Arabella Elisa Jodie, gadis tomboy dengan segudang keahlian, pandai beladiri dan menyukai kebebasan. Memiliki beberapa sahabat pria yang sudah akrab dengannya sejak bertahun lamanya.
Bagaimana bila tiba-tiba Ara harus terpaksa menjadi seorang istri?
Istri dari tuan muda tampan yang sejak kecil sudah memiliki kehidupan berkelas.
"Apa dia wanita?" (Dilano Danuarta)
"Dia terlalu mulus untuk ukuran seorang pria matang." (Ara)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azra ziya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tegang
Menjengkelkan. Tangan yang melingkar erat di pinggangnya kini membuat dia kesulitan tidur. Beberapa kali Lano mencoba menyingkirkan tangan tak tau malu itu, tapi tetap saja Ara betah menempelkan tangannya di sana. Mencari kenyamanan seolah Lano adalah guling beraroma wangi yang sangat menghangatkan.
Bahkan wajah gadis tomboy itu ikut menempel di punggung bidang milik Lano yang masih tetap dengan posisi yang sama. Lano selalu tidur dengan memunggungi gadis itu. Dia tidak ingin terjadi sesuatu di luar kendalinya, dengan cara itu dia membatasi diri.
Namun sepertinya Ara mulai memberi lampu hijau padanya. Entah sadar atau tidak, gadis itu nampaknya bermaksud mengusik singa yang kelaparan.
Lano membuang napas perlahan sebelum akhirnya memberanikan diri untuk membalikkan badannya. Menghadap sang penggoda iman.
Sepertinya Lano benar-benar sudah tak mampu lagi mengendalikan hasrat terpendamnya selama ini.
Jantung laki-laki itu berpacu dengan cepat, wajahnya dengan wajah sang istri kini hanya berjarak tipis, setipis ATM.
Apa aku boleh melakukannya? Apa dia akan marah jika aku melakukannya?
Lano menyentuh dahi, kelopak mata Ara yang masih terpejam, hidung yang tidak terlalu mancung dan tidak terlalu pesek. Ukuran yang begitu pas di wajah mungil gadis berkulit putih itu, hingga sekarang jari telunjuk pria tampan dan kaya raya tersebut terhenti di bibir merah alami Arabella.
Kecupan penuh kelembutan sukses mendarat di bibir sang istri. Sangat pelan tetapi lama-kelamaan terasa semakin kian menuntut.
Lano berhenti tiba-tiba. Ia tersadar akan kelakuan gilanya. Laki-laki itu menelan ludah lalu membalikkan badannya kembali. Memunggungi sang istri. Merutuki tingkahnya sendiri.
"Kenapa berhenti?" Suara serak itu membuat Lano terkejut.
Ara mengubah posisinya. Kini ia duduk bersila di atas ranjang kamarnya. Ternyata gadis itu menyadari perlakuan suaminya tadi.
"Kamu sadar? Kenapa tidak marah?" Lano ikut duduk.
"Kenapa harus marah? Menurutku itu lumayan enak." Ara berucap santai. Tidak merasa dirugikan.
"Apa kamu memang gadis seperti ini? Selalu membuat orang lain salah paham?" Lano mengerutkan dahi.
"Aku memang tipe yang selalu berpikiran sederhana. Aku akan melakukan apa yang aku suka. Mendapatkan semua hal yang ada di dekatku jika aku menginginkannya. Dan melepaskan bila aku tidak membutuhkannya lagi."
"Semudah itu?"
"Kenapa harus memilih yang sulit jika ada yang lebih mudah?"
"Baiklah, apa kamu menginginkan suamimu malam ini?" Lano melipat tangannya di depan dada.
"Semua wanita tentu akan tergoda padamu. Apa Kakak masih belum sadar?"
"Cinta dan nafsu itu beda, Ara." Lano kembali berbaring, sepertinya Ara masih belum bisa mengerti apa yang ia rasakan pada Lano saat ini.
"Baiklah, anggap saja aku tidak tau apapun. Tapi bukankah aku bisa mencobanya?"
Satu tarikan dari Arabella sukses membuat tubuh Lano mendekat.
"Apa yang kamu inginkan, Ara?!" Lano menaikan sedikit nada suaranya.
"Menikmati ciptaan sempurna yang ada di depan mata."
Ara menyerang lebih dulu. Menikmati wajah tampan itu sampai puas. Tidak ada kesempatan untuk Lano melawan. Kini wajahnya sudah basah karena serangan sang istri.
Ara semakin menggila, gadis itu bersusah payah membuat tanda kepemilikannya di leher mulus sang suami. Bahkan tangan gadis itu sudah berkeliaran kemana-mana.
"Ara, jangan!" Lano mencoba meraih tangan liar itu dari dalam kaosnya.
"Kakak tidak suka?" Nada kecewa.
"Tidak, bukan ... apa kamu tidak akan menyesal nantinya?"
"Kenapa harus menyesal?" Ara melanjutkan aktivitasnya kembali. Menggeray*ngi tubuh menggoda Lano yang kini sudah tak berdaya dibuatnya.
Ara tersenyum lebar saat ia sudah berhasil membuka paksa baju suaminya. Gadis itu berseringai di atas tubuh dengan otot-otot aduhai.
Mata Ara berbinar. Ia seperti pejalan kaki yang kehausan diteriknya matahari siang hari, dan tiba-tiba mendapatkan tawaran segelas jus segar oleh seseorang yang baik hati.
Tentu saja tidak Ara sia-siakan begitu saja. Untuk apa memikirkan gengsi? Jika sebenarnya dia memang sedang membutuhkan itu?
"Kakak, aku menginginkan itu." Permintaan yang langsung diiyakan Lano.
Mendapat persetujuan dari Lano, membuat Ara semakin bersemangat. Sikap agresif gadis itu mulai mendominasi. Sekujur tubuhnya tak mampu lagi menahan nafsunya yang menggebu.
Namun tiba-tiba suara ponsel berdering membuat Ara tersadar. Ara membuka mata lebar-lebar. Tatapan gadis itu langsung terarah pada pria di sebelahnya. Pria yang masih tidur dengan memunggunginya.
Ara mengerjap mata berkali-kali sebelum akhirnya sadar, bahwa serangan menggilanya pada Lano barusan hanya mimpi. Mimpi yang membuat guling di dekapannya basah. Basah karena air yang keluar dari sudut bibirnya.
iiuuhh ... apa yang baru saja aku mimpikan?
Ara frustasi. Ia melempar guling itu ke sembarang tempat. Mengacak-acak rambutnya serta mengetuk kepalanya.
Kenapa ia bisa bermimpi liar seperti tadi?
"Angkat telepon itu, Ara! berisik." Lano menutup telinga dengan tangannya. Tidur nyenyaknya terganggu.
"Hmmm," jawab Ara malas.
Ara segera meraih ponsel di atas nakas. mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. Baim yang menelpon.
Bola mata Ara melebar sempurna.
"Aku akan segera kesana, tunggu aku!"
Ara melempar ponselnya begitu saja ke atas tempat tidur.
Lano yang melihat Ara berlarian kesana kemari di dalam kamar ikut terbangun. Pria itu menyalakan lampu.
"Ada apa, Ara? Kenapa kamu tergesa-gesa?"
Ara memakai celana panjang dengan cepat. Melapisi baju kaosnya dengan hoodie warna maroonnya.
"Aku akan ke rumah sakit sekarang." Katanya di sela-sela kegiatannya berganti pakaian.
"Siapa yang sakit? Ini sudah malam Ara."
"Aku tidak peduli, yang pasti aku harus ke rumah sakit sekarang juga." Ara mengambil kunci motornya lalu berlari cepat keluar dari kamar.
Lano mengikuti langkah gadis itu dari belakang. "Biar aku menemanimu Ara, ini sudah malam. Sebaiknya naik mobil saja. Jangan naik motor!"
"Sebaiknya Kakak jangan ikut campur!" Ara membalikkan badan.
"Aku hanya memberi saran, Ara. Ini sudah malam dan ..."
"Apa kamu bisa diam?! Jangan pernah melarangku, mengerti?!" ucap Ara tegas.
"Ara! jaga ucapan kamu!" suara Boy memecahkan suasana tegang malam itu. Mendengar keributan di luar kamar membuat Boy yang memang sering terjaga, keluar dari dalam kamar.
"Apa yang salah dengan ucapanku?" Ara kehilangan kesabaran.
"Jangan pernah menaikan nada suara di depan suamimu!" ujar Boy.
"Jangan membuatku semakin membenci pernikahan ini, Pa!" Ara terbawa emosi. Ia benar-benar sudah malas jika harus terus menerus disalahkan.
Lano menoleh Ara. Berdesir dadanya. Ngilu, saat Ara mengatakan membenci pernikahan mereka.
"Apa maksudmu, Ara?!" Boy tak kalah emosi mendengar kata-kata putrinya.
"Jika kalian masih bertingkah seolah bisa membatasi gerakanku karena pernikahan terpaksa ini, kalian salah!" Ara menatap Lano dan Boy bergantian.
"Pernikahan terpaksa?" Boy berjalan mendekati anak dan menantunya di dekat tangga. Ia ikut terbawa emosi mendengar ucapan sang putri.
"Jangan membuat Ara membeberkan semua bukti kebohongan Papa dan bos Papa tentang pernikahan ini. Ara sudah menutup mata tadinya, tapi jika kalian masih tetap mengatur, maka aku tidak akan tinggal diam."
Lano menjadi serba salah. Pria itu tidak menyangka bahwa Ara menjadi emosi hanya karena niat baiknya untuk menemani gadis itu pergi.
"Ara hentikan! Aku tidak akan melarangmu, pergilah!" Lano masuk kembali ke dalam kamar setelah akhirnya memberi Ara izin. Sepertinya ketegangan akan semakin bertambah jika ia terus berada di sana.
Ara bergegas pergi. Ia tak peduli pada apapun setelah itu, yang ada di pikiran gadis itu sekarang hanyalah keadaan Bara di rumah sakit.
Kabar kecelakaan Bara yang ia dapat dari Baim barusan, membuat Ara tidak bisa berpikiran jernih.
Semoga kamu baik-baik saja Bara.
Bersambung ...
***
Jangan lupa jempol kalian untuk menghargai karya Author (Senyum ramah dari Othor)^^