Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kutukan Dua Nyawa
Saraswati tersentak kaget. Kesadarannya seperti di tarik paksa ke Puskesmas. Nafasnya memburu, dan keringat dingin membasahi pelipisnya.
Nafasnya terasa berat, dan debaran di dadanya memburu.
di depannya, bayi Kadek Cempaka masih panas. Kukitnya terlihat merah, dan bibirnya sangat kering.
Sementara itu, di balik kelopak mata yang terpejam, bola matanya bergerak liar, seperti melihat sesuatu yang bukan di dunia nyata.
"Bu, Bidan?" suster juga menatap bingung padanya. "Kok, bengong?"
Suster itu berusaha menyadarkan sang bidan.
Saraswati menggelengkan kepala dengan cepat. "Oh, tidak apa-apa. Segera beri kompres. Saya akan mengambil obat."
Saraswati berbalik. Di ujung lorong, ketut Candra berdiri mematung. Mata mereka saling bertemu. Tanda merah di telapak tangannya berdenyut, dan di dada Saraswati terasa cukup panas. Dua segel Taksu saling terpanggil.
Ketut Candra melangkah maju. "Kamu... Kamu melihat juga—kan? Sesuatu di Pura?" bisiknya dengan cukup pelan, dan hanya mereka saja yang mendengarnya.
Saraswati menempelkan jarinya ke bibir.
"Ssss..."kemudian matanya melirik ke arah Nyoman Lingga dan juga Ketut Wira yang sedang cemas di ruang tunggu. "Tidak di sini,"
Ketut Candra mengekori Saraswati yang berjalan lebih dulu menuju ke arah gudang obat.
Saat tiba di ruangan gudang, bau alkohol dan juga obat-obatan menyambut keduanya.
Saraswati menarik Ketut Candra masuk, lalu mengunci pintu.
"Wayan Ratri sudah tidak lagi dapat kamu sebut Dadong." suara Saraswati terdengar datar, tetapi tangannya bergetar. "Dia Calonarang. Arwah penasaran yang di puja oleh dadongmu. Dia menginginkan seratus nyawa untuk membuka gerbang Setra Agung, dan membangunkan I Gede Ratu Mas Mecaling,"
Ketut Candra meremas telapak tangannya. Tanda trisula semakin berwarna merah. "Bayi itu... Target yang sudah ditandai?"
Saraswati menganggukkan kepalanya. "Bukan hanya bayi itu. Tetapi sepupuku—Putu Dwi... Dan juga calon bayinya juga sudah ditandai. Ini sudah sangat melampaui batas,"
Jika seratus tumbal, maka bibi Kadek Cempaka, dan juga Ibuku benar dadong pelakunya?"
Ketut Candra mengepalkan tinjunya.
"Pamanmu Nyoman Lingga, Ketut Wira, Wayan Gantari—ayahmu, dan juga... Kamu sendiri... Serta warga desa lainnya, adalah target berikutnya..." ungkap Saraswati.
Hal itu membuat Ketut Candra melongo. Ia baru teringat, jika Wayan Gantari—ayahnya sedang sakit di rumah dan ia tinggal sendirian.
Duuuuar!
Suara petir menyambar di luar. Lampu gudang berkedip.
"Dia memberi tahu, agar aku memilih," lanjut Saraswati. "Membiarkan Wayan Ratri mengambil bayi bibimu, atau mengambil Dwi dan juga bayinya."
Saraswati merasakan dadanya semakin sesak. "Jika aku menghalangi keduanya.. Tali perjanjian leluhur akan mencekikku sampai mati,"
Ketut Candra maju selangkah. Pemuda tampan itu tampak ragu, tetapi kemudian menggenggam tangan Saraswati yang terasa dingin.
Tanda trisula ditangannya menyala. Cahaya keemasannya merambat ke tanga n Saraswati, lalu masuk ke dadanya, dan membuat gadis itu tersentak kaget.
"Kau adalah... Bidan Gria," bisiknya, sembari menatap gadis cantik dihadapannya. "Darahmu... Bisa memutus perjanjian,"
“Terus gimana caranya?” tanya Saraswati.
"Aku memiliki darah Balian Taksu, dan kau memiliki darah Bidan Gria, maka kedua darah itu harus bersatu,"
(Darah Bidan Gria\=Keturunan Brahmana).
Saraswati menatap sang pemuda dengan cukup dalam. "Aku tidak mengerti maksudmu,"
"Kawin,"
"Hah? Kawin? Gila kamu... Kita juga baru kenal beberapa hari," tolak Saraswati.
"Terserah, kalau kamu tidak mau... Maka desa ini akan menjadi setra... Karena hanya itu caranya, jalan satu-satunya untuk mengalahkan Leak. Dan lihat ini!" Ketut Candra memperlihatkan tanda merah di telapak tangannya.
"Ini ada setelah kau menyentuhku malam itu," ucapnya dengan tatapan yang sangat dalam. "Ini artinya, kau adan aku adalah satu ikatan,"
(Setra\=kuburan)
Mendadak suasana menjadi hening. Tak ada satupun dari mereka yang bicara. Yang terdengar hanya suara nafas yang cukup berat.
Tok!
Tok!
Tok!
Pintu gudang di ketuk..
"Bu... Bayinya kejang..." suara perawat membuyarkan keduanya.
"Hah!" Saraswati tersentak kaget. "Ya, sebentar," jawabnya. Dan membuat perawat itu kembali ke ruang pemeriksaan.
Sementara itu. Nyoman Lingga terlihat mondar-mandir. Ketut Wira menggendong bayi yang sudah di kompres oleh perawat, tetapi panasnya semakin tinggi, dan suhunya mencapai 39°C.
Tiba-tiba saja bayi itu diam dari tangisnya. Matanya terbuka, tetapi bukan mata bayi, dan hitam seluruhnya, sembari melirik ke arah Nyoman Lingga. Kemudian tersenyum dengan seringai.
Nyoman Lingga tersentak kaget. Lalu melangkah mundur, dan mengusap kedua matanya, untuk memastikan apa yang tadi baru saja di lihatnya.
Saraswati datang membawa nampan. Diatasnya terdapat kompres, alkohol, dan juga sebuah mangkuk yang berisi boreh bungkak nyuh. Kedua matanya menatap ke arah bayi.
(Boreh bungkah nyuh\= Ramuan tradisional yang dipercaya sebagai obat)
Di balik kelopak mata yang terpejam, terlihat bola mata sang bayi bergerak dengan cepat ke sisi kiri dan kanan secara bergantian. Seolah ia sedang melihat orang lain di alam mimpi.
"Bu Bidan?" suster jaga berbisik. "Bayinya... Dari tadi tidak menangis, tetapi itu..."
Suster itu menunjuk ke arah bawah kaki Ketut Wira yang sedang menggendong puteranya.
Tes!
Tes!
Tes!
Cairan hitam kental menetes dari ranjang. Aroma anyir dan bercampur busuk menguar di udara.
Saat Saraswati melongok ke bawah, mendadak cairan itu berhenti, dan seolah merasa diawasi.
Saraswati bergerak cepat, dan mengambil minyak cendana. Kemudian meneteskannya ke telapak tangan, dan terus mengusap ubun-ubun bayi.
"Ong Sang Hyang Ibu Pertiwi..." doanya dengan segenap hati.
Duuuaar!
Lampu ruangan mendadak mati total. Hanya lampu emergency yang menyala berwarna merah.
Di luar, anjing melolong bersahutan, dan membuat suasana semakin mencekam.
Saraswati mengambil garam kasar, dan memutari ranjang, lalu menaburkan garam tersebut di bawah ranjang.
Kemudian, ia menyentuh dada sang bayi.
Srrrrr!
Kulit bayi itu mengepulkan asap, seperti terbakar. Bayi itu terpekik kesakitan. Tetapi bukan jeritan bayi, suara jeritan wanita tua yang sangat menyeramkan.
"Cang kal sing takut busan cang jalanin!" ucap Saraswati, mengakhiri doanya.
(Aku sudah tidak takut dengan apa yang sudah aku jalani)
Mendadak listrik menyala lagi. Mata bayi yang tadi terpejam, kembali terbuka, dan menangis.
"Oeeek... Ooooek..."
Panasnya yang tadi cukup tinggi, kini sudah tinggal 37°C. Sedangkan cairan hitam di lantai mendadak hilang tak berbekas.
Ketut Wira menangis memeluk anaknya. Sedangkan Nyoman Lingga merasakan nafasnya cukuo berat. Sepertinya ia mulai memikirkan ucapan Ketut Candra tentang masalah Wayan Ratri.
Di unung lorong, Ketut Candra menatapnya, dan tatapan mereka saling beradu.
Sementara itu, Dwi yang berada di dalam kamarnya, mendadak merasakan perutnya nyeri. Ia tersentak bangun dari tidurnya, sembari memegangi perutnya yang berdenyut.
"Perut kenapa mulas sekali," gumamnya dengan lirih. Ia melirik suaminya yang sedang tertidur pulas.
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
masa iya air lebih kental dr darah
weeh piye iki
ada ya pepatah mantan anak
ini gila deh