan ramah. Bahasa yang digunakan jauh berbeda dengan bahasa melayu. Bahasa Indonesia
menyatukan kami.
“Ho jak?” tanya Sopir Becak Motor.
“Jak Berawe,” jawabku. Aku sudah paham beberapa Kata Aceh dari obrolan penumpang yang aku dengar di bus.
“Beurawe.” ulang Sopir Becak Motor itu memperjelas lafal eu yang berbeda dengan e.
“Iya. Ini alamatnya.” Ayah menyerahkan kertas. Alamat seorang ustazah dari kenalan kami di kampung. Keluarga ustazah itulah yang akan
menampung kami untuk pertama kali di Banda Aceh sampai mengenal kawasan Darussalam dan mencari kos.
Dalam lantunan subuh yang merdu, Aku dan Ayah melaju mengitari kota Banda Aceh. Dari becak motor itu aku melihat bagaimana lengangnya kota ini. Ruko- ruko dan gedung- gedung yang sepi. Tsunami tiga tahun lalu telah membuat kota ini sepi. Sebagian masih menyisakan puing- puing yang belum lagi dibangun. Sepi, mungkin juga karena denyut keramaiannya belum lagi terlihat karena pagi belum datang. Atau pagi memang sedemikian melambat sampai disini.
Tiga tahun lalu masih jelaslah dalam mataku. Dari televisi aku melihat ribuan orang berlari dari kejaran gelombang tsunami, setelah gempa 9 skala Righter melanda. Subuh ini aku melihat di sepanjang jalan masih ada beberapa gedung tua yang rusak, dan lampu- lampu dari toko- toko itu temaram. Kemudian becak motor kami berbelok memasuki gang, kompleks perumahan. Kemudian berhenti di sebuah rumah besar dengan arsitekur melayu. Rumah bangsawan tempo doeloe.
Setelah becak motor tersebut melaju meninggalkan Aku dan Ayah. Kami terpaku di depan rumah itu.
Jalan dan nomor rumah tersebut telah sesuai dengan kertas yang ada di tangan kami. Aku dan ayah berpandangan, kebetulan pintu pagar tidak dikunci. Kembali aku dan ayah berpandangan.
“Bismillah…” Kami masuk, menyeret kopor dan menenteng tas besar sampai di beranda rumah itu.
Pintu rumah itu belum terbuka juga. Ingin Aku dan Ayah berteriak, mengucapkan salam yang keras karena begitu kebiasaan di kampung kami.
“Tunggu dulu Yah.” Aku menahan Ayah agar tidak mengucapkan salam. Aku melihat sebuah benda di dinding, mirip dengan sakelar lampu. Aku maju dan akan menekan tombol itu, bel. Tapi sebelum
aku menekan bel, pintu utama rumah itu berderit. Gagangnya berputar, pintu terbuka. Seorang perempuan memakai mukenah putih muncul di hadapan kami.
Perempuan itu tersenyum ramah dengan wajah yang putih dan beraut turki.
“Saleummualiakum.” Perempuan itu merapatkan kedua telapak tangannya tinggi ke depan. Bentuk salam hormat tapi bukan sembah.
“Salamualaikum Bu,”
jawab Aku dan juga Ayah.
“Seulamat datang di Banda.”
“Terimakasih banyak.”
“Inikah yang lulus kedokteran?” Tanya Ibu itu.
“Iya Bu, kami yang dari Riau”
“Silahkan masuk.”
***
kenapa aku baru ketemu cerita sebagus ini..
sayangnya yg ngeLIKE sedikit sekali..
baru mampir,baru nemu,baru beberapa chapt udah byk edukasi yg didapat
Saya selalu kagum dengan cara penyampaian Anda.
buka bab awal langsung suka
karena di suguhin sama puisi..
lanjut baca... suka sama karyamu kak...
baru awal udah d gambarin gimana perjuangan seorang ayah buat anaknya...
bakal lanjut bca lagi... 😊
tetep semangat kak buat karya2nya.. 🤗
Mampir novel saya yg masih belajar nulis ya kak IT'S HARD TO LOVE YOU,, good luck
tapi tidak ada kata terlambat,tetap kisah ini membuat saya bersyukur sebagai penyandang buta warna parsial.
karena kekurangan yg d miliki seseorang bukanlah jeruji yg mengurung keterbatasan.
setidaknya dg segala kemauan pasti ada jalan.
terimakasih telah menyuguhkan cerita ini authoooooorr semoga sukses!!!