NovelToon NovelToon
THE BRITISH ROYAL FAMILY

THE BRITISH ROYAL FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:173
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Deskripsi

The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke Ibu Kota

Perjalanan pulang dari kedalaman Hutan Timur terasa jauh lebih ringan dan menyenangkan dibandingkan saat mereka masuk. Beban kekhawatiran dan ketidakpastian yang tadinya menggantung di bahu mereka kini telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh rasa puas, syukur, dan semangat baru. Di dalam bungkusan yang dijaga sangat ketat, tersimpan kedua warisan leluhur itu: buku besar berisi kebijaksanaan dan piala batu yang bersinar lembut. Benda-benda itu bukan sekadar barang kuno, melainkan simbol hidup dari akar sejarah dan tujuan kerajaan yang sesungguhnya.

Hubungan persaudaraan dengan penduduk hutan kini terjalin jauh lebih kuat dan erat daripada sebelumnya. Kepala Suku Elang Hutan dan para tetuanya menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam, bukan hanya karena bahaya orang-orang asing telah disingkirkan, tapi karena keberadaan rombongan Taylor telah mengukuhkan kembali posisi mereka sebagai bagian tak terpisahkan dari keluarga besar kerajaan. Sebagai tanda persatuan abadi, disepakati bahwa akan dibangun jalur penghubung dan pos perhubungan yang aman di batas wilayah, sehingga komunikasi dan perdagangan bisa berjalan lancar, dan penduduk hutan tidak akan pernah merasa terasingkan lagi.

Baron Valerius pun ikut bersama mereka dalam perjalanan pulang. Dia tidak dibelenggu atau diperlakukan seperti tahanan biasa, melainkan berjalan bersama rombongan dengan kepala tertunduk diam, penuh dengan penyesalan dan kesadaran baru. Dia tidak berusaha melarikan diri atau menimbulkan masalah apa pun. Justru, perubahan sikapnya sangat mencolok. Dia terlihat tenang, patuh, dan seolah beban berat yang selama puluhan tahun membebani jiwanya telah terangkat paksa namun melegakan. Dia tahu bahwa langkah kakinya menuju ibu kota adalah langkah menuju tanggung jawab, namun juga langkah menuju jalan perbaikan yang mungkin masih tersisa baginya.

Setelah berhari-hari menempuh perjalanan melewati jalan-jalan hutan yang lebat, sungai yang berkelok, dan bukit-bukit yang hijau, akhirnya garis cakrawala yang luas dan terbuka mulai terlihat di depan. Pepohonan raksasa yang rapat perlahan mulai jarang, tanah semakin rata, dan jalan setapak yang sempit bergabung menjadi jalan raya yang lebar dan ramai. Mereka telah keluar dari wilayah hutan dan kembali masuk ke bagian utama kerajaan, di mana kehidupan rakyat berjalan dengan makmur, damai, dan tertib.

Berita tentang kedatangan mereka ternyata telah menyebar lebih cepat daripada langkah kuda mereka. Di setiap desa, kota kecil, dan persimpangan jalan, rakyat berkumpul menunggu, melambaikan tangan, dan menyambut mereka dengan sorak-sorai gembira. Kabar tentang perjalanan mereka ke daerah terpencil, tentang bantuan yang diberikan, tentang persahabatan baru yang dibangun, dan tentang penemuan besar di Hutan Timur telah didengar dan diceritakan dari mulut ke mulut, membangkitkan rasa bangga dan harapan yang luar biasa di hati seluruh rakyat.

Semakin dekat mereka ke ibu kota, semakin ramai dan meriah penyambutan itu. Bendera-bendera berkibar di setiap pinggir jalan, anak-anak berlari kecil di samping rombongan sambil tertawa gembira, dan para tetua berdiri di barisan depan dengan wajah berseri-seri. Mereka melihat pemimpin mereka kembali dengan selamat, membawa kebaikan, membawa persatuan, dan membawa sesuatu yang berharga bagi seluruh negeri.

Ketika menara-menara tinggi istana akhirnya terlihat jelas di kejauhan, berdiri megah dan anggun di tengah hamparan kota yang luas, hati Taylor dan Elizabeth terasa penuh. Perjalanan panjang yang telah mereka mulai beberapa bulan yang lalu, yang membawa mereka ke tempat-tempat yang jauh, berbahaya, dan misterius, kini hampir sampai di titik akhirnya. Banyak hal yang telah mereka lalui, banyak pelajaran yang telah mereka petik, dan banyak perubahan yang telah mereka wujudkan.

Di gerbang utama istana, Raja dan Ratu telah menunggu bersama para pejabat tinggi dan seluruh anggota keluarga kerajaan. Wajah mereka terlihat lega dan bangga melihat putra dan menantu mereka kembali dengan selamat, sehat, dan bersinar dengan kewibawaan serta kebijaksanaan yang semakin matang. Hunter, yang telah dikirim pulang lebih awal dari Hutan Timur agar aman, berlari menghampiri mereka dengan gembira, memeluk erat ayah dan ibunya, bercerita dengan antusias tentang apa yang telah dia lihat dan pelajari selama perjalanan itu.

“Kalian telah melakukan lebih dari yang kami harapkan,” kata Raja dengan suara bergetar haru, sambil menepuk bahu putranya dan mencium tangan Elizabeth. “Kalian tidak hanya pergi berkelana, tapi kalian pergi menyatukan jiwa-jiwa negeri ini. Kabar tentang kebaikan dan kebijaksanaan kalian telah sampai ke telinga kami, dan kami sangat bangga melihat betapa besar kepercayaan yang telah kalian bangun di hati rakyat.”

“Semuanya ini bukan hasil kerja kami berdua saja, Ayah,” jawab Taylor dengan rendah hati. “Ini adalah hasil kerja keras semua orang yang ikut serta, dan ini adalah berkat petunjuk yang tertanam dalam sejarah dan nilai-nilai yang telah diajarkan kepada kami sejak kecil. Dan hari ini, kami membawa sesuatu yang istimewa, sesuatu yang kami temukan di kedalaman Hutan Timur, yang kami yakini akan menjadi pegangan terkuat bagi kita semua di masa depan.”

Dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat, Taylor dan Elizabeth mengeluarkan kedua benda warisan leluhur itu dari pembungkusnya. Saat buku besar bersampul kulit dan piala batu yang bersinar lembut itu diperlihatkan kepada hadirin yang berkumpul di halaman istana, hening seketika menyelimuti tempat itu. Semua orang merasa ada sesuatu yang istimewa, sesuatu yang suci dan agung memancar dari benda-benda itu, seolah kehadiran leluhur mereka sendiri ikut hadir di sana.

Malam itu, diadakanlah pertemuan besar dan perayaan syukur di balai utama istana. Namun, perayaan itu bukanlah pesta pora yang mewah dan berlebihan, melainkan pertemuan yang penuh makna, dihadiri oleh para pemimpin daerah, tetua masyarakat, para cendekiawan, dan wakil-wakil rakyat dari berbagai penjuru negeri, termasuk utusan dari Penduduk Lembah Kabut dan Penduduk Hutan Timur yang ikut hadir menyaksikan momen bersejarah itu.

Di tengah ruangan yang megah itu, di atas meja kehormatan, diletakkanlah kedua benda berharga itu. Taylor berdiri di depan semua orang, didampingi oleh Elizabeth, Raja, dan Ratu, lalu bercerita secara rinci tentang segala sesuatu yang telah mereka alami: tentang keterasingan saudara-saudara mereka di daerah terpencil, tentang kebaikan dan kearifan hidup yang mereka miliki, tentang ancaman yang datang dari keserakahan manusia, tentang rahasia besar yang tersembunyi di balik gerbang batu kuno, dan akhirnya tentang apa yang sebenarnya tersimpan di sana.

“Banyak orang selama ratusan tahun mengira bahwa tempat itu menyimpan kekayaan duniawi atau kekuatan ajaib yang bisa menguasai segalanya,” kata Taylor dengan suara yang lantang dan jelas, terdengar oleh setiap orang yang hadir. “Dan karena kepercayaan itulah, banyak pertikaian, pengkhianatan, dan pertumpahan darah terjadi. Orang-orang berjuang, membunuh, dan menghancurkan satu sama lain demi mimpi kosong untuk memiliki kekuatan itu. Namun, saat kami masuk ke sana, saat kami membuka rahasia itu, kami menemukan kebenaran yang sangat berbeda, kebenaran yang jauh lebih berharga dan lebih agung dari apa pun yang bisa dibayangkan.”

Dia menunjuk ke arah buku besar itu. “Leluhur kita yang bijaksana tidak menyimpan emas atau permata di sana. Mereka menyimpan warisan yang sesungguhnya: pengetahuan, sejarah, hukum, dan nasihat hidup. Mereka menyimpannya di tempat yang sulit dijangkau bukan untuk disembunyikan selamanya, tapi untuk memastikan bahwa hanya mereka yang datang dengan hati yang bersih, tujuan yang benar, dan niat yang tuluslah yang akan menemukannya. Mereka ingin mengajarkan kepada kita semua bahwa kekuatan terbesar sebuah kerajaan tidak ada di dalam gudang harta, tidak ada di dalam jumlah pasukan, dan tidak ada di dalam rahasia tersembunyi. Kekuatan terbesar ada pada keadilan, ada pada persatuan, ada pada kebijaksanaan, dan ada pada kasih sayang pemimpin terhadap rakyatnya serta rakyat terhadap pemimpinnya.”

Elizabeth kemudian melanjutkan kata-katanya dengan lembut namun tegas, sambil menunjuk ke arah piala batu yang bersinar itu. “Dan benda ini... piala sederhana ini adalah simbol dari kedamaian dan keutuhan. Dia bersinar bukan karena terbuat dari bahan mahal, tapi karena dia melambangkan cahaya kebenaran yang akan selalu menuntun kita jika kita mau melihatnya. Leluhur kita ingin kita mengerti bahwa untuk memimpin negeri ini, kita tidak butuh kekuatan ajaib, tapi kita butuh keberanian untuk memegang teguh kebenaran, dan ketulusan untuk melayani sesama.”

Suasana ruangan itu dipenuhi dengan kekaguman dan rasa haru yang mendalam. Banyak mata yang berkaca-kaca mendengar penjelasan itu. Akhirnya, misteri yang selama berabad-abad menggantung dan sering kali menjadi sumber masalah telah terungkap, dan kebenaran yang indah serta menguatkan kini terhampar jelas di hadapan mereka. Mereka sadar bahwa hari ini adalah hari yang sangat penting dalam sejarah kerajaan. Hari di mana mereka tidak hanya mendapatkan kembali benda kuno, tapi mendapatkan kembali jati diri dan tujuan kerajaan yang sesungguhnya.

Selanjutnya, Baron Valerius dibawa masuk ke dalam ruangan itu. Dia berjalan dengan tenang, tanpa paksaan, dan berlutut di hadapan Raja dan seluruh hadirin. Di sana, di depan semua orang, dia mengakui segala kesalahan, kejahatan, dan rencana jahat yang telah dia lakukan di masa lalu. Dia tidak mencari alasan atau pembelaan diri, melainkan mengakui bahwa semuanya didorong oleh ambisi yang salah dan ketidaktahuannya akan makna kekuasaan yang sesungguhnya.

“Akulah contoh nyata dari bahayanya ketidaktahuan dan keserakahan,” katanya dengan suara yang jernih meski penuh penyesalan. “Aku telah hidup dalam kegelapan, mengira bahwa kekuasaan adalah segalanya, dan aku telah menyesatkan banyak orang bersamaku. Namun hari ini, berkat kebijaksanaan dan keadilan yang ditunjukkan oleh Pangeran dan Putri, serta berkat penemuan warisan leluhur ini, mataku akhirnya terbuka. Aku siap menerima hukuman apa pun yang ditetapkan oleh hukum, sebagai peringatan bagi siapa saja yang masih berpikir seperti aku, dan sebagai langkah awal untuk menebus kesalahanku seumur hidupku.”

Pengakuan itu mengejutkan banyak orang, namun juga membuat hati mereka terasa damai. Tidak ada rasa benci atau dendam yang tersisa. Hanya ada rasa iba dan harapan bahwa perubahan yang sejati memang mungkin terjadi pada siapa saja, asalkan dia mau membuka hatinya pada kebenaran.

Raja kemudian mengumumkan keputusan akhir mengenai nasib Baron Valerius, sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat dan nilai-nilai keadilan yang mereka pegang. Baron akan dicabut segala gelar dan hak istimewanya, harta kekayaannya akan digunakan untuk membantu perbaikan daerah yang rusak akibat perbuatannya, dan dia akan menjalani masa pengasingan di sebuah biara tenang di pegunungan utara. Di sana, dia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan merenung, bekerja bermanfaat, dan mendalami isi buku kebijaksanaan leluhur itu, agar apa yang telah dia pelajari tidak hilang sia-sia, tapi bisa tumbuh menjadi kebaikan.

Keputusan itu diterima dengan rasa adil dan bijaksana oleh seluruh hadirin. Mereka melihat bahwa keadilan di negeri ini tidak lagi berbasis pada kekuasaan atau pembalasan, tapi berbasis pada perbaikan dan kebaikan bersama.

Malam itu berakhir dengan rasa syukur yang mendalam. Warisan leluhur itu kemudian ditempatkan di ruang perpustakaan utama istana, di tempat yang terhormat dan mudah diakses, bukan dikunci kembali di ruang rahasia. Buku itu akan disalin, dipelajari, dan diajarkan ke seluruh penjuru negeri, ke sekolah-sekolah dan tempat-tempat pengajaran, sehingga setiap anak, setiap pemuda, dan setiap pemimpin masa depan akan mengetahui sejarah, hukum, dan nasihat bijak dari pendiri kerajaan ini.

Perjalanan panjang dan berliku telah usai. Negeri ini telah bersatu kembali, luka telah disembuhkan, kebenaran telah terungkap, dan kebijaksanaan telah kembali ke tengah-tengah rakyat. Namun, bagi Taylor dan Elizabeth, mereka tahu bahwa tugas mereka tidak akan pernah benar-benar selesai. Menjaga kedamaian, menjaga persatuan, dan menjalankan keadilan adalah tugas seumur hidup yang harus dilakukan setiap hari, dengan ketulusan dan kesungguhan.

Namun kini, mereka tidak lagi berjalan tanpa pedoman. Mereka memiliki warisan leluhur, mereka memiliki kepercayaan rakyat, mereka memiliki persatuan yang kokoh, dan yang paling penting, mereka memiliki satu sama lain dan kasih sayang yang tumbuh di hati seluruh rakyat. Ibu kota kembali tenang dan damai, bersinar lebih indah dari sebelumnya sebagai pusat cahaya yang menerangi seluruh penjuru negeri.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!