Wen Yu sedang berpetualangan dengan mendaki bukit seorang diri di sebuah tempat wisata alam. Lalu sebuah kebetulan, ia bertemu seekor kucing yang memiliki sepasang sayap. Tanpa rasa takut dan hanya memiliki rasa penasaran yang tinggi, Wen Yu mengikuti kucing itu dan berusaha menangkapnya. Alih-alih berhasil, ia malah terperosok pada sebuah goa di dalam tanah yang ternyata sedang mengalami peristiwa aneh. Cahaya kebiruan bersinar melingkar seperti sebuah pintu lorong waktu yang sering ia tonton di film-film fantasi. Tak lagi bisa mengelak, Wen Yu jatuh ke dalam lingkaran biru itu dan menghilang seketika. Dan tiba-tiba terbangun di dunia antah berantah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tabib Dari Langit
Tabib dari Langit
Ze Kai dan guru Gao melanjutkan perjalanan mengelilingi desa. Setiap kaki mereka melangkah, apa yang di lihat membuat hati mereka semakin teriris. Jalan-jalan yang rusak, rumah-rumah yang sebagian runtuh akibat kekerasan, dan wajah-wajah yang penuh dengan penderitaan menjadi gambaran yang sulit dilupakan.
Di sudut desa yang lebih sunyi, mereka menemukan beberapa mayat yang tergeletak di bawah pohon besar. Semuanya adalah jenazah pemuda dan pria dewasa, yang berjuang untuk wilayah mereka. Beberapa dari mereka memiliki bekas luka tajam yang jelas bukan berasal dari penyakit atau kecelakaan biasa.
"Betapa kejamnya mereka," ucap guru Gao, lirih. Tatapan matanya mengisyaratkan kemarahan, juga kesedihan. "Mereka membunuh pemuda-pemuda desa yang seharusnya menjadi tulang punggung pembangunan desa. Tanpa mereka, desa ini akan semakin sulit untuk bangkit kembali."
Ze Kai hanya bisa mengangguk dengan wajah yang penuh kesedihan. Ia merasakan bagaimana energi Elemen Tanamannya semakin terasa kuat di dalam dirinya. Seolah alam itu sendiri merasakan kesedihan yang dialami oleh warga desa ini.
Saat mereka hendak melanjutkan perjalanan, seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun berlari dengan cepat menghadap Ze Kai, matanya penuh dengan harapan dan rasa takut yang bercampur. Ia berhenti beberapa langkah dari mereka, menggenggam ujung bajunya dengan erat.
"Tuan... tuan tolong bantu kakakku." Kata anak itu dengan suara gemetar. "Kakakku terluka parah ketika mencoba melindungi nenekku dari orang-orang jahat itu. Dia tidak bisa bangun dan terus mengeluarkan darah dari mulutnya."
Ze Kai segera membungkuk rendah agar wajahnya sejajar dengan anak itu.
"Tentu. Bawalah kami ke tempat kakakmu berada."
Anak itu mengangguk dengan senyum haru. Kemudian segera mengajak mereka menuju sebuah rumah kecil yang terletak di bagian dalam desa. Sepanjang jalan, ia menceritakan bagaimana keadaan desa berubah drastis sejak tiga bulan yang lalu.
"Orang-orang itu datang dengan banyaknya," cerita anak itu dengan suara yang mulai semakin jelas. "Mereka mengenakan baju hitam dengan lambang naga hitam di dada. Mereka bilang, desa ini sekarang menjadi bagian dari wilayahnya. Dan kami harus membayar pajak yang sangat besar setiap bulan. Jika tidak mampu membayar, mereka akan mengambil apa saja yang ada di rumah kami. Makanan, benda berharga, bahkan baju yang masih layak pakai."
Ia menunjuk ke arah beberapa rumah yang lebih rusak.
"Yang berani menolak atau melawan akan disiksa atau dibunuh seperti orang-orang yang ada di bawah pohon tadi. Mereka bilang itu adalah contoh bagi orang lain yang berani menentang kehendak mereka."
Ketika mereka sampai di rumah anak itu, Ze Kai melihat seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun tergeletak lemah di atas tikar yang kusam. Badannya penuh dengan bekas luka memar dan sayatan dalam, sementara bibirnya tetap mengeluarkan darah sedikit demi sedikit. Di sisinya duduk seorang wanita tua yang terus menangis sambil menyeka dahinya yang berkeringat dingin.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk menyembuhkannya," ujar Ze Kai dengan lembut kepada wanita tua itu. Ia segera mulai memeriksa kondisi pemuda itu dengan cermat, menggunakan kemampuan pengobatan yang ia pelajari dari Elemen Tanaman dan pengetahuan yang diberikan oleh mendiang Kakeknya.
Ia menggunakan energi air untuk membersihkan luka-luka yang dalam, kemudian menggunakan energi tanah untuk membantu menyembuhkan tulang yang patah. Dengan bantuan Xiao Bai yang keluar dari tas dan mulai menjilati luka-luka dengan lidahnya yang menyembuhkan, dalam waktu singkat luka-luka itu mulai tertutup dan kondisi pemuda itu mulai membaik. Napasnya menjadi lebih stabil dan darah yang keluar dari mulutnya pun berhenti.
Setelah beberapa saat, pemuda itu mulai membuka mata dengan perlahan, melihat Ze Kai dengan pandangan yang penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih... kau telah menyelamatkan nyawaku."
-
-
-
Berita bahwa ada orang yang bisa menyembuhkan luka dan penyakit dengan tangan kosong segera menyebar seperti kebakaran di padang rumput kering. Tidak lama kemudian, banyak warga datang menghampiri tempat mereka berkumpul, membawa keluarga mereka yang sakit atau terluka.
"Saya mohon, tolong bantu suamiku," rayu seorang wanita yang membawa suaminya yang sudah tidak sadarkan diri. "Dia terkena racun dari orang-orang jahat itu ketika mencoba menyembunyikan sebagian makanan untuk anak-anak kami."
"Saya juga, Pak," tambah seorang pria yang membawa anak perempuannya yang sedang demam tinggi. "Anakku sudah tiga hari tidak bisa makan dan terus menggigil karena dingin."
Ze Kai tidak bisa menolak mereka. Ia bekerja tanpa henti dari pagi hingga malam, membantu setiap orang yang datang padanya. Ia menggunakan energi air untuk mengobati demam dan penyakit menular, menggunakan energi tanah untuk menyembuhkan tulang yang patah. Dibantu Xiao Bai, ia menyembuhkan luka luar akibat sobekkan benda tajam. Dan menggunakan kemampuan Elemen Tanamannya untuk membuat ramuan penyembuh luka dan penyakit dalam dari tanaman-tanaman yang ada di sekitar desa.
Guru Gao juga tidak tinggal diam. Ia membantu menjaga ketertiban dan memberikan minuman hangat bagi mereka yang sedang menunggu giliran. Kadang-kadang ia juga menggunakan kemampuan Elemen Apinya untuk menghangatkan tubuh mereka yang terkena penyakit akibat dingin dan kekurangan makanan.
Dalam waktu tiga hari saja, banyak warga desa yang sembuh atau kondisi kesehatannya membaik secara signifikan. Anak-anak yang tadinya lemah karena kelaparan mulai bisa bermain kembali di jalan desa, orang tua yang terluka mulai bisa berdiri dan berjalan, dan suasana desa yang dulunya suram mulai sedikit terasa lebih hangat dan penuh harapan.
"Siapa sebenarnya Anda, Tuan?" tanya salah satu pemuka desa yang sudah sembuh dari penyakit parah yang telah mengganggunya selama berbulan-bulan. "Anda telah melakukan hal yang luar biasa bagi desa kami. Kami harus tahu nama mu agar bisa selalu berdoa untukmu."
Ze Kai tersenyum hangat, menepuk bahu pria itu dengan lembut.
"Anda tidak perlu tahu nama saya," jawabnya dengan rendah hati. "Saya hanya seorang pengembara yang beruntung memiliki sedikit pengetahuan tentang pengobatan. Anda bisa menyebut saya dengan nama apa saja. Yang penting adalah desa ini bisa bangkit kembali dan hidup dengan damai."
Meskipun demikian, nama "Tabib dari Langit" mulai menyebar ke seluruh desa dan bahkan desa-desa sekitarnya. Banyak orang yang datang dari desa lain untuk mencari pertolongan, membawa keluarga mereka yang sakit atau terluka akibat kekerasan aliran Naga Hitam atau penyakit yang tak terobati.
Ze Kai dengan senang hati membantu mereka semua. Ia tidak pernah meminta imbalan apa pun, hanya menerima makanan sederhana dan tempat berlindung sebagai balasannya. Kadang-kadang ia akan menerima batu kecil atau bahan kultivasi yang tidak berharga. Namun ia bagikan kembali kepada mereka yang lebih membutuhkan.
"Kau melakukan hal yang benar, Ze Kai," ujar guru Gao pada suatu malam, ketika mereka sedang duduk di depan api unggun setelah hari yang panjang membantu orang lain. "Kekuatan sejati bukan hanya tentang seberapa kuat kau dalam bertarung. Namun juga tentang seberapa banyak orang yang bisa kau bantu dengan kekuatanmu."
Ze Kai mengangguk perlahan, melihat ke arah desa yang mulai tampak lebih hidup dari sebelumnya.
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan, Guru. Jika aku memiliki kemampuan untuk membantu orang lain, mengapa aku tidak melakukannya? Master Li pernah berkata, bahwa seorang kultivator yang baik adalah mereka yang menggunakan kekuatannya untuk kebaikan dan melindungi yang lemah."
Beberapa hari kemudian, berita tentang keberadaan seorang tabib hebat yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit dan luka mulai menyebar lebih jauh. Bahkan sampai ke telinga beberapa orang penting di kota-kota sekitar. Namun untungnya, tidak ada yang tahu identitas sebenarnya Ze Kai. Ia selalu menggunakan nama samaran dan menjaga wajahnya tetap tertutup saat ada orang baru yang datang dari luar desa.
Ze Kai tidak ingin sampai identitasnya terbongkar. Musuh-musuhnya pasti akan segera datang untuk membunuhnya dan mungkin menyakiti semua orang yang telah ia bantu, jika sampai tahu. Oleh karena itu, ia tetap rendah hati dan tidak pernah menunjukkan kekuatan kultivasinya yang sebenarnya, kecuali dalam keadaan darurat.
"Saatnya kita melanjutkan perjalanan kita," ujar guru Gao beberapa hari kemudian, ketika kondisi desa sudah mulai membaik secara signifikan. "Kita telah membantu sebanyak yang kita bisa di sini. Sekarang saatnya kita mencari Bunga Langit Emas, agar bisa memiliki kekuatan yang cukup untuk mengakhiri kejahatan yang dilakukan oleh aliran Naga Hitam dan membantu lebih banyak orang."
Ze Kai mengangguk dengan hati yang berat, namun juga ada tekad yang kuar. Ia sangat ingin tetap tinggal dan membantu lebih banyak orang di desa itu Namun ia tahu, bahwa tujuan utamanya adalah untuk menjadi kuat cukup untuk menghadapi musuh-musuhnya dan mengakhiri penderitaan yang mereka sebabkan.
Sebelum mereka pergi, seluruh warga desa berkumpul untuk mengantar mereka. Mereka membawa berbagai makanan dan barang berharga sebagai bentuk terima kasih. Namun Ze Kai hanya menerima sedikit makanan untuk perjalanan dan meminta mereka untuk menyimpan sisanya untuk kebutuhan desa.
"Semoga kau selalu dj lindungi, Tuan Tabib," ujar pemuka desa dengan suara penuh rasa hormat. "Kau telah memberikan harapan baru bagi kita semua. Desa ini akan selalu mengingat bantuanmu."
Dengan hati yang penuh rasa syukur melihat warga yang begitu baik padanya, Ze Kai dan guru Gao meninggalkan Desa itu. Mereka memanggil Elang Raja yang segera datang terbang dari kejauhan. Dan dengan satu suara jeritan yang kuat, mereka melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Abadi untuk mencari Bunga Langit Emas yang menjadi harapan mereka semua.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
btw, jadi pengin bunga langit, biar bisa konsentrasi penuh