NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sabotase yang Gagal

Raungan alarm kebakaran menggema keras di seluruh penjuru ruang rapat pleno lantai empat puluh lima. Lampu darurat berwarna merah di langit-langit mulai berkedip-kedip, menciptakan suasana panik yang instan.

Belasan direktur senior yang tadinya berwajah angkuh langsung berdiri dari kursi mereka. Suasana ruangan yang megah itu mendadak kacau karena semua orang saling dorong, berebut ingin menyelamatkan diri menuju pintu keluar terdekat.

Alana tersentak kaget mendengarnya. Tubuhnya yang kecil terhuyung ke belakang karena tersenggol oleh salah satu direktur yang berlari panik tanpa memedulikan sekitarnya.

Namun, sebelum tubuh Alana sempat menyentuh lantai marmer yang dingin, sebuah tangan kekar bergerak dengan sangat cepat. Tangan itu melingkar di pinggang ramping Alana, menariknya dengan satu sentakan kuat hingga tubuh wanita itu menempel erat di dada bidang suaminya.

"Jangan bergerak dari sisiku. Tetap di sini," bisik Devano tepat di telinga Alana. Suaranya terdengar sangat datar, namun sarat akan nada protektif yang tidak menerima bantahan.

Alana refeks menggenggam erat kemeja putih Devano, menyembunyikan wajah pucatnya di bahu pria itu. Jantungnya berdegup begitu kencang, bukan hanya karena bunyi alarm yang memekakkan telinga, melainkan karena posisi mereka yang sangat rapat di tengah kekacauan ini.

Di dalam dadanya, Alana merasakan luapan emosi yang campur aduk. Ada rasa takut yang luar biasa akan masa depan mereka, namun dekapan tangan Devano di pinggangnya terasa seperti satu-satunya tempat paling aman di dunia yang penuh kebohongan ini.

Di sudut meja rapat yang lain, Kusuma Wijaya mencoba memanfaatkan situasi yang sedang kacau berantakan. Pria tua itu bergerak mengendap-endap, mencoba meraih kembali map kulit berwarna merah darah yang tadi dilemparkan oleh Devano di atas meja.

Kusuma berniat membawa kabur dokumen asli tersebut dan menyelinap keluar melalui pintu evakuasi khusus para staf di bagian belakang ruangan.

"Mau melangkah ke mana lagi, Tuan Kusuma?" Suara dingin Devano tiba-tiba memotong kebisingan raungan alarm dengan sangat telak.

Meskipun suasana di dalam ruangan sangat bising oleh kepanikan, suara rendah Devano memiliki daya intimidasi yang luar biasa. Langkah kaki Kusuma langsung membeku di tempat, dengan tangan yang masih gemetar memegang ujung map kulit tersebut.

Pintu ganda ruang rapat pleno mendadak terbuka lebar dari luar. Jefri masuk bersama delapan orang pengawal berbadan tegap dengan setelan jas hitam formal, langsung mengunci semua akses keluar dari ruangan tersebut.

Para direktur yang tadi berlarian panik langsung menghentikan langkah mereka, berdiri melongo ketakutan melihat para pengawal yang berjaga ketat dengan tatapan mata yang tajam.

Jefri berjalan cepat mendekati kursi roda elektrik Devano, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberikan laporan darurat.

"Tuan Besar, orang-orang sewaan dari Keluarga Surya sengaja memicu kebakaran kecil di ruang panel lantai empat puluh empat untuk mengaktifkan sistem alarm otomatis," kata Jefri dengan nada suara yang sangat teratur.

"Tujuan utama mereka adalah menciptakan kepanikan massa di dalam gedung ini, sehingga mereka bisa meretas ruang isolasi dan membawa lari Rendy Surya dari bawah tanah," lanjut Jefri lagi.

Devano sama sekali tidak terkejut mendengar laporan itu. Sebaliknya, seutas senyuman sinis yang sangat dingin terukir di sudut bibir tampannya, memancarkan rasa percaya diri seorang penguasa yang sudah membaca semua pergerakan musuhnya.

"Rendy Surya selalu menggunakan trik murahan yang sama seperti mendiang ayahnya dulu," ucap Devano dengan nada meremehkan. "Jefri, aktifkan protokol isolasi penuh untuk seluruh lift barang dan matikan semua jalur keluar dari lantai bawah tanah."

"Biarkan tikus-tikus kecil itu terjebak di dalam sana sampai mereka kehabisan napas karena asap," perintah Devano tanpa ada sedikit pun rasa belas kasihan di wajahnya.

Devano kemudian mengalihkan pandangan tajamnya ke arah Kusuma Wijaya yang kini berdiri dengan tubuh yang mulai gemetar hebat di ujung meja rapat.

"Kamu mengira dengan memicu alarm kebakaran ini, kamu bisa menghapus semua catatan transaksi kotor yang kamu lakukan bersama Keluarga Surya selama tiga tahun terakhir ini, Kusuma?" tanya Devano dengan nada suara yang sangat tenang namun menekan psikologis lawannya.

Kusuma Wijaya langsung menjatuhkan map di tangannya ke atas lantai, lalu menjatuhkan kedua lututnya untuk berlutut di hadapan Devano dengan wajah yang pucat pasi seperti mayat.

"Tuan Devano, tolong ampuni saya! Saya bersumpah saya tidak berniat mengkhianati Adhitama Group! Saya dipaksa dan diancam oleh Rendy Surya!" ratap Kusuma dengan suara parau yang dipenuhi keputusasaan.

"Simpan air mata palsumu untuk di depan hakim besok pagi, Tuan Kusuma," sahut Devano dengan kejam. "Jefri, seret pria tua ini keluar dan serahkan semua bukti transfer banknya langsung ke tim penyidik kepolisian komersial pusat."

Dua pengawal langsung maju meringkus lengan Kusuma dengan kasar, menyeret pria tua yang terus-menerus menangis histeris itu menembus pintu ruang rapat yang dijaga ketat.

Para direktur senior yang tersisa di dalam ruangan hanya bisa saling pandang dengan tubuh gemetar, menyadari bahwa posisi kekuasaan Devano di perusahaan ini sama sekali tidak tergoyahkan oleh skandal apa pun.

Devano tidak memedulikan pandangan ketakutan dari para bawahannya lagi. Ia menggerakkan kursi roda elektriknya, membawa Alana keluar dari ruang rapat melalui jalur evakuasi privat yang langsung terhubung ke lift khusus pimpinan.

Begitu pintu besi lift yang tebal tertutup rapat dan mengunci dari dalam, raungan alarm kebakaran di luar langsung senyap seketika, menyisakan keheningan yang terasa sangat sempit di antara mereka berdua.

Alana berdiri bersandar pada dinding lift, menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil meremas jemari tangannya yang terasa sedingin es.

"Tuan Devano... maafkan aku," cicit Alana dengan suara yang sangat pelan dan bergetar menahan tangis. "Gara-gara masa laluku dan kemunculan Rendy Surya, semua urusan bisnismu hari ini menjadi kacau berantakan."

"Kalau saja aku tidak pernah menyetujui pernikahan pengganti ini, Anda tidak akan pernah terseret ke dalam masalah kotor keluargaku," lanjut Alana dengan air mata yang mulai lolos membasahi pipinya.

Belum sempat Alana menyelesaikan kalimat penyesalannya, Devano tiba-tiba mencengkeram dagu Alana dengan jemari tangannya yang besar dan hangat.

Devano memaksa wajah cantik Alana untuk mendongak mutlak, menatap langsung ke arah matanya yang memancarkan kilat obsesi yang sangat kuat dan dominan.

"Jangan pernah mengucapkan kata-kata bodoh seperti itu lagi di depanku, Alana," desis Devano dengan suara serak yang sangat rendah tepat di depan wajah Alana yang basah.

"Kamu berada di rumahku dan di dalam ranjangku karena aku yang menginginkannya, bukan karena paksaan dari mendiang ayahmu atau siapa pun di dunia ini," lanjut Devano dengan nada posesif yang begitu pekat.

Devano menggunakan ibu jarinya untuk menyeka air mata di pipi Alana dengan gerakan yang sangat lembut namun penuh dengan klaim kepemilikan yang absolut, mengunci seluruh ruang gerak wanita itu di antara tubuh kekarnya dan dinding lift.

"Keluarga Surya mengira mereka bisa menggunakan identitasmu untuk menjatuhkanku, tapi mereka lupa kalau aku bisa menghancurkan mereka dalam sekejap mata," bisik Devano lagi, membuat debar jantung Alana kian berpacu liar tak menentu.

Alana hanya bisa mengangguk pasrah dalam dekapan suaminya, merasakan rasa takutnya perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa hangat yang aneh karena tahu pria ini akan selalu menjadi tameng terkuatnya.

Ting!

Pintu lift privat berdenting nyaring, terbuka otomatis saat mereka tiba di area parkir bawah tanah khusus yang sangat sepi dan terisolasi dari publik.

Jefri sudah berdiri sigap di samping pintu mobil sedan mewah antipeluru milik Devano yang mesinnya sudah menyala sejak tadi.

Namun, tepat di saat para pengawal hendak membuka pintu mobil untuk Devano dan Alana, seluruh lampu penerangan di area parkir bawah tanah mendadak mati total. Gelap gulita seketika melingkupi ruangan luas tersebut.

Dari arah kegelapan di sudut tiang beton, terdengar suara derap langkah kaki yang sangat ramai dari belasan orang, disertai dengan bunyi kokangan senjata api yang sangat nyaring.

Bzzzt!

Sebuah lampu sorot berkekuatan tinggi dari sebuah mobil jip besar mendadak menyala terang, menembak langsung ke arah posisi berdiri Devano dan Alana, membutakan pandangan mereka dalam sekejap.

Di balik pendar lampu yang menyilaukan itu, muncul beberapa pria bertopeng hitam dengan senjata laras panjang yang mengarah tepat ke arah dada Devano, memblokir seluruh jalur pelarian mereka dengan mutlak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!