**Tiga tahun Arunika mengorbankan segalanya demi cinta—memutus hubungan dengan keluarga konglomeratnya sendiri demi menikahi Damar Notonegoro, pria dingin yang tak pernah benar-benar melihatnya.**
Sampai di pesta ulang tahun sang Eyang, ipar yang sedang hamil terjatuh ke kolam, dan Arunika dituduh sebagai pelakunya. Di depan seluruh keluarga besar, ia dipaksa bersimpuh minta maaf, dihina, dibiarkan berlutut semalaman di tengah hujan—dan Damar, suaminya, tak sedikit pun membelanya.
Malam itu Arunika berhenti menangis. *"Aku mau cerai. Tidak sepeser pun harta Notonegoro yang kuminta."*
Yang tak mereka tahu: perempuan yang mereka injak-injak ini adalah **putri Keluarga Prawira**—pewaris kerajaan bisnis triliunan. Dan ia pulang bukan untuk menyerah, melainkan untuk membalas semuanya.
Saat ia bangkit sebagai direktur Semesta Group, saat seluruh Jakarta menyadari siapa dirinya sebenarnya, satu per satu yang dulu meremehkannya mulai tersedak ludah sendiri. Bahkan Damar—mantan suami yang dulu begitu dingin—kini berlutut memohon rujuk.
Tapi terlambat. Karena kini ada **Mahesa Adiwangsa**, konglomerat muda paling berkuasa di kota ini, yang setiap hari mengirim mawar untuknya, yang berani berkata di depan semua orang:
*"Aku pilih kamu. Dan anakmu."*
Antara mantan suami yang menyesal dan pria yang mencintainya tanpa syarat, antara masa lalu yang ingin menyeretnya kembali dan masa depan yang menjanjikan dunia—
**Pilihan Arunika tak pernah goyah. Pertanyaannya: beranikah Notonegoro menanggung akibat telah melepaskan perempuan seperti dia?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
# Bab 29
## Eyang Datang ke Surabaya
Tiga hari setelah laporan Tari sampai di meja Bramantyo, sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang utama rumah Prawira di Surabaya.
Pagi itu langit Surabaya terang, panasnya sudah mulai naik dari batu halaman, dan pohon kamboja di sisi jalan masuk menggugurkan beberapa kelopak putih. Rumah Prawira berdiri tenang seperti biasa, dengan pintu kayu besar terbuka setengah dan dua staf rumah menunggu di teras.
Arunika sedang berada di ruang keluarga ketika Tari masuk.
"Bu Arunika," katanya pelan. "Eyang Hardjo Notonegoro sudah tiba."
Laksmi yang duduk di samping Arunika langsung menegang. Tangannya berhenti di atas cangkir teh.
Bramantyo tidak terlihat terkejut. Ia hanya menutup map yang sedang dibacanya.
"Sendiri?"
"Dengan sopir dan satu ajudan. Tidak ada Pak Damar."
Arunika menatap ayahnya. "Bapak sudah tahu dia akan datang."
"Orang seperti Hardjo tidak suka kalah lewat telepon."
Laksmi menghela napas pendek. "Dia tidak datang untuk meminta maaf."
"Tidak," kata Bramantyo. "Dia datang untuk menawar seolah luka anak kita barang dagangan."
Arunika berdiri. Sejak pagi tubuhnya sedikit lebih mudah lelah, mungkin karena pekerjaan beberapa hari terakhir, mungkin karena tidur yang tidak cukup. Ia tidak memberi tempat pada rasa itu. Blus putihnya rapi, celana bahannya sederhana, rambutnya diikat rendah.
Ia tidak akan menerima Eyang Hardjo dengan wajah korban.
Ia juga tidak akan bersembunyi.
Sebelum mereka berjalan ke ruang tamu, Laksmi merapikan kerah blus Arunika dengan jari yang lembut tetapi dingin.
"Kalau kamu merasa tidak nyaman, bilang Mama," katanya.
"Aku baik-baik saja."
"Tidak harus baik-baik saja untuk tetap kuat."
Arunika menatap ibunya. Kalimat itu sederhana, tetapi menenangkan sesuatu yang tadi sempat tegang di perutnya. Di rumah Notonegoro, rasa tidak nyaman selalu dianggap kelemahan. Di rumah Prawira, rasa tidak nyaman diizinkan ada tanpa membuatnya kalah.
Bramantyo mengambil tongkat kayu pendek dari sisi meja ruang kerja. Arunika jarang melihat ayahnya memakainya. Tongkat itu lebih sering menjadi benda tua yang bersandar di sudut, peninggalan cedera lutut setelah kecelakaan proyek bertahun-tahun lalu. Namun saat Bramantyo menggenggamnya, benda itu tampak bukan penyangga tubuh, melainkan tanda bahwa ia datang sebagai kepala rumah.
"Bapak."
Bramantyo menoleh.
"Aku bisa bicara sendiri."
"Bapak tahu." Matanya melembut sebentar. "Tapi hari ini dia datang ke rumah Bapak. Maka Bapak juga bicara."
Arunika mengangguk.
Untuk pertama kali, ia tidak merasa bantuan ayahnya mengambil suaranya. Ia merasa suara itu berdiri di samping suaranya.
Di ruang tamu utama, Eyang Hardjo masuk dengan langkah terukur. Tongkat kayu hitam berada di tangan kanannya. Wajahnya tua, keras, dan terbiasa membuat orang menunggu kata-katanya. Begitu melihat Bramantyo, ia tidak tersenyum.
"Bramantyo."
"Hardjo."
Satu nama dibalas satu nama.
Tidak ada Pak. Tidak ada Eyang. Tidak ada basa-basi berlebihan.
Udara di ruang tamu langsung berubah.
Arunika berdiri di sisi kiri Bramantyo. Laksmi di sisinya. Tari tetap sedikit di belakang, membawa map tipis berisi kronologi dan catatan legal. Staf rumah menutup pintu dengan pelan, membuat suara dunia luar turun menjadi jauh.
Eyang menatap Arunika lebih dulu.
"Kamu membuat banyak orang tua harus turun tangan."
Arunika membalas tatapannya. "Saya tidak meminta Bapak datang."
Sebutannya sopan. Jaraknya jelas.
Alis Eyang bergerak sedikit. Dulu, di rumah Notonegoro, Arunika menunduk saat ia bicara. Dulu, ia memanggilnya Eyang dengan suara pelan, bahkan saat dipermalukan.
Hari ini, kata Bapak terdengar seperti pintu yang sudah dikunci.
"Aku datang karena masalah ini sudah melewati batas rumah tangga," kata Eyang.
Bramantyo duduk lebih dulu, lalu menunjuk kursi di seberang. "Kalau begitu kita bicara sebagai dua keluarga. Duduk."
Eyang duduk. Tongkatnya ia letakkan di sisi kursi, tetapi tangannya tetap menempel pada kepala tongkat.
"Kamu tahu kenapa aku datang."
"Aku tahu apa yang kamu inginkan," jawab Bramantyo. "Itu tidak berarti aku menganggapnya pantas."
Eyang tertawa pendek. "Masih setajam dulu."
"Masih lebih baik daripada tumpul karena memakai nama baik untuk menutup kesalahan."
Nama lama mereka tidak pernah benar-benar hilang dari meja bisnis Jawa Timur dan Jakarta. Dua puluh tahun lalu, Bramantyo dan Hardjo pernah memperebutkan jalur distribusi pelabuhan yang sama. Hardjo memakai koneksi lama dan gelar keluarga. Bramantyo memakai angka, kontrak, dan keberanian menolak tunduk pada aristokrasi lama. Sejak itu, mereka saling mengenal cukup baik untuk tidak perlu berpura-pura ramah.
Arunika pernah mendengar kisah itu dari Bisik-bisik staf rumah saat kecil, tetapi baru hari ini ia memahami bobotnya.
Eyang Hardjo tidak hanya datang sebagai kakek Damar.
Ia datang sebagai lelaki tua yang terbiasa menang di meja tempat orang lain menunduk.
Dan Bramantyo Prawira adalah salah satu dari sedikit orang yang dulu tidak menunduk.
Laksmi menunduk sedikit, bukan karena takut, melainkan menahan amarah.
Eyang menatap Bramantyo. "Kita pernah bertemu di banyak meja bisnis. Kamu paham bahwa masalah keluarga besar tidak bisa diselesaikan dengan emosi anak muda."
"Anakku bukan emosi anak muda."
"Dia mantan istri cucuku."
"Dia putriku sebelum dia pernah menjadi istri siapa pun."
Kalimat itu membuat ruangan hening.
Arunika merasakan sesuatu yang hangat dan berat berdiri di belakang dadanya. Dulu, di rumah Notonegoro, statusnya selalu ditentukan oleh hubungan dengan Damar. Istri. Menantu. Perempuan yang masuk keluarga. Perempuan yang harus menjaga nama.
Di rumah ini, ayahnya mengembalikannya pada asal paling sederhana.
Putriku.
Eyang mengetukkan jari pada kepala tongkat. "Baik. Karena dia putrimu, kamu seharusnya mengerti bahwa keputusan yang dia ambil tidak hanya berdampak pada dirinya. Setelah identitas Prawira dibuka, semua mata melihat dua keluarga. Prawira dan Notonegoro. Jika permusuhan ini dibiarkan, pasar akan membacanya sebagai perang."
"Pasar sudah membaca apa yang perlu dibaca."
"Jangan sombong, Bram. Tidak ada keluarga yang untung dari perang terbuka."
"Tidak ada ayah yang untung dari menjual ketenangan anaknya untuk meredakan pasar."
Wajah Eyang mengeras.
"Kamu memakai bahasa moral seolah dunia kita tidak punya aturan. Dalam keluarga besar, rujuk bukan sekadar soal cinta. Rujuk bisa menjadi jalan menutup luka sosial."
Ia mengangkat dagu, suaranya mulai mengambil bentuk pidato yang pasti sering dipakai di pendopo Notonegoro.
"Orang luar tidak peduli siapa yang menangis di dalam rumah. Mereka melihat nama. Mereka melihat apakah keluarga tua masih mampu menyelesaikan masalahnya tanpa membuat kota gaduh. Kalau Prawira dan Notonegoro terus terlihat berseberangan, semua orang akan mengambil kesempatan. Vendor, bank, lawan bisnis, media. Kamu tahu itu."
Bramantyo tidak menyela.
Eyang menganggap diam itu ruang, lalu meneruskan.
"Damar sudah bersedia memperbaiki. Itu tidak kecil untuk laki-laki seposisinya. Arunika akan kembali bukan sebagai perempuan yang kalah, tetapi sebagai jembatan. Prawira dihormati. Notonegoro dipulihkan. Dua keluarga menunjukkan kedewasaan. Bukankah itu lebih baik daripada membiarkan anak muda membawa amarah sampai merusak semuanya?"
Arunika merasakan dingin menjalar di punggungnya.
Jembatan.
Kata itu terdengar halus, tetapi di telinganya sama saja dengan jalan yang harus diinjak dua sisi.
Arunika akhirnya bicara.
"Luka sosial siapa?"
Eyang menoleh kepadanya.
Arunika berdiri tegak. "Luka saya terjadi sebelum sosial Bapak malu. Saat saya difitnah, saat saya disuruh berlutut, saat tangan saya berdarah, Bapak tidak menyebutnya luka sosial."
Laksmi menghirup napas, matanya basah oleh amarah yang tertahan.
Eyang tidak gentar. "Kamu bicara seolah tidak ada kesalahpahaman malam itu."
"Tidak ada kesalahpahaman dalam perintah berlutut."
"Kamu perempuan muda. Kamu marah. Aku mengerti."
"Bapak tidak mengerti. Kalau mengerti, Bapak tidak akan datang membawa kata rujuk."
Nada Arunika tetap rendah. Justru itu membuat kata-katanya lebih keras.
Eyang memandangnya lama, lalu kembali pada Bramantyo. Seolah, pada akhirnya, ia masih menganggap keputusan harus dibicarakan antarlaki-laki tua di ruangan itu.
"Bramantyo, aku datang bukan untuk memperpanjang pertengkaran. Damar ingin memperbaiki. Anak muda bisa salah. Kita sebagai orang tua seharusnya menunjukkan jalan."
"Jalan pulang ke tempat yang menyakitinya?"
"Jalan untuk menyelamatkan dua keluarga dari permusuhan yang tidak perlu."
"Permusuhan ini dibuat oleh siapa?"
"Jangan berpura-pura Prawira tidak mengambil keuntungan dari situasi ini."
Bramantyo tersenyum tipis. "Kalau keuntungan yang kamu maksud adalah orang akhirnya tahu anakku bukan perempuan tanpa asal, ya, aku tidak akan meminta maaf untuk itu."
Eyang mencengkeram kepala tongkat.
"Damar masih suami yang sah pernah hidup dengannya. Ada masa lalu. Ada agama. Ada jalan rujuk yang terhormat."
"Mereka sudah bercerai melalui Pengadilan Agama," kata Bramantyo. "Tidak ada yang tidak terhormat dari keputusan hukum yang diambil anakku."
"Hukum tidak selalu menyelesaikan rasa malu."
"Rasa malu siapa, Hardjo?"
Pertanyaan itu membuat Eyang diam sejenak.
Laksmi, yang sejak tadi menahan diri, akhirnya bicara. Suaranya lembut, tetapi dingin.
"Tiga tahun Nika berusaha menjadi istri yang baik. Tidak sekali pun keluarga Anda datang ke Surabaya untuk bertanya apakah dia bahagia. Sekarang setelah dia pulang dan berdiri, Anda datang meminta dia kembali. Bukan karena Anda memikirkan hatinya."
Eyang menatap Laksmi. "Bu Laksmi, aku menghormati perasaan seorang ibu. Tapi keluarga besar tidak bisa hanya memakai perasaan."
"Justru karena saya ibu, saya tidak akan lagi membiarkan anak saya dibicarakan seperti aset."
Arunika menggenggam jari ibunya sebentar.
Eyang menarik napas. Ketika ia bicara lagi, suaranya lebih rendah.
"Kalau Arunika rujuk dengan Damar, semua bisa menjadi lebih tenang. Notonegoro akan mengakui posisinya. Prawira tidak perlu kehilangan muka karena pernah menikahkan putri ke keluarga kami. Semesta dan Notonegoro bisa berdiri berdampingan tanpa curiga. Dua keluarga kembali punya jalan."
Di luar ruang tamu, angin menggerakkan kelopak kamboja di halaman.
Di dalam, kalimat itu seperti menutup pintu udara.
Arunika merasakan tangan Laksmi menegang.
Tari menunduk pada map, tetapi rahangnya kaku.
Bramantyo tidak langsung menjawab. Ia menatap Eyang Hardjo lama, seperti sedang melihat kembali puluhan tahun meja bisnis, persaingan lama, janji lama, cara orang tua itu selalu memakai nama besar untuk menekan ruang orang lain.
Lalu Bramantyo mengambil tongkat kayu pendek yang sejak tadi bersandar di sisi kursinya. Tongkat itu bukan alat lemah, melainkan kebiasaan lama setelah cedera lutut bertahun-tahun lalu, jarang dipakai kecuali saat ia ingin orang mengingat lantai siapa yang sedang mereka pijak.
Ia berdiri.
Ujung tongkat menghantam lantai marmer.
Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat seluruh ruangan membeku.
Bahkan suara kelopak jatuh di halaman terasa ikut berhenti sepenuhnya.
"Hardjo," kata Bramantyo, suaranya rendah. "Kamu datang ke rumahku, duduk di depan anakku, lalu menyebut hidupnya jalan untuk menenangkan dua keluarga."
Eyang menegakkan punggung.
Bramantyo melangkah setengah langkah ke depan.
"Sekarang dengarkan baik-baik."