Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.
Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.
Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 PERTEMUAN DI DALAM GELAP DAN KEBANGKITAN KAISAR
Lin Mo melangkah menyusuri jalan batu yang curam dan gelap yang menurun jauh ke bawah tanah. Cahaya ungu keemasan yang memancar dari tubuhnya menjadi satu-satunya penerang di sepanjang lorong yang suram dan lembap itu. Dinding-dinding batu di sisinya tertutup lumut tebal dan berair. Suara tetesan air terdengar berulang kali memecah keheningan yang menyelimuti tempat itu. Semakin jauh ia melangkah, semakin terasa hawa dingin yang menusuk tulang serta hawa kesedihan dan keputusasaan yang mendalam seakan menembus kulit dan meresap hingga ke sumsum tulang. Chen Yu mengikuti di belakangnya dengan langkah yang tetap namun terasa berat karena luka yang baru saja dideritanya. Namun ia tak akan pernah berhenti melanggar walau nyawanya taruhannya sekalipun.
Di dalam dadanya, energi qi Lin Mo berdenyut lembut namun semakin cepat semakin dalam ia melangkah. Seakan ada sesuatu yang memanggilnya dari ujung lorong yang gelap itu. Sesuatu yang berhubungan erat dengan darah yang mengalir di dalam nadinya sendiri. Sesekali Lin Mo berhenti melangkah dan menatap ke depan dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya berdebar kencang tak karuan. Apakah yang dikatakan penguasa itu benar? Apakah ayahnya masih hidup dan terpenjara di tempat yang begitu gelap dan jauh ini?
Setelah berjalan cukup lama menuruni lorong yang tampak tak berujung itu, akhirnya Lin Mo tiba di sebuah ruangan batu yang luas dan tinggi. Di tengah ruangan itu berdiri sebuah sangkar batu yang besar dan kokoh yang terbuat dari batu hitam yang tak dapat dirusak oleh senjata apa pun. Cahaya redup yang lemah dan hampir tak terlihat berdenyut samar dari dalam sangkar itu. Di sana, terbaring seorang pria yang rambut dan janggutnya telah memutih seluruhnya meskipun wajahnya masih tampak gagah dan berwibawa. Pria itu mengenakan pakaian kekaisaran yang dulunya megah namun kini sudah lusuh dan penuh debu. Tubuhnya tampak lemah dan kurus kering seakan tak memiliki tenaga sedikit pun. Namun sepasang matanya yang tertutup rapat itu tetap memancarkan kelembutan dan ketenangan yang luar biasa.
Lin Mo berdiri terpaku diam di tempat. Kakinya terasa berat tak mampu melangkah maju walau selangkah pun. Air mata perlahan mengalir membasahi pipinya yang tampak gemetar hebat. Di hadapannya itulah ayahnya. Kaisar Agung yang dulu dicintai dan dihormati seluruh rakyat. Yang kini terbaring lemah dan menderita di dalam penjara bawah tanah yang gelap gulita ini. Selama bertahun-tahun ia menanggung rindu dan keinginan yang tak terhingga untuk bertemu. Namun saat pertemuan itu akhirnya tiba, hatinya justru terasa perih dan sakit seakan tercabik-cabik berkali-kali lipat.
"Ayah..."
Kata itu keluar perlahan dari mulut Lin Mo dengan suara yang bergetar hebat dan terdengar begitu lembut namun penuh rindu yang tak terhingga. Pria yang terbaring di dalam sangkar batu itu perlahan membuka matanya yang jernih namun sayu. Ia menatap ke arah sumber suara itu dengan pandangan yang perlahan berubah dari bingung menjadi takjub dan kemudian penuh air mata yang mengalir deras di pipinya yang keriput dan pucat. Pria itu berusaha bangkit berdiri namun tubuhnya terlalu lemah dan kembali jatuh berlutut di lantai batu yang dingin.
"Apakah... aku bermimpi... atau aku sudah tiada dan berada di alam baka... Kau tampak persis sekali... seperti diriku saat masih muda dulu... Wajahmu... matamu... semuanya..."
Lin Mo melangkah maju hingga berdiri tepat di depan dinding batu sangkar itu. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di permukaan batu hitam yang dingin dan berembun itu. Cahaya ungu keemasan yang terang benderang seketika meluncur keluar dari kedua telapak tangannya menyelimuti seluruh sangkar batu yang kokoh itu. Retakan halus perlahan muncul menyebar ke seluruh permukaan batu hitam yang dianggap tak dapat dirusak itu. Dengan suara lembut namun penuh kekuatan yang tak tertandingi, sangkar batu itu pecah berhamburan menjadi serpihan kecil yang jatuh berderai di lantai.
Lin Mo melangkah masuk ke dalam dan berjongkok di hadapan ayahnya yang tertegun diam tak mampu berkata-kata. Ia menatap wajah ayahnya lekat-lekat sambil menyeka air mata yang terus mengalir di pipi pria itu. Cahaya ungu keemasan yang hangat dan lembut meluncur perlahan dari telapak tangannya menyentuh dada ayahnya. Energi qi murni yang mengalir masuk ke dalam tubuh ayahnya seketika memulihkan luka-luka dalam yang dideritanya selama bertahun-tahun dalam penjara. Tubuh yang terasa lemah dan nyeri perlahan kembali kuat dan segar. Rambut yang memutih perlahan berubah kembali menjadi hitam berkilauan. Wajah yang keriput dan pucat perlahan kembali tampak muda dan bugar penuh wibawa yang agung.
"Ayah... Ini bukan mimpi... Aku Lin Mo... Putramu... yang selama ini kau kira telah tewas bersama Ibu..."
Lin Mo berbicara dengan suara yang penuh rindu dan kasih sayang yang tak terhingga. Kaisar Agung menatap wajah putranya lekat-lekat seakan tak ingin melepaskan pandangannya walau sesaat pun. Ia mengulurkan tangan yang kini kembali kuat dan hangat menyentuh pipi putranya dengan lembut dan penuh kasih sayang yang mendalam. Air mata bahagia terus mengalir dari matanya yang jernih dan bersinar kembali.
"Lin Mo... Putraku... Kau masih hidup... Syukurlah... Kau masih hidup... Selama bertahun-tahun... doa dan harapanku tak pernah putus... Bahwa kau masih hidup di suatu tempat... dan suatu hari nanti kau akan kembali..."
Kaisar Agung memeluk putranya dengan erat seakan takut jika dilepaskan putranya akan hilang kembali seperti kabut pagi. Lin Mo memeluk ayahnya erat dengan mata yang basah namun hatinya penuh dengan kebahagiaan dan kelegaan yang tak terhingga. Selama ini ia merasa sendirian di dunia ini. Namun kini ia menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar sendirian. Karena kasih sayang dan doa kedua orang tuanya selalu menyertainya ke mana pun ia melanggar.
Setelah cukup lama berpelukan dalam kebahagiaan yang tak terlukiskan itu, Kaisar Agung melepaskan pelukannya perlahan. Ia menatap putranya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan yang penuh kebanggaan sekaligus rasa takjub yang mendalam. Ia melihat wibawa yang luar biasa besar memancar dari tubuh putranya. Cahaya ungu keemasan yang samar namun murni dan kuat berdenyut lembut di sekujur tubuhnya. Dan di pinggang kirinya tergantung sebilah pedang emas yang memancarkan aura keagungan yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
"Kau telah tumbuh menjadi pria yang begitu gagah dan begitu kuat... Kekuatan yang mengalir di dalam tubuhmu... adalah kekuatan yang murni dan agung... Bahkan saat aku masih di puncak kekuasaanku dulu... aku pun tak pernah memiliki kekuatan yang begitu murni dan begitu dahsyat..."
Lin Mo tersenyum lembut kepada ayahnya lalu menceritakan segala hal yang dialaminya sejak masih bayi hingga saat ini. Tentang bagaimana ia disembunyikan dan dibesarkan oleh hamba-hamba setia ayahnya. Tentang bagaimana kekuatan darah keturunannya perlahan terbangun dan akhirnya sepenuhnya terbentuk. Tentang pertemuannya dengan Chen Yu dan persaudaraan yang terjalin di antara mereka. Tentang penemuannya di Kuil Awan Putih dan pedang Naga Surgawi yang kini menjadi miliknya. Dan terakhir tentang apa yang baru saja terjadi di Istana Terlarang dan pengakuan penguasa yang telah merampas takhta ayahnya itu.
Kaisar Agung mendengarkan cerita putranya dengan penuh perhatian. Sesekali ia menghela napas panjang atau menitihkan air mata mendengar penderitaan yang dialami putranya selama bertahun-tahun. Namun semakin lama ia mendengarkan, semakin dalam rasa bangga yang tumbuh di hatinya. Putranya tidak hanya kembali membawa kekuatan yang dahsyat. Ia kembali membawa kebaikan hati, kebijaksanaan, dan keberanian yang jauh melampaui dirinya sendiri di masa lalu.
"Saudaramu yang setia itu... di mana dia?" Kaisar Agung bertanya tiba-tiba sambil menatap ke arah pintu ruangan batu itu. Lin Mo menoleh dan melihat Chen Yu berdiri dengan sopan di ambang pintu sambil menundukkan kepala penuh hormat. Lin Mo segera memberi isyarat agar Chen Yu mendekat. Chen Yu pun melangkah maju dan berlutut di hadapan Kaisar Agung dengan penuh rasa hormat.
"Hamba Chen Yu... menyambut Yang Mulia Kaisar... Semoga Yang Mulia panjang umur dan berkuasa lama..."
Kaisar Agung tersenyum ramah dan mengulurkan tangan mengangkat bahu Chen Yu agar bangkit berdiri. Ia menatap Chen Yu dengan pandangan yang lembut dan penuh penghargaan.
"Bangkitlah... anak yang baik... Kau setia kepada saudaraku... dan kau bersedia menumpahkan nyawamu demi membantunya... Mulia sekali hatimu... Sejak hari ini... engkau pun dianggap sebagai anakku sendiri... dan tempatmu akan selalu ada di sisi putraku..."
Chen Yu menahan haru dan kembali membungkuk penuh hormat. Lin Mo menatap saudaranya dan tersenyum tulus bahagia.
Kaisar Agung kemudian menatap ke arah atas seakan menembus langit-langit batu yang tebal itu menuju istana yang megah namun gelap di atas sana. Wajahnya perlahan berubah menjadi tegas dan berwibawa. Cahaya ungu keemasan yang samar namun murni perlahan mulai bersinar dari tubuhnya pula. Kekuatan yang selama ini terkuras dan diserap paksa perlahan kembali mengalir masuk menyatu dengan darah keturunan yang mengalir di dalam tubuhnya.
"Adikku... yang aku asuh dan aku percaya... telah mengkhianatiku... Ia membunuh Ibu Surimu... dan memenjarakanku di tempat yang gelap ini... Ia mengira dengan melakukan itu... ia akan dapat merampas segala yang menjadi milikku... Namun ia lupa... bahwa takhta dan kekuatan ini bukanlah milik siapa pun untuk dirampas... Kekuatan ini hanya akan menyatu dengan mereka yang memiliki darah keturunan paling murni dan hati yang paling lurus..."
Kaisar Agung berbalik menatap putranya dengan pandangan yang penuh kasih sayang sekaligus penuh harapan yang tak terhingga. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Lin Mo dengan lembut namun tegas.
"Lin Mo... Putraku... Takhta ini... dan seluruh kekaisaran ini... adalah milikmu... Darahmu yang mengalir di dalam nadimu adalah bukti yang tak dapat disangkal... Cahayamu yang bersinar terang adalah tanda bahwa langit telah memilihmu... Bukan untuk memerintah dengan kekuasaan semata... melainkan untuk melindungi rakyat... menegakkan keadilan... dan membawa kedamaian yang abadi bagi seluruh rakyat di bawah langit..."
Lin Mo menatap mata ayahnya yang jernih dan dalam. Ia berlutut perlahan di hadapan ayahnya dan menundukkan kepala penuh ketundukan dan kesetiaan. Cahaya ungu keemasan dari tubuhnya menyala terang benderang seakan menyepakati janji yang diucapkannya dengan suara yang tegas dan tulus.
"Aku berjanji... Ayah... Aku akan meluruskan segala yang bengkok... Aku akan membersihkan kebusukan yang merajalela... Dan aku akan memulihkan kedamaian dan kemakmuran yang dulu pernah ada... Selama napas ini masih berhembus... tak akan ada rakyat yang tertindas di bawah kekuasaanku..."
Kaisar Agung mengangkat kepala putranya dengan penuh kasih sayang. Ia menatap ke arah pintu keluar ruangan batu itu dan berkata dengan suara yang lantang dan penuh wibawa yang mengguncang seluruh ruangan.
"Maka marilah kita naik... Cahaya telah menyingsing... dan kegelapan harus segera lenyap... Saatnya bagi cahaya kebenaran kembali menyinari tanah yang gelap ini..."
Mereka bertiga pun melangkah berdampingan keluar dari penjara bawah tanah yang gelap itu. Cahaya ungu keemasan yang menyala terang benderang dari tubuh ayah dan anak itu menerangi seluruh lorong yang suram hingga menjadi terang benderang bagaikan siang hari. Langkah kaki mereka tegak dan mantap menuju ke atas. Menuju istana yang megah. Menuju hari pembalasan dan kebangkitan yang telah lama ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat yang tertindas.