Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.
Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.
Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.
"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Zeffrano mengangguk kecil pada Aruna, memberi isyarat agar wanita itu tenang, sementara tatapannya kembali tertuju tajam pada Tania yang masih bersujud di hadapannya.
"Kamu bilang mau melakukan apa saja, kan? Baik, aku punya satu syarat. Satu syarat yang harus kamu penuhi jika benar-benar ingin aku mempertimbangkan permintaanmu."
Mata Tania yang sembab seketika berbinar penuh harapan. Dia mengangkat wajahnya dengan cepat, air mata masih terus mengalir di pipinya, namun ada sedikit cahaya kegembiraan yang muncul disana.
"Apa saja, Tuan! Apa saja! Katakan saja, saya pasti lakukan!" seru Tania dengan penuh semangat.
Senyum tipis namun dingin kembali terlukis di wajah Zeffrano. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya terdengar tegas dan tak terbantahkan.
"Buatlah sebuah video klarifikasi. Di depan kamera, kamu harus ceritakan semuanya dengan jujur. Akui bahwa kamu dan Rafael diam-diam menjalin hubungan di belakang Aruna sambil menertawakan ketulusan hatinya. Akui pula bahwa ayahmu, Rafael, dan kamu sendiri merencanakan penipuan, korupsi, serta segala kejahatan yang terjadi di dalam kerjasama dengan Mahesa Group. Apa kamu sanggup?"
Wajah Tania yang tadinya penuh harapan seketika berubah pucat pasi. Senyum di bibirnya membeku, matanya membelalak tak percaya. Dia menggelengkan kepalanya perlahan, lalu semakin cepat, tubuhnya kembali gemetar hebat bukan karena takut, melainkan karena rasa malu dan kaget mendengar syarat yang diajukan oleh Zeffrano.
"Ti… tidak bisa, Tuan! Itu tidak mungkin!" seru Tania dengan suara melengking, isak tangisnya kembali pecah. "Kalau saya buat video seperti itu… seluruh dunia akan tahu kejahatan kami! Nama baik keluarga kami akan hancur selamanya! Saya akan menjadi bahan tertawaan semua orang, saya akan dibenci dan dikucilkan oleh semua orang seumur hidup saya! Jangan minta saya melakukan hal itu, Tuan! Apa saja saya lakukan, menyerahkan semua harta, pergi jauh-jauh, tidak akan pernah menampakkan wajah lagi… tapi jangan minta saya mempermalukan diri sendiri di depan umum seperti itu! Saya mohon…"
Zeffrano mendengarkan penolakan itu dengan wajah datar, tidak ada sedikit pun rasa terkejut di wajahnya. Dia sudah menduga hal itu akan terjadi.
"Kamu bilang mau melakukan apa saja demi mereka, tapi hanya diminta mengakui kebenaran saja, kamu sudah menolak?" ucap Zeffrano dengan nada mengejek yang dingin. "Aku sebenarnya bukan orang yang suka berbelit-belit. Jika kamu masih terlalu memikirkan harga diri palsumu, padahal nyawa dan masa depan ayah serta kekasihmu sedang di ujung tanduk. Itu membuktikan satu hal… sampai detik ini pun, kalian belum benar-benar sadar dan menyesal. Kalian hanya takut pada hukuman, tapi tidak pernah merasa bersalah atas perbuatan kalian."
Tania semakin menangis keras.
"Tidak! Saya menyesal, Tuan! Saya benar-benar menyesal! Tapi ada cara lain kan? Kenapa harus sampai dipermalukan seperti itu? Apa Aruna tidak cukup puas hanya dengan melihat kami menderita? Kenapa harus menghancurkan nama baik kami juga?!"
Zeffrano menghela napas pendek, wajahnya kembali menjadi dingin dan tak tersentuh.
"Baik. Kalau begitu, keputusan sudah bulat. Kamu memilih jalan itu, maka terimalah segala akibatnya sampai akhir. Jangan pernah datang menangis lagi di depan kami, karena kali ini, pintu belas kasihan sudah benar-benar tertutup rapat untuk kalian."
Tanpa membuang waktu dan kata-kata lagi untuk wanita itu, Zeffrano langsung merangkul pinggang Aruna dengan lembut namun tegas, memalingkan wajahnya dari sosok Tania yang masih bersujud menangis.
"Ayo kita pergi dari sini. Tempat ini sudah terlalu kotor dan tidak pantas untuk kita berlama-lama," bisik Zeffrano lembut di telinga Aruna, suaranya kembali hangat dan penuh kasih sayang, sangat berbeda jauh dengan nada bicaranya pada Tania tadi.
Aruna mengangguk patuh, lalu melangkah pergi bersama Zeffrano, meninggalkan Tania yang kini hanya bisa meratapi nasibnya sendiri di tengah pandangan orang-orang yang berkerumun.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju mobil mewah berwarna hitam yang sudah terparkir rapi tepat di depan pintu utama gedung. Sopir pribadi yang sudah menunggu dengan sigap segera bergegas membukakan pintu belakang dengan sopan dan penuh hormat.
Zeffrano membiarkan Aruna masuk terlebih dahulu, barulah Zeffrano menyusul masuk dan duduk tepat di sebelahnya. Sopir segera menutup sekat pembatas di antara kursi depan dan belakang, lalu perlahan menjalankan mobil melaju mulus meninggalkan halaman gedung.
-
-
-
Dengan langkah lebar dan cepat, Tania keluar dari mobil, membanting pintu hingga berbunyi keras, lalu bergegas masuk ke dalam gedung dengan wajah yang masih merah padam menahan amarah.
Begitu pintu apartemennya tertutup rapat di belakang punggungnya, barulah dia melepaskan semua emosi yang selama ini ditahannya. Tania menghempaskan tas tangannya ke lantai, lalu mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun, seolah ada api besar yang sedang membakar isi hatinya.
"Dasar wanita jahat!" teriak Tania keras-keras, suaranya menggema memenuhi ruangan tamu yang luas dan mewah itu. "Aruna! Kamu sudah mengambil semuanya dariku! Kamu sudah merusak masa depan papaku dan Rafael, kamu sudah membuat kami jatuh miskin, dan sekarang kamu masih kurang puas?! Kamu mau mempermalukan kami di depan seluruh orang?! Kamu benar-benar tidak punya hati!”
Tania terus menggerutu dan memaki tanpa henti, melempar bantal sofa, menjatuhkan hiasan meja, hingga ruangan yang tadinya rapi itu menjadi berantakan tak berbentuk. Rasa malu, rasa sakit, dan rasa benci bercampur menjadi satu, membuatnya hampir tidak waras.
Setelah puas melampiaskan amarahnya, napas Tania mulai teratur kembali, meskipun wajahnya masih tampak bengis dan penuh dendam. Dia duduk di tepi sofa, tangannya gemetar saat meraih ponsel yang baru saja dia ambil dari tas yang tergeletak di lantai.
Dengan jari yang masih gemetar karena emosi, dia menekan nomor sekretaris pribadi ayahnya dengan cepat. Panggilan itu berdering beberapa kali, sebelum akhirnya suara pria paruh baya itu terdengar dari seberang sana, terdengar ragu dan takut.
"Halo… Nona Tania?"
-
-
-
Bersambung...
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣