NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:363
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persekutuan Tiga Puluh Persen

"Kau bilang pemadaman listrik itu akan memberimu cukup waktu untuk menghapus seluruh jejak transaksi dari server pusat, Devan!" bentak Surya, suaranya berat dan mengintimidasi. "Sekarang Shanum sudah memegang seluruh berkas audit fisik! Jika besok pagi dokumen itu sampai ke tangan penyidik polisi, seluruh jaringan perusahaan cangkang kita akan terseret!"

Devan yang duduk di seberang meja tidak menunjukkan kepanikan. Mantan Wakil CEO Al-Maktoum Group itu justru menyesap minumannya santai, menyilangkan kaki dengan senyum tipis yang penuh intrik.

"Tenanglah, Pak Surya. Shanum memang pintar, tapi dia terlalu naif," ujar Devan dengan nada dingin. "Dia berpikir bukti cetak itu adalah kartu as yang bisa langsung menjebloskan kita ke penjara. Padahal, dunia hukum tidak berjalan seideal pikiran wanita muda itu."

Surya memicingkan matanya. "Jangan berbelit-belit. Apa rencanamu?"

"Jika Shanum nekat menyerahkan berkas audit itu ke kepolisian besok pagi, kita tidak akan lari. Kita lawan mereka dengan senjata yang sama," Devan mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapannya berkilat licik. "Saya sudah menyiapkan skenario tandingan. Kita bentrokkan tim hukum Al-Maktoum dengan gugatan rekayasa. Kita keluarkan dokumen tandingan yang menyatakan bahwa empat puluh miliar itu adalah dana investasi resmi yang disetujui oleh direksi lama, dan Shanum-lah yang memalsukan laporan untuk menjatuhkan nama baik saya."

"Apakah oknum di kepolisian dan kejaksaan bisa mengamankan narasi itu?" tanya Surya mulai tertarik.

"Tentu saja," kekeh Devan pelan. "Dengan jaringan dan pengaruh yang Anda miliki, menyuntikkan sedikit 'pelicin' pada oknum pejabat hukum bukan hal sulit. Kita akan ulur proses penyidikan di kepolisian. Kita ciptakan opini publik bahwa Al-Maktoum Group sedang mengalami konflik internal yang tak berujung. Begitu laporan itu tertahan dalam status sengketa perdata, bukti audit Shanum tidak akan memiliki kekuatan hukum untuk menyentuh kita."

Surya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Kemarahannya perlahan mereda, berganti dengan kalkulasi politik yang rumit di dalam kepalanya.

Tujuan utama Surya mengacak-acak Al-Maktoum Group sebenarnya sangat sederhana namun krusial: uang dan kekuasaan. Biaya pencalonan dirinya sebagai Walikota dalam pilkada mendatang melambung tinggi di luar perkiraan. Politik uang untuk mengamankan dukungan partai, biaya kampanye media, hingga dana suap untuk memuluskan perizinan membutuhkan likuiditas tunai dalam jumlah raksasa.

Perusahaan resmi milik Surya sendiri sedang dalam pengawasan ketat akibat gagal bayar hutang. Satu-satunya jalan keluar tercepat adalah menyedot dana segar dari brankas Al-Maktoum Group—perusahaan raksasa yang kaya akan aset likuid. Selain mendapatkan dana logistik pilkada, melumpuhkan Al-Maktoum Group secara bersamaan akan memotong sokongan dana finansial yang biasa dialirkan keluarga itu kepada rival politik Surya.

"Taktik hukummu cukup cerdik, Devan," aku Surya seraya mengusap dagunya. "Tapi aku tidak mau ada celah. Begitu aku memenangkan kursi Walikota, aku ingin Al-Maktoum Group sepenuhnya runtuh dan asetnya dilelang murah."

"Dan di sinilah kesepakatan kita berakar, Pak Surya," sela Devan cepat. Ia mengeluarkan satu map hitam dan menggesernya ke hadapan Surya. "Saya akan mengeksekusi seluruh rencana ini, mengatasi tim hukum Shanum, dan menyerahkan sisa data navigasi serta celah operasional perusahaan pada Anda. Namun, saya minta jaminan tertulis."

"Jaminan apa?"

"Tiga puluh persen saham Al-Maktoum Group yang nantinya berhasil Anda sita dan kuasai secara ilegal, beserta posisi Direktur Utama untuk saya," tegas Devan tanpa keraguan. "Tanpa bagian tiga puluh persen itu, saya tidak akan mempertaruhkan leher saya untuk menghadapi Shanum dan pengawal barunya."

Surya menatap map hitam itu sejenak, lalu tertawa berderai—sebuah tawa dingin yang sarat kepalsuan. "Tiga puluh persen? Kau sangat serakah, Devan. Tapi aku menyukai pria yang tahu harga dirinya. Baik, kesepakatan diterima. Lumpuhkan tim hukum Shanum besok, dan porsi saham itu jadi milikmu."

Sementara itu, beberapa puluh kilometer dari vila tersebut, gerimis tipis menyiram kediaman milik keluarga Al-Maktoum. Bangunan dua lantai berarsitektur klasik itu berdiri tersembunyi di balik benteng beton yang tinggi, dikelilingi pepohonan rimbun yang menambah kesunyian malam.

Di lantai dua, Shanum sudah terlelap di kamar utamanya setelah mengunci seluruh pintu dan jendela. Kelelahan fisik dan mental yang menguras tenaganya sepanjang hari akhirnya memaksa tubuh wanita itu untuk beristirahat.

Di teras luar lantai dasar, Aran berdiri tegap menembus dinginnya angin malam. Seragam taktis gelapnya agak basah oleh embun dan rintik hujan. Matanya tak berhenti memindai sudut-sudut kegelapan di balik pagar luar, memperhatikan setiap bayangan dan dedaunan yang bergoyang.

Langkah kaki yang teratur terdengar mendekat dari arah lorong samping. Aran tidak memalingkan kepala, namun tubuhnya tetap siaga.

Baskara muncul dengan mengapit dua cangkir keramik yang menyebarkan aroma kopi hitam segar. Pria paruh baya berbadan tegap itu menghentikan langkah di samping Aran, lalu menyodorkan salah satu cangkir.

"Minumlah. Udara malam ini cukup menusuk," ujar Baskara, suaranya tenang tanpa nada ketegangan seperti tadi sore.

Aran menoleh sejenak, menatap cangkir kopi itu sebelum menerimanya dengan sopan. "Terima kasih, Pak Baskara."

Baskara menyesap kopinya perlahan, matanya ikut menatap lurus ke arah halaman depan yang diguyur gerimis. "Aku sudah memeriksa seluruh sensor perimeter dan kamera pengawas. Tim luar sudah menempati pos masing-masing. Tempat ini aman."

"Ancaman terbesar kita saat ini bukan cuma serbuan fisik, Pak," sahut Aran datar, memegang cangkir hangat itu dengan kedua tangannya. "Surya Wijaya dan Devan adalah tipe musuh yang berdarah dingin. Jika serangan di gedung tadi sore gagal, mereka akan memakai cara licik lain—bisa lewat hukum, atau serangan mendadak di jalanan saat Shanum lengah."

Baskara mengangguk pelan. Ada helaan napas berat yang keluar dari mulutnya. "Jujur saja, Aran... saat pertama kali mengetahui latar belakangmu dari berkas intelijen lama, aku sangat menentang keberadaanmu di sisi Shanum. Nama Viper-1 terlalu identik dengan pertumpahan darah."

Aran diam mendengarkan, tidak berusaha membela diri atau memotong ucapan pimpinan keamanan keluarga Al-Maktoum itu.

"Tapi malam ini," lanjut Baskara seraya membalikkan badan menatap Aran lurus-lurus, "aku melihat sendiri bagaimana caramu berdiri di depan Shanum, bagaimana caramu menganalisis musuh tanpa mengedepankan emosi. Kamu tidak bertindak seperti pembunuh bayaran. Kamu bertindak seperti seorang pelindung sejati."

Aran menurunkan cangkir kopinya sedikit, menatap Baskara dengan ketulusan yang mendalam. "Saya sudah meninggalkan masa lalu itu di lumpur masa lalu saya, Pak Baskara. Hidup saya yang baru dimulai saat Mubin menyelamatkan saya dan membawa saya ke pesantren. Di sana saya belajar bahwa kekuatan yang saya miliki tidak lagi untuk mencabut nyawa, tapi untuk melindungi mereka yang membutuhkan."

Baskara tersenyum tipis—sebuah senyuman langka dari pria yang biasanya kaku dan tegas itu. Ia menepuk bahu Aran dengan kokoh.

"Maafkan prasangkaku sebelumnya, Aran," ucap Baskara tulus. "Mulai malam ini, kita bagi tugas. Aku dan tim utama akan fokus mengamankan jalur hukum, mengawal berkas audit ke kepolisian, dan menjaga benteng perusahaan. Sementara kamu... fokus sepenuhnya pada keselamatan fisik Shanum. Jangan biarkan siapapun menyentuh sehelai rambutnya."

Aran menjabat tangan Baskara yang terulur, memberikan genggaman mantap penuh janji profesional. "Selama napas saya masih berhembus, Shanum akan selalu aman."

Di bawah rintik hujan yang tak kunjung reda dan kegelapan malam yang menyelimuti kota, dua pria dari dunia yang berbeda itu telah menyatukan tekad. Di satu sisi, badai konspirasi hukum dan politik sedang disiapkan oleh Surya Wijaya dan Devan. Namun di sisi lain, sebuah tembok pertahanan yang tak tertembus telah berdiri kokoh untuk melindungi Shanum Al-Maktoum.

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!